Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Wedding's Party


__ADS_3

Entah bagaimana ceritanya, suasana ballroom begitu senyap dan gelap, didepan pintu ada sebuah kereta labu yang ada dalam cerita Cinderella.


Yah itu semua ide dadakan dari Satya, yang seenak kantongnya mengubah semua tatanan yang sudah dirancang dari awal, membuat pihak W.O kelimpungan dengan permintaan ajaib Satya.


Firlan juga tak kalah puyengnya, mulutnya mengumpat si bos yang nggak ada akhlak itu. Dia pikir mereka jin yang bisa menyulap apa saja? Dalam waktu sehari mereka harus membuat, semua seperti keingin sang penguasa. Demi apapun, Firlan ingin menjambak rambut bosnya, iya dalam batinnya.


Satya membukakan pintu untuk Amartha, wanita itu masuk ke dalam sebuah kereta labu yang entah didapat darimana, tau-tau udah ngejogrog aja didepan pintu.


Kereta labu yang didominasi warna emas dan untaian bunga mawar itu tidak dijalankan oleh kuda melainkan orang, ya kali nanti didalem bau kuda kan ngaco banget. Tenang tuh orang nggak bakal sampe pingsan, paling cuma encok aja tuh pinggang.


Kemudian Satya menyusul Amartha untuk masuk ke dalam, kereta pun mulai berjalan menembus kegelapan, hanya ada lampu sorot yang hanya mengarahkan sinarnya pada dua orang yang enak-enakan naik kereta sementara para tamu undangan pada nemplok mepet tembok, awas selamatkan rendang sodara-sodara, barangkali ada yang nggondol.


"Kok gelap, Mas?" tanya Amartha yang melihat sekitarnya gelap.


"Kamu takut? sini pegangan aku..." Satya menawarkan tangannya untuk istrinya pegang, namun Anmmartha justru celingukan nggak jelas.


"Nggak takut, Mas ... cuma heran, kenapa gelap-gelapan gini, nih hotel lupa bayar listrik apa gimana, sih?" celetuk Amartha yang membuat Satya sekuat tenaga menahan tawanya agar tidak pecah saat itu juga.


"Tapi kamu seneng kan? naik kereta labu kayak gini ditemani pangeran setampan aku?" Satya kembali narsis, membuat Amartha terkekeh.


"Iya, Mas ... iyaaaaa"


Kereta labu pun berhenti menandakan mereka telah sampai didepan pelaminan. Satya turun terlebih dahulu, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu sang pujaan hati, sepatu kaca yang dikenakan Amartha membuat semua mata tertuju pada pemilik sepatu yang kemudian menampakkan wajahnya.


Mendadak semua lampu dinyalakan dan terlihatlah semua orang yang pada mojok dan beberapa detik kemudian mereka bertepuk tangan.


Amartha dan Satya naik ke atas pelaminan dan musik pun mulai mengiringi pesta pernikahan putra sulung pemilik Ganendra Group itu.


Amartha terlihat begitu bahagia hari ini jelas terlihat dari bagaimana dia tersenyum.


Dan hal itu tak luput dari sepasang mata yang terus melihat ke arah sang pengantin wanita, beberapa detik kemudian pandangan mereka bertemu pada satu garis lurus, pria itu hanya tersenyum getir, lalu segera berbalik dan meninggalkan tempat itu dengan luka yang menganga.


"Aku berharap, suatu saat kamu pun akan meraih kebahagiaanmu," gumam Amartha dalam hati.

__ADS_1


Satya yang sebenarnya tahu kalau istrinya sedang memandangi kepergian mantan suaminya itu, tiba-tiba mengajak turun dari pelaminan dan berbaur dengan para tamu undangan yang sebagian besar rekan bisnis papinya.


"Ta, selamat, ya? udah jadi nyonya Satya..." ucap Vira yang mendekati Amartha setelah wanita itu turun.


"Makasih, Vir ... makasih udah ada disetiap suka dan deritaku..." Amartha memeluk Vira m.


"Ta, ajegile yang diundang orang-orang tajir semua, cuma aku disini yang burik, berasa kucing kampung gabung sama kucing persia ini mah..." celetuk Vira yang membuat keduanya tertawa.


"Ih kamu tuh bisa aja," ucap Amartha sembari memperhatikan penampilan Vira yang sangat anggun malam ini, hanya ketika mulut jahanam Vira terkunci tentunya.


"Makasih Ta, aku dapet libur panjang, beritanya udah bikin kuping vanassss," celetuk Vira yabg membuat Amartha mengerutkan keningnya.


"Berita apa?" Amartha menatap Vira dengan wajah polosnya.


"Jadi menantu orang kaya, loadingnya masih aja nggak berubah, hufh ... itu loh, gonjang ganjing gosip tentang kedekatan aku sama kamu, sebagai pemilik rumah sakit itu... udahlah, masalah nggak penting nggak usah dibahas," kata Vira sambil tersenyum.


Terlihat dari kejauhan Satya berjalan mendekati keduanya.


"Aku nyariin kamu loh, Sayang ... aku pengen ngenalin kamu sama rekan bisnisku,"


"Aku bawa Amartha dulu ya, Vir ... oh, ya makasih atas bantuan kamu selama ini," ucap Satya yang tumben-tumbenan ngajak ngomong Vira nggak pake jutek.


"Santai aja, Mas ... dibawa aja sampe ke planet mars juga boleh," celetuk Vira.


"Aku tinggal dulu, ya? kamu nikmatin makanannya," kata Amartha sebelum meninggalkan Vira di pesta itu sendirian.


"Udah sana pergi," ucap Vira sambil tertawa kecil.


Vira yang saat itu sangat cantik dengan balutan gaun pesta yang kebetulan dibeliin Amartha, celingak-celinguk persis kayak bocah ilang.


"Ehem," seorang pria berdehem.


"Ehem," pria itu berdehem kembali, membuat Vira melihat ke arah pria tampan dengan jas berwarna hitam, Vira tersenyu kaku.

__ADS_1


"Sendirian aja," ucap pria itu tanpa mengalihkan pandangannya sedetikpun dari Vira.


"Ehm, iya..." sahut Vira singkat.


"Mau minum?" pria itu menawarkan minumannya.


"Enggak ... kamu aja," Vira menolak, dia banyak baca novel dan nonton film jadi bikin dia waspada sama orang baru, apalagi nawarin minuman segala, takut-takut dikasih sesuatu kan jadi ngeri.


"Kenalin, aku-" pria itu baru saja mengukurkan tangannya, berniat menjabat tangan Vira, namun dengan sigap seseorang membalas jabatan pria itu, siapa lagi kalau bukan Firlan. Sejak wanita itu datang ke pesta, matanya tak lepas mengawasi gerak gerik Vira, bahkan saat lampu dimatikan, ia sengaja berada sedekat mungkin dengan gadis. yang kalau ngomong ngalahin burung beo.


"Pacarnya!" ucap Firlan menjabat tangan pria yang ingin berkenalan dengan Vira.


"Kamu main kabur- kaburan gitu sih, Be? aku nyari kamu dari ujung ke ujung loh, nih katanya pengen tuna tartare? cari tempat duduk, yuk?" ucap Firlan tidak tahu malu.


"Sorry ya, kita tinggal..." ucap Firlan yang memaksa Vira untuk menyamai langkahnya.


"Ih, apaan sih?" Vira mendelik ke arah pria yang mukanya dingin-dingin empuk.


"****** emang nih orang, gagal kan mau dapet suami kaya! dulu aja dideketin sok jual mahal sekarang, dia obral bahkan banting harga, sayangnya buaya juga,.." gumam Vira dalam batinnya yang pengen nyakar-nyakar Firlan, dia bertekad move on dari Firla, tapi kalau dianya nempel mulu kan bisa-bisa goyah rencana move on dari asisten galak.


"Be ... tunggu..." Firlan mengejar Vira dengan membawa tuna tartare di tangan kirinya.


"Ih apaan sih? Ba Be Ba Be..." ucap Vira saat tangannya dicekal Firlan, dan pria itu menggeser sebuah kursi dan memaksa Vira untuk duduk.


"Iya kan Beo," sahut Firlan yang sudah duduk dihadapan Vira, membuat wanita itu membuang pandangannya.


"Ketauan pacar baru nyaho loh," ucap Vira yang masih kesal, kesalnya sih lebih kepada cemburu dan patah hati yang belum jelas kebenarannya.


"Otak masih aman? udah makan ini dulu, biar otak kamu nggak konslet mulu," Firlan menyodorkan sebuah piring kecil yang diatasnya terdapat tuna tartare.


"Makanan apaan? nggak doyan!" ucap Vira jual mahal.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2