
"Halooo?" ucap Amartha setengah sadar, setelah mengusap layar ponselnya.
"Halooo? siapa sih?" ucap wanita itu lagi karena tak ada jawaban atau respon dari si penelepon.
"Halooooo!" Amartha mulai ngegas, sementara Satya yang sedang berkutat dengan leptopnya mendadak menoleh pada istrinya yang terlihat menyipitkan matanya mencoba beradaptasi dengan sinar dari ponselnya yang menyala.
"Rese!" Amartha kesal dan menutup telepon itu secara sepihak.
Amartha yang memang sudah tidur terbangun karena ponselnya berdering. Dia tidak melihat siapa yang meneleponnya tengah malam begitu.
Satya yang masih bekerja padahal hari sudah larut pun mengernyitkan dahinya melihat istrinya ngomel-ngomel setelah mendapat telepon entah dari siapa. Pria itu beranjak dari sofa dan mendekati istrinya.
"Kenapa?" ucap Satya lembut sambil mengelus lengan istrinya
"Telfon dari orang iseng!" ucap Amartha yang masih memegang ponsel di tangan kanannya.
"Sini coba liat?" Satya mengambil alih ponsel itu dan melihat daftar riwayat panggilan.
Satya mengernyit, saat menyadari nomor telepon yang baru saja menghubungi istrinya itu memakai kode negara lain, yang berarti orang tersebut sedang berada di luar negeri.
"Kalau telfon lagi nggak usah diangkat," ucap Satya sambil menaruh ponsel istrinya diatas nakas.
"Sering nelfon kayak gini?" tanya Satya.
"Ya setiap malam, tapi nomornya bukan yang ini," sahut Amartha yang terlihat masih mengantuk.
"Ya udah kamu tidur lagi, sekarang masih jam 1 malam..." kata Satya yang mengecup kening istrinya.
__ADS_1
"Kamu belum tidur, Mas?" Amartha bertanya sedangkan matanya sudah mulai terpejam.
"Belum, masih ada yang harus aku kerjain, dah kamu tidur, aku temenin..." kata Satya sembari menaikkan selimut istrinya.
Begitulah setiap malam ada saja nomor yang menelepon ke ponsel Amartha. Tidak ada kata-kata dari sang penelepon, hening sampai akhirnya Amartha menutup panggilan itu karena kesal.
Satya mengusap lembut kepala istrinya, sampai wanita itu tertidur pulas. Sementara pikirannya saat ini sedang kacau, karena satu persatu investor menarik sahamnya, ini membuat gejolak dalam perusahaan. Satya tidak menanggapi serius masalah orang iseng yang selalu menelepon istrinya, dia hanya menyuruh istrinya untuk tidak mengangkat nomor yang tidak dikenal atau yang tidak terdaftar dalam kontaknya.
Pria itu mencoba untuk mencari investor-investor baru yang mungkin bisa membuat kondisi perusahaannya kembali kondusif. Tanpa sepengetahuan orangtuanya dan istrinya, ia sudah menjual rumah yang ada di luar kota, dan beberapa aset miliknya yang sudah susah payah ia tabung. Bagaimanapun perusahaan harus tetap berjalan, walaupun dia harus kehilangan aset-asetnya, dia tidak mungkin memecat karyawan yang sudah loyal pada perusahaan.
Firlan yang baru anget-angetnya pacaran sama Vira pun jadi semakin susah ketemuan, karena Firlan yang juga ikutan sibuk.
"Ay? malam minggu jalan yuk?" ucap Vira yang sedang mengobrol dengan pacarnya tengah malam. Mereka sudah punya panggilan sayang, walaupun Firlan geli dengan panggilan itu. Ay yang artinya Ayank, Firlan yang ingin dipanggil dengan panggilan khusus pun akhirnya setuju daripada Vira selalu memanggilnya dengan sebutan 'abang'.
"Nggak bisa! lagi mumet!" kata Firlan yang memang belum tidur.
"Sakit apa? aku kesitu ya, biar aku bawa obat, orang lain aja aku rawat masa aku biarin pacar sendiri terlantar?" Vira cemas dengan keadaan Firlan. Mereka memang sering telfon- telfonan tengah malam, terutama ketika Vira sedang shift malam, sambil berjaga supaya tidak mengantuk, ya walaupun paling lama hanya 5 menit, tapi itu sudah cukup menjadi penyemangat baginya.
"Kenapa emang, Ay?sini cerita sama aku, ya walaupun aku nggak bisa kasih solasi," ucap Vira.
"Solusi!" Firlan meralat ucapan pacarnya.
"Eh, ya! solasi... elah ... so-lu-si .. minimal beban di hati dan pikiran kamu itu bisa berkurang gitu, Ay..." ucap Vira yang membuat Firlan membuang nafasnya perlahan.
"Perusahaan lagi kacau, beneran kacau banget! investor banyak yang narik sahamnya, aku curiga nih ada orang yang emang mau ngancurin Tuan Satya! karena bertahun-tahun perusahaan dipegang sama Tuan Abiseka nggak pernah ngalamin kayak gini," Firlan mulai menceritakan kondisi perusahaan yang dipimpin oleh Satya.
"Masa sih, Ay? orang sengklek kayak dia ada musuhnya?" ucap Vira yang menilai orang sableng seperti Satya itu apakah mungkin memiliki musuh. Firlan pun mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Vira.
__ADS_1
"Eh, Mungkin nggak sih kalau ini karena perebutan bini? ehm, menurut kamu Ay, mungkin nggak sih Kenan yang ngelakuin ini?" Vira bertanya pada Firlan yang membuat pria itu berpikir. Mungkin ada benarnya juga apa yang dikatakan Vira, bagaimanapun Kenan pernah terlibat konflik dengan bosnya, Kenan dan Satya menyukai orang yang sama, wanita yang kini telah menjadi istri sah bosnya
"Aku kok nggak kepikiran sampai kesitu, ya? tapi kita nggak bisa menuduh seseorang kalau nggak ada bukti," ucap Firlan.
"Ya cari buktilah! emang tuh bukti bisa dateng sendiri kayak anak ayam nyari induknya?" kata Vira yang membuat Firlan gondok.
"Kamu yang semangat, Ay..." ucap Vira yang tiba-tiba menyemangatinya.
"Besok aku ketemuan sama Amartha, boleh ya?" ucap Vira ragu-ragu, sambil bibir manyun- manyun dikit.
"Boleh, asal mata jangan jlalatan!" ucap Firlan agak ketus, yang membuat Vira berdrcak kesal dengan ucapan pacarnya itu.
"Emang mata aku suka jlalatan gitu? jangan nuduh deh, Ay..." kata Vira yang udah mulai ngegas, wanita itu memindahkan ponselnya dari kuping kiri ke kuping panas, karena udah lumayan panas juga tuh ponsel di tempelin dikuping.
"Soalnya kamu kalau liat cowok ganteng suka ileran!" tuduhan Firlan membuat Vira cuma bisa nyengir-nyengir nggak jelas.
"Itu kan dulu, Ay ... sebelum jadi pacar kamu," Vira mendadak manis, nurut kayak kucing abis dikasih ikan.
"Ya udah, aku mau ngider mau ngecekin infus pasien..." ucap Vira tiba-tiba.
"Lagi dines sempet-sempetnya nelfon," kata Firlan yang baru tahu kalau malam itu Vira sedang shift malam di rumah sakit.
"Buat kamu mah aku sempet-sempetin Ay... ya udah bye!" Vira secepat kilat menutup sambungan telepon itu secara sepihak, karena ada pasien yang memencet tombol bantuan. Vira yang melihat itu langsung bergegas menuju kamar pasien tersebut.
"Main bye aja, belum juga kiss kiss main tutup aja, kebiasaan!" gerutu Firlan saat Vira mematikan telfonnya secara sepihak.
"Apa mungkin Tuan Kenan dalang dibalik semua ini?" gumam Firlan sambil menaruh ponselnya diatas nakas.
__ADS_1
"Sampai kapan bos Sableng itu bakal nutupin ini dari Tuan Abiseka? padahal keadaan perusahaan sudah semakin mengkhawatirkan," lanjut pria itu.
...----------------...