
Firlan mengumpat, dia tak menemukan mobil yang kemarin dia lihat. Seseorang menepuk pundaknya, Firlan segera berbalik untuk melihat siapa orang yang berdiri di belakangnya.
"Surya, apakah gantunganmu hilang sampai disini juga?"
"Hmm, aku,"
"Lebih baik kita kembali bekerja sebelum pak mandor datang, mencari pekerjaan sekarang sulit, ayo bahan bangunan sudah datang, kita harus cepat memindahkan pasir dan semen-semen itu," ucap pemuda itu sambil menyodorkan sebuah topi proyek berwarna kuning.
"Ayo, tunggu apa lagi?" pemuda itu menoleh ke belakang saat menyadari Firlan masih berdiri mematung di tempatnya.
Firlan segera melangkah berusaha menyamai langkah pemuda itu. Sekilas ia menengok ke belakang memikirkan dimana posisi mobil itu. Firlan menghela nafasnya, pekerjaannya mengangkut-angkut sudah di depan mata. Itung-itung nge-gym gratis. Melatih otot-otot supaya kencang lagi, ah tapi mengangkut bahan material tak seperti mengangkat dumbell, bahunya sakit saat harus mengangkat semen bersak-sak.
Matahari tak seperti kemarin yang cukup terik, cuaca pagi ini lumayan mendung.
"Hey, jangan melamun! jangan pikirkan gantungan kunci itu, pacarmu tidak akan minta putus hanya karena kamu menghilangkan barang pemberiannya," ucap pemuda yang kulitnya mengkilat karena keringat.
"Kamu benar, aku terlalu memikirkan barang itu sampai tak fokus bekerja," ucap Firlan.
"Urusan perut dulu yang paling utama. Nanti kalau kamu sudah menikah seperti aku, baru kamu tau rasanya ada seseorang yang menunggumu pulang membawa uang. Seseorang yang menggantungkan hidupnya padamu," ucap pemuda itu.
Firlan hanya mengangguk, ia tak pernah merasakan sulitnya mencari uang sampai harus memeras keringat seperti ini. Tuhan begitu baik padanya, memberinya pekerjaan di tempat yang dingin dan tidak terpapar sinar matahari seperti yang dirasakan pemuda ini.
"Aarghhh!" pekik Firlan saat mengangkat semen dan menaruh di pundaknya. Ia menaruh semen itu di tempat yang berdekatan dengan mesin pengaduk yang berputar mencampur semen dan pasir.
"Hey, bekerja yang benar! jangan mengobrol!" seru pak Mandor yang datang terlambat.
"Haaaishh, cerewet sekali dia!" gumam Firlan lirih menanggapi suara sumbang pak Mandor.
"Ternyata ada orang yang lebih menyebalkan dari bos Satya!" ucap Firlan lirih.
__ADS_1
"Angkut yang benar! perhatikan jalanmu!" seru pak Mandor mengomel tidak jelas. Sedangkan Firlan melihat orang bertubuh tambun itu dengan kesal.
"Kalau begini, sampai kapan aku jadi kuli beneran kayak gini, ah!" gumam Firlan sambil terus mengangkut pasokan semen.
Beberapa mobil truck sudah selesai menurunkan pasir, dan kini dia harus memindahkan pasir-pasir itu. Tenaganya sungguh terkuras, beruntung hari ini matahari sedang bersembunyi sehingga kulit Firlan tak terbakar matahari lagi.
Tiba-tiba, hujan turun. Para pekerja memindahkan semen ke tempat yang aman, mereka harus merelakan tubuhnya bertarung dengan hujan. Termasuk Firlan, ia membantu para pekerja menyelamatkan bahan bangunan. Dan sekilas matanya menyipit kala melihat sebuah mobil pick up masuk ke area lahan proyek.
"Itu dia yang aku cari," ucap Firlan. Firlan perlahan menjauh dari para pekerja yang masih mengangkut kantong yang berisi semen.
Sementara Firlan ia menembus hujan mengendap mengikuti mobil yang sedang parkir. Seorang supir turun, dia sepertinya berjalan menjauh menggunakan payung, menuju ruang istirahat pak Mandor.
Melihat ada kesempatan, Firlan segera memasang alat GPS di mobil itu. Ia mencatat plat mobil yang sedang dicurigainya. Firlan melihat sekitar, setelah dirasa aman ia pergi menuju tempat para pekerja sedang menunggu hujan reda.
Di tempat lain, Vira sedang cemas. Hari ini Raharjo dipindahlan ke ruang steril, ia tak bisa ditunggui oleh siapapun kecuali perawat yang khusus di tugaskan disana. Ia penasaran dengan sosok malaikat yang mau menolong ayahnya.
"Selamat siang," sapa Amartha yang memakai seragam perawatnya. Pria itu menoleh melihatnke arah Vira berada.
"Selamat siang, Sus!" sapa pria itu tersenyum manis, bahkan sangat manis. Vira terpaku sejenak, dia gugup untuk mulai berbicara.
"Boleh saya duduk?" tanya Vira menunjuk sebuah kursi.
"Silakan," kata pria itu ramah. Wajahnya teduh dan menyiratkan sebuah ketenangan. Walaupun pria itu tahu sebentar lagi dia akan kehilangan satu ginjalnya.
"Perkenalkan saya Vira, saya anak dari bapak Raharjo, orang yang akan menerima bantuan anda," ucap Vira mengulurkan tangannya, oria itu menyambut uluran tangan Vira.
"Saya Jericko, panggil saja Ricko," ucap pria itu menyinggingkan senyumnya menambah ketampanan pria itu.
"Jadi, suster anaknya pak Jojo?" tanya Ricko pada Vira. Namun, Vira mengernyit heran saat mendengar pertanyaan Ricko.
__ADS_1
"Pak Jojo?"
"Iya saya biasa memanggil beliau dengan nama pak Jojo," jawav Ricko, dia tak menyangka akan bertemu dengan gadis kecil yang selalu dibawa Raharjo ketika datang ke tempat yang penuh dengan anak-anak.
"Maksudnya, kamu sudah kenal dengan papa saya?" Vira bertanya lagi, dia belum cukup jelas dengan penjelasan Ricko yang terkesan menggantung.
"Sudah, bahkan dulu sewaktu saya masih kecil, tapi beliau mungkin tidak ingat siapa saya," ucap Ricko lagi.
"Tunggu-tunggu, saya tidak mengerti..." Vira semakin bingung.
"Maksudnya, kamu sudah mengenal papa saya sejak kamu masih kecil? maksudnya gimana? apa kamu anak papa saya? papa saya pernah menikah dengan mama kamu, gitu?" Vira mencecar Ricko dengan pertanyaan, dadanya naik turun, nafasnya masih memburu tidak sabar dengan jawaban Ricko.
"Menikah dengan mama saya?" tanya Ricko, ia bahkan merasa geli dengan pertanyaan Vira.
"Bahkan saya tidak tahu siapa orangtua saya," lanjut Ricko dengan ucapan yang sangat mebohok. Vira berkedip, ia mencoba mencerna ucapan pria yang memakai baju khusus pasien.
"Kan tadi kamu bilang, kamu mengenal papa saya dari kecil, deuh! kamu bikin aku bingung, jadi jelaskan apa hubunganmu dengan papa?" tanya Vira tidak sabaran, sesaat ia merasa bersalah telah mencecar Ricko yang baru saja dikenalnya dengan pertanyaaan yang sangat pribadi.
"Maaf, saya terlalu menggebu, tapi saya butuh jawaban kamu," ucap Vira lembut.
"Hahahaha, kamu juga tidak ingat denganku?" tanya Ricko.
"Aku? kamu? apa kita pernah mengenal? ah, kamu mutar-muter ngomongnya, bikin aku nyut-nyutan," ucap Vira memegang kepalanya yang sibuk menerka siapa orang yang ada di depannya.
"Ah, apa aku terlalu mudah untuk dilupakan? pak Jojo pun tak mengenaliku, ah! aku sungguh manusia tidak beruntung..." ucap Ricko disertai tawa kecilnya. Vira memandang wajah Ricko dengan lekat. Vira mencoba mengingat wajah pria yang ada di hadapannya saat ini.
"Apakah kamu tidak mengingat seorang anak lelaki yang pernah..." ucap Ricko menegakkan tubuhnya.
...----------------...
__ADS_1