
"Kenapa?" tanya Vira.
"Apa seenak itu? sampai mama nggak rela aku makan ini? aku cuma mau nyicipin kuahnya dikit kok," ucap Vira.
"Jadi? kamu masak nggak dicicipi dulu?" tanya Dewi.
"Nggak, orang masak diajak ngobrol mulu," ucap Vira jujur, Ricko sampai tersedak mendengar jawaban Vira.
"Minum, Kak..." Vira menyodorkan segelas air putih pada Ricko, pria itu segera meminumnya dan menghabisnya setengah gelas air.
Vira pun mengambil satu sendok kuah gongso dan mendekatkan ke mulutnya.
"Jangan," seru Dewi.
"Dikit doang," sahut Vira, sedangkan Raharjo langsung melihat ke arah lain. Dia tidak bisa membayangkan jika kuah itu masuk ke dalam mulutnya.
"Woooeeeekkkkk! pwiiih! kok rasanya gini?" ucap Vira sambil mengecap-ngecapkan lidahnya, dengan cepat ia meneguk air milik Ricko. Dewi terkekeh melihat wajah anaknya yang merasakan sensasi luar biasa di dalam mulutnya.
"Udah, Kak! jangan dimakan, nanti Kakak yang ada sakit perut," ucap Vira, berusaha menghentikan Ricko yang terus saja mengunyah makanannya.
"Yah, udah abis..." ucap Ricko memperlihatkan piringnya. Raharjo dan Dewi melongo.
"Astagfirllah, kok bisa dihabisin? kalau sakit gimana?" kata Vira cemas.
"Kan kamu udah capek-capek masak," ucap Ricko yang menuang kembali air ke dalam gelas lalu meminumnya sampai tandas.
"Huuufh, aku keluar aja beli makanan, maaf ya masakanku nggak enak," ucap Vira dengan wajah yang sangat menyesal.
"Nggak usah, Mama sama papa makan roti aja udah," ucap Raharjo.
Melihat anaknya sudah lelah berjibaku di dapur, ia merasa tak tega jika Vira harus keluar membelikan mereka makanan.
"Maaf ya, niat mau masakin malah jadi kayak gini," sesal Vira, ia menghembuskan nafasnya perlahan.
"Nggak apa-apa, Sayang ... niat kamu udah baik, mama yang salah, mama belum pernah ngajarin kamu, jadi wajar kalau kamu nggak bisa," ucap Dewi menenangkan.
Vira tersenyum pada Dewi, ia menoleh pada Ricko. Vira gagal fokus pad bibir Ricko yang berwarna merah dan sesekali ia mendengar pria itu mendesis karena kepedesan. Vira tak kuasa ingin tertawa melihat wajah Ricko yang stay cool padahal lidah rasanya seperti mati rasa.
Sekitar pukul 10 pagi, Vira pamit pulang ke kosan. Karena siang nanti dia ada shift siang.
__ADS_1
"Mau ke kosan?" tanya Ricko yang tiba-tiba nongol di ruang tamu.
"Iya, Kak ... hari ini aku masuk siang, kenapa?" Vira mencangkolkan tali tas punggung di kedua bahunya.
"Pengennya sih nganter," kata Ricko.
"Nggak usah, aku naik taksi aja. Oh, ya? kalau nanti Kakak diare gara-gara makan masakan aku tadi pagi, ngomong ya? biar aku bawain obat," ucap Vira.
"Nggak bakal diare, tenang aja..." ucap Ricko mencoba menenangkan supaya Vira tidak kepikiran.
"Ya udah, aku pamit, assalamualaikum..." ucap Vira.
"Waalaikumsalam, hati-hati di jalan," jawab Ricko.
Sesuai janjinya, Amartha mengirim baju, tas dan sepatu untuk Vira kenakan di acara nujuh bulan yang akan dilaksanakan beberapa hari lagi. Wanita itu membawa masuk kotak berwarna merah yang diberikan Damian, supir Amartha saat dirinya sudah sampai di kosan.
Vira sangat girang saat melihat apa yang diberikan Amartha untuknya.
Beberapa hari telah terlewati, saat ini mami Sandra sedang sibuk melihat hasil dekorasi untuk acara nujuh bulan kandungan Amartha.
Rumah megah itu dihiasi bunga hidup yang aromanya sungguh sangat memanjakan indra penciuman.
"Kamu suka?" tanya Sandra menoleh pada Amartha yang berada di sampingnya.
"Oh, ya ... Prisha kemana?" tanya Sandra, karena sedari tadi tidak melihat wujud anak bungsunya.
"Ada di kamar, lagi telfonan sama temennya," hawab Amartha.
"Haish, anak itu..." Sandra geleng-geleng kepala, Prisha malah asik-asikan telfon sedangkan rumah lagi riweuh begini.
"Ini souvenirnya mau ditaruh dimana, Nyonya?" tanya seseorang yang membawa beberapa box souvenir yang akan diberikan pada tamu undangan yang datang.
"Di kamar itu saja, iya disitu, terima kasih ya..." ucap Sandra menunjuk sebuah kamar tamu.
"Kamu duduk aja di dalem, Sayang ... nanti kamu capek liat orang mondar-mandir kayak gini," ucap Sandra.
"Capek, Mam duduk terus," Amartha menggeleng ia malah suka melihat orang-orang sedang menata rumah mertuanya itu.
"Kita kayaknya melipir ke ruang makan aja, mami punya puding vanilla, enak deh! biar mereka menyelesaikan tugasnya," ucap Sandra.
__ADS_1
"Oh ya Sayang, kamu udah makan belum? ini udah siang loh," lanjut Sandra.
"Belum, Mam ... nggak laper," jawab Amartha.
"Walaupun nggak laper, kamu tetep harus makan kasihan cucu Mami di dalem sini dong, dia butuh nutrisi yang cukup hntuk menunjang pertumbuhannya dan perkembangannya," ucap Sandra mengingatkan.
"Ayok makan, mami temenin," kata Sandra lagi, Amartha tersenyum dan mengangguk. Mereka berjalan menuju ruang makan, Amartha mendudukkan dirinya perlahan begitu juga dengan mertuanya.
"Satya nggak pulang?" tanya Sandra.
"Nggak, Mam. Banyak kerjaan katanya," ucap Amartha yang mulai menyendokkan nasi dan lauk ke piringnya.
"Bocah itu kalau kerja persis kayak papinya," kata Sandra disertai helaan nafas.
"Ya udah dimakan dulu, kalau ngobrol terus yang ada kamu nggak jadi makan lagi," ucap Sandra.
Di tempat kerjanya, Sinta sedang termenung. I menopang dagunya dengan kedua tangannya. Pikirannya melayang entah kemana.
Sebuah pesan masuk ke ponsel Sinta, wanita dengan rambut panjang lurus itu meraih ponsel yang ada di atas meja kerjanya. Ia tersenyum saat membaca pesan dari Amartha, bumil cantik itu mengingatkan agar Sinta datang di acara yang akan dilaksanakan besok pagi.
Sinta menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya, ia menggerakkannya ke kanan dan ke kiri sambil mengetik sebuah balasan untuk Amartha. Sinta mengatakan bahwa ia pasti akan datang. Tak lama sekretaris Sinta mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan bosnya itu, ia membawakan sebuah kotak berwarna putih. Sekretaris itu pun segera undur diri dan menutup pintu dari luar.
Sinta mulai membuka kotak itu, ia meraih sebuah kartu.
Aku tidak tahu seleramu, tapi semoga kamu suka. Amartha.
Sinta tersenyum saat melihat pakaian yang cukup tertutup itu. Air mata merembes dari sudut matanya. Ia segera menghapus cairan bening yang sebentar lagi akan jatuh. Ia mengirim pesan untuk sahabatnya, mengucapkan terima kasih.
"Aku malu sudah bersikap jahat sama kamu, sementara kamu nggak pernah menganggapku musuh," lirih Sinta.
Sibta segera vangkit dan kekuar dengan membawa korak putih di tangannya. Ia berjalan menuju parkiran mobil. Wanita itu duduk di kursi kemudi, lalu menginjak pedal gasnya menuju sebuah tempat.
"Selamat siang, Nona..." ucap seorang wanita ramah.
"Wah baru keliatan, nih! udah lama loh kamu nggak kesini, Sin..." ucap seorang wanita pemilik tempat yang kini disambangi Sinta.
"Iya Tante ... baru ada waktu," ucap Sinta yang kemudian memilih salah kursi dan menghadap ke arah cermin besar di hadapannya.
"Mau dirapihin apa gimana, nih? atau mau perawatan yang lain?" tanya wanita itu sambil mengelus rambut panjang Sinta.
__ADS_1
"Aku mau dipotong segini," ucap Sinta sambil menunjuk lehernya memberi batas seberapa pendek rambut yang dia inginkan.
...----------------...