
Setengah jam kemudian, mereka sampai di tempat Spa yang di tuju
"Silakan, Nona ... " ucap wanita yang berrygas mengantar Amartha untuk melakukan perawatan tubuh
Sore itu Amartha menjalani serangkaian perawatan dari ujung kepala hingga ujung kaki, Vira yang disitu notabe menemani pun merasakan pijatan-pijatan yang membuat relaks otot-ototnya apalagi gratisan, kan tambah seneng tuh. Terutama setelah adegan tarik menarik baju yang dilakoni kedua sahabat itu. Amartha yang tidak pernah sekalipun ke tempat perawatan seperti itu malu harus mengganti bajunya dengan kain seperti kemben yang mengekspos pundak dan punggungnya. Dengan berbagai cara dilakukan Vira agar Amartha mau nurut dan mengikuti ucapannya.
Vira memang tak mendapatkan paket komplit seperti Amartha, namun wanita itu sudah merasa senang. Vira begitu menikmati pijatan-pijatan yang benar-benar menghipnotis dirinya, wanita itu akhirnya molor juga.
Sementara di kediaman Ganendra, Sandra mencak-mencak perihal anaknya yang masih sibuk.
"Sat? kamu dimana?" tanya Sandra di seberang telepon.
"Mau meeting bentar lagi, Mam ... kenapa?" ucap Satya sambil melihat arloji di tangan kirinya.
"Kok nanya kenapa? kamu sebenernya niat nikah nggak sih?" kata Sandra yang ingin sekali menjambak-jambak rambut anaknya.
"Niat lah, Mam ... niat banget malah," ucap Satya santai.
"Kalo niat, kenapa hari ini masih ngantor?" Sandra tak habis pikir dengan Satya yang masih sibuk disaat seperti ini.
"Salahin aja tuh papi, udah tau anaknya mau kawin, malah disuruh kerja..."
"Awas ya, papi! pokoknya mami nggak mau tau! yang jelas, sore ini kamu harus udah ada di rumah!" ucap Sandra tidak mau dibantah
"Iya, nanti diusahain..." ucap Satya.
"Udah dulu, ya Mam ... meeting udah mau dimulai," lanjut pria itu, yang kemudian mematikan sambungan teleponnya.
"Tuan, semua orang sudah menunggu anda," ucap Firlan, yang kemudian diangguki oleh Satya, pria yang gagah dengan balutan jas berwarna hitam itu melangkahkan kakinya ke ruang meeting. Satya sebenarnya rindu dengan profesi dokternya, tapi dia juga tidak tega diusia papinya yang sudah tidak muda lagi, masih harus mengurus perusahaan.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mendengar Amartha akan menikah lagi, tentu saja membuat Kenan sangat kacau, apalagi hari itu semakin dekat. Dia tidak bisa berpikir jernih, dia mengumpat, merutuki kebodohannya, dia ingin Amartha kembali padanya dan memulai lagi semuanya dari awal.
Kenan beberapa kali mengerang frustasi, dia mondar-mandir di kamarnya. Hari ini Kenan hanya berdiam diri di apartemennya, beberapa panggilan dari Ferdy ia abaikan.
"Persetan dengan perusahaan, aku ... aku nggak bisa ... aku ingin kembali, aku ingin kamu kembali, aku harus ketemu Satya, ya ... aku harus ketemu dia!" Kenan menghapus air matanya kasar.
"Aku akan minta Satya buat ngelepasin kamu, Ta ... ya ...aku yakin kamu cuma bahagia sama aku, aku yakin Satya cuma pelampiasan kamu aja," gumam Kenan, kemudian ia mendial nomor Satya, namun pria itu tak kunjung menjawabnya, beberapa kali pria itu menghubungi Satya namun hasilnya nihil.
Tanpa pikir panjang Kenan langsung berganti pakaian dan menyambar kunci mobilnya. Saat ia keluar dari kamar, terdengar suara bel dari luar.
Kenan pun melihat dari monitor, siapa yang berkunjung ke unitnya.
"Refan? mau apa dia kesini?" gumam Kenan dalam hati.
Akhirnya Kenan pun membuka pintu, dan nampaklah sahabatnya berdiri di hadapannya.
"Ada perlu apa?" tanya Kenan yang terkesan dingin.
"Ken, gue... ehm,"
"Ngomong cepetan, gue ada urusan penting," ucap Kenan sembari masuk ke dalam unitnya, Refan pun mengikuti Kenan dari belakang. Kenan tak mempersilakan Refan untuk duduk, pria itu berdiri sambil menaruh tangannya ke dalam saku, menunggu apa yang ingin dikatakan Refan.
"Gue kasih lo 5 menit buat ngomong, karena gue lagi buru-buru," ucap Kenan sembari meliruk arloji di tangannya.
"Lo udah tau kalau Amartha lusa akan menikah?" Refan dengan susah payah melontarkan pertanyaan itu.
"Udah," sahut Kenan dingin.
__ADS_1
"Dan itu semua gara-gara lo! kalau saja lo nggak minta gue buat dateng ke rumah sakit buat jengukin adek lo itu, dan juga permintaan keluarga lo yang konyol itu, gue nggak akan kehilangan istri gue, gue nggak akan pisah sama dia," ucap Kenan dengan tatapan yang menohok.
"Gue tau Ken, lo pasti benci banget sama gue Ken..." kata Refan yang membuat Kenan tersenyum sinis.
"Ya harusnya gue nggak perlu empati sama adek lo itu, mau dia mati kek harusnya gue nggak peduli, dan lo harus tau ... semua kehancuran hidup gue berawal dari adik lo yang busuk itu," ucap Kenan.
"Dan yang harus lo tau, Sinta itu tidak pernah sembuh dari obsesinya, sampai sekarang ... dan sory gue udah nggak peduli mau dia self injury atau apa gue udah nggak peduli," lanjut pria itu, Refan maklum dengan sikap Kenan yang pastinya sedang sangat kacau saat ini.
"Gue minta maaf Ken ... maafin gue Ken..." lirih Refan.
"Oke waktu 5 menit lo udah abis, jadi gue minta lo keluar sekarang," Kenan tak menanggapi permintaan maaf Refan, pria itu bahkan secara terang-terangan mengusir orang yang dulu pernah menjadi sahabat karibnya.
Refan pun akhirnya keluar dan pergi dari apartemen Kenan, pria itu melajukan mobilnya menuju kota B, dia harus bertemu dengan Amartha, walaupun sudah sangat terlambat tapi yang penting dia sudah berusaha, dia tidak mau menyesal seumur hidup.
Sementara Kenan yang panggilannya tak dijawab Satya akhirnya segera keluar dari unitnya, dan memilih untuk mencari pria itu ke perusahaan Ganendra group.
Kenan memacu mobilnya dengan kecepatan sedang, karena situasi jalanan yang sedang ramai, sepanjang perjalanan Kenan begitu frustasi, bayangan-bayangan Amartha melintas di pikirannya. Kenangan-kenangan manis bermunculan, membuat pria itu tersenyum tapi beberapa detik kemudian lelehan air mata membasahi pipinya, begitu banyak hal yang telah mereka lewati. Dan begitu banyak rasa sakit yang ia beri, Kenan menyadari semua ini terjadi karena sikapnya yang tidak tegas, dirinya yang kalah dengan keadaan saat itu.
Tanpa terasa mobil Kenan sudah sampai di perusahaan Ganendra group. Ia segera mengapus air matanya, ia membuang nafas kasar lalu segera keluar dari mobilnya. Pria itu berjalan dengan langkah yang buru- buru
"Selamat sore, saya Kenan Pradipta dari Brawijaya group ingin bertemu dengan tuan Satya Ganendra," ucap Kenan setelah sampai di receptionist.
"Apakah anda sudah membuat janji sebelumnya?" tanya salah seorang pegawai receptionist itu sopan.
"Belum, saya belum membuat janji," ucap Kenan
"Tunggu sebentar, Tuan ... kami akan menghubungi asisten pak Satya terlebih dahulu,"
Setelah beberapa menit kemudian receptionist memberikan kartu akses untuk masuk ke dalam, ia mengatakan bahwa tuan Satya telah menunggu di ruangannya.
__ADS_1
...----------------...
Hari ini mungkin up 3-4 eps, krn kmrin nggk semvat up....