
Beruntung di kedai bakmi jawa, Satya tidak membuat hal-hal yang membuat Amartha bertambah kesal. Dia berlaku seperti manusia pada umumnya, karena pria itu mengajaknya ke tempat yang sudah dijamin kebersihannya.
"Jangan banyak-banyak sambelnya, perut kamu nanti panas, Yank..." ucap Satya mengingatkan.
”Iya..." jawab Amartha.
"Awas hati-hati air jeruknya masih panas," kata Satya mengingatkan.
"Iyaaa..." jawab Amartha yang masih mencoba tetap untuk sabar.
Amartha mulai menikmati makanannya, padahal di rumah ia sudah mengisi perutnya dengan makanan yang dibuatkan oleh Satya. Dan dia datang kemari hanya sebagai alasan, agar Satya tidak melewatkan makan malamnya. Tapi, begitu melihat semangkok bakmi jawa yang ada di hadapannya, perut Amartha mendadak lapar lagi.
Satya hanya menggelengkan kepalanya melihat yang lagi ngambek, makan dengan sangat lahap.
"Pelan-pelan aja makannya, nanti kamu bisa tersedak, Sayang..." ucap Satya sembari mengelap ujung bibir Amartha.
Satya tak berkedip memandangi wajah istrinya, satu senyuman tak bisa lagi dia tahan. Pria itu pun mengaduk mie dengan sumpit, lalu mulai menyuapkan bakmi yang masih berasap putih itu ke mulutnya.
Setelah kenyang mereka berdua pun pulang, misi Amartha menyelamatkan perut suaminya pun berhasil. Bahkan perutnya sendiri pun akhirnya terisi kembali.
Amartha tidak melupakan aksi ngambek dengan suami, dalam hati sih tidak tega melihat wajah suaminya yang memelas begitu. Tapi bagaimana lagi, jika teringat tentang seonggok jas yang tercium parfum Ivanka emosi Amartha mendadak naik.
Daripada pusing, Amartha melanjutkan lagi bacaan yang membuat dia ketagihan untuk menyelesaikan dari part ke part berikut. Apalagi beberapa bagian dalam cerita itu mewakili kehidupannya saat ini.
Melihat istrinya yang terus saja melihat layar ponsel dan sesekali mengusap-usap layar kaca itu, Satya pun tak kuasa untuk tak berkomentar.
"Jangan terlalu sering baca novel yang isinya bikin curiga terus sama suami, Yank..." kata Satya tanpa memperlambat laju mobilnya.
"Ngomong aja takut ketauan," ucap Amartha.
"Ya Allah, ketauan apa sih, Sayang? aku ketemu dia aja udah enek banget. Aku udah berusaha banget nyingkirin dia," ucap Satya.
"Tapi nggak berhasil, kan?" ucap Amartha.
"Lain kali aku pelintir deh," kata Satya.
"Ngarep banget ada lain kali," sindir Amartha, ia kini meredupkan ponselnya dan menyimpannya di dalam clutch.
Satya lebih baik diam daripada bicara, dia akan tetap kalah. Satya hanya perlu stock sabar yang tidak terbatas.
__ADS_1
Karena tak ada pembicaraan lain, rasa kantuk datang mengambil giliran. Setelah perut terasa kenyang, Amartha tak dapat menahan matanya agar tetap terbuka lebar. Mata indah itu sekarang terpejam diiringi deru nafas yang mulai teratur. Satya yang masih menyetir, melirik istrinya yang kini sudah tertidur pulas di dalam mobil.
Sesampainya di rumah, Satya menggendong istrinya ala bridal style, sampai ke kamar mereka. Satya begitu hati-hati meletakkan istrinya diatas ranjang. Pria itu mengecup kening Amartha dengan sangat lembut setelah menaikkan selimut yang menutupi sebagian tubuh istrinya. Satya meredupkan lampu dan berjalan ke luar kamar, meninggalkan Amartha yang sudah terlelap dan bergabung dalam kepingan-kepingan mimpi indah.
.
.
Pagi pun menjelang, Amartha terbangun dari tidurnya. Perlahan ia membuka matanya sembari menepuk sisi ranjang di sebelah kanan. Kosong.
"Dia udah bangun atau dia nggak tidur disini?" ucap Amartha saat guling dan bantal di sisi ranjang yang biasa ditempati Satya masih rapi.
Amartha segera mengeluarkan dirinya dari dalam selimut dan bergerak ke kamar mandi. Setelah ia menyegarkan tubuhnya, wanita yang sedang hamil besar itu pun keluar dan memilih baju yang akan ia pakai.
Namun, saat ia berjalan ke ruang ganti, ia melihat suaminya sudah memakai jas semi formal dan kaos dengan V-neck, pria itu sedang memakai ikat pinggangnya.
"Bukannya ini hari sabtu? tumben udah rapi dan wangi?" tanya Amartha yang sedang memilih dress yang akan ia pakai.
"Ah, iya! aku ada janji dengan seseorang," ucap Satya dengan senyum mengembang, dia senang istrinya sudah mulai bicara lagi.
Amartha setengah berjinjit saat akan mengambil legging di tumpukan atas. Melihat istrinya kesulitan, Satya langsung saja mengambilkan legging berwarna hitam yang biasa biasa Amartha pakai jika memakai dress yang tingginya diatas lutut. Amartha pun menurunkan tangannya yang menjulur ke atas.
"Ada lagi yang mau aku ambilkan?" tanya Satya seraya mengikis jarak dengan Amartha. Ia memberikan barang yang berbentuk bahan tipis itu pada istrinya, ia pun memeluk Amartha dari belakang.
"Hem..." Amartha hanya berdehem.
"Bukannya Mas yang ngambek," Amartha menyindir pria itu.
"Loh kok aku? aku mana bisa ngambek sama kamu,"
"Buktinya semalam kamu nggak tidur di kamar, Mas..." kata Amartha.
"Aku di ruang kerja, Yank ... ada yang harus aku kerjain, kalau aku bawa pekerjaanku ke kamar yang ada kamu keganggu. Eh, malah aku ketiduran disana. Maaf, ya?" jelas Satya. Ia mencium pipi istrinya.
"Ya," sahut Amartha.
Satya melepaskan pelukannya dan memutar tubuh Amartha agar menghadap dirinya.
"Vira kesini kan hari ini?" tanya Satya.
__ADS_1
"Iya, sepertinya..."
"Kamu hati-hati di rumah, aku usahakan nggak sampai sore..." ucap Satya.
"Kalau aku pergi sama Vira jalan-jalan boleh, nggak?" tanya Amartha.
"Boleh ... kamu juga jarang pakai kartu yang aku kasih ke kamu. Pergi dan belilah sesuatu, kamu juga butuh suasana baru, biar nggak jenuh..." ucap Satya.
"Kalau gitu aku berangkat, ya?" Satya mencium kening Amartha.
"Nggak sarapan dulu?" tanya Amartha.
"Akhir-akhir ini kamu suka lupa makan loh, Mas!" lanjut Amartha.
Satya sekilas melihat arloji yang melingkar di tangan kirinya sebelum memberikan jawaban
"Ya udah. Kamu cepatlah berpakaian, aku tunggu di meja makan," kata Satya, pria itu pun segera meninggalkan istrinya dalam ruangan itu.
Amartha segera berpakaian dan memoles sedikit wajahnya agar tampak lebih segar. Ia melangkah keluar menyusul sang suami.
"Silakan, Tuan..." ucap bik Surti yang meletakkan secangkir kopi hitam tanpa ampas di depan Satya.
"Duduk, Sayang..." ucap Satya segera berdiri dan menggeserkan kursi untuk Amartha.
"Makasih, Mas..."
"Aku makan roti oles aja, ya? udah meper banget soalnya," kata Satya.
"Mas mau pakai selai apa?" tanya Amartha yang menaruh beberapa helai roti tanpa pinggiran di atas piringnya.
"Peanut butter aja, Sayang..." sahut Satya.
Amartha mengambil selai yang diinginkan suaminya itu, dan mengoleskannya diatas lembaran roti berwarna putih. Setelah selesai, ia pun memberikannya pada Satya.
"Makasih, ya?" kata Satya.
Ketika mereka sedang menikmati sarapannya, terdengar ada suara dari ruang tamu.
"Siapa yang bertamu sepagi ini?" tanya Satya pada Amartha yang sedang melanjutkan oles mengoles roti.
__ADS_1
"Pagi, Ta..." ucap seseorang wanita dengan suara yang tak biasanya.
...----------------...