Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Calon Pengantin


__ADS_3

Hari pernikahan semakin dekat, namun Satya tak juga menemui Ivanka. Satya beralasan jika sesuai adat, calon pengantin tidak boleh saling bertemu. Namun Ivanka tetaplah Ivanka, dia tidak akan mendengarkan alasan remeh seperti itu.


Hari ini wanita itu datang ke kantor Satya bersama dengan Alia yang kerepotan membawa sesuatu ditangannya.


"Cepat, Alia! jalanmu tidak lebih baik dari kura-kura!" bentak Ivanka pada Alia yang berjalan di belakangnya.


"Jangan marah-marah, Nona. Atau perawatan yang anda lakukan akan sia-sia, karena kerutan muncul dimana-mana," ucap Alia yang sudah pasti terdengar sampai telinga Ivanka.


"Beraninya kamu bicara seperti itu padaku, Alia!" kata Ivanka yang menghentikan langkahnya dan memutar sedikit tubuhnya melayangkan tatapan tajamnya pada Alia yang sedang membenarkan kacamatanya.


Wanita itu melanjutkan langkahnya lagi, ia menggunakan dress semi formal yang press body.


Saat Ivanka akan membuka pintu ruangan Satya, dengan cepat Maura segera menghalanginya.


"Maaf, Nona. Tuan sedang ada tamu di dalam," ucap Maura yang mencegah Ivanka membuka pintu.


"Kamu pikir kamu siapa? beraninya melarangku untuk masuk ke dalam?" Ivanka menatap Maura dengan tatapan menusuknya.


"Maaf, Nona. Silakan anda menunggu," ucap Maura yabg sebenarnya sudah sangat muak menghadapi sikap arogan Ivanka.


"Minggir!" ucap Ivanka yang mendorong Maura hingga terjerembab.


"Nonaaa!" seru Maura yang mencoba untuk bangkit. Namun sayang, Ivanka sudah membuka pintu.


Orang yang ada di ruangan itu pun terkejut saat melihat pintu yang terbuka secara tiba-tiba.


"Carlo?" pekik Ivanka yang menautkan kedua alisnya.


"Wow! Nona Barsha, sudah lama kita tidak bertemu, ya?" Carlo yang sedang duduk di sofa segera beranjak dan berjalan mendekati wanita yang kini juga melangkah masuk fiikuti oleh Alia.


"Mas? kenapa orang ini ada disini?" Ivanka mrngacuhkan Carlo dan berjalan mendekat pada Satya yang sepertinya tak menganggap ada orang selain dirinya di ruangan itu.


Carlo hanya tertawa kecil melihat Ivanka yang berada di samping kursi Satya, namun Satya malah terlihat sibuk dengan pekerjaannya mengacuhkan wanita itu.


"Kalian sebaiknya keluar, karena aku sedang sibuk..." ucap Satya tanpa melihat ke arah dua orang yang sedang saling tatap.


"Kalian? mungkin yang kamu maksud manusia itu kan?" tanya Ivanka menunjuk Alia dan Carlo.


"Baiklah, aku pergi. Oh, ya selamat! aku pastikan aku akan ada disana," ucap Carlo pada Ivanka seraya memamerkan senyuman misteriusnya dan melangkah pergi.


"Alia? apa yang kamu tunggu? letakkan itu dan cepat keluar!" ucap Ivanka pada Alia.


"Baiklah, Nona..." ucap Alia seraya menaruh jas pengantin di sofa. Alia segera keluar dari ruangan itu dan segera menutup pintu.

__ADS_1


Saat dia akan berjalan, ke arah lift tak sengaja ia berpapasan dengan Firlan.


"Alia?" Firlan menaikkan satu alisnya.


"Kalau tidak kau tidak begitu sibuk, bisakah temani aku minum kopi?" tanya Alia pada Firlan.


"Oke," ucap Firlan. Mereka berdua pun pergi menuju cafe terdekat.


Sementara di ruangan Satya. Ivanka duduk di sofa sembari melihat Satya yang tengah bekerja.


"Mas?" panggil Ivanka.


"Bukankah ini jam kantor? kenapa kamu masih disini?" tanya Satya.


"Besok aku akan menikah, untuk apa aku pergi ke kantor?" Ivanka beranjak dan pergi mendekat saat Satya sedang membuka lacinya untuk mencari sesuatu. Ivanka melihat sebuah bingkai foto Satya dan istrinya, Ivanka pun mengambilnya.


"Apa yang kamu cari?" tanya Ivanka sambil memandang foto itu kemudian ia menaruhnya kembali dengan satu sudut bibirnya terangkat ke atas.


"Tidak ada," jawab Satya, ia mengambil pena yang lain yang ada di dalam laci itu.


"Pergilah, aku sedang bekerja..." ucap Satya tanpa melihat wanita itu


"Biarkan asistenmu yang mengurusnya. Lagi pula, aku kemari untuk membawakanmu jas yang akan kamu pakai besok," ucap Ivanka yang akan menarik dasi dark blue milik Satya namun pria itu segera menghindar.


"Oh, begitu ya? kalau begitu terima kasih," ucap Satya seraya tersenyum tipis. Ia tak mau Ivanka curiga karena sikapnya yang terlalu dingin.


"Bukankah itu sudah sesuai ukuran? kamu pulanglah, besok akan menjadi hari yang melelahkan," kata Satya dengan halus mengusir Ivanka.


"Tapi aku ingin melihatmu memakainya," ucap Ivanka.


"Astaga, harus pakai jurus apa lagi untuk mengusir wanita ini?" gumam Satya dalam hatinya.


"Baiklah, tapi setelah itu pulanglah..." ucap Satya yang menggeser kursinya dan pergi ke arah sofa. Ivanka segera turun dan membantu Satya melepaskan jasnya.


"Aku bisa sendiri," Satya menolaknya secara halus.


.


.


.


Sementara di tempat lain.

__ADS_1


"Vir? aku sekarang ada di depan kontrakan kamu," kata Amartha di seberang telepon.


"Cepet siap-siap, aku pengen jalan sama kamu. Kamu lagi nggak sibuk, kan? aku tunggu di mobil," lanjut wanita itu.


"Hah?Juminten kalau ngajak nggak ngasih tau dulu, deh! untung aku udah mandi. Bentar bentar, aku ganti baju dulu..." jawab Vira.


Tak butuh waktu lama Vira keluar dari kontrakannya. Amartha langsung menurunkan kaca mobilnya, Virabpun mempercepat langkahnya dan segera membuka pintu mobil dan duduk di samping sahabatnya.


"Jalan, Dam!" ucap Amartha pada Damian.


"Tumben jam segini ngajak jalan? mau kemana emang?" tanya Vira yang membenarkan posisi duduknya.


"Pengen makan crepes sama kamu," ucap Amartha.


"Tapi, aku mau antar kotak makanan ini ya ke kantor mas Satya. Aku bangun kesiangan, dan katanya dia berangkat belum sarapan," ucap Amartha.


"Oke. Siap, Nyaah!" kata Vira.


Namun sesaat obrolan mereka terganggu dengan suara ponsel dari dalam tas Vira. Vira membuka tasnya dan menempelkan benda itu ke telinganya.


"Halo?" sapa Vira pada orang yang meneleponnya saat ini.


"Oh, itu. Iya, maaf Gia. Soalnya tante Vira lagi banyak orderan baju rajut, jadi belum sempat main kesana. Gia jangan sedih, nanti kita pasti bisa ketemu, semangat ya cantik? oke, daaaah..." ucap Vira lalu mematikan ponselnya.


Amartha pun mengernyit heran mendengar nama seseorang yang asing di telinganya.


"Siapa, Vir?" tanya Amartha.


"Gia anaknya Gusti," jelas Vira yang memasukkan kembali ponsel ke dalam tasnya.


"Anaknya Gusti? Gusti siapa?" Amartha malah semakin bingung.


"O.M.G! aku belum pernah cerita, ya?" Vira jadi tertawa sendiri. Akhirnya Vira pun menceritakan pertemuan pertamanya dengan Gusti di pesta pernikahan Amartha dan bagaimana dia kenal dengan anak pria yang diketahuinya sebagai duda tampan itu.


Mobil yang ditumpangi Amartha akhirnya sampai di depan kantor Satya.


"Vira? mendadak aku pengen cake caramel yang ada di coffee shop yang tadi. Kamu bisa beliin nggak? sambil nungguin aku nganter ini?" ucap Amartha.


"Siap, Nyah!" jawab Vira sambil tertawa kecil.


"Belajar dari mana sih kata-kata itu? nyebelin tau, nggak?" kata Amartha. Vira hanya tertawa melihat wajah bete Amartha.


"Dam, anterin Vira ke coffee shop itu yang di sebelah sana, ya?" kata Amartha pada Damian.

__ADS_1


"Baik, Nyonya..." jawab Damian.


...----------------...


__ADS_2