Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Nafkah Yang Tertunda


__ADS_3

"Permisi, Tuan ... Tuan Kenan ingin bertemu," ucap Maura, sekretaris yang datang menemui Satya.


"Baik, saya tunggu di ruangan Saya," ucap Satya.


"Baik, Tuan..." Maura segera menutup pintu dan segera memberitahu reseptionist ubtuk memberikan kartu akses pada Kenan.


Tak berapa lama, pria yang gagah dengan jas berwana navy itu mengetuk dan masuk ke dalam ruangan sang pemimpin perusahaan yang kini menjadi suami dari mantan istrinya.


"Silakan Tuan," ucap Maura yang mempersilakan Kenan masuk setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Halo, Ken ... silakan duduk," sapa Satya saat melihat Kenan muncul dari balik pintu. Satya langsung beranjak dari duduknya mendekati Kenan dan langsung menjabat tangan pria itu.


"Ada perlu apa sampai datang mencariku?" Satya mendudukkan dirinya di sofa dan tak lupa mempersilakan tamunya untuk duduk.


"Nggak perlu sok akrab, karena kita bukan teman," ucap Kenan ketus, yang membuat Satya mengendikkan bahunya, sepertinya Kenan masih saja tidak menyukainya.


"Aku ingin ketemu mantan istriku, Amartha." ucap Kenan tanpa basa-basi, pria itu terlihat lebih tampan walaupun dengan wajah yang terlihat dingin dan tak bersahabat.


"Buat?" Satya melipat tangannya didepan dadanya.


"Aku mau memindah aset restoranku atas nama Amartha, restoran yang aku bangun murni hasil kerja kerasku," kata Kenan yang membuat Satya menautkan kedua alisnya.


"Tidak perlu, aku masih bisa memenuhi kebutuhan Amartha, jadi kamu tidak perlu repot-repot memberikan asetmu untuk istriku," kata Satya dengan wajah yang dibuat sesantai mungkin, sedangkan ucapan Satya itu membuat Kenan menatapnya tajam.


"Kamu sudah memilikinya, dan aku hanya ingin memberikan nafkahku yang sempat tertunda!" kata Kenan yang tak melepaskan tatapannya dari Satya.


"Bagaimanapun kami pernah menikah, jadi sikapmu tidak perlu berlebihan seperti itu!" ucap Kenan dengan tatapan yang tidak suka.


"Aduh, Ken ... kau ini terlalu serius," jawab Satya dengan cengiran khasnya.


"Oke, aku akan memberitahu istriku, kalau kamu ingin bertemu dengannya," kata Satya yang membuat Kenan dongkol setiap pria itu menyebut kata 'istriku'.


"Baik, kalau begitu, kabari aku secepatnya, permisi," ucap Kenan seraya beranjak dan langsung pergi meninggalkan Satya yang geleng kepala melihat tingkah mantan suami Amartha itu.

__ADS_1


"Dih, nggak ada basa-basinya tuh orang!" gumam Satya saat melihat Kenan pergi tanpa menutup pintunya.


"Begini nih, kalau orang gagal move on, emosi mulu kan bawaannya," gumam Satya sembari menutup kembali pintunya, namun baru saja Satya memegang handle pintu, Firlan nyelonong masuk.


"Astaga, Tuan! bikin saya kaget!" seru Firlan saat melihat bosnya didepan pintu.


"Kebalik! saya yang kaget liat kamu langsung nyelonong gitu aja!" ucap Satya yang tak kalah nyolotnya dari sang asisten.


"Kita ributnya di pending dulu, Tuan ... karena ada hal penting yang harus saya sampaikan," ucap Firlan seraya masuk dan menutup pintu.


"Beberapa investor menarik sahamnya dari perusahaan ini, saya rasa ada seseorang yang ingin menjatuhkan anda, Tuan..." ucap Firlan yang membuat Satya memijat pangkal hidungnya.


Satya mendengar penjelasan detail dari Firlan, sementara pikirannya menerka siapa dalang dibalik mundurnya para investor yang sudah bertahun- tahun menanamkan uangnya di perusahaan papinya itu.


Malam menjelang, Amartha yang ingin memberitahu Satya perihal sikap Aaraf yang menurutnya sangat membuat tidak nyaman, mendadak mengurungkan niatnya karena melihat wajah suaminya yang terlihat sedang banyak pikiran.


"Mas..." Amartha menelusup di pelukan suaminya, yang sedang berbaring diatas ranjang.


"Iya, Sayang?" Satya mengelus rambut panjang istrinya dan sekilas mengecup pucuk kepala Amartha.


"Nggak ada, Sayang ... mungkin aku cuma kecapean, jadi keliatannya suntuk," Satya tersenyum, menutupi apa yang sedang mengganggu pikirannya. Bagaimanapun perusahaan itu kini menjadi tanggung jawabnya, dan dia akan mencari cara agar masalahnya bisa ceoat diselesaikan.


"Ehem ... mending kita bikin yang anget-anget aja, Yank ... yuk?" ucap Satya sambil menaik turunkan alisnya.


"Dih, ujungnya kesitu lagi, kesitu lagi," kata Amartha yang memutar bola matanya malas.


"Yank? ngadon kue, yuk?" ucap Satya yang menoel dagu Amartha.


"Nggak mau, udah malem ... pikiran ku nggak jauh- jauh dari urusan perkembamgbiakan manusia," ucap Amartha yang langsung bergeser dan menaikkan selimutnya, bersiap untuk tidur.


"Idih, kamu mikirnya apa sih, Yank?" Satya membalikkan tubuh Amartha yang memunggunginya.


"Orang aku pengen dibikinin brownies almond sama cappucino panas, kok! kamu pasti mikirnya aku mau iya- iyain kamu, ya? ngaku, deh..." ucap Satya yang membuat wajah istrinya mendadak merah menahan malu.

__ADS_1


"Ihhhhh, nyebeliiiin," Amartha langsung beranjak dari tempat tidurnya.


"Dih kok nyebelin, sih?" gumam Satya yang tidak digubris Amartha.


"Yank? mau kemana?" Satya bertanya saat Amartha berjalan ke arah pintu.


"Ngadon kue!"


"Ikuuuuttttt!" seru Satya yang langsung mengekori Amartha dari belakang.


Akhirnya malam itu Amartha membuat adonan kue brownies sesuai permintaan suaminya, padahal jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, tapi sepasang suami istri itu malah melakukan kegiatan adon mengadon.


"Kenapa liatin terus? awas ileran," kata Amartha tang sedang membereskan peralatan bakingnya.


"Nggak apa-apa, kamu makin cantik, Yank..." kata Satya yang membuat segaris senyum terukir di wajah Amartha.


"Gombal ... tunggu bentar ya? browniesnya lagi di bake dalem oven," kata Amartha yang dibalas senyuman oleh Satya


Setelah menunggu selama kurang lebih 25 menit, brownies dengan taburan kacang almond akhirnya siap tersaji di atas piring. Satya duduk di kursi meja makan menatap brownies yang fresh from the oven.


"Ini udah malem loh, Mas ... nggak biasanya ngemil kayak gini," ucap Amartha yang menyodorkan secangkir cappucino low sugar didepan Satya.


"Makasih ya, Yank! Nggak tau nih, mendadak pengen aja, kayaknya enak makan brownies sambil nyeruput kopi kayak gini," kata Satya yang menatap istrinya penuh cinta.


"Yank? ada yang mau aku omongin sama kamu?" ucap Satya tiba-tiba.


"Ngomongin apaan?" Amartha memandang Satya dengan lekat.


"Kenan dateng ke kantor, dan dia pengen ketemu sama kamu. Dia bilang sama aku, kalau dia mau kasih kamu beberapa aset miliknya yang berupa restoran, katanya selama pernikahan kalian, dia belum sempet ngasih kamu nafkah," ucap Satya menyampaikan apa yang Kenan sampaikan padanya di kantor.


Amartha memandang wajah suaminya, ia menautkan jari jemarinya, wanita itu berpikir sejenak. Menarik nafasnya dan membuangnya perlahan.


"Nafkah yang tertunda? bahkan memikirkannya saja aku tidak pernah, apalagi mengharapkan materi darinya dengan pernikahan yang hanya bertahan dalam hitungan hari," gumam Amartha dalam hatinya, ia terus saja menimbang-nimbang apa yang harus dilakukannya.

__ADS_1


"Kalau menurut Mas?" akhirnya Amartha bersuara.


...----------------...


__ADS_2