
"Astaga, kenapa dia lambat sekali?" ucap Fendy yang masih menunggu Sinta di ruang tamu. Sedangkan Sinta sedang kesusahan memakai kebaya modern di kamarnya.
"Apakah semua wanita nggak bisa bersiap-siap dengan cepat?" gerutu Fendy, ia menaruh kedua tangannya ke dalam saku celananya.
Beberapa kali dia melihat arlojinya, sudah lebih dari 20 menit wanita itu mempersiapkan dirinya. Tiba-tiba ponsel Fendy berdering, ia mengatur nafasnya sebelum menjawab pamggilan itu.
"Halo? ya, sebentar lagi ... dia sedang bersiap, akan aku kabari ketika kami sudah akan pergi," ucap Fendy.
"Siapa akan mengabari siapa?" suara Sinta dari arah belakang tubuh Fendy, membuat pria itu sedikit terkejut.
Fendy segera berbalik, menatap wanitanya dengan kebaya yang membungkus tubuh indahnya.
"Siapa?" tanya Sinta lagi.
"Dari kampus kamu! mereka nanya kamu niat dateng atau nggak sebenernya?" ucap Fendy cepat.
"Lah emang kan aku nggak niat, gimana sih?" ucap Sinta tak mau kalah dari pria itu. Mata Fendy membulat saat melihat bawahan yang Sinta pakai.
"Astaga, kenapa kau memakai kebaya dengan belahan kaki setinggi itu?" Fendy memijit pusing kepalanya.
"Begini nih kalau nggak ngerti fashion," ucap Sinta sambil memamerkan kebaya yang dibelinya dengan Fendy tempo hari. Karena saat itu Fendy ada telepon penting dari seseorang, dia tidak mengecek kebaya yang bagaimana yang Sinta beli. Dia hanya membayarnya kemudian pergi membawa wanita itu pulang.
"Ganti!" ucap Fendy.
"Nggak usah ngadi-ngadi, deh!" ucap Sinta.
"Haaaiiish, ya sudah cepat! waktu kita tidak banyak wahai lulusan terbaik!" kata Fendy seraya menarik Sinta pergi.
Fendy membukakan pintu mobil untuk Sinta. Namun baru saja Fendy duduk di kursi kemudi, Sinta memekik menarik jas di lengan pria itu.
"Jubah hitamku ketinggalan di ruang tamu!" seru Sinta.
"Astagaaaaaa! kau ini ceroboh sekali!" sentak Fendy.
__ADS_1
"Sebentar aku akan mengambilnya," ucap Sinta yang sudah melepaskan seat belt-nya.
"Tidak usah, dengan high heels seperti itu yang ada kau akan jalan seperti kura-kura, biar aku saja yang ambil. Tunggulah disini," ucap Fendy, ia membuka pintu dan berlari masuk ke dalam rumah, dan mengambil jubah dan toga milik Sinta.
Tak lama pria itu kembali dan melempar jubah dan toga ke kursi belakang. Pria itu segera menancapkan mobilnya pergi dari pelataram rumah Sinta.
Fendy nampak fokus menyetir, ia bahkan tak mengajak Sinta bicara. Dia membuat mobil itu bergerak cepat dan menyalip beberapa kendaraan di depannya.
"Heh! kamu ingin kita mati konyol?" ucap Sinta ketus.
"Tenang saja, aku ini ahli dalam mengendarai mobil," kata Fendy tanpa melirik wanita di sampingnya.
"Yang namanya apes itu nggak bisa diprediksi, jangan terlalu mendewakan diri!" ucap Sinta.
"Wah kamu sudah belajar banyak hal, ya?" kata Fendy tersenyum tipis.
Fendy memasang earpods dan menekan ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Kamu menghubungi siapa?" tanya Sinta penasaran.
"Nggak semua hal perlu aku katakan," ucap Fendy datar.
"Dasar pria menyebalkan!" gumam Sinta, ia sangat dongkol dengan pria yang sedang menyetir itu.
Fendy segera menghentikan mobilnya saat mereka sudah sampai di tempat tujuannya. Sinta keluar tanpa bantuan Fendy, karena pria itu mengambil jubah dan toga milik Sinta.
"Pakailah," ucap Fendy yang membantu memasangkan toga setelah Sinta memakai jubah hitamnya.
"Nggak nyangka wanita galak ini punya otak yang encer," ucap Fendy setelah melihat penampilan Sinta yang cantik tanpa sanggul.
"Ayo," ajak Fendy pada Sinta. Mereka berdua masuk ke dalam gedung itu, dan lmSinta langsung menuju kursi para wisudawan.
Acara pun berlangsung, Sinta sebagai lulusan terbaik diminta untuk menyampaikan sepatah dua patah kata. Wanita itu pun naik ke atas podium setelah pembawa acara mempersilakannya.
__ADS_1
"Terima kasih, atas waktu yang diberikan kepada saya. Sejujurnya saya tidak mempersiapkan ini semua, tapi satu hal yang pasti, sesuatu tidak akan terjadi jika kita tidak memperjuangkannya, ini bukan akhir dari perjuangan kita, ini awal dari kerja keras kita. Dan kita tidak akan sampai di titik ini jika..." Sinta tak bisa melanjutkan ucapannya saat melihat sosok kedua orangtua.
"Mama? Papa?" cicit Sinta, air mata lolos begitu saja tanpa permisi.
"Dan kita tidak akan sampai di titik ini jika tidak ada orang-orang yang selalu memberikan dukungan," Sinta tak sanggup melanjutkan lagi kata-katanya. Arya dan Kamila berdiri lalu berjalan menghampiri putrinya. Sinta segera turun dari podium dan memeluk kedua orangtuanya, mereka dikelilingi suasana haru dan spontan mereka semua yang ada di ruangan itu bertepuk tangan. Bahkan ada yang tak sanggup menahan air matanya agar tidak jatuh. Sinta memeluk dua orang yang sangat ia rindukan, wanita itu tersenyum pada Fendy. Pria itu menganggukkan kepalanya seraya ikut bertepuk tangan.
"Mama dan papa bangga sama kamu," ucap Kamila.
"Dan aku juga!" ucap seseorang seraya berjalan mendekat.
Sinta melepaskan pelukannya pada Arya maupun Kamila, dia menoleh pada sosok yang berdiri dengan gagah di depannya.
Sementara di tempat lain, Vira masih saja menunggu Firlan berbicara dengan wanita berkacamata. Ia berusaha mengalihkan pandangannya, dengan memainkan ponselnya. Mengusap benda itu berkali-kali, membuka sosial medianya.
Saat ini dia merasakan perih di lambungnya, Vira yang dari jaman kuliah memiliki penyakit lambung kronis tidak bisa menahan lapar terlalu lama. Sedangkan dari semalam sampai pagi ini belum ada yang masuk ke dalam perutnya bahkan setetes air pun belum mampir di kerongkongannya.
Vira menoleh pada Firlan, pria itu masih berbincang. Entah apa yang mereka bicarakan hampir satu jam ini. Susu yang Vira bawa sudah tidak dingin, ia mulai gelisah. Rasa sakit sudah mulai menjalar di perutnya.
Saat Vira melempar pandangannya pada Firlan, ternyata kekasihnya itu sudah beranjak dari duduknya begitu juga dengan si wanita. Firlan menarik lengan wanita itu untuk membisikkan sesuatu yang membuat satu senyuman terbit dari bibir si wanita berkacamata.
"Hati-hati di jalan," seru Firlan sambil melambaikan tangannya, tentu saja ucapan pria itu sampai ke telinga Vira.
Sedangkan Alia mengggelengkan kepalanya, melihat tingkah aneh Firlan. Alia pergi meninggalkan gedung itu dengan perasaan menggantung, pasalnya Firlan hanya mengatakan bahwa dia akan berusaha membicarakannya dengan bosnya. Selebihnya mereka bicara tidak nyambung sama sekali.
Setelah melihat Alia pergi, Firlan pun berjalan menuju meja Vira.
"Ay..." sapa Vira, wajahnya sudah mulai pucat. Bulir keringat sudah membanjiri dahinya.
"Ada apa? bukankah aku sudah bilang kalau aku akan memberitahumu kalau aku udah nentuin jawabannya," ucap Firlan datar.
"Iya, tapi..." ucap Vira tersenyum tipis sebelum pandangannya kabur dan semuanya menjadi gelap.
...----------------...
__ADS_1