Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Pesan Terhapus


__ADS_3

"Kalau apa?" Satya penasaran dengan apa yang dikatakan istrinya. Amartha ragu untuk mengatakannya, sesaat ia menatap suaminya itu.


"Kalau dia pengen ketemu buat ngebahas pernikahan kalian," ucap Amartha namun bukannya mendapat ekspresi terkejut, Satya malah menatap Amartha cengo.


"Kalian siapa?" Satya balik bertanya.


"Kamu sama dia lah," Amartha ngegas pake pol, udah dongkol banget rasanya. Satya malah ngejawab dengan santai tanpa beban.


"Ngaco, mana ada!" Satya menangkup wajah Amartha dengan kedua tangannya.


"Seenggaknya itu yang aku baca dari chat dia," cicit Amartha, dia menatap lekat kedua mata suaminya. Ia mencari apakah ada sesuatu yang disembunyikan Satya darinya.


"Masa sih? aku nggak pernah baca chat itu," jawab Satya. Pria itu mengetuk-ngetukkan jari di dagunya.


"Coba ya? kita lihat bareng-bareng, chat aku hanya masalah pekerjaan dan aku selalu pakai bahasa formal. Coba kamu lihat sendiri," Satya merogoh ponselnya dan menyuruh Amartha untuk membuka chat mana yang dimaksud istrinya itu.


"Kok dihapus, aku yakin kalau di jam ini dia kirim kamu chat, aku nggak bohong, Yank..." ucap Amartha yang menatap Satya serius dan menunjuk sebuah chat Ivanka yang terhapus.


"Mungkin dia salah kirim, memangnya kamu baca disitu dia nyebut nama aku?" ucap Satya dengan enteng


"Nggak, sih ... tapi kok dihapus," Amartha malah bertanya pada Satya yang kini mengendikkan bahunya. Pria itu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.


"Mungkin salah kirim, Sayang ... nggak usah dipikirin banget, nggak penting. Jangan habisin waktu kamu buat mikirin sesuatu yang nggak pasti, inget kamu nggak boleh banyak pikiran, lebih baik sekarang kita tidur, dan aku pengen kamu pakai baju yang kayak waktu ituu..." Satya memegang kedua bahu istri seraya menaik turinkan alisnya mencoba minta jatah. Syukur kalau dikasih kalau nggak ya berarti terima nasib.


"Nggak mauuuuu!" seru Amartha yang langsung beranjak dari duduknya.


"Ayolah, Yaaaaaank..." Satya merengek sambil mengekori kemana istrinya berjalan.

__ADS_1


Amartha tertawa saat Satya berjalan dibelakangnya. Dia lega tapi juga curiga. Lega karena ia tak melihat gelagat aneh dari Satya, namun dia curiga karena banyak sekali chat terhapus dari Ivanka. Karena dia yakin, wanita itu ada ketertarikan dengan suaminya. Tapi Satya ada benarnya juga, ia tidak boleh terlalu banyak pikiran karena itu bisa berdampak buruk baginya juga kandungannya.


Keesokan harinya, Satya terlebih dulu menghubungi asistennya, Firlan untuk menemaninya ke kantor Ivanka. Dia tidak mau Amartha berpikiran macam-macam, walaupun sebenarnya Amartha juga tidak akan tahu sedetail itu jika Satya akan menemui Ivanka, toh itu hanya untuk keperluan bisnis.


Pria itu beserta keluarganya duduk di ruang makan. Disana juga ada Rudy dan Rosa, Amartha meminta kedua orangtuanya untuk tinggal beberapa hari lagi, dengan alasan si jabang bayi masih kangen nenek kakeknya. Akhirnya mereka menuruti permintaan Amartha.


"Sat? bulan depan kandungan Amartha masuk bulan ke tujuh kan, ya" tiba-tiba Sandra bertanya, sedangkan yang ditanya sedang minum teh pun hampir tersedak.


"Uhuk, iya Mam..." Satya hanya menjawab singkat. Amartha menyimak apa yang ingin dikatakan oleh mertuanya itu.


"Kalau begitu mumpung besan disini, kita langsung tentuin aja tanggal baiknya," ucap Sandra melihat ke arah Rosa dan Rudy d


secara bergantian.


"Kalau saya sih tidak masalah tanggal berapa saja, bener nggak Mah?" Rudy menyenggol lengan Rosa untuk meminta persetujuan Rosa.


"Kita bicarakan nanti, sekarang kita sarapan dulu," Abiseka menginterupsi pembicaraan orang-orang dewasa ini.


Sandra mempersilakan kedua besannya untuk menikmati hidangan yang tersaji di meja. Setelah selesai dengan sarapannya, Satya berjalan ke arah pintu utama diikuti oleh istrinya.


"Aku berangkat ya, Sayang..." Satya memutar tubuhnya saat berada di teras rumah saat melihat Barli sudah menyiapkan mobil untuk Tuannya.


"Hati-hati di jalan ya, Mas..." ucap Amartha lembut.


"Oh ya, Mas? kita jadi pindahan hari ini? aku balik apartemen, ya? bareng sama mama papa," tanya Amartha, meminta ijin terlebih dahulu.


"Iya jadi, Sayang. Bawa barang seperlunya aja, kita bisa pelan-pelan mindahin barangnya, lagian disana udah lengkap kok, jadi kamu nggak usah khawatir. Kalau mau kesana minta tolong sama Sasa buat bantuin. Inget nggak boleh kecapean, nanti aku suruh Damian buat nganterin kamu ke apartemen," ucap Satya yang diangguki Amartha.

__ADS_1


"Nanti aku usahakan pulang cepet," lanjut pria gagah itu.


"Iyaaaa, Maaaaas..." sahut Amartha membuat Satya jadi gemas.


"Ayah berangkat dulu ya dedek utuy..." Satya membungkuk berbicara di dekat perut Amartha, lalu ia menciumnya sekilas.


"Apa? dedek utuy? jelek amat namanya," celetuk Amartha. Satya tertawa kecil


"Biarin aja sih, Yank ... dedeknya juga nggak protes," Satya menunjuk dedek bayi yang ada di dalam perut istrinya, dedek bayi yang mereka tahu berjenis kelamin perempuan.


"Ya udah, aku berangkat..." ucap Satya seraya mencium kening Amartha. Perlakuan Satya melebihi dari kata cinta yang selalu ia ucapkan. Pria itu tahu bagaimana cara memperlakukan seorang wanita, Amartha melihat suaminya masuk ke dalam mobil. Ia melambaikan tangan dengan senyum yang merekah. Wanita itu berdiri sampai mobil Satya tak terlihat lagi, baru lah ia kembali masuk ke dalam rumah.


"Halo, Lan? udah sampe?" tanya Satya saat panggilannya sudah tersambung dengan Firlan.


"Sudah hampir satu jam yang lalu saya nunggu Tuan, disini. Sudah lumutan dan mungkin sebentar lagi jadi fosil," ucap Firlan dengan nada datarnya, walaupun begitu Satya paham asistennya sudah pasti kesal karena tadi pagi Satya menyuruhnya buru-buru.


"Sorry, Lan ... saya sebentar lagi nyampe," ucap Satya menenangkan asistennya yang saat ini sedang kruyukan perkara belum sarapan atau pun dapat telepon dari yayang ayam, eh yayang Vira.


"Saya tunggu di loby, Tuan." ucap Firlan sebelum panggilan diakhiri oleh Satya.


Satya memang menghubungi Firlan untuk langsung datang ke kantor Ivanka. Dia meminta supaya Firlan datang sebelum jam 9 pagi. Dan dirinyalah yang malah datang terlambat. Sebenarnya kalau bukan karena pembicaraan soal tanggal baik untuk melaksanakan prosesi adat nujuh bulan, mungkin dia sudah sampai sedari tadi. Sedangkan asistennya itu sudah menunggu selama hampir satu jam.


Setelah menunggu sekian lama akhirnya Satya muncul juga di lobby. Firlan langsung mendekat dan mereka berjalan menuju pintu besi yang membawanya menuju lantai paling atas. Pria bertubuh tegap itu berjalan sampai di depan sebuah ruangan. Alia langsung menyambut kedatangan Satya dan mengetuk pintu ruangan bosnya.


Pintu pun terbuka dan menampilkan sosok cantik yang duduk berhadapan dengan seorang pria paruh baya. Namun, Senyum Ivanka langsung memudar, saat mengetahui Satya datang bersama dengan asistennya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2