Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Wanita Selalu Benar


__ADS_3

"Yank … udah, dong … jangan marah lagi, aku nggak kuat tau kalau kamu marah kayak gini terus. Hati aku mendadak cekat-cekit kayak ada yang nyiletin, Yank…" Satya masih merayu istrinya yang tiba-tiba saja bad mood.


Amartha tak menghiraukan Satya. Wanita itu duduk anteng dengan bantal yang menyangga pinggangnya, perhatiannya sedang terpusat pada mang Anto dan Sasa yang sedang merawat tanaman, ada yang diberi pupuk dan ada juga yang diganti potnya.


Sasa dan mang Anto sekuat tenaga untuk tidak tertawa, pasalnya pria gagah itu seperti kucing penurut ketika berada di samping istrinya. Keduanya diam seribu bahasa dan pura-pura tak mendengar apapun.


Amartha kemudian mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya, ia menyapu layarnya dengan jarinya. 


"Sssst!" Satya memanggil salah satu diantara kedua orang yang sibuk dengan tanamannya.


"Ssst…" Satya mendesis lagi. Mang Anto mendongak, mencari tahu dari mana asal suara desisan itu.


Satya menggerakkan kepalanya, menunjuk pintu keluar saat mang Anto kebetulan melihat ke arahnya. Sebagai sesama kaum lelaki yang selalu salah dimata wanita, mang Anto pun langsung paham jika sang majikan butuh waktu berdua untuk mengembalikan suasana rumah tangga agar tetap aman dan terkendali. Saat Amartha menoleh pada Satya, pria itu pura-pura sedang memperhatikan tanaman lain yang ada di sampingnya.


"Es krimnya, Nyonya…" ucap Bik Surti yang membawa es krim dengan rasa strawberry dengan taburan sprinkle diatasnya. 


"Makasih ya, Bik…" ucap Amartha.


"Sama-sama, Nyonya. Permisi…" bik Surti langsung kembali ke dapur untuk memasak.


Satya kembali menatap mang Anto, ia memberi isyarat agar mang Anton Juga membawa Sasa keluar.


Mang Anto yang mendapatkan sebuah kode, menyenggol Sasa dan bicara melalui bahasa kalbu supaya gadis yang  seumuran dengan anaknya itu segera menghentikan apa yang sedang dikerjakannya. Sasa hanya geleng-geleng tak mengerti dengan mang Anto yang bicara tanpa bersuara. Sasa mengedikkan bahunya, ia benar-benar tak menangkap apa yang akan disampaikan pria yang sudah berumur itu padanya.


Namun, ketika Sasa tak sengaja melihat majikannya, gadis itu baru mengerti kalau mereka disuruh untuk pergi dari area taman. Mereka berdua segera melepaskan sarung tangan lateks berwarna hitam.


"Kami permisi dulu, Nyonya…" ucap mang Anto seraya berdiri diikuti dengan Sasa.


"Loh pada mau kemana? kan belum selesai," kata Amartha menunjuk beberapa tanaman yang belum kembali  ke tempat semula.


"Kami ingin mengisi perut sebentar di dapur belakang, mengurus tanaman ternyata membuat cacing di perut kami ikutan berdemo, Nyonya…" ucap mang Anto beralasan.

__ADS_1


"Ya udah tinggalin aja, makan dulu aja mang Anto dan Sasa … Gampang nanti dilanjutin lagi," kata Amartha perhatian pada para pelayannya.


Mang Anto dan Sasa bergerak menuju pintu. Satya mengangguk, sambil mengacungkan jempolnya secara diam-diam pada mang Anto.


Tinggalah mereka berdua di tempat yang sangat memanjakan mata.


"Ehem!" Satya berdehem, berharap mendapatkan perhatian dari istrinya.


"Eheeeem!" Satya mengeraskan suaranya satu oktaf.


"Yank, kejamnya dirimu. Pria tampan nggak ada lawan sepertiku kamu cuekin seperti ini," ucap Satya sembari memegang dagunya, mencoba merayu Amartha dengan pesonanya.


"Yank, tau nggak persamaan aku sama es krim itu?" tanya Satya. Amartha cuek saja, tak menanggapi.


"Kalau es krim bisa meleleh jika ditaruh pada suhu ruang, kalau aku meleleh cukup ditatap sama kamu, ea ea ea…" ucap Satya heboh sendiri.


Amartha tak menghiraukan suaminya yang sudah mengeluarkan segala jurus dari padepokan rayu merayu, namun tak satupun yang berhasil. Wanita itu dengan santainya memasukkan satu sendok kecil es krim ke dalam mulutnya. Satya yang melihat Amartha sedang makan es krim pun mendadak ingin menjadi sendoknya, eh mendadak ingin juga makan es krim maksudnya begitu yaaa.


Dan…


Plak!


Tangan Amartha menamplek pelan tangan suaminya yang akan mencuri es krim miliknya.


"Halo? Iyem? lagi ngapain?" ucap Amartha saat panggilannya sudah tersambung dengan Vira.


"Aku? baik alhamdulillah, kamu gimana? syukurlah kalau baik juga," kata Amartha, sementara Amartha terlibat obrolan dengan Vira dan melupakan es krimnya yang mulai mencair sedikit, meskipun sajian dessert itu sudah ditempatkan pada gelas kaca yang bisa mencegah pengembunan di bagian luar gelas dan bisa menjaga kepadatan es krim tersebut.


Satya berinisiatif akan menyelamatkan gundukan es krim itu supaya tidak berakhir mubazir. Tangannya mulai merambat semakin dekat dengan rasa cita manis yang begitu menggiurkan. Kurang dari sejengkal, tangan Satya akan berhasil meraih sendok kecil dengan tangkai yang panjang. Jari jemari pria itu seakan menari-nari diatas meja, mencoba mengecoh Amartha agar tak curiga.


Plak!

__ADS_1


Tangannya kembali ditabok istrinya, sambil melirik Satya dengan ganas. Sementara mulut masih ngoceh ngobrol dengan Vira di telepon. 


"Iya, Yem … kira-kira rencananya gitu, besok kamu bisa datang, kan?" tanya Amartha.


Satya masih berusaha dengan gigih menyabet es krim itu. Namun, Amartha segera mengangkat telunjuknya dan menggerakkannya ke kanan dan ke kiri diiringi gerakan kepalanya yang ikut geleng-geleng.


"Ya, aku maunya dibikin ceria gitu. kasih gambar rumput dan hewan-hewan yang lucu-lucu. hahahahaha … bener! kasih juga tuh awan sama langit biru. Hahahahaha, oh iya iya … nanti ada yang gelantungan di pohon gitu ya, Yem! kamu tau kan maksudku? nggak nyangka deh, ternyata kita masih klik kayak dulu, waktu masih kuliah! udah nggak perlu lagi ngomong panjang lebar, udah tau maunya kayak gimana," ucap Amartha sambil cekikikan menutup mulutnya. 


"Gampanglah! tenang aja, aku yakin dia nggak akan protes. Beneran, Yem! ya elah, masa nggak percaya, sih? kan aku yang maunya begitu, kan? hahahaha, kamu emang paling bisa " ucap Amartha pada Vira


Satya melihat kesempatan di depan mata pun, langsung bergerak cepat untuk mendapatkan satu suapan makanan yang terbuat dari olahan produk susu. Melihat dirinya telah kecolongan beberapa kali, akhirnya Amartha pun mengakhiri obrolan santainya dengan Vira.


"Ya udah ya, Yem … besok aku tunggu di rumah, nanti kabarin aku kalau kamu udah mau jalan ke sini. Makasih ya, Yem! dadah bye bye..." ucap Amartha seraya menutup sambungan teleponnya.


"Kesempatan banget sih kamu, Mas…" ucap Amartha seraya menaruh ponselnya di atas meja. Ia mengambil gelas bening dengan kaki pendek yang dipakai untuk menyajikan es krim miliknya.


"ih, katanya bisa menjaga es krim supaya nggak meleleh? ini kok udah ada yang mencair, sih? yang jual nggak bener ini," protes Amartha pada gelas-gelas kaca yang tidak bersalah. 


"Emang maksimal berapa menit?" tanya Satya sembari tangannya meraih benda pipih yang ada diatas meja. Sedangkan Amartha masih mengaduk-aduk es krim yang sudah berubah bentuk.


"Maksimal berapa menit?" Satya mengulang pertanyaannya.


"Setengah jam?" ucap Amartha sambil mengingat-ingat penjelasan yang tertera pada deskripsi box.


"Ya bener kalau gitu, orang kamu telponan sudah hampir satu jam. Nih kalau nggak percaya," Satya menunjukkan riwayat panggilan pada ponsel wanita itu.


"Jadi aku yang salah gitu? jahat kamu, Mas!" kata Amartha mewek.


Satya hanya bisa menepuk jidatnya, ia telah melupakan pasal satu.


'Jika wanita selalu benar!'

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2