
"Untuk Vira," ucap Firlan singkat.
"Vira? Vira temannya Amartha? iya?" Satya malah mencecar Firlan dengan pertanyaan yang mengarah pada urusan pribadi asistennya.
"Oh, apa jangan-jangan kalian?" Satya menatap Firlan dengan tatapan menelisik. Sementara yang ditatap tersenyum canggung.
"Dilihat dari ekspresi wajahmu itu, sepertinya tebakanku memang benar! baguslah Lan, aku kira kamu nggak tertarik sama perempuan, hahahahah dan kalau dilihat-lihat sepertinya kalian memang cocok! Ishhh kenapa melihatku seperti itu? pergilah belikan obat dan makanan untuknya," ucap Satya yang mendapat lirikan tidak mengenakan dari asistennya, namun aesaat kemudian Satya mendesis, ia merasakan kepalanya yang semakin sakit, dan tubuhnya mengeluarkan keringat dingin, membuat wajahnya semakin pucat.
"Apa anda baik-baik saja, Tuan?" tanya Firlan yang melihat bosnya memegangi kepalanya.
"Tidak apa-apa, hanya sedikit pusing," kata Satya, padahal ia merasakan sakit kepala yang hebat.
"Lebih baik anda istirahat, untuk dokumen semua sudah saya siapkan jadi anda tidak perlu mencemaskan hal itu, saya yakin kita akan mendapatkan kerjasama dengan Nona Ivanka, dari Vans Corporation." ucap Firlan yang mendapat senyuman tipis dari bosnya, asistennya telah bekerja keras membantunya, dia sangat beruntung mempunyai asisten yang loyal seperti Firlan.
"Sepertinya Vira membawa pengaruh baik buat kamu, Lan!" ucap Satya kemudian.
"Kenapa anda malah membahas masalah kehidupan pribadi saya, Tuan?" Firlan berdecak kesal, sementara Satya malah tertawa dan membuat kepalanya semakin nyut-nyutan
Satya yang merasa kurang sehat pun meminta untuk diantar supir ke rumah sakit dimana istrinya dirawat. Pria tampan itu tidak mau mengambil resiko untuk menyetir dalam keadaan sakit seperti ini. Tak berapa lama pria tampan itu muncul dari balik pintu dengan wajah yang pucat.
"Kamu sakit, Mas?" ucap Amartha yang melihat suaminya begitu pucat. Satya hanya tersenyum tipis dan berjalan mendekat ke arah istrinya yang tengah terbaring.
Belum sempat Satya menjawab, ponsel yang ada di dalam sakunya berdering. Satya memberi kode pada istrinya untuk menunggu sebentar. Amartha mengangguk dan hanya melihat suaminya yang kini berdiri menghadap jendela kaca besar yang dibuka tirainya.
"Aaraf?" Satya mengernyit heran, saat melihat layar ponselnya menampilkan nama Aaraf, namun nomor itu nomor dengan kode negara lain.
"Apa sudah dia kembali ke Jerman?" gumam Satya. Daripada penasaran, Satya memilih untuk mengangkat panggilan itu.
__ADS_1
"Hai Sat, ini gue Aaraf!" ucap Aaraf ketika panggilannya sudah terhubung pada Satya.
"Iya, tau..." kata Satya yang merasakan kepalanya kembali berdenyut, membuat dia menyahut dengan tidak bersemangat.
"Sory bro! gue nggak sempet dateng ke acara nikahan lo. tapi Asyraf dateng kan?" ucap pria itu yang membuat Satya terkejut.
"Apa? gimana, gimana? kamu ngomong apa tadi?" Satya ingin memastikan lagi bahwa ia tidak salah dengar.
"Gue nggak bisa dateng waktu nikahan lo, gue lagi sibuk banget, tapi Asraf dateng kesana, kan? gue nitip hadiah pernikahan buat lo sama dia, tiket bulan madu ke Maroko," ucap Aaraf sekali lagi
"Ashraf?" lirih Satya yang membuat Aaraf mengernyit heran.
"Ashraf sodara kembar gue, masa lo nggak inget? lo nggak lagi amnesia, kan? kan lo juga deket sama dia," ucap Aaraf yang membuat Satya masih bingung dengan informasi yang sangat mengejutkannya saat ini.
"Sodara kembar, ya? ehm, iya dia datang kok, iya dia datang waktu itu," jawab Satya.
"Sekali lagi selamat, ya? cepetan kasih gue keponakan! bye!" kata Aaraf dan sambungan telepon itu berakhir. Satya mengantongi kembali ponselnya, sedangkan pikirannya kini menerka-nerka sebenarnya apa yang sedang terjadi.
"Ada apa, Mas?" Amartha khawatir dengan keadaan suaminya yang semakin pucat dan terlihat keringat bermunculan di wajah pria itu.
"Nggak kenapa-napa kok," kata Satya yang tidak mau membuat istrinya menjadi cemas.
"Kamu udah ngerasa baikan? atau masih ada yang keluhan?" lanjut pria itu ketika sampai di ranjang istrinya.
"Udah lebih baik, Mas..." ucap Amartha saat mendapat sentuhan tangan suaminya, rasanya begitu nyaman saat tangan itu mengelus wajah dan kepalanya.
"Mami mana?" Satya hanya melihat tas milik Sandra diatas sofa namun tidak melihat sosok maminya.
__ADS_1
"Ada ... mami lagi di toilet," ucap Amartha menunjuk pintu toilet dengan dagunya.
"Oh ya, ini ponsel baru buat kamu, Yank! sementara kamu pakai ini dulu, maaf aku lupa buat ngasih ini sama kamu. Kamu tidurnya pules banget, jadi nggak tega buat bangunin," kata Satya yang menyodorkan sebuah ponsel keluaran terbaru dari brand ternama.
"Kebetulan tadi ada meeting mendadak, oh ya ... boxnya aku taruh di dalam lemari itu," lanjutnya setelah Amartha menerima ponsel berwarna hitam itu.
"Makasih ya, Mas ... tapi beneran kamu nggak lagi kenapa-napa?" Amartha semakin jelas melihat suaminya yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu yang tidak ia ketahui. Amartha terus memandangi wajah pucat suaminya.
"Muka kamu pucet banget, dan tangan kamu dingin banget, Mas..." kata Amartha yang merasakan telapak tangan suaminya terasa dingin.
"Mungkin karena suhu ruangan ini yang terlalu dingin, Sayang..." Satya mencoba mengelak.
"Eh, Sat? udah dateng, muka kamu kenapa Sat? pucet banget," ucap Sandra begitu keluar dari toilet dan melihat anaknya yang berdiri disamping menantunya
"Masa sih?" Satya pura-pura tidak tahu.
"Tuh, kan? kata mami juga kamu keliatan pucet, Mas!" ucap Amartha yang menggenggam tangan suaminya.
"Kamu sakit, Sat?" tanya mami Sandra.
"Nggak kok, Mam! nggak sakit. Ehm, mungkin cuma kecapean aja, Mam!" Satya mencari alasan, karena kalau maminya sampai tahu dia sedang sakit, dia pasti disuruh untuk istirahat dan nggak boleh ke kantor, dan itu nggak boleh sampai terjadi. Karena besok ada pertemuan penting dengan seseorang yang akan menanamkan modal di perusahaannya.
"Amartha lagi hamil, kamu jangan terlalu sibuk kasian istri kamu, dia juga butuh perhatian dari suaminya, kamu harus belajar dari papi kamu bagaimana memanjakan istri yang lagi hamil, papimu itu suami siaga, apa aja yang mami pengen selalu papi beliin walaupun mami suka kebangetan manjanya, tapi selama hamil kamu dan Prisha papi selalu ada buat mami," kata Mami yang membuat Satya sangat pusing.
"Udah khotbahnya, Mam?" ucap Satya yang sudah tidak tahan mendengar sang mami bicara tanpa titik koma. Baru saja Sandra akan bicara, Satya langsung melanjutkan ucapannya
"Kepala Satya udah nyut-nyutan apalagi ditambah denger Mami daritadi ngomong , Satya jadi pengen..." Satya langsung melepas genggaman tangan istrinya dan lari ke dalam toilet.
__ADS_1
"Howeeeeeeekkkkk!" pria itu mengeluarkan isi perutnya.
...----------------...