
"Selamat pagi, Nona Ivanka maaf saya terlambat ada sedikit trouble," ucap Satya, pria bertubuh tegap yang berjalan ke arah Ivanka yang langsung berdiri saat melihatnya.
"Never mind, Pak Satya..." ujar Ivanka seraya menjabat tangan Satya, jabatan yang membuat hatinya berdesir.
"Perkenalkan beliau ayah Saya, Adam Barsha." ucap Ivanka memperkenalkan seorang pria paruh baya yang masih gagah di usianya, walaupun rambutnya kini sudah berubah menjadi putih keabu-abuan dan juga kulit yang hanya sedikit menampakkan garis-garis kerutan. Namun semua itu tak bisa menghapus jejak tampan pria itu di masa mudanya.
"Suatu keberuntungan bisa bertemu dengan anda, Tuan Adam..." ucap Satya menjabat tangan Adam yang juga berdiri menyambut kedatangan tamu putrinya. Sedangkan Firlan membungkulkan tubuhnya sebagai tanda hormatnya.
"Wait, saya sepertinya dengan wajahmu, bukankah kau putra dari Abiseka?" ucap pria tua itu tiba-tiba.
Kini mereka tengah duduk bersama di sofa panjang sedangkan pria paruh baya yang diketahui sebagai Adam Barsha ayah dari Ivanka Barsha pun terlibat obrolan yang sangat asik dengan Satya yang memang hobi ngoceh.
"Anda benar, Tuan..." ucap Satya yang terlihat tampan dengan postur tubuh yang ideal.
"Ah, jangan panggil Tuan. Panggil saja Om, saya dan ayahmu berkawan baik. Bagaimana keadaan Abiseka? Hah, sudah lama om tidak bertemu dengan ayahmu itu," ucap Adam yang disambut senyuman Satya.
"Baik, Om. Beliau sudah hanya memantau perusahaan sekali waktu, katanya sudah saatnya ia menikmati hidup, menikmati jerih payah selama berpuluh-puluh tahun," kata Satya yang mengundang gelak tawa Adam. Ivanka yang melihat Adam terlihat begitu senang berbincang dengan Satya pun heran. Pasalnya pria tua itu jarang sekali mau berbasa-basi, terkesan dingin dan tidak ramah.
"Hahahahahaha, ayahmu memang pekerja keras, Satya. Maka sangat wajar jika perusahaannya berkembang pesat seperti sekarang." kata Adam sementara Satya mengangguk kecil membenarkan ucapan Adam. Jangan ditanya, Firlan bak pajangan yang sedari tadi hanya diam duduk di bersebrangan dengan bosnya.
"Nasehatilah anak perempuan om ini, supaya dia mau melepaskan masa lajangnya, Sat! Hahahahaha," Adam membuka obrolan santai, Ivanka yamg mendengar itu mendadak wajahnya merah seperti tomat.
"Papah..." cicit Ivanka. Ia sangat malu mendengar ayahnya berkata demikian.
"Menurut saya tidak akan sulit bagi Nona Ivanka mendapatkan pasangan, dengan wajah cantik dan otak yang cemerlang, saya pikir pria manapun akan sangat mudah untuk jatuh cinta padanya," ucap Satya. Ivanka merasa sangat senang mendengar hal itu dari Satya, dia pikir Satya juga akan mudah tertarik oleh pesonanya.
"Hahahaha, saya pikir juga begitu, anak muda sekarang senang sekali menunda sesuatu yang baik, padahal saya sudah tua dan ingin sekali menimang cucu." ujar Adam diiringi gelak tawa.
__ADS_1
"Saya yakin itu akan segera terlaksana, Om..." Satya membenarkan posisi duduknya.
"Oh ya, Sat. Ivanka sudah bercerita sedikit banyak tentang kerjasama kita, saya suka dengan pria energik sepertimu, saya yakin kerjasama ini akan saling menguntungkan," kata Adam yang tersenyum pada Satya.
"Baiklah, saya ada keperluan lain, kalian lanjutkan saja apa yang ingin kalian bicarakan sampaikan salam untuk ayahmu," Adam beranjak dari duduknya.
"Baik, Om..." Satya berdiri dan membungkukkan sedikit tubuhnya.
"Hati-hati, Pah..." Ivanka memegamg lengan Ad dan berjalan mendampingi ayahnya sampai di depan pintu.
"Sudah sudah, kau temani saja, Satya ... papa bisa sendiri," ucap Adam lalu membuka pintu dan terlihat asisten pribadi ayahnya sudah menunggu di luar
"Mari, Tuan..." ucap pria yang membungkuk di depan Adam kemudian mengikuti kemana pria itu berjalan.
Ivanka kembali duduk di sofa begitu juga dengan Satya dan Firlan.
"Jadi, apa yang ingin anda bicarakan, Nona?" Satya tak mau berbasa-basi mengingat hari ini dia berjanji akan pulang cepat.
"Lupakanlah, mungkin itu bisa kita bicarakan lain waktu karena ini sangat privacy," lanjut wanita dengan rambut bergelombang yamg terurai, menampilkan aura seksi saat ia menyibakkan rambutnya yang menjuntai ke depan.
Satya pun terlibat obrolan seputar bisnis, Namun pria itu agak sedikit heran bukannya mereka sudah pernah membahas ini sebelumnya, Satya sampai melayangkan tatapannya pada asistennya, pria itu hanya mengendikkan bahunya sebagai jawaban tidak tahu. Satya menghela nafasnya membuang kejenuhan.
Sementara Amartha sudah sampai di apartemennya, ia mengikut sertakan Rudy , Rosa dan juga Sasa.
"Mama dan Papa mau minum apa?" tanya Amartha saat mereka sudah masuk ke ruang tamu. Sasa berdiri di samping Amartha yang duduk di sofa single menghadap orangtuanya.
"Nggak usah, Sayang ... nanti mama bisa bikin sendiri," tolak Rosa yang tidak tega melihat putrinya yang sedang mengandung itu harus repot-repot menyiapkan minuman untuk mereka.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, aku buatin jus ya?" Amartha bersikeras ingin membuatkan minuman untuknya.
"Biar saya saja, Nona..." Sasa mencegah Amartha untuk berdiri.
"Terima kasih, Sa..." ucap Amartha tersenyum.
"Kamu ini jangan terlalu capek, Sayang." Rosa menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
"Benar kata mamahmu, sebaiknya ada seseorang yang membantu kamu untuk mengurus rumah, biar kamu nggak capek," Rudy menimpali ucapan istrinya. Dia khawatir dengan Amartha yang sendirian di rumah saat suaminya bekerja.
"Mas Satya juga udah nyuruh begitu, Pah ... cuma aku yang nggak mau, kan kita cuma tinggal berdua. Aku masih bisa ngelakuinnya sendiri," jawab Amartha.
"Tapi sekarang keadaannya lain, kamu sedang hamil dan sebentar lagi kamu akan punya bayi. sedangkan mama dan papa jauh dari kamu, kamu perlu seseorang untuk membantu kamu, Sayang." Rosa berucap dengan sangat lembut, sebenarnya Satya yang meminta pada Rosa dan Rudy agar bicara pada Amartha agar mau dibantu dengan seorang pelayan. Dengan begitu Amartha tidak kelelahan mengurus rumah dan juga tidak kesepian di rumah sendirian.
"Iya, Mah ... nanti aku bicarain sama mas Satya," Amartha akhirnya mengiyakan ucapan Rosa.
Jam sudah menunjukkan jam makan siang, pembicaraan Satya dan Ivanka sepertinya sudah selesai dengan hasik yang sama seperti pembicaraan sebelumnya.
"Sudah waktunya makan siang, saya tahu ada restoran yang enak disekitar sini, mungkin kita bisa makan siang sebentar..." ucap Ivanka yang berdiri saat Satya sudah beranjak dari tempat duduknya.
Satya tersenyum dan mengiyakan ajakan Ivanka. Ivanka meminta alia untuk reservasi terlebih dahulu.
"Pak Firlan, bisakan Alia ikut mobil anda?" pinta Ivanka pada asisten Satya. Firlan mengerutkan sedikit keningnya, bukannya mereka bisa menggunakan mobil sendiri untuk ke restoran itu. Tapi yasudahlah, dia akhirnya mengiyakan permintaan Ivanka.
"Hem, boleh Nona..." ucap Firlan namun malah dapat pelototan dari Satya.
"Kalau begitu saya permisi," ucap Firlan yang lebih baik meninggalkan bosnya yang sudah dipastikan dalam keadaan sulit mau menerima atau menolak.
__ADS_1
"Pak Satya, saya boleh ikut mobil anda?" tanya Ivanka.
...----------------...