Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Mengendap


__ADS_3

"Haaaaaiiii, Mbaaaaaaaaakkk..." ucap seorang gadis setelah panggilan terhubung.


"Brisiiiikkk!" seru Satya, ia sambil mepet ke istrinya sehingga memperlihatkan wajah kesalnya.


"Yeeee, itu muka abang kenapa pake nongol disitu, Mbaaaak?" tanya Prisha yang sudah manyun-manyun.


"Iya, tau tuh..." Amartha tertawa kecil melihat ekspresi kedua adik kakak itu.


"Gimana kabar ponakan ontiiiiiii? udah bisa apa?" tanya Prisha dengan wajah diimut-imutin.


"Bulan depan nujuh bulan, ya? onti usahain pulang ya?" ujar Prisha seperti bicara pada anak kecil.


"Nggak usah pulang juga nggak apa-apa, nggak ada yang nyariin," celetuk Satya.


"Jangan dengerin ayah atau bapak atau papi kamu itu ya, Nak? cukup dia aja yang rese, kamu jangan!" ucap Prisha sambil menjulurkan lidahnya pada Satya.


"Mbak? mau dibawain apa? biar kalau aku pulang aku bawain oleh-oleh dari sini," tanya Prisha mengabaikan abangnya.


"Apa aja, Sha..." jawab Amartha


"Halah, gaya nawarin oleh-oleh. Kalau niat mah langsung beliin, nggak usah pake nanya-nanya yang ujung-ujungnya nggak beliin!" celetuk Satya membuat Prisha emosi jiwa dan raga.


"Mbak itu tolong suaminya bisa nggak diiket di bawah pohon pisang? biar setannya pada kabur," ucap Prisha sambil melotot.


"Ntar lagi telfonnya, kita lagi mukbang! bye!" Satya langsung memutuskan sambungan teleponnya dengan Prisha.


Satya menonaktifkan ponsel Amartha supaya tidak ada gangguan telepon saat makan malam berlangsung.


"Mas, kok dimatiin, sih!" Amartha berusaha mengambil ponsel dari tangan Satya.


"Biar nggak ada yang ganggu, lagian nggak baik makan sambil terima telfon," ucap Satya, Amartha mencebikkan bibirnya.

__ADS_1


"Makan dulu, aku udah masakin loh buat kamu, Yank..." bujuk Satya.


"Kita makan dulu, ya? udah dong jangan cemberut," ucap Satya lagi.


Pria itu mngecilkan api di kompor portable, lalu ia menaruh daging lagi dan sayuran. Amartha makan dengan sangat lahap, sesekaki mulutnya menyeruput ice lemon tea yang segar. Di luar masih hujan, makan bersama seperti ini membuat hatinya menghangat ditambah lagi makanan ini dibuat oleh orang tersayang, pasti rasanya berkali-kali lipat enaknya.


"Kuahnya enak banget, Mas! tambahin enokinya dan tofunya juga," ucap Anartha sambil disela mengunyah makanannya.


Satya menaruh lagi jamur enoki dan juga tofu ke dalam kuah pedas.


"Syukurlah kalau kamu suka, nggak sia-sia chef Satya yang tampan dan rupawan ini masakin buat kamu, Yank..." ucap Satya narsis, Amartha hanya menggelengkan kepalanya, heran dengan Satya yang super pede abis.


"Dedek pasti suka, nanti kalau dedek utuy udah launching, pasti juga suka masakan ayah karena setiap bumbu akan ada cinta yang menambah cita rasa yang hakiki," ucap Satya.


"Dedek Utuy lagi dedek Utuy lagi, kasih nama yang bener kenapa sih, Mas!" ucap Amaetha melotot.


"Lucu tau, Yank..." ucap Satya tertawa.


"Ya Allah, apa yang aku pikirkan, kuatkan papa. Kuatkan papa!" Vira memekik di tengah kesunyian.


Dia bahkan enggan melepas mukenanya, ia meringkuk diatas sajadah dengan memeluk dirinya sendiri. Sementara Firlan beberapa kali menelepon kekasihnya itu namun tak ada jawaban, sepertinya Vira sengaja untuk mengganti pengaturan ponselnya pada mode senyap.


Yang Vira butuhkan saat ini mendekatkan diri dengan sang penguasa alam semesta, kenyataan yang didapatnya sungguh mengiris batinnya. Selama ini Raharjo menyembunyikan penyakitnya, Vira remaja yang kecewa tidak begitu memperhatikan kondisi tubuh ayahnya yang semakin kurus. Ia berpikir jika Raharjo dan Dewi hanya sibuk mencari uang tanpa memperdulikan dirinya. Vira menangis lagi, kenyataan bahwa saat Raharjo mengatakan saat Vira wisuda, dia sedang terbaring lemah di rumah sakit, dia tidak bisa datang dan pria paruh baya itu pun menangis meminta maaf pada putri semata wayangnya.


Keesokan harinya.


Firlan yang harus berangkat ke proyek pagi-pagi sebelum para pekerja yang lain datang pun segera bergegaams meninggalkan hotel. Ia mengganti pakaiannya di mobil. Dengan begini tak ada yang curiga, pintu gerbang belum terbuka ia menunggu di depan lahan proyek gedung yang entah kapam akan selesai.


"Sur? udah dateng aja," sapa seseorang menepuk pundak Firlan.


"Iya, tapi ternyata masih sepi," ucao Firlan.

__ADS_1


"Kok digembok? biasanya nggak, kok! kan ada yang jaga malem," ucap seseorang.


"Nggak tau, mungkin lagi cari sarapan di luar," ujar Firlan sekenanya.


Tak berapa lama, seseorang setengah berlari menuju kedua orang yang tengah menunggu di depan gerbang.


"Maaf, anak saya minta ketemu di minimarket, mau sekolah nggak bawa duit, jadi saya gembok sebentar," ucap orang yang bertugas berjaga tadi malam.


"Nggak apa-apa, Pak! kita juga belum lama, kok!" sahut orang yang berdiri di sebelah Firlan.


Setelah gerbang terbuka, Firlan mengedarkan pandangannya. Matanya menelisik ke berbagai arah, dia ingin memasang alat perekam di ruangan yang biasa di gunakan pak mandor untuk beristirahat.


"Surya? mau kemana?" ucap pemuda yang tadi masuk bersama Firlan.


"Aku kesana sebentar, aku kehilangan sebuah benda, disana saat mencari pak Mandor," jawab Firlan.


"Benda apa itu? barang berharga, kah? atau mau aku bantu cari sebelum pekerja yang lain datang," pemuda itu menawarkan bantuan. Ia mengira Firlan sepantaran dengan dirinya, dia tidak tahu jika usia Firlan 4 tahun diatasnya.


"Tidak perlu, itu hanya sebuah gantungan kunci dari pacarku, tapi dia akan sangat marah jika tau aku telah menghilangkannya, kau tau sendiri bagaimana para gadis jika sudah marah, hah aku tidak akan sanggup membayangkannya," ucap Firlan.


"Ya sudah, kalau begitu. Semoga cepat ketemu," pemuda itu berbalik berjalan menjauh dari Firlan.


Ketika pemuda itu sudah tidak terlihat lagi, Firlan segera masuk ke sebuah ruangan, ia memasang alat perekam suara dan gambar ditempat yang tersembunyi. Firlan segera meninggalkan ruangan itu. Firlan segera berjalan menuju tempat mobil pick up yang kemarin ia lihat, dia mempercepat langkahnya. Tempatnya lumayan jauh dari posisinya sekarang.


"Aku harus bergerak cepat, aku harus cepat membongkar kebusukan mereka!" gumam Firlan, ia melihat beberapa pekerja sudah mulai berdatangan, dia mencoba bersikap setenang mungkin. Ia terua bergerak ke arah sebuah mobil pick up hitam berada. Tak ada yang menyadari bahwa Firlan telah bergerak ke tempat yang tak seharusnya.


Dan ketika ia sampai di tempat yang dituju, matanya membulat, tangannya mengepal menampilkan otot-otot tangannya.


"Sial!" pekik Firlan.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2