
"Halo, Vira? kenapa belum pulang, Sayang? udah malem..." ucap Dewi di seberang telepon.
"Maaf Tante, ini Firlan..."
"Loh, Nak Firlan? Vira dimana?" tanya Dewi.
"Vira sedang di rumah sakit, Tante ... penyakit lambungnya kambuh, dokter menyarankan lebih baik jika bisa istirahat disini untuk 2 sampai 3 hari ke depan," jelas Firlan.
"Terus gimana sekarang keadaan Vira?" tanya Dewi cemas.
"Sudah ditangani, Vira sedang tertidur..." jelas Firlan.
"Tolong jaga Vira ya, Nak ... dia anak tante satu-satunya, tante akan kesana kalau Ricko sudah pulang," ucap Dewi.
"Tante nggak usah khawatir, saya yang akan menjaganya. Disini juga banyak perawat yang bisa menangani keperluannya. Tante di rumah saja, Om pasti membutuhkan Tante di sampingnya..." ucap Firlan yang sesekali melihat Vira yang tengah terbaring lemah.
"Baiklah, tolong jaga Vira ya, Nak..." kata Dewi.
"Pasti, Tante jangan khawatir. Aku pasti jagain Vira..." jawab Firlan.
Dan sambungan telepon berakhir, Firlan mengantongi ponselnya kembali di saku jas bagian dalam.
"Aku pasti jagain, dia begini juga karena ulahku " gumam Firlan.
Pria itu nampak kusut, ia duduk di samping Vira yang masih memejamkan matanya. Ia melihat satu tas milik Vira yang sempat tertinggal di mobilnya. Pria itu menaruhnya di atas sofa, Firlan pun segera beranjak mendekati tas dimana tas itu berada.
"Ngapain dia bawa barang-barang kayak gini?" ucap Firlan menggelengkan kepalanya.
"Mana banyak banget, buat apa coba?" ucap Firlan.
Karena tak nyaman, ia membuka jasnya dan menyampirkannya di tangan sofa.
Firlan membuka pengait dibagian tangannya, ia menggulung kemejanya sampai siku. Ia juga melepas dasi yang sudah seharian ini melingkar di lehernya. Pria itu mendekat dan duduk di kursi samping ranjang Vira.
__ADS_1
Firlan tak mengerti apa yang telah membuatnya ingin membalas apa yang dilakukan Vira. Kedekatan Vira dengan Ricko benar-benar membuatnya kalang kabut. Tadi pagi tak sengaja ia melihat Ricko menyentuh wajah kekasihnya dengan jarak yang sangat dekat. Firlan merasa cemburu dan sepertinya ia telah kalah dengan pria itu.
Tuhan menitipkan rasa cinta di hatinya, namun sepertinya Vira lebih nyaman dengan yang lain. Sebagai pria dia mau berjuang, tapi sepertinya Vira tak mau melangkah maju bersamanya.
"Lalu kalau seperti ini? kita harus bagaimana?" tanya Firlan seakan berbicara pada wanita yang masih tertidur di ranjang pasien.
"Apa yang kamu inginkan? aku takut kehilanganmu, aku takut saat dia bersamamu. Tapi aku harus menutupi itu semua dengan tingkah menyebalkanku. Harus berapa kali aku bilang aku nggak suka kalau kamu deket-deket sama dia. Orang yang jelas-jelas menaruh hatinya sama kamu!" kata Firlan.
"Aku nggak ada hubungan apapun dengan Alia, tapi melihatmu yang seperti ini apakah layak hubungan kita dipertahankan?" lanjut Firlan, ia menahan emosi yang membakar hatinya saat ini.
"Mungkin hubungan kita harus berhenti sejenak. Jika beruntung, maka kita akan kembali bersama..." kata Firlan ia menaruh kepalanya di sisi ranjang kekasihnya. Ia bersandar pada lengannya.
Sementara di tempat lain, ada sepasang suami istri yang sedang berada di dalam bubble tent. Sebuah tenda berbentuk bola transparan yang dilengkapi dengan kasur putih super empuk berserta bantal-bantal berwarna senada, dan satu layar LED yang digunakan untuk menonton film kesukaan istrinya. Ya, mereka akan menonton berdua dibawah langit malam penuh bintang. Hamparan rumput hijau menambah suasana indah malam itu.
"Mas? kapan kamu nyiapin ini semua?" tamya Amartha.
"Sejak kamu bilang kalau pengen pasang tenda," ucap Satya santai.
"Gimana mau liat? orang kamu di dalem kamar terus, Yank..." jawab Satya.
"Kamu emang yang terbaik, Mas..." ucap Amartha.
"Woya jelas dong, Sayang!" kata Satya yang rebahan disamping istrinya.
"Pasti mahal beli kayak ginian ya, Yank?" tanya Amartha.
"Nggak juga," sahut Satya sambil mengelus perut istrinya.
"Hai? putriku, ayah mohon jangan bikin ibu ngidam yang aneh-aneh lagi, ya? jangan pengen jajan sembarangan, ayah suka pusing kalau ibu lagi ngambek soal ngidam yang nggak keturutan," Satya curhat pada bayi yang ada dalam kandungan Amartha.
"Ish, bilang aja kamu nggak mau nurutin apa mau aku, Mas..." kata Amartha.
"Tuh, baru juga diomong udah mau ngambek lagi ibu kamu, Sayang ... tapi ibu kalau ngambek ada lucu-lucunya gitu," kata Satya menirukan sebuah iklan salah satu brand air mineral.
__ADS_1
"Aku tuh ngambek karena Mas banyak larangannya. Aku tuh dari jaman kecil juga udah biasa makan-makanan pinggir jalan, Mas. Dan sehat-sehat aja tuh sampai sekarang," kata Amartha.
"Aku cuma jaga kesehatan pencernaan kamu, Yank ... kamu juga kan sering pingsan dulu. Beruntung ada aku yang selalu ada di samping kamu, Yank ... pria tampan dan berwibawa ini selalu pasang tameng buat ngelindungi kamu," kata Satya super pede. Amartha hanya menepuk dahinya mendengar suaminya memuji diri sendiri seperti itu.
"Iya iya, emang kamu tuh selalu ngelindungi aku dan selalu ada disaat aku sedih dan susah. Tapi aku nggak nyangka penyakit pede kamu nggak pernah sembuh dari dulu sampai sekarang, Mas..."
"Kalau itu sudah turunan, Yank. Nggak akan bisa dirubah walaupun kucing beranak katak sekalipun. Kan dari orok udah begini bentukannya, Yank..." ujar Satya.
Satya menaikkan selimutnya untuk menutupi tubuh istrinya, sementara Rosa dan Rudy tersenyum melihat anak dan menantunya tengah rebahan di dalam tenda tembus pandang itu dengan jari jemari yangbsaling bertaut satu sama lain. Mereka menikmati suguhan lautan bintang di atas sana.
"Indah banget langitnya, Mas..." kata Amartha menunjuk benda langit yang terlihat kerlap-kerlip.
"Buat aku lebih indah kamu, Yank..." ucap Satya sambil mengedipkan satu matanya.
"Aku kayak ngimpi dapetin suami kayak kamu, Mas?" ucap Amartha sambil tersenyum.
"Aku juga kayak ngimpi dapetin kamu, jangankan dapetin jati di-notice kamu juga uwow banget ya rasanya..." kata Satya mengingat masa-masa pedekatenya.
"Ya gimana, aku kan waspada dengan para pria. Aku bukan tipe wanita yang gampang jatuh cinta. Dengan mudah menerima perhatian orang,"
"Keliatan kok," celetuk Satya.
"Lagian udah tau jutek masih aja usaha," sindir Amartha.
"Haha, yang kayak gitu yang bikin penasaran tau!" ucap Satya.
"Aku tuh kayak terjebak di sebuah labirin, dan aku nggak tau bagaimana caranyabaku bisa keluar dari sana. Mencintai kamu adalah hal yang luar biasa dalam hidup aku, cukup sekali aku merelakan kamu. Dan sekarang aku nggak akan lagi mengulangi itu, hatiku cuma buat kamu. Kamu akan terus ada di dalam otak dan hatiku..." kata Satya sambil mencium punggung tangan Amartha.
"Bagi-bagi paketannya udah selese?" tanya Amartha.
"Astaga, Yank! kamu ngerusak suasana romantis yang udah aku bangun dengan susah payah ini tau, nggak? sempet-sempetnya nanyain paketan sembako!" Satya pundung.
...----------------...
__ADS_1