
Satya meminta ijin keluar, ia berniat untuk menemui supir taksi yang masih bungkam, diam seribu bahasa. Satya membawa sebuah buku kecil yang akan meyakinkan pria paruh baya itu.
Satya segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang bergabung dengan kendaraan lain untuk menggunakan jalan raya.
Tak butuh waktu lama, akhirnya Satya sampai di apartemen yang digunakan Firlan untuk menanyai si supir.
Beberapa orang yang berjaga di depan unit langsung menunduk hormat saat Satya datang. Mereka segera mempersilakan tuannya masuk.
"Tuan?" Firlan yang semula duduk di sofa langsung beranjak.
"Dimana dia?" tanya Satya.
"Ada di ruangan itu," kata Fitlan menujuk sebuah kamar.
"Bawa dia kemari," kata Satya yang duduk di sofa.
"Baik," Firlan segera pergi menuju sebuah kamar.
Firlan mengetuk pintu sebelum membukanya.
"Pak Ardi, tuan saya ingin bertemu dengan anda," kata Firlan menyuruh pria yang tengah duduk di kursi itu untuk mengikutinya.
"Setelah itu anda bisa pulang," lanjut Firlan.
Mendengar ucapan pria berjas hitam itu, pak Ardi pun mengikuti apa yang diperintahkan. Ia pergi menemui seorang pria yaang sedang duduk di sebuah sofa.
"Silakan, Pak..." Satya tersenyum dan menunjukkan dimana pria itu bisa duduk.
"Perkenalkan nama Saya Satya, maaf jika para pengawal dan asisten saya membuat anda kurang nyaman..." lanjut Satya memperkenalkan dirinya.
"Pak Ardi, ada yang ingin saya tanyakan," kata Satya sopan, namun pria itu masih saja diam.
"Apakah anda pernah mengantar seorang penumpang wanita yang tengah hamil? seperti ini wajahnya," kata Satya sembari menunjukkan foto Amartha pada pak Ardi.
"Ini istri saya namanya Amartha. Kebetulan dia pergi dari rumah, dan menurut cctv di sebuah pusat perbelanjaan. Istri saya menaiki taksi anda, apa benar itu, Pak?" tanya Satya. Pak Ardi masih saja diam, dia tidak begitu mudah mempercayai pengakuan pria yang ada di hadapannya.
"Bapak bisa melihat buku nikah ini jika Bapak masih ragu jika saya suami dari wanita itu," Satya menyodorkan sebuah buku nikah, pak Ardi mencocokkan foto yang ada di buku dengan pria tampan yang ada di hadapannya saat ini. Kemudian ia meletakkan kembali buku nikah berwarna merah itu.
__ADS_1
"Saya membutuhkan informasi dari Bapak. Saya sangat mengkhawatirkan kondisi istri saya yang sedang hamil besar. Saya takut jika terjadi sesuatu padanya," ucap Satya.
"Baiklah, saya akan memberitahukan dimana saya menurunkan wanita yang ada di foto itu," kata pak Ardi.
"Lan, saya minta kertas dan pena," perintah Satya pada asistennya.
"Baik, Tuan..." ucap Firlan, ia pergi mengambil sebuah pena dan secarik kertas lalu menarunya diatas meja.
"Silakan, Pak..." Satya menunjuk barang yang baru saja diberikan Firlan.
Pak Ardi kemudian meraih pena dan menuliskan alamat diatas kertas berwarna putih itu, lengkap beserta ciri rumah yang ditinggali wanita yang baru ia ketahui bernama Amartha.
"Semoga saja nyonya itu masih ada disana," kata pak Ardi seraya memberikan sebuah kertas pada Satya.
Satya membaca alamat yang ditulis pak Ardi, akhirnya ia bisa menemukan secercah harapan untuk menemukan istrinya.
Taj lama, Firlan datang membawa sebuah amplop coklat yang berisi lembaran-lembaran uang dan menyerahkannya pada Satya.
"Terima kasih atas bantuannya, Pak. Mohon diterima," ucap Satya seraya memberikan amplop itu pada pak Ardi.
"Tidak perlu seperti ini, Pak..." pak Ardi menolak untuk menerima uang itu.
"Ya sudah kalau begitu, terima kasih banyak," ucap si supir taksi.
"Kalau tidak ada yang ingin ditanyakan lagi, saya kira saya boleh pergi dari sini," kata pria paruh baya itu lagi.
"Sudah cukup, terima kasih. Anda bisa pulang sekarang. Pak ... sekali lagi terima kasih," ucap Satya.
"Permisi," kata pak Ardi seraya bangkit dari duduknya lalu pergi meninggalkan Satya yang masih duduk.
"Lan?" seru Satya memanggil Firlan.
"Ya, Tuan!" sahut Firlan yang langsung menghampiri tuannya.
"Kita pergi ke tempat ini, ajak Vira sekalian. Mungkin jika Amartha tak mau bertemu denganku, setidaknya Vira bisa membujuknya untuk ikut pulang," ucap Satya.
Firlan pun segera menelepon Vira dan mengatakan jika dia harus bersiap untuk menjemput Amartha. Vira yang beberapa hari ini mencemaskan sahabatnya tanpa pikir panjang mengiyakan permintaan Firlan.
__ADS_1
Tak membuang banyak waktu Satya meminta Firlan untuk menyetir, pria itu duduk di kursi penumpang bagian belakang. Hatinya sangat cemas, entahlah.
Firlan segera melajukan kendaraan menuju kontrakan Vira.
"Lan, lebih cepat lagi!" titah Satya, ia sudah sangat tidak sabaran.
"Kalau saya lebih dalam menginjak gas, yang ada kita langsung beda alam, Tuan!" ucap Firlan.
"Astaga, menyebalkan sekali dia," gumam Satya. Pria itu sangat gelisah, Firlan sesekali melihat bosnya dari kaca spion yang terletak dibagian depan.
Firlan segera membelokkan mobilnya menuju kontrakan Vira. Wanita dengan rambut pendek itu segera berjalan cepat saat Firlan menurunkan kaca mobilnya.
"Duduk di depan," ucap Firlan seraya menjulurkan tangannya membukakan pintu mobil dari dalam.
Vira masuk dan duduk di kursi penumpang di samping supir, dan ia terkejut saat melihat suami sahabatnya yang duduk di kursi belakang. Namun ia tak banyak bicara, Vira segera menutup pintu dan memasang sabuk pengaman.
"Lan, tambah kecepatan!" seru Satya, Firlan hanya menggeleng tidak paham. Sedari tadi ia terus saja disuruh mempercepat laju mobilnya, sedangkan ini jalanan berkelok dan menanjak.
"Astaga, sabar Firlan! sabaaaarr..." Firlan mengelus dadanya sendiri.
Sementara Vira yang melihat Firlan yang begitu tekanan batin hanya bisa berkata, syukurin!
Sementara, Kenan yang tadinya berniat memesan pesawat komersil pu. mengurungkan niatnya. Ia memilih untuk menggunakan jet pribadi untuk pergi ke negara asalnya, ia tak mau membuang banyak waktu. Ia ingin segera menemui Amartha. Irwan telah mengantongi alamat dimana mantan istri bosnya itu tinggal. Begitu sampai di bandara, Kenan langsung dijemput oleh orang suruhannya.
"Kita langsung kesana," ucap Kenan pada orang yang ada di balik kemudi.
Dia pergi tidak bersama Irwan, hanya satu orang supir dan beberapa pengawal yang menaiki mobil yang berbeda.
"Jangan sampai ayah tau mengenai kedatanganku kemari" kata Kenan.
"Baik, Tuan..." ucap orang yang duduk di belakang kemudi.
Kenan duduk dengan gelisah. Dia beberapa kali melihat arlojinya, sudah cukup lama ia berkendara namun belum juga sampai di tempat tujuannya.
"Bagaimana dia bisa tahu tempat seperti ini? apakah dia harus kabur sejauh ini untuk mencari ketenangan?" gumam Kenan saat melewati jalanan yang berkelok.
"Apakah kita masih jauh?" tanya Kenan.
__ADS_1
"Sudah dekat, Tuan..." jawab pria yang mengendalikan stir mobilnya.
...----------------...