
"Kamu nggak makan, Sha?" tanya Sandra.
"Nggak, udah makan pancake tadi," ucap Prisha yang memilih menjejalkan mulutnya dengan buah melon yang sudah dipotong dadu.
"Koper udah siap?" tanya Sandra.
"Udah, dari semalem..." jawab Prisha.
"Mami nggak mau kalau kamu disana kelayaban kayak kalau kamu disini, disana mami nggak bisa ngawasin kamu. Kamu perempuan dan kamu harus bisa jaga diri, terutama pergaulan kamu..." kata Sandra memberikan nasehat.
"Siap, Mam!"
"Dengerin tuh!" timpal Satya.
"Brisik!" ketus Prisha.
"Papi jadi pergi bareng sama aku, kan?" tanya Prisha.
"Ehm," Abiseka berdehem.
"Nggak!" serobot Sandra.
"Kok gitu?" tanya Prisha.
"Soalnya Mami udah tau kalau papi kesana, pasti papi belanjain kamu macem-macem," ucap Sandra sambil melirik suaminya. Abiseka memalingkan pandangannya, yang malah mendapatkan raut wajah menyebalkan dari Satya.
Satya yang ketahuan sedang meledek papi nya langsung diinjek kaki kirinya oleh Amartha.
"Awwwwwhhhh!" pekik Satya, semua orang melirik pria itu.
"Kamu kenapa, Sat? jejeritan begitu?" tanya Sandra, dia menggelengkan kepalanya heran dengan kelakuan kedua anaknya yang aneh.
"Ehm, ini ehm digigit semut, Mam!" jawab Satya.
"Jangan ngarang kamu, Sat! mana ada semut keliaran di rumah ini, mami mau panggil Mira. Bisa-bisanya, ada semut di bawah meja makan,"
"Eh, nanti aja, Mam! Mami lanjutin makan dulu aja, lagian semutnya juga udah kabur entah kemana," kata Satya meyakinkan Sandra.
Sandra yang tadi sudah berdiri kemudian duduk kembali. Sementara Amartha melanjutkan makannya sambil menyembunyikan senyumannya.
"Jahat kamu, Yank ... apa kabar jempolku ini," bisik Satya di telinga Amartha.
__ADS_1
"Nggak usah bisik-bisik, Sat!" sindir Abiseka, membalas kelakuan anaknya.
"Prisha mulai sekarang, kamu harus belajar ngirit. Jangan pusing dikit belanja, bete dikit belanja, suntuk dikit belanja. Papi kerja memang buat nyenengin istri dan anak, tapi kamu juga harus mengatur keuangan kamu, gimana nanti kamu pegang perusahaan papi, bisa-bisa semuanya dijual buat kebutuhan shoping kamu," ucap Sandra yang mendadak beberapa hari ini menerapkan konsep gaya hidup minimalis.
"Bukannya Mami juga hobi koleksi tas mahal, bulan lalu itu mami beli tas katanya mau buat ketemu siapa itu," kata Prisha mengingat-ingat apa saja yang mami lakukan pada uang papi nya.
"Ehem! itu kan dulu,"
"Dulu gimana? seminggu yang lalu juga Mami beli..." Prisha menghentikan ocehannya saat mata sang mami melotot padanya.
"Intinya mami mau sekarang kamu atur dan kelola dengan baik keuangan kamu, menyenangkan diri sendiri boleh, tapi jangan berlebihan. Beli sesuai kebutuhan," ucap Sandra tak mau dibantah.
"Iya, Mam!" ucap Prisha pasrah, ia melirik papi nya. Pria itu malah mengendikkan bahunya, Abiseka terlalu memanjakan putri kecilnya.
Setelah makan siang, mereka rehat sejenak kemudian mengantarkan Prisha ke bandara. Dan seperti biasa petuah-petuah dari sang mami mengiringi perjalanan Prisha. Sekarang gadis itu sudah berada dalam kabin pesawat. Ia menutup jendela, pikirannya melayang pada seorang pria yang mengobrak-abrik perasaannya. Siapa lagi kalau bukan, Frans.
Sementara di rumah Sinta. Fendy sedang duduk di ruang tamu. Menunggu kepulangan sang pujaan hati. Biasanya dia menyusul wanita itu ke kantornya, tapi tidak untuk kali ini.
"Aku udah 10 menit nungguin kamu di rumah," ucap Fendy saat bicara dengan Sinta lewat telepon.
"Rumah siapa?" tanya Sinta.
Fendy memakai jas semi formal, ia menyentuh sebuah kotak yang akan diberikannya pada Sinta.
"Silakan, Tuan..." ucap seorang pelayan di rumah Sinta, wanita itu menyuguhkan minuman untuk tamu sang majikan. Pria itu hanya mengangguk dan pelayan itu kembali ke dalam.
Beberapa kali Fendy mengecek arloji di tangan kanannya. Pria itu melipat tangannya di depan dada.
"Jangan- jangan dia lembur lagi," gumam Fendy. Baru saja dia akan menghubungi Dinta, wanita itu tiba-tiba saja muncul.
"Ngapain?" tanya Sinta.
"Nungguin kamu," jawab Fendy.
"Kan aku nggak nyuruh," ucap Sinta seraya mendudukkan dirinya di depan pria itu.
"Emang aku yang mau,"
"Kamu yang mau kenapa jadi aku yang ikutan repot?" sarkas Sinta.
"Aku kan udah bilang jangan kebanyak lembur. Lagian aku mau ngajak kamu ke suatu tempat,"
__ADS_1
"Kemana?"
"Ya ada lah pokoknya. Oh ya, jangan lupa pakai ini..." ucap Fendy seraya menggeser sedikit sebuah kotak ke arah Sinta.
"Aku capek,"
"Nggak akan lama," kata Fendy. Ia menunjuk kotak itu dengan dagunya.
"Aku tunggu disini!" Fendy seenaknya sendiri memerintah.
"Dasar tukang maksa!" ucap Sinta yang segera mengambil kotak berwarna coklat dengan pita berwarna putih tulang di sudut kiri atas.
Sinta melangkah pergi menuju kamarnya dengan membawa sebuah kotak di tangannya.
Sinta langsung meletakkan kotak dan tasnya di atas meja riasnya. Lalu wanita itu bersiap untuk mandi. Wanita itu memilih mandi di bawah guyuran shower daripada harus berendam dengan busa yang melimpah di dalam bathtub. Tak lama, Sinta keluar dengan menggunakan bathrobe dan menggosok rambutnya dengan handuk.
Wanita itu menggunakan serum rambut sebelum ia mengeringkan rambut pendeknya dengan hair dryer. Perlahan ia menyentuh kotak yang ada di hadapannya. Dia membuka kotak itu.
"Gaun?" Sinta mengernyitkan dahinya, ia menjereng sebuah gaun malam pendek tanpa lengan dengan kerah bulat.
"Boleh juga seleranya," Sinta menaikkan satu sudut bibirnya.
Wanita itu menaruh gaun itu diatas ranjangnya, lalu ia kembali ke meja riasnya untuk melukis wajahnya.
"Mau aku apakan rambut ini?" Sinta memyentuh rambutnya yang super pendek, walaupun masih membuatnya terlihat feminim. Wanita itu memilih untuk mem-blow up rambutnya. Terakhir dia menyapukan sedikit pemerah pipi untuk membuat wajahnya terlihat lebih segar.
Sinta mencoba gaun yang diberikan Fendy untuknya. Sinta melihat dirinya pada cermin, penampilannya sungguh berbeda. Riasan wajahnya begitu soft, dia seperti menjelma menjadi sosok yang berbeda.
"Bukankah ini terlalu manis untuk pria menjengkelkan itu?" Sinta berbicara sendiri.
Sedangkan Fendy sesari tadi sudah gelisah. pasalnya sudah satu jam dia menunggu. Hari sudah mulai gelap, minumannya sudah habis tak tersisa. Pria itu kembali melihat arloji yang melingkar di tangannya.
"Astaga, berapa jam lagi aku harus nungguin perempuan satu itu berdandan?" gumam Fendy.
Pria itu berniat untuk menelepon Sinta. Fendy menekan tombol gagang telepon berwarna hijau untuk menghubungi Sinta. Namun perempuan satu itu belum juga mengangkatnya. Fendy mencoba lagi, ia mengulangi panggilannya. Pria yang semula duduk kini berdiri, menempelkan benda pipih di telinganya.
"Halo, Sin?" sapa Fendy setelah panggilan tersambung pada Sinta.
"Ya?" jawab Sinta. Namun Fendy sangat jelas mendengar suara Sinta bukan hanya di telepon tapi sepertinya suara itu sangat dekat dengan dirinya. Fendy pun memutar tubuhnya dan melihat satu sosok perempuan di hadapannya.
...----------------...
__ADS_1