
Keesokan harinya, sesuai rencana Amartha dan Satya akan bertandang ke pulau Moyo, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Mereka terbang dari bandara Soetta ke Denpasar, Bali. Disana mereka dijemput menggunakan helikopter milik keluarga Ganendra untuk sampai di sebuah resort yang lumayan bikin kantong bolong.
Mata wanita itu sangat dimanjakan dengan pemandangan yang sangat indah dari ketinggian, Amartha yang sangat takut akan ketinggian lupa dengan phobianya, matanya tak mau sedetikpun melewatkan panorama yang membuatnya berdecak kagum.
Mereka menginap di sebuah resort mewah kelas dunia. Tempat ini sangat cocok untuk orang yang menginginkan ketenangan
Rimbunnya pohon dan hamparan rumput hijau mengelilingi sebuah bangunan resort yang banyak menggunakan aksen kayu dengan kamar yang sangat luas dengan berbagai fasilitas mewah didalamnya, Amartha tersenyum kala melihat kamar mereka menghadap ke bibir pantai, membuat suasana yang sangat tenang dan nyaman membuat atmosfer tersendiri bagi mereka yang ingin benar-benar menghilang dari hiruk pikuk dunia.
"Ini kamar kita, Sayang ... aku lupa nanya kamu, kamu mau kamar yang viewnya pohon atau laut? masih ada satu lagi tapi agak masuk lagi ke dalam," ucap Satya setelah masuk ke dalam kamar dan menaruh koper milik mereka.
"Nggak, ini aja, Mas ... aku suka." ucap Amartha saat mengelilingi kamar yang akan mereka tempati ini.
"Beneran? nggak mau ganti kamar?" tanya Satya yang mendekati istrinya.
"Nggak, aku pengen dengerin suara ombak, Mas ... kayaknya ada sensasi tersendiri, hmmm, seger banget udara disini, Mas..." kata Amartha yang kemudian mengajak Satya untuk keluar kamar.
"Disini, privacy kita dijamin, jadi kita bebas ngapain aja, karena jarak dari satu kamar ke kamar yang lain jauh, jadi berasa sendirian disini, padahal mah banyak orang," ucap Satya sembari menautkan jari-jemari mereka dan berjalan mendekati pantai.
"Emang mau ngapain?" Amartha mengerutkan keningnya.
"Berkembang biak!" sahut Satya yang membuat Amartha mencubit pinggangnya.
"Mikirnya kesitu lagi, kesitu lagi." ucap Amartha yang membuat Satya mengaduh antara geli dan sakit.
Mereka berdua menyusuri pantai, sementara matahari sudah hampir berada diatas kepala, namun hal itu tak jadi masalah dua sejoli itu, mereka masih setia berdiri di bibir pantai sambil sesekali kaki mereka diterjang ombak yang saling berkejar-kejaran seolah saling berlomba untuk segera mencapai tepi.
__ADS_1
Amartha membiarkan angin menerpa wajah dan rambutnya, Satya yang melihat itu langsung melingkarkan tangannya mendekap wanita yang sudah halal baginya.
"Anginnya mulai kenceng, kamu nggak dingin?" ucap Satya yang saat ini menciumi pipi sang istri
"Tapi aku suka, Mas ... sejauh mata memandang hanya laut tanpa batas, aku ngerasa bebas aja, ehm, apa ya? kayak ngerasa plong banget, Mas..." ucap Amartha sementara Satya semakin mengeratkan pelukannya, menyalurkan kehangatan dari tubuhnya.
"Aku sengaja ajak kamu ke sini, bukan aku nggak mau ngajak kamu ke luar negeri, tapi aku pengen nunjukin sama kamu kalau negeri kita ini juga punya tempat-tempat yang indah, negeri ini memiliki pesonanya sendiri, dan nggak kalah dengan negara lain," ucap Satya yang kemudian melepas dekapannya dan memutar tubuh Amartha agar menghadap dirinya.
Resort ini dikelilingi oleh hutan dan lautan. mempunyai spot untuk snorkelling dan diving, yang benar-benar akan memanjakan setiap orang yang berkunjung kesana.
"Masuk ke dalam, yuk? sebentar lagi makan siang, kita istirahat dulu di dalam," ajak Satya pada istrinya, Amartha memberikan senyuman manisnya pada suami tercinta.
Sementara Prisha yang dilarang untuk ikut honeymoon oleh abangnya, bersungut-sungut di dalam kamarnya, ia bisa membayangkan betapa indahnya suasana pulau itu. Sandra hanya terkekeh melihat kakak beradik itu yang jarang akur.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Menikmati enaknya grilled lobster yang sangat menggoyang lidah dan beberapa menu lainnya seperti steak dan berbagai macam makanan penutup.
Setelah kenyang sekarang kantuk mulai menyerang, Amartha merebahkan tubuhnya diatas kasur dengan lengan suaminya menjadi bantalan kepalanya, Satya mengelus lembut kepala istrinya.
"Mas?" ucap Amartha sembari mengelus lengan suaminya yang menjadi bantal empuk baginya.
"Iya, kenapa? bukannya tadi bilang udah ngantuk, hem?" sahut Satya yang melingkarkan satu tangannya di perut istrinya.
"Mas? aku boleh tanya?" kata Amartha ragu-ragu, ia takut ia membuat Satya marah tentang sesuatu yang membuatnya penasaran.
__ADS_1
"Apapun, Sayang ... katakan apa yang ingin kamu tanyakan? aku akan menjawab semua pertanyaan kamu," kata Satya yang kini mengelus perut Amartha, seraya berdoa dalam batinnya semoga baby junior bisa secepatnya ada di dalam sana.
"Sebenarnya siapa wanita yang Aaraf kira akan menikah denganmu," ucap Amartha lirih.
"Hahahah, apa kamu lagi cemburu?" Satya langsung membalikkan badan Amartha yang sedari tadi memunggunginya, ia membelai pipi istrinya dan memandangnya lekat. Tergambar jelas diwajahnya, wanita itu sepertinya sangat penasaran dengan satu sosok yang teman Satya ucapkan di malam resepsinya.
"Ish, tinggal jawab aja rese banget, sih!" gerutu Amartha kesal.
"Fi? Fi siapa? kan kemaren kamu langsung potong ucapan Aaraf, waktu temen kamu hampir keceplosan nyebutin nama seseorang," Amartha mencoba mengorek informasi dari Satya.
"Fiona," sahut Satya sambil memandang wajah Amartha lembut
"Siapa tuh Fiona?" Amartha dan Satya saling menatap satu sama lain, Amartha ingin tau hubungan Satya dan Fiona itu seperti apa.
"Mantan pacar, tenang aja cuma kamu yang pernah aku ajak ke rumah, coba tanya aja sama Mami kalo nggak percaya. Amartha cuma kamu yang ada di hati aku saat ini dan nanti," ucap Satya menjawab segala kegundahan hati Amartha.
"Denger ya? aku nggak mau bahas orang lain selain kita berdua, Sayang ... lebih baik kita fokus sama pernikahan kita ini, kalau ada yang mengganjal dihati kamu, kamu bisa langsung tanyain ke aku, dan jangan percaya omongan orang lain yang cuma mau bikin kita bersitegang dan saling curiga, sekarang kita udah berkomiten untuk bersama, jadi ... semua hal harus kita bicarakan dan nggak boleh ada rahasia diantara kita, Yank..." ucap Satya yang mengikis jarak diantara mereka.
Satya mulai melancarkan aksi selanjutnya, namun Amartha sudah lebih dulu terpejam, dan masuk ke alam mimpi, Satya yang bicara panjang lebar seakan sedang membacakan dongeng pengantar tidur, membuatnya perlahan-lahan menutup matanya dan tak dapat lagi melawan kantuk berat yang dirasakannya.
Satya mencium pucuk kepala istrinya, perlahan-lahan ia angkat kepala istrinya agar bersandar pada bantal empuk dan menyelimuti setengah dari badannya.
Satya menelepon seseorang untuk menyiapkan suatu kejutan untuk sang istri tercinta, ia tersenyum saat melihat Amartha tidur dengan sangat lelap.
"Akhirnya kamu menjadi milikku, pria tampan yang dengan segala kekuatannya akan selalu melindungimu dari siapapun yang berniat menyakitimu ... setiap orang mempunyai masa lalu Amartha, masa lalu yang tak perlu ditengok lagi keberadaannya" gumam Satya dalam hatinya.
__ADS_1
...----------------...