Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Gadis Unik


__ADS_3

Pulang dari cafe, Prisha cengar-cengir sendirian.


"Prishaaaaa!" seru Sandra saat melihat anak gadisnya baru pulang padahal hari sudah menunjukkan pukul 10 malam.


"Eh, Mami ... belum tidur, Mam?" tanya Prisha. Dia duduk di samping sang mami di ruang tamu.


"Kok Mami duduk disini?"


"Sengaja, nungguin anak gadis yang masih gentayangan!" jawab Sandra.


"Dih, gentayangan emangnya Prisha ini setan?" ucap Prisha.


"Kenapa Mami telfon nggak diangkat?"


"Elah, lagi nyetir, Mam ... lagian, ini baru juga jam 10 malem," kata Prisha.


"Mami curiga di Aussie pasti sering kluyuran kamu, ya?" Sandra menatap anaknya dengsn tatapan menyelidik


"Nggak sering, Mam ... cuma rajin," Prisha terkekeh.


"Sama aja!"


"Ya ampun, Mami serius amat kayak nama band legend!" celetuk Prisha.


"Kamu dari mana aja? jam segini baru nginjek teras rumah, hah?" Sandra mencecar anaknya dengan pertanyaaan.


"Ya Allah Mami, sadis amat ratapannya, eh tatapannya loh..."


"Cepet jawab kalau nggak mau kaki kamu Mami plintir!" sarkas Sandra.


"Iya sabar, Mamiiii ... ini juga dari tadi mau jelasin," ucap Prisha.


"Astagaa, lebih capek ngomong sama kamu daripada sama abang kamu, Prishaaa! nggak heran kalau bocah sableng itu suka emosi jiwa ngadepin kamu," celetuk Sandra.


"Dih, Mami kok ngomongnya gitu, sih? Prisha itu dari cafe, cari udara segar ... biar nggak suntuk, biar lega otak dan pikiran aku yang sudah saatnya shopping tapi belum dapet jatah duit dari papi," kata Prisha.


"Lagian, tenang aja Prisha nggak ke tempat haram kok. Cuma main ke cafe aja, nyeruput kopi yang belum sempet dibeli," lanjut gadis itu.


"Ya oon aja, mana bisa nyeruput kopi tapi kopinya belum dibeli, aneh-aneh aja kamu! kalau cuma minum kopi, di rumah juga banyak kopi," ucap Sandra.


"Baru aja kemaren-kemarem kan kamu dibeliin tas sama abang kamu?" ucap Sandra."


"Kok Mami bisa tau?"


"Tau, lah!" sahut Sandra.


"Kamu tuh jangan terlalu boros! tas dan sepatu kamu itu udah terlalu banyak sampai kita bingung mau dilempar kemana!" ucap Sandra.


"Iya, iya, Mam..."


"Ya udah, aku mau masukin baju kedalam koper ya, Mam?" lanjut gadis itu yang mulai beranjak.

__ADS_1


"Mami jangan lupa istirahat, Prisha naik ke atas," Prisha meninggalkan Sandra sendirian di ruang tamu.


Sesampainya di kamar ia segera mengganti bajunya. Prisha duduk di pinggir ranjang dan melihat koper besar yang selalu menemaninya bepergian.


"Huuf, harus balik kesana lagi ... sendirian lagi," kata Prisha bicara sambil menghela nafasnya kasar.


"Heh, kamu besok terbang lagi sama aku, hadeuh kapan ya aku kembali ke negara itu bukan hanya bawa kamu tapi juga bawa pacar?" Prisha menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang.


Namun sesaat senyumnya merekah saat mengingat wajah tampan Ricko. Prisha langsung bangkit dari tidurnya, ia meraih kopernya dan mulai menata baju yang akan ia bawa.


Sesaat aktivitasnya terganggu saat ia mendengar ponselnya berdering.


"Halo," sapa Prisha gugup.


"Udah sampai?" tanya Pria itu.


"Udah, Om ... eh," kata Prisha yang menabok bibirnya sendiri.


"Om?" tanya pria itu.


"Udah, kang..."


"Yuyu kang-kang maksudnya?" ucap pria itu.


"Hahahhaha, terus panggilnya apa dong?"


"Apa aja asal jangan, Om ... kesannya aku tuh lagi nelfon keponakan kalau kayak gini," ucap pria itu sambil terkekeh.


"Ya udah, Bang Ricko, deh. Ehm, ya walaupun lebih enak manggilnya Mi Amor, My Love, Sweet Heart," Prisha cekikikan.


"Hati-hati, dari lucu bisa turun ke hati," ucap Prisha.


"Emang bisa?"


"Ya bisa, asal Abang belum punya pacar apalagi istri," kata Prisha.


"Kalau udah punya gimana?" tanya Ricko.


"Kalau udah ngapain nelfon anak gadis orang? bikin kesel aja," kata Prisha.


"Hahahahahaha,"


"Lah, dia malah ketawa," Prisha menggaruk kepalanya.


"Sorry, sorry..." ucap Ricko.


"Ya sudah, saya telfon cuma mau mastiin adek kecil sudah sampai di rumah," kata Ricko.


"Nice dream," lanjut pria itu.


"Too..." ucap Prisha malu-malu.

__ADS_1


Prisha menutup panggilan itu dan dia langsung bangkita dan menari balet.


"Lalalalalalaaaaaaaaa lalalalaaaaa," Prisha meliukkan badannya sambil mulutnya bersenandung seperti penyanyi seriosa. Sesaat kemudian ia tersadar.


"Okey, Prisha ... kaleeem, jangan blingsatan kayak kucing kampung!" ucap Prisha sambil duduk di tepi ranjangnya.


Namun itu hanya sesaat, gadis itu lalu menghentakkan kakinya di atas karpet kegirangan berlanjut gulang-guling di kasur membuat pola absurd. Dia memeluk ponselnya dan mengecupnya sekilas. Rasanya ada kembang api yang sedari tadi dar dor dar dor meledak-ledak di dalam hatinya.


Sementara Ricko, dia menggelengkan kepalanya saat mengingat tingkah seorang gadis yang begitu blak-blakan.


"Gadis sekarang terlalu straight to point," gumam Ricko sambil meletakkan ponselnya dan mematikan lampu tidurnya.


Di sisi lain Vira sedang gelisah mencoba untuk tidur tapi tidak bisa. Ia berkali-kali melirik jam di dinding. Ia selalu menyalakan lampu saat tidur, karena Vira sangat takut gelap dan dia akan gelisah saat lampu dipadamkan, dan semuanya gelap gulita. Kecuali saat menonton film di bioskop, Vira tidak merasa takut karena setidaknya ada cahaya dari arah layar.


Vira beranjak dari ranjangnya, ia mencoba streching, ia pikir dia tidak bisa tidur karena otot-ototnya terlalu tegang. Setelah dia melakukan gerakan-gerakan sederhana, ia kembali naik ke atas ranjangnya, mencoba memejamkan matanya kuat-kuat. Namun gagal, ia tak juga mengantuk.


Lalu ia mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.


"Halo," ucap Vira.


"Ya. Kenapa, Vir?" tanya seorang pria yang sepertinya baru bangu. dari tidurnya, terdengar dari suara berat dan serak khas orang baru bangun tidur.


"Kakak udah tidur, ya? maaf ya ganggu," Vira segera menutup panggilannya.


Dia menepuk jidatnya sendiri, dan merutuki kebodohannya sudah menghubungi Ricko. Namun, beberapa menit kemudian, Ricko kembali menghubunginya.


"Halo? kenapa ditutup, Vir?" tanya Ricko.


"Nggak, ehm ... maaf ganggu Kakak tidur," ucap Vira.


"Kamu belum tidur? udah jam 1 malem, kenapa? ada masalah?" tanya Ricko.


"Gimana keadaan papa? seharian aku sibuk jadi aku nggak sempat kesana," ucap Vira.


"Keadaan Pak Jojo baik, bahkan sudah lebih baik dari kemarin, kamu nggak usah khawatir..." kata Ricko.


"Syukurlah..."


"Maaf, udah ngerepotin, dan makasih juga udah bantu aku ngerawat papa," ucap Vira.


"Kenapa tiba-tiba melow gitu? nggak masalah aku malah seneng pak Jojo dan bu Dewi bisa tinggal disini, seenggaknya aku bisa merasakan kembali keluarga yang utuh," jelas Ricko, hening tak ada sahutan dari Vira. Yang terdengar malah isakan yang coba ditutupi sang pemilik suara.


"Kenapa? kok diem? kamu lagi nangis?" tanya Ricko.


"Nggak," sahut Vira singkat.


"Kamu lagi ada masalah?" tanya Ricko.


"Nggak apa-apa, aku hanya ... kangen sama papa mama," ucap Vira berbohong.


"Kalau kamu kangen kan kamu bisa dateng kesini, bukannya setiap hari juga kayak gitu? aku yakin kamu nangis bukan karena kangen, tapi karena hal lain. Iya, kan?" kata Ricko.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, nangis aja ... biar hati kamu lega," ucap Ricko. Selama beberapa saat ia mendengar suara tangis gadis kecilnya dibalik telepon, sampai akhirnya Vira tertidur.


...----------------...


__ADS_2