Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Pengakuan Aaraf


__ADS_3

"Tapi, sayangnya udah jadi istri orang, dan baru aja nikah," ucap Aaraf sambil melihat ke arah Satya, sambil memasukkan tangannya ke dalam saku.


"Yang jelas bukan istriku, kan?" ucap Satya yang membuat Aaraf mengendikkan bahunya.


"Di dunia ini yang baru nikah bukan kamu aja, Sat!" kata Aaraf yang membuat Satya terkekeh.


"Benar juga, lagipula tidak mungkin juga kamu menyukai istriku," kata Satya yang membuat Aaraf memandangi laut lepas yang kini sangat gelap, untuk menyembunyikan sedikit perasaannya.


"Kalau dia sudah menikah dengan orang lain, Itu tandanya kalian tidak berjodoh," lanjut Satya.


"Hah, giliran ketemu yang nge-klik di hati, eh malah udah ada yang punya, sial banget punya jalan takdir, biasanya aku yang matahin hati para wanita, eh sekarang malah hatiku yang berdarah-darah, haiiish kena karma kali, ya?" ucap Aaraf yang disambut gelak tawa Satya.


"Hahahaha, Sabar aja Raf! ntar juga ketemu," Satya menepuk pundak temannya.


"Masih banyak cewek single di dunia ini," kata Satya yang membuat Aaraf memandangnya dan tersenyum penuh arti.


"Atau mungkin wanita yang sudah menikah itu punya aura tersendiri? menjadi lebih menarik dan lebih menantang untuk dimiliki," ucap Aaraf yang membuat Satya geleng-geleng kepala mendengar ucapan Aaraf yang sudah melenceng dari jalur yang benar.


"Jangan bermain api, Raf! kalau kamu nggak pengen terbakar, cinta dan obsesi itu beda," Satya mencoba memperingatkan Aaraf agar tidak terobsesi dengan seseorang dan menghancurkan rumah tangga orang lain.


"Hahahahah, jangan terlalu serius, Sat! aku hanya bercanda," seru Aaraf yang membuat Satya memukul lengan pria itu, merasa kesal karena merasa dikerjai temannya.


"Kapal ini akan segera menepi, ayo kita masuk," ucap Satya yang kemudian meninggalkan Aaraf sendirian di geladak kapal.


"Sorry, Sat ... orang yang aku maksud adalah istrimu, aku nggak bisa memungkiri, bahwa istrimu cantik dan sangat menarik," batin Aaraf yang melihat punggung Satya yang kian menjauh.


Sementara di dalam para orangtua sedang berbincang, sedangkan Vira dan Firlan mojok sendiri merajut kasih dan sayang, yang tak luput dari pandangan Amartha sedangkan Prisha lagi main game di ponselnya.


Satya datang dan masuk duduk di samping istrinya.


"Yank?" Satya melambaikan tangan didepan wajah istrinya.

__ADS_1


"iiih, apaan sih, Mas!" Amartha kesal pengamatannya terganggu karena kedatangan suaminya.


"Liat apa, sih? serius amat?" tanya Satya yang kemudian mendapat senggolan di lengannya


"Vira sama asisten kamu," ucap Amartha ambigu.


"Kenapa emang? aman tuh nggak cakar-cakaran," ucap Satya yang menyandarkan kepalanya di bahu Amartha, baru nyender beberapa detik, si empunya bahu malah mendorong kepala Satya agar pria itu duduk dengan tegak.


"Ih, bukan itu ... tuh perhatiin bener-bener," kata Amartha yang membuat Satya tidak mengerti, ia malas untuk memperhatikan dua orang beda jenis sedang ngobrol.


"Terus? apa yang kamu khawatirin? kan lagi akur tuh, enak diliatnya adem," ucap Satya menunjuk Vira dan Firlan.


"Ih itu tangan bisa nggak sih nggak usah pake nunjuk? kalau ketauan mereka kan nggak enak, dikira kita lagi ngomongin mereka," kata Amartha kesal dengan Satya.


"Ya emang kita lagi ngomongin soal mereka, kan?" ucap Satya santai yang membuat Amartha ingin sekali membekap mulut pria itu.


"Kayaknya mereka ada sesuatu, ehm ... kayak hubungan spesial, mungkin nggak sih kalau mereka pacaran? tuh, tuh si Vira lagi ngeblushing gitu!" ucap Amartha menunjuk dengan dagunya.


Kapal sudah kembali menepi ke dermaga. Rencananya orangtua Amartha menginap di kediaman Ganendra, begitu pun dengan Amartha dan Satya.


Sementara Firlan mengantar Vira kembali ke kosannya, sebelum muter-muter nggak jelas di jalanan, sedangka Aaraf dia pergi memacu ke hotel tempatnya menginap selama di Indonesia


"Mau kemana, bang?" Vira bertanya pada Firlan yang Vira rasa sedari tadi memacu mobilnya tanpa arah yang jelas.


"Ish, manggilnya abang mulu, emng aku abang kamu?" ucap Firlan yang menatap Vira, pasalnya mereka sudah pacaran, tapi belum ada panggilan kesayangan diantara mereka.


"Terus apa?" Vira memandang Firlan penuh tanda tanya, sudah beberapa kali Firlan hal menanyakan itu.


"Yang lain lah," ucap Firlan yang sekilas melirik kekasihnya.


"Yang lain? apa?" Vira menatap Firlan sambil menutup mulutnya dengan punggung tangannya karena ia tengah menguap, wanita itu mulai terjerat rasa kantuk yang luar biasa.

__ADS_1


"Ya coba kamu pikirin, panggilan yang pas buat orang yang udah menjalin komitmen buat pacaran," ucap Firlan yang dari tadi memberi kode pada kekasihnya untuk memanggil dengan sebutan sayang atau sejenisnya bukannya malah memanggil abang, sungguh tidak ada unsur romantisnya. Ya itu menurut Firlan.


"Ya elah, udah malem disuruh mikir, dikira lagi main tebak-tebak berhadiah," celetuk Vira yang menepuk keningnya sendiri. Membuat Firlan menghela nafasnya mendengar ucapan Vira.


"Ya, Honey misalnya," ucap Filan yang membuat wanita itu menengok melihat kekasihnya.


"Dih, ogah banget baru pacaran udah dimadu," celetuk Vira yang sebenarnya hanya candaan.


"Bukan kayak gitu juga kali artinya!" Firlan kesal dengan kekasihnya yang sengaja ngomong nggak jelas.


"Kok nyolot?" tanya Vira yang senang sekali menggoda Firlan apalagi saat melihat wajah pria itu yabg terlihat misuh-misuh.


"Ya nggak nyolot, ya udah kamu pikirin aja sendiri, ya cari panggilan yang enak didenger di kuping," ucap Firlan selembut mungkin.


"Loh kok harus aku yang cari?" Vira menunjuk dirinya sendiri, membuat Firlan menepikan mobilnya.


"Viraaaaaa, jangan mancing emosi, deh!" ucap Firlan yang kemudian menatap Vira dan menjewel kedua pipi wanita itu gemas.


Sementara di tempat lain, Aaraf sedang memikirkan sesuatu lebih tepatnya memikirkan seseorang yang merupakan istri Satya. Entah mengapa Aaraf begitu tertarik dengan Amartha.


Pria itu sudah sampai di hotel tempatnya menginap, duduk di sofa panjang dengan kaki yang diluruskan diatas meja dengan kaki kanan menumpang kaki kirinya. Pria itu tersenyum sendiri mengingat seorang wanita yang sangat cantik dimatanya.


Pria itu menggoyang-goyangkan sedikit kakinya, tersenyum lagi mengingat saat wanita yang bernama Amartha menerima bunga pemberiannya.


Aaraf memang sengaja mengirim bunga anyelir untuk Amartha, selain dia memang menyukai bunga anyelir, dia juga ingin mengingatkan Satya tentang Fiona, mantan pacar Satya yang suka sekali dengan bunga anyelir.


Ternyata tebakan Aaraf benar, Satya begitu marah saat mendapati bunga itu di rumahnya. Amartha sempat bercerita tadi saat di kapal, ketika mereka menunggu kedatangan Satya dan Firlan.


"Ah, apakah aku salah menyukai istrimu, Sat? bahkan aku tidak mengendalikan perasaan ini ketika bertemu dengannya di pesta pernikahan kalian," gumam Aaraf dengan mengangkat satu sudut bibirnya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2