
Amartha menggelengkan kepalanya menatap Kenan yang berlinangan air mata. Amartha tidak mungkin mengecewakan pria sebaik Satya. Tidak, hubungannya dengan Kenan telah kandas, dan setahun ini dia berjuang mati-matian untuk kembali bangkit. Amartha menghapus airmata Kenan, seraya menarik kursi di dekat ranjang pria itu.
"Adakalanya, sesuatu yang ingin sekali kita gapai tidak bisa kita miliki, kita hanya mampu melihatnya tanpa bisa menyentuh atau menggenggamnya, aku percaya Tuhan telah menyiapkan seorang wanita baik untuk Mas Kenan, setahun ini perih sudah aku lewati, setahun ini aku berjuang sendiri, aku menyelesaikan kuliahku tanpa sepengetahuan orangtuaku, aku bekerja sampai rasanya aku tak pernah punya waktu untuk sekedar jalan-jalan, aku membiayai kuliahku sendiri, sampai akhirnya rasa sakit, perih, tergantikan dengan sebuah mimpi, bangkitlah Mas ... kita bisa menjadi saudara, kita tidak harus memiliki satu sama lain," ucap Amartha sambil menggenggam tangan Kenan.
"Maaf, Maaf, Maaf ... aku hanya memikirkan diriku sendiri, tanpa tahu begitu berat hari-hari yang kamu lalui," jawab pria yang masih berbaring ditempat tidurnya.
"Sudah, Mas ... kalau kamu ingin menebus kesalahanmu, kamu harus makan, dan segera sembuh, baru aku bisa maafin kamu," ucap Amartha dengan senyuman tipis.
"Jadi, sekarang makan ya? biar aku bantu," Amartha membantu untuk mengatur posisi ranjang Kenan, supaya pria bs duduk dengan nyaman. Amartha mengambil piring yang masih ditutup lit.
Amartha mulai menyuapi Kenan, wanita itu hanya mencoba profesional dengan pekerjaannya. Sementara Kenan, dia bersyukur bisa merasakan sakit, karena dengan begitu setidaknya dia bisa melihat bahkan bisa sedekat ini dengan Amartha. Pria itu menurut saja, ketika suapan demi suapan mendarat di mulutnya.
Tatapannya sendu melihat wanita yang pernah menjadi istrinya, wanita itu terlihat lebih kurus. Kenan merasa sangat bersalah, karena sikapnya Kenan malah membuat wanita yang dicintainya menderita. Setelah makanan habis dan Kenan sudah meminum obatnya, Amartha kembali mengatur posisi ranjang pria itu, sehingga Kenan bisa beristirahat dengan nyaman.
"Baiklah, selamat istirahat, Tuan..." Amartha segera berbalik dan berjalan menuju pintu.
"Tuan?" Kenan bergumam dengan hati yang berdenyut nyeri, mendengar Amartha menyebut kata 'tuan' padanya.
Sementara Amartha berjalan menuju counter perawat dan duduk di salah satu kursi. Sementara teman-temannya sedang sibuk dengan tugasnya masing-masing.
Tengah malam ponsel Amartha berdering.
"Halo, Sayang..." sapa sang calon suami di seberang telepon.
"Hoam, iya, yank..." Amartha memulai mengantuk.
"Kata mami kamu shift malem?" Satya memastikan.
"Iya, Mas ... kenapa, Mas?" sahut Amartha, wanita itu malah balik bertanya.
"Duh, gimana, sih Firlan!" gumam Satya jengkel.
"Mas? ngomong apa, Mas? aku nggak denger," Amartha mengerutkan keningnya.
"Mas Satya lagi dimana?" Amartha memberondong Satya dengan pertanyaan
"Satya, eh, enggak Sayang ... em, aku lagi di apartemen, kamu kesini aja sih, yank..." kata Satya yang membuat Amartha menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku lagi kerja, Mas ... udah malem, Mas lebih baik tidur, besok Mas kerja, kan?" kata Amartha lembut yang membuat Satya tersenyum simpul.
"Besok aku jemput, kamu jangan pulang sebelum aku kesitu ya, Sayang...." kata Satya.
"Ya sudah, kamu hati-hati ya," lanjut Satya.
"Iya Sayang..." ucap Amartha yang membuat Satya semakin tampan dengan senyum yang merekah.
"Apa, Sayang? tadi kamu bilang apa? coba aku pengen denger sekali lagi," Satya merengek seperti bocah kecil.
"Nggak mau, ah..." Amartha tak mau mengucapkan kalimat yang terakhir diucapkannya.
"Sekali lagi, yank ... tadi kamu bilang apa?" Satya merengek seperti bocah kecil.
"Ih, Mas ... malu..." ucap Amartha setengah berbisik.
"Ehem, ya udah aku tutup telfonnya ya, Sayang ... daaah," Amartha segera menutup telponnya dengan jantung yang berdebar kencang, sementara Satya bahagia bukan main.
Ditengah rasa kebahagiaannya itu, Satya segera menelepon Firlan. Dia ingin protes mengapa Amartha diberi shift malam, ini membuat Satya jengkel bukan main.
"Halo? Firlan? kenapa Amartha dikasih Shift malem?"
"Saya tidak mau tahu, tolong kamu kasih SP 1 buat PJ yang ngejadwalin dia!" perintah sang penguasa yang tak sabaran.
"Dan satu lagi, pindahkan Amartha jangan di ruang rawat inap, saya nggak mau dia terlalu capek! besok harus beres, kamu denger Firlan" kata Satya dengan penuh penekanan.
"Yaaaaa" sahut Firlan antara di dunia nyata dan dunia mimpi, lalu tak ada suara lagi dari Firlan. Pria itu sudah melanglang buana ke alam mimpi.
"Firlan? Firlan? Asisten gendeng!" Satya berdecak kesal, lalu mematikan sambungan telepon itu.
...----------------...
Keesokan harinya.
Amartha ke kamar Kenan untuk mengganti cairan infus, sepertinya Kenan sudah lebih baik. Terbukti wajahnya tidak sepucat kemarin.
"Sudah bangun, Tuan..." ucap Amartha sopan pada Kenan, mencoba bersikap profesional.
__ADS_1
"Amartha, aku ... aku..." Kenan ragu untuk mengatakan apa yang ingin dikatakannya.
"Ada apa Tuan?" Amartha memandang penuh keheranan.
"Aku ingin ke toilet, bisakah kamu bantu aku turun dari ranjang ini?" ucap Kenan ragu.
"Baik, sebentar," Amartha membantu Kenan untuk duduk dan menegakkan badan pria itu, Amartha mengantar sampai di deoan toilet. Kenan sangat bersyukur, setidaknya dia bisa sedekat ini dengan wanita yang sedang menunggunya di luar toilet.
Setelah selesai, Amartha kembali memapah Kenan dan mendorong tiang infus, mendekati ranjang yang tadi ditiduri Kenan. Pria itu lebi segar sepertinya, dan sudah wangi tentunya.
"Baiklah, kalau begitu, saya permisi Tuan," ucap Amartha undur diri.
"Terima kasih," lirih Kenan.
Amartha keluar dari ruangan itu, setelah melakukan operan untuk shift berikutnya, Amartha mendapat telepon dari PJ perawat yang biasa mengelola jadwal shift.
"Halo," ucap seorang wanita setelah telepon tersambung.
"Iya, halo, kak Dea..." sapa Amartha.
"Amartha mulai besok, kamu pindah ke poli umum, hari ini kamu libur," ucap Dea tanpa basa-basi.
"Baik, kak..." kata Amartha, lalu Dea segera menutup telponnya.
Amartha hanya menghela nafas panjang, pasalnya Dea adalah perawat senior yang terkenal judes dengan para juniornya. Namun, Amartha tak mau ambil pusing, Dia memilih untuk segera menuju ruang ganti dan segera mengganti pakaiannya. Ia menteng baju seragam yang semalam membalut tubuhnya, untuk ia cuci pagi ini.
Sementara Satya sudah menunggu Amartha di parkiran luar.
"Halo, Sayang?"
"Iya, Mas ... aku lagi jalan nih dari loby,"
"Ya udah aku kesitu,"
Mobil satya bergerak menuju pintu depan rumah sakit, melihat mobil sang pemilik rumah sakit, Satpam yang berjaga saat langsung menunduk hormat saat Satya menurunkan kaca mobilnya. Satya hanya tersenyum tipis.
Melihat mobil Satya yang sudah terparkir di depan, lantas Amartha langsung masuk ke dalam mobil itu. Membuat kening satpam itu berkerut. Namun, sayangnya tak hanya dia yang melihat kejadian itu, Dea pun melihat saat Amartha masuk ke dalam mobil Satya.
__ADS_1
...----------------...
Maaf baru up, karena ada kesibukan lain....🙏🏻🙏🏻🙏🏻