Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Jadikan Aku Yang Kedua


__ADS_3

Wanita itu duduk lalu melambaikan tangannya pada seorang pelayan untuk memesan minuman dan cake tiramissu kesukaannya. Satya memandang Ivanka oenuh tanya, wanita cantik itu hanya menjepit rambutnya ke belakang dengan rambut panjangnya menjuntai di bagian depan. Penampilannya sungguh berbeda, ia tampil dengan rambut lurus dan halus seperti sutera.


"Tadi asistenmu, sakit dan Firlan sedang mengantarnya ke rumah sakit," ucap Satya.


"Benarkah? maaf merepotkan, dia memang sering sakit seperti itu," kata Ivanka pura-pura terkejut, mungkin ini trik yang di lancarkan asistennya, pikir Ivanka. Wanita itu menyembunyikan seringai di wajahnya.


"Tidak masalah," ucap Satya datar.


Tak berapa lama pesanan pun datang. Satya segera menyeruput cappucinonya. Lalu ia meletakkan lagi cangkir diatas meja.


"Cobalah, cake tiramissu ini..." Ivanka menawarkan sebuah cake, namun Satya menggeleng pelan.


"Untuk anda saja, Nona. Saya sudah sarapan di rumah," Satya menolak halus, satu suapan cake yang disodorkan padanya. Ivanka kecewa Satya menolak suapan darinya, namun wanita itu berusaha untuk tidak menampilkan raut wajah kecewanya.


"Jadi, apa yang ingin Nona bicarakan, saya kira kemarin pembicaraan kita sudah sangat jelas," Satya langsung pada inti pembicaraan, dia juga masih banyak pekerjaan di kantor apalagi kemarin dia tidak sempat datang kesana.


"Anda terlalu terburu-buru Pak Satya," ucap Ivanka lembut. Ia menyuapkan satu sendok kecil cake tiramisu ke dalam mulutnya, dan mengelap sudut bibirnya dengan tissue.


"Anda akan menyesal jika tidak mencobanya," lanjut wanita itu, kemudian ia menyeruput coffee latte miliknya.


"Tidak, terima kasih," ucap Satya


"Baiklah, sebenarnya saya ingin minta bantuan anda, Pak Satya. Anggap saja ini seperti dokter dan pasiennya," ucap Ivanka menatap kedua mata lawan bicaranya.


"Saya tidak mengerti arah pembicaraan anda, Nona..." Satya mengernyitkan dahinya.


"Anda ingat sewaktu kita bertemu di rumah sakit beberapa tahun yang lalu? waktu itu saya kabur dari rumah untuk menghindari perjodohan dengan seorang pria yang usia 6 tahun diatas usiaku saat itu," Ivanka menjelaskan mengapa waktu itu dia kabur dari rumah dan berakhir dengan luka-luka, dan kebetulan dokter yang merawatnya adalah Satya. Satya juga yang membayar semua biaya perawatan Ivanka, karena wanita itu tak membawa kartu identitas apapun, apalagi uang. Namun, keesokan harinya wanita itu kemudian menghilang.


"Lalu? kenapa anda kembali?" tanya Satya yang sudah beberapa kali melihat arloji ditangannya.

__ADS_1


"Karena papa saat itu mengatakan kalau dia akan membatalkan perjodohan itu asalkan aku pulang ke rumah," jelas Ivanka, Satya manggut-manggut mencoba memahami


"Dan sekarang papa memaksaku kembali untuk menerima perjodohan itu, sejujurnya umur bukanlah masalah. Namun aku tidak mencintainya," lanjut Ivanka. Satya tidak mengerti apa yang dibicarakan Ivanka, bukankah hal ini terlalu privacy?


"Papaku memiliki sakit jantung, dia bersikeras ingin melihatku menikah. Dia takut usianya tidak akan lama, dia berpikir kapanpun malaikat maut bisa datang menjemputnya." ucap wanita itu lagi, ia tak melepaskan tatapannya dari seorang pria tampan dengan rahang yang tegas.


"Lalu apa hubungannya denganku?" Satya menunjuk dirinya sendiri.


"Anggaplah ini aku meminta pertolongan padamu, dan sebagai gantinya kamu boleh meminta apapun dariku," ucap Ivanka dengan tatapan penuh harap.


"Aku sungguh tidak mengerti," ucap Satya membenarkan jasnya.


"Aku mengatakan pada papa, aku tidak mau dijodohkan karena aku telah memiliki kekasih, dan aku akan menikah dengannya." jelas Ivanka, air mata memupuk di sudut matanya.


"Baguslah kalau begitu, kalian bisa menikah. Lalu apa masalahnya?" tanya Satya ia ingin sekali mendengar inti pokok permasalahan wanita itu.


"Masalahnya aku mengatakan pria itu adalah kamu." lirih Ivanka, Satya menegakkan tubuhnya.


"Saya tahu ini salah, tapi aku tidak punya pilihan," ucap Ivanka, tangisnya pecah. Satya meraup wajahnya kasar mendengar penuturan Ivanka.


"Saya sudah menikah, dan sebentar lagi saya akan mempunyai anak," ucap Satya dengan tatapan tajam, ia memperlihatkan cincin pernikahannya di jari manisnya


"Pernikahan bukan untuk mainan, Ivanka! Dan aku rasa kamu tau itu!" lanjut Satya. Pria itu mencoba mengatur nafasnya, ua mencoba menahan emosinya sebisa mungkin.


"Iya iya, aku tau. Tapi aku mohon, kali ini bantulah aku, setidaknya kamu hanya perlu menikahiku, aku tidak akan mengusik keluargamu, aku janji." ucapan Ivanka membuat Satya semakin geram.


"Apa? bahkan aku tidak pernah berpikir untuk menikah dua kali, Ivanka!" ucap Satya tegas.


"Kamu sudah gila!" lanjut Satya yang menatap Ivanka yang kini terisak.

__ADS_1


"Diamlah, Ivanka. Hapus air matamu itu," ucap Satya dingin. Beberapa orang menatap keduanya, berpikir mereka adalah sepasang kekasih yang sedang bersitegang.


"Jadikan aku yang kedua, aku tak akan meminta lebih, aku janji aku tidak akan meminta lebih dari itu," kata Ivanka ditengah tangisannya, ia menyeka air mata yang membasahi pipinya.


"Kamu masih muda, hilangkan ide gilamu itu. Aku menghargaimu sebagai partner bisnis, tidak lebih dari itu." ucap Satya mencoba meredakan emosi yang sebenarnya sudah ingin meledak, tapi ia tahan sekuat mungkin. Jika ia berkata kasar, itu tidak akan menyelesaikan masalah. Dia harus mendinginkan kepalanya.


"Kita bisa menikah tanpa sepengetahuan istrimu," ucap Ivanka tidak tahu malu.


"Kamu bisa mencari pria lain untuk melakukan itu," ucap Satya menolak.


"Tidak. Aku tidak bisa, aku hanya mau kamu Karena kamu pria yang baik, dan aku mencintaimu, Satya! bahkan sejak dulu, sewaktu kamu menolongku dan merawat lukaku, dan kini tuhan mempertemukan aku kembali denganmu," ucap Ivanka yang kini mengutarakan perasaan yang sudah dipendamnya bertahun-tahun


"Aku hanya melakukan tugasku sebagai dokter, tidak lebih Ivanka. Kamu salah mengartikan apa yang aku lakukan saat itu," ucap Satya datar


"Kamu bukan anak kecil yang menyelesaikan dengan kebohongan, Ivanka. Kebohongan hanya akan menyakiti orang disekitar kita," lanjut Satya yang menolak apa yang direncanakan Ivanka.


"Aku tidak akan meminta lebih darimu, Mas. Aku hanya ingin status di depan orangtuaku, bahwa aku sudah menikah," ucap Ivanka sesenggukan. Satya memijit pangkal hidungnya, ia merasakan pusing mendengar Ivanka yang terus saja bersikeras ingin dinikahi olehnya.


"Kamu gila Ivanka!" ucap Satya.


Sementara ditempat lain ada seorang istri yang begitu gelisah saat suaminya pergi meninggalkannya di rumah. Wanita itu mengelus perutnya, rasa gelisah itu kian menderanya. Ia menatap foto pernikahan yang terpampang di dinding kamarnya.


"Kenapa ya, Dek? hati ibu rasanya nggak enak banget. Semoga nggak terjadi apa-apa sama ayah," Amartha bicara dengan bayi yang ada di dalam kandungannya. Ia mengelus lembut perut besarnya.


"Atau kita coba telfon ayah?" ucap Amartha lagi.


Amartha menempelkan ponsel di telinga kanannya.


"Halo? Mas?" ucap Amartha saat panggilannya terhubung. Namun sesaat ia mendengar tangis seorang wanita.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2