Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Sambut Keluarga


__ADS_3

Baby Evren memang banyak memikat banyak orang. Seperti saat ini, Vira dengan telatennya menggendong bayi kecil itu. Firlan yang melihatnya menjadi melemah dengan hubungan mereka. Ia menyalahkan dirinya sendiri mengapa ia terlalu cepat untuk memutuskan untuk break dari Vira.


"Nggak usah diliatin terus juga kali, Kak!" kata Amartha pada Firlan.


"Ehm!" Firlan jadi salah tingkah, ia memilih untuk beranjak dari duduknya.


"Saya tunggu diluar, Tuan!" ucap Firlan pada Satya.


"Hem," Satya yang duduk di sofa bersebelahan dengan Firlan pun hanya memberi deheman sebagai jawabannya.


Pria itu langsung melangkah pergi. Ia tak sengaja bertemu Vira saat di depan rumah sakit. Vira datang selain ingin menjenguk Evren, ia juga membantu Amartha untuk membereskan barang-barangnya karena siang ini dia sudah diperbolehkan untuk pulang.


"Kenapa kamu cengar-cengir kayak gitu, Ta?" tanya Vira yang menaruh Evren di box bayi.


"Kamu udah pantes jadi ibu," ucap Amartha.


"Ta, aku ada titipan dari mama kamu," ucap Vira mengalihkan pembicaraan.


"Titipan apa?" tanya Amartha.


Vira berjalan menuju tas miliknya dan mengeluarkan sebuah toples kecil bening yang terbuat dari kaca berisikan beras kuning dan uang recehan.


"Nih," Vira menyerahkan benda yang ada di tangannya pada Amartha.


"Beras kuning?" Amartha menatap heran pada Vira.


"Katanya, ini nanti di tabur di jalan setiap ada belokan yang kamu lalui," Vira menerangkan.


"Buat?"


"Tolak bala kali," jawab Vira ngasal.


"Kudu dilakuin?"


"Terserah aku cuma nyampein amanat aja," ucap Vira.


Amartha menatap suaminya, Satya malah mengendikkan bahunya.


Setelah Vira sudah selesai membantu Amartha mengemasi barangnya. Wanita itu berjalan berdampingan dengan Firlan menuju mobil membawa barang-barang Amartha.


Tak ada yang memulai pembicaraan. Vira dan Firlan masing-masing diam seribu bahasa.


Sedangkan Amartha sedang duduk di kursi roda sambil menggendong Evren berjalan dibelakang mereka bersama dengan Satya, dokter Vallerie dan juga dua orang suster.


Mobil sudah terparkir di depan. Firlan berjalan mendahului Vira untuk menaruh barang dan mendekatkan mobil di pintu lobby. Tapi, Vira malah beranggapan lain, wanita itu mengira Firlan tak mau berjalan berdampingan dengannya. Vira pun tersenyum getir.

__ADS_1


Saat sudah sampai di depannpintu lobby, Vira disambut mobil Firlan yang berhenti tepat di depan ia berdiri.


"Masuk," ucap Firlan singkat. Vira membuka pintu dan menaruh barang di kursi depan. Wanita itu lalu menutup pintu kembali.


Tak lama Satya dan Amartha pun menghampiri mobil Firlan.


"Terima kasih, Dok..." ucap Amartha.


"Hati-hati di jalan, Tuan ... Nyonya..." ucap dokter Vallerie.


Satya membukakan pintu untuk istrinya. Amartha bersama Evren masuk dan duduk di kursi penumpang bagian belakang. Satya pun mengikutinya kemudian menutup pintu.


Namun, Vira yang masih berada di luar mengetuk jendela di sisi tempat duduk Amartha.


Amartha pun menurunkan jendelanya.


"Kok nggak masuk ke dalam?" tanya Amartha pada Vira.


"Aku naik ojek aja, itu beras kuningnya aku taruh di depan. Oke?" ucap Vira.


"Terus yang nabur?" tanya Amartha.


"Yang nyetir aja suruh bantu naburin," jawab Vira. Sedangkan Firlan diam tak menjawab.


"Kamu aja, Vira. Susah dong kalau kak Firlan yang naburin begituan," ucap Amartha dengan tatapan memohon.


Baru beberapa hari break rasanya hati Firlan sudah cekat cekit. Apalagi bayangan jika Vira bisa saja bersama dengan Ricko mulai mengganggu pikirannya.


Vira menurunkan kacanya dan menabur beras dan beberapa koin saat mereka melewati beberapa belokan. Amartha bingung dengan sikap kedua orang duduk di kursi depan. Amartha melihat ke arah suaminya. Satya mengendikkan bahunya sementara Amartha malah manyun.


"Ehem! Vir..." panggil Amartha memecah keheningan.


"Ya. Kenapa, Ta?" tanya Vira.


"Ehem, aku pengen eskrim rasa kelapa muda. Nanti kamu tolong beliin di supermarket dekat rumahku ya, Vir!" ucap Amartha.


"Sekarang?"


"Nggak. Nggak sekarang, tapi nanti kalau kita udah pada makan-makan..." ucap Amartha.


"Ya..." ucap Vira sambil menurunkan kaca mobil dan menapyurkan beras dan uang logam ke jalan.


Amartha mempunyai ide kalau dia akan meminta tolong Vira untuk membelikan sesuatu bersama dengan Firlan. Amartha ingin kedua orang itu bisa berbaikan lagi.


Tanpa terasa mereka sudah sampai di depan rumah megah milik Satya. mang Tatang segera membukakan pintu gerbang.

__ADS_1


Satya langsung membuka pintu dan keluar saat mobil sudah berhenti dengan sempurna. Ia berlari menuju sisi pintu sebelahnya dan membukakan pintu untuk istrinya, Amartha.


Amartha tersenyum saat mendapat perhatian sari suaminya. Ia berjalan beriringan dengan Satya. Kedatangan Satya dan Amartha disambut oleh orang-orang di rumah yang tiba-tiba saja keluar. Satya dan Amartha mendekat.


"Selamat datang Evren," ucap Abiseka.


Vira dan Firlan pun menurunkan barang-barang dan menaruhnta di ruang tamu.


"Ayo semua, kumpul di depan!" ucap Sandra.


"Vira, Firlan ayo ikutan. Biar tambah rame..." ucap Sandra pada Vira yang berdiri tak jauh darinya.


"Iya, Tante..." jawab Vira.


Vira kemudian bergabung bersama bik Surti, Sasa, Damian, mang Tatang, mang Anto dan juga Firlan.


Sandra dan Rosa kemudian menabur beras beserta uang yang sudah berupa gulungan-gulungan kecil. Mereka semua berebut untuk mendapatkan gulungan-gulungan uang yang berwarna merah dan biru.


Vira pun ikut mengais beberapa gulungan uabg katena tangannya yang sigap saat gulungan uang yang jatuh bersamaan dengan beras yang berwarna kuning. Mereka semula berdiri pun berjongkok untuk mendapatkan uang yang tersebar dan tergelerak di bawah.


Ketika ia akan mengambil gulungan uang yang ada di depannya tiba-tiba tangannya menyentuh tangan Firlan yang juga akan mengambil gulungan uang yang sama.


"Ehem!" Vira langsung menyingkirkan tangannya dari atas tangan Firlan.


"Buat, kamu!" ucap Firlan yang menyerahkan gulungan uang yang cukup banyak yang ada ditangannya.


"Makasih!" ucap Vira yang menerima pemberian Vira. Lumayan pikir Vira, kapan lagi ia mendapatkan uang dengan cuma-cuma.


Vira pun tersenyum saat melihat gulungan uang yang lebih dari 30 buah. Firlan pun menghangat melihat senyuman Vira yang sebenarnya bukan ditujukan padanya, tapi pada uang yang didapatkannya.


"Ayo, kita makan bersama di dalam..." seru Sandra.


Akhirnya mereka semua berserta para pekerja di rumah itu pun masuk ke dalam rumah.


"Dapat berapa, Mbak?" tanya bik Surti pada Vira.


"Banyak, 30 gulungan!" kata Vira nyengir.


"Astagaaa, banyak banget! aku cuma dapat 10! yabg dapat banyak mang Tatang tuh sama mang Anto, gercep banget liat duit!" timpal Sasa.


"Kalau mang Tatang kan pasti disetor tuh buat istrinya yang cantik jelita!" seloroh Vira melirik pada bik Surti.


"Mbak Vira ini ada-ada aja!" ucap bik Surti yang menepuk pundak wanita itu.


Senyuman Vira tak lepas dari bidikan mata Firlan. Pria itu pun ikut tersenyum saat melihat Vira tertawa lepas bersama bik Surti dan Sasa.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2