
Mereka semua tengah menikmati makanan yang sengaja Sandra pesan dari catering. Para pekerja pun mendapatkan jatah yang sama. Sandra dan Amartha memang selalu memperlakukan para pelayannya seperti keluarga.
Namun, mereka tak begitu saja menjadi lancang. Mereka tahu batasan, dan sekarang mang Anto, Damian, dan juga mang Tatang sedang menikmati makan di meja makan di belakang khusus untuk para pekerja. Sedangkan Sasa dan bik Surti sedang bersama Evren di kamar bayi.
Vira yang kebetulan makan disamping Firlan pun cuek saja. Bahkan ia tak menawari mengambilkan sesuatu untuk pria itu. Amartha yang melihat sikap cuek Vira pun hanya bisa terkekeh. Padahal ia ingat, dulu Vira yang setengah mati mengejar cinta asisten suaminya itu. Tapi kali ini, Amartha melihat Vira yang ogah-ogahan dengan Firlan.
"Kamu sepertinya sangat dekat dengan Firlan," ucap Sandra tiba-tiba.
Semua mata melihat pada wanita yang sedang menyuapkan makanan ke mulutnya.
Merasa diperhatikan, Vira pun menjadi tersedak. "Uhukkk, uhuk!" dan dengan sigap Firlan memberikan air minum milik Vira.
"Tidak perlu gugup seperti itu, Vira..." celetuk Rosa. Vira meraih gelas yang dipegang Firlan dan segera meneguknya. Lalu ia menaruh kembali gelas yang sudah berkurang setengahnya itu.
"Kalian ada hubungan apa sebenarnya?" tanya Sandra sengaja bertanya lebih lanjut.
"Ayo, kalian jawab!" desak Satya.
"Tidak ada, Tante..." jawab Vira.
"Wah, kamu ternyata kekasih yang tidak dianggap, Lan!" ledek Satya.
"Mas!" Amartha menyenggol lengan suaminya.
"Ehem, saya ... saya sudah selesai, saya permisi ada sesuatu yang tertinggal di mobil," kata Firlan gugup. Ia pun pergi meninggalkan meja makan.
"Astaga, asistenmu lucu sekali, Sat!" kata Sandra.
"Dia asisten Papi juga!" seloroh Satya. Mereka pun tertawa sementara Vira wajahnya sudah merah seperti udang rebus.
Setelah selesai makan, Amartha meminta Vira untuk pergi ke supermarket.
"Astaga, perutmu belum kenyang juga?" tanya Vira.
"Nggak tau, aku pengen banget gitu. Makam eskrim rasa itu, pengeeen banget!" ucap Amartha penuh harap.
"Kenapa nggak suruh Damian aja?" tanya Vira.
"Damian? ehm, Damian mau nganter mama ke salon!"
"Tante Rosa mau ke salon?" Vira mengernyitkan dahinya.
"Iya, mau potong rambut! mau creambath, lama kalau nungguin orang nyalon, kan? makanya aku minta tolong kamu..." ucap Amartha.
"Ya udah, aku pesen ojek dulu," kata Vira sambil mengeluarkan ponsel dari tasnya
Tiba-tiba saja Firlan muncul ingin berpamitan dengan bosnya. Amartha yang melihat itu lantas memanggil Firlan.
"Kak Firlan!" seru Amartha.
"Tolong anterin Vira ke supermarket, ya? bisa, kan?" tanya Amartha.
__ADS_1
"Nggak usah, Ta! aku udah pesan ojek!" kata Vira.
Amartha langsung menyambar ponsel Vira dan meng-cancel ojek motor pesanan Vira.
"Lama kalau nunggu ojek, aku maunya sekarang! dah tuh, dah aku cancel!" ucap Amartha yang menyerahkan ponsel Vira kembali.
"Kayaknya Evren nangis, aku ke atas dulu, ya? aku tunggu ya, Vir!" kata Amartha yang segera menaiki tangga menuju kamar anaknya.
"Iya, Nyah!" cicit Vira.
Akhirnya dengan canggung Vira masuk ke dalam mobil Firlan.
"Ke supermarket yang disana, kan?" tanya Firlan.
"Iya," jawab Vira singkat.
Sementara di tempat lain. Amartha sedang membawa Evren di tangannya. Satya masuk dan tersenyum saat melihat istrinya.
"Mas?"
"Evren sedang tidur?" tanya Satya.
"Iya, baru saja ia memejamkan mata setelah merasa kenyang," jelas Amartha setengah berbisik.
"Duduklah, nanti kakimu pegal kalau berdiri terus," ucap Satya seraya mengarahkan istrinya untuk duduk di sofa.
Satya memberikan bantal tepat di pinggang Amartha agar, tubuh wanita itu merasa nyaman.
"Kak Firlan lagibnganterin Vira ke supermarket beli eskrim,"
"Eskrim?"
"Iya, eskrim buat aku, Mas!" ucap Amartha seraya melihat wajah putrinya.
"Selagi dia tidur sebaiknya kamu juga ikut tidur, karena nanti malam pasti putri kecil ini mengajak kita begadang," ucap Satya.
"Tapi, Mas?"
"Paling nggak kamu rebahan, supaya kamu nggak capek..." kata Satya.
"Iya, deh..." Amartha pun menurut dan bangkit dari duduknya. Satya membukakan pintu yang terkoneksi dengan kamar utama.
Amartha menaruh Evren di Box bayi di samping tempat tidurnya. Lalu ia pun merebahkan tubuhnya di ranjang.
Namun tidak dengan Satya. Pria itu duduk di ujung tempat tidur. Tangannya meraih telapak kaki istrinya.
"Kamu mau ngapain, Mas!" Amartha menarik kakinya.
"Udah, diem. Kamu habis melahirkan, pasti otot-otot kaki mu ini juga terasa pegal. Biar aku bantu menghilangkan rasa pegal itu, tidurlah dengan nyaman," kata Satya seraya memulai pijatannya.
"Nggak usah, Mas..."
__ADS_1
"Menurutlah, Sayang. Ini akan menjadikan tubuhmu sedikit lebih baik," kata Satya.
Tak bisa dipungkiri, tubuh Amartha saat ini sangat lelah. Apalagi, Evren yang selalu menangis dan terbangun di malam hari dan baru bisa tidur menjelang subuh.
Perlahan mata Amartha mulai terpejam, Satya masih memberikan urutan dan juga pijatan di telapak kaki istrinya. Sampai akhirnya ia melihat Amartha sudah terlelap.
Pria itu bergeser dan mengecup kening istrinya, kemudian berjalan dan menutup pintu kamarnya dari luar.
Sesangkan di tempat lain. Vira sedang memilih eskrim mana yang harus dia beli.
"Tadi dia bilang eskrim kelapa muda," gumam Vira.
"Yang ini eskrim kelapa muda dan yang ini rasa kopyor. Bukannya kopyor juga ada unsur kelapanya, ya?" ucap Vira bermonolog dengan dirinya.
"Ambil aja dua duanya, nggak usah ribet," celetuk Firlan.
"Ish, main nongol aja kayak setan!" batin Vira.
Vira mengambil dua eskrim kelapa muda dan juga dua eskrin kopyor. Masing-masing berukuran jumbo.
"Kenyang dah tuh si Juminten!" Vira terkekeh membayangkan Amartha yang kekenyangan makan eskrim 4 kotak jumbo.
"Jangan ketawa sendiri, nanti disangka orang gila!" celetuk Firlan yang kesal karena wanita itu seperti tak menganggapnya ada. Padahal ia ingin sekali bicara dengan wanita itu.
"Gila tuh kalau deket-deket sama kamu," ketus Vira.
"Iya bener juga. Bisa tergila-gila gitu ya maksudnya?" ucap Firlan.
"Cih, pede banget jadi orang!" Vira berdecih, secara tidak sadar dia sudah mengajak Firlan untuk bicara.
Vira berjalan mendahului Firlan sambil membawa keranjang belanjaan. Dan tak sengaja ia menabrak seorang ibu-ibu.
"Aduh, Mbak! kalau jalan tuh liat-liat, dong! nubruk saya kan jadinya!" omel seorang ibu-ibu cerewet
"Maaf!"
"Maaf, bu. Istri saya nggak sengaja," kata Firlan.
"Kamu nggak kenapa-napa kan Sayang?" ucap Firlan lagi seraya mengelus perut Vira, sedangkan Vira menepis tangan pria itu.
"Lagi hamil?"
"Maaf ya, bu? dia juga pasti ikutan kaget karena tidak sengaja menabrak ibu tadi," Kata Firlan yang masih mengelus perut rata Vira.
"Ish, apaan sih!" tepis Vira.
"Oh, iya iya. Tidak apa-apa," ucap wanita itu seraya meninggalkan Vira dan Firlan. Sementara Vira langsung ngibrit ke kasir.
"Dasar kang halu!" gumam Vira kesal.
...----------------...
__ADS_1