Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Air Terjun Perjaka


__ADS_3

"Terima kasih atas bantuannya, maaf ini buat ongkos taksi," Sinta berdiri dan bicara pada seorang karyawan di perusahaan Fendy yang membantunya membawa Fendy ke rumah sakit


"Tidak masalah, Nona ... saya ikhlas, jadi maaf saya tidak bisa menerimanya, semoga Tuan Fendy segera pulih kembali, saya permisi..." ucap pria itu mengatupkan kedua telapak tangannya, lalu ia segera pergi meninggalkan Sinta yang masih diam terpaku. Sinta memasukkan lagi uang yang telah di keluarkannya.


"Baiklah, terima kasih..." lirih Sinta.


"Ternyata masih ada orang yang baik," gumam Sinta seraya duduk kembali.


"Ada apa dengan manusia yang satu itu? kenapa dia tiba-tiba sesak nafas?" wanuta itu sibuk bermonolog sendiri.


"Huffffh, nggak mungkin juga kan ada racun di dalem chocolate cake itu?" Sinta menghela nafas panjang, dia merasa khawatir dengan pria menyebalkan yang kini terbaring tak berdaya.


"kenapa mereka lama banget sih di dalam?"


"Dia bakalan tetep hidup kan, ya?" tanya Sinta dalam hati, mengingat Fendy mengalami sesak nafas sebelum akhirnya jatuh tak sadarkan diri.


Sinta masih duduk di kursi stainless panjang di depan ruang IGD, ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Sinta memijit pelipisnya, ia merasa pusing.


Tak berapa lama, seorang suster pun keluar.


"Keluarga Tuan Fendy?" seru seorang perawat.


Sinta yang sedang duduk pun langsung beranjak menghampiri sang suster.


"Ya, saya!" Sinta segera bangkit dan berjalan mendekat pada suster yang memanggilny


"Dokter menunggu anda di dalam, Nona..." jelas suster itu.


"Silakan..." Suster tersebut mempersilakan Sinta masuk.


"Bagaimana keadaan manusia ini, Dok?" tanya Sinta pada Dokter yang sedang berdiri di dekat brankar yang di tempati Fendy.


"Manusia?" tanya sang dokter memastikan apa yang di dengarnya.

__ADS_1


"Maksud saya, bagaimana keadaan calon suami saya, Dok?" ralat Sinta, ia sekilas melihat Fendy yang terpasang selang oksigen.


"Begini, Nona ... kemungkinan pasien mengalami sesak nafas karena alergi, apa yang terakhir pasien konsumsi sebelum akhirnya dia pingsan?" tanya dokter itu.


"Dia makan sepotong kue cokelat," jawab Sinta, yang dia tahu memang Fendy hanya makan kue cokelat sebelum akhirnya mengalami sesak nafas.


"Apakah pasien memiliki riwayat alergi?" tanya dokter, namun Sinta tak bisa menjawab dengan pasti.


"Mungkin," jawab Sinta kurang yakin.


"Mungkin pasien memiliki riwayat alergi cokelat, namun untuk memastikannya kami akan melakukan serangkaian tes," jelas dokter itu.


"Lakukan saja yang terbaik, Dok..." jawab Sinta.


"Baiklah, setelah keadaannya stabil, baru kami akan memindahkannya ke ruang perawatan," kata Dokter itu sambil tersenyum tipis.


"Baik, terima kasih banyak, Dok..." ucap Sinta, wanita itu sedikit menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu, saya permisi..." ucap dokter itu sambil berlalu meninggalkan Fendy dan Sinta.


"Pantesan aja, dia ragu buat makan kue itu, dasar bodoh! udah tau alergi, kenapa masih dimakan? udah bosen hidup nih orang!" Sinta mengomel sendiri sambil memandang wajah pria yang bernafas dengab bantuan masker yang terhubung dengan tabung oksigen.


"Cepatlah sadar, karena kau terlihat lebih menyebalkan saat terlihat lemah seperti ini," ucap Sinta yang memandang Fendy masih terpejam. Wanita itu masih berdiri di samping Fendy dengan keadaan yang lumayan kacau.


Ketika Sinta baru saja akan duduk, seorang perawat datang mengecek keadaan pasien sekaligus untuk mengambil sample darah Fendy. Sinta diminta untuk mengurus perpindahan Fendy ke ruang perawatan karena kondisi pria itu sudah cukup stabil. Akhirnya Sinta pergi meninggalkan Fendy di ruang IGD. Berbekal KTP yang ada di dalam dompet pria itu, Sinta pun segera pergi ke ruang administrasi.


Masih dalam suasana cemas.Seorang wanita muda berjalan mondar-mandir, gelisah saat melihat lampu di depan ruang operasi masih menyala. Rasanya lama sekali menunggu sang papa keluar dari dalam ruangan itu.


"Vira ... duduk, Nak..." kata Dewi yang berusaha untuk tetap tenang walaupun dalam hatinya sangat mengkhawatirkan Raharjo, suaminya.


"Sayang ... duduk, cobalah untuk tenang," ucap Dewi seraya berdiri dan menuntun anaknya untuk duduk. Dewi membelai kepala Vira dengan lembut


"Aku takut, Maa..." ucap Vira, ia menatap mata ibunya dalam.

__ADS_1


"Tenang, Sayang ... yang bisa kita lakukan saat ini hanya berdoa,"


"Ayo duduklah..." kata Dewi sambil menepuk sebuah kursi yang ada disampingnya.


"Lama sekali operasinya," kata Vira dengan wajah yang cemas.


"Sabar, Sayang ... kita harus yakin kalau papa pasti bisa melewatinya, dan papa akan segera sembuh, dan bisa berkumpul lagi bersama kita," ucap Dewi.


"Iya, Maa.." jawab Vira, Dewi segera memeluk putrinya, mereka saling menguatkan satu sama lain.


Vira sengaja menonaktifkan ponselnya, dia sedang ingin fokus terhadap Raharjo. Dia ingin fokus berdoa agar transplantasi ginjal tersebut bisa berjalan dengan lancar.


Firlan yang tidak tahu menahu soal papa Vira yang sakit pun akhirnya berpikir yang tidak-tidak, karena sedari tadi wanita itu sangat sulit untuk dihubungi. Pria itu mengusap wajahnya kasar, ia menopang dagunya dengan satu tangan, pikirannya menerawang entah kemana. Awalnya begitu sampai di kota ini, dia ingin menemui wanita yang ia beri nama ayam di kontak ponselnya. Tapi apadaya, wanita itu malah tak bisa dihubungi, bahkan nomor ponselnya tidak aktif.


"Firlan! pulanglah jika kau merasa lelah, melihatmu yang melamun seperti itu membuat mataku sakit!" seru Satya saat melihat asistennya bukannya bekerja malah melamun. Firlan tak menimpali kata-kata bosnya itu, ia mencoba konsentrasi lagi pada kumpulan kertas yang ada di tangannya. Pria itu duduk di sofa, ia sedang membantu Satya mengecek dokumen.


"Ayam aja kalau sering ngelamun, langsung dibawa sama yang punya ke tempat pemotongan hewan, Lan!" celetuk Satya.


"Saya manusia bukan ayam, Tuan..." sahut Firlan kesal, Satya terkekeh melihat raut wajah Firlan yang masam. Setidaknya itu lebih baik daripada melihat asistennya hanya memandang kertas dengan tatapan kosong.


Satya mengabaikan Firlan yang mulai fokus dengan ponselnya. Pria itu mengambil sebuah gagang telepon di mejanya, ia menekan tombol ekstensi sekretarisnya.


"Halo? Maura? kamu pesankan tiket keberangkatan ke Paris beserta hotelnya atas nama Firlan," perintah Satya saat telepon sudah tersambung dengan Maura.


"Tunggu Tuan!" ucap Firlan cepat.


"Ada apa? apa kamu mau ganti vocation-nya?" tanya Satya mengernyitkan dahinya.


"Bukan itu, tapi..." ucapan Firlan terhenti.


"Maura? nanti Firlan sendiri yang akan menghubungi kamu mengenai jadwal keberangkatannya setelah dia sudah selesai semedi di bawah air terjun perjaka," seru Satya.


"Baik, Tuan..." sahut Maura.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2