Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Satu Sama


__ADS_3

Siang berganti senja. Vira masih ada di rumah Amartha. Mereka sedang duduk menghadap tembok yang sudah bergambar berbagai macam hewan yang lucu dan menggemaskan.


"Tinggal bikin matahari sama awan-awannya diatas ya," kata Amartha.


"Iya, tapi mungkin nggak bisa terlalu atas, gimana?" tanya Vira setelah meneguk minuman dinginnya. Rasa segar segera menjalar ke seluruh tubuhnya.


"Ya nggak usah sampe atas banget lah, gila!"


"Besok tinggal finishing aja berarti, ya?" lanjut Amartha.


"Iya, betul sekali! eh, beneran suami kamu yang kayak es balok itu nggak akan marah liat gambar itu?" Vira menoleh pada Amartha dan matanya beralih pada gambar yang terpampang nyata didepan mata keduanya.


"Nggak, lah! itu kan bagus gambarnya, lucu juga kok," kata Amartha.


"Aku nggak ikut-ikutan loh, yaaa!" Vira mengangkat kedua tangannya.


"Ya jelas ikutanlah, orang kamu yang buat! hahahahah," seloroh bumil cantik.


"Wah, aku dijebak, nih! ya aampuuun, jadi penasaran nih sama Jumaroh nantinya kayak gimana," kata Vira menunjuk perut sahabatnya.


"Yang jelas kalem kayak aku,"


"Tapi firasatku sebaliknya, Jum!" ucap Vira.


"Nggak mungkin mirip mas Satya, itu nggak mungkin!"


"Apa sih yang nggak mungkin? orang kalian ngadonnya bareng-bareng?" ucap Vira.


"Iya juga! tapi nggak mungkin lah mirip dia, kalau otak ama muka oke, lah! tapi tidak dengan kelakuannya ya…" Amartha tak bisa membayangkan jika anaknya nanti kelakuannya mirip dengan Satya. 


"Hahahahah, kenapa juga pakai geleng-geleng begitu? nggak usah dibayangin, Jum!" Vira menepuk pundak sahabatnya.


"Vir," Amartha menoleh pada sahabatnya.


"Ya?" 


"Kamu sekarang tinggal dimana? di kosan lama atau?" Amartha sangat berhati-hati bertanya pada Vira. amartha tidak mau Vira tersinggung.


"Di apartemennya Ricko," jawab Vira.


"Ricko?"


"Orang yang jadi donor ginjal papa ku," jelas Vira yang meneguk kembali minuman ea rasa leci.


"Kalian cuma berdua?" Amartha mengernyitkan dahinya. 


"Nggak lah! ada orang tuaku juga, kok!" jawab Vira.

__ADS_1


"Firlan nggak marah?"


"Marahlah, tapi mau gimana lagi. Tadinya kan aku nggak ada niatan buat tinggal lama di apartemennya Ricko. Nggak sama sekali! karena rencananya aku itu mau ngajak orang tuaku buat pulang kampung dan nerusin usaha papa disana, tapi karena papa masih harus bolak-balik kontrol dan daripada capek ya udah disini dulu," jelas Vira, Amartha menepuk pundak Vira pelan. Memberi semangat pada sahabatnya itu.


"Kenapa nggak ngomong sama aku? kan aku bisa bantu kamu, Vira…" Amartha gemas dengan sahabatnya yang tidak mau memberitahunya tentang masalah yang menimpanya.


"Makasih banget, tapi kamu lagi hamil dan aku nggak mau bikin kamu terbebani dengan masalah aku yang receh ini," kata Vira.


"Ngomong-ngomong udah sore. Kalau gitu aku balik, yah?" lanjut Vira seraya melihat jam di ponselnya.


"Nggak nginep disini aja?" tanya Amartha.


"Nggak, ah! nggak enak sama suami kamu, lagian nggak baik loh kalau udah berumah tangga ada temen yang nginep di rumah kita," ucap Vira.


"Tapi besok kesini lagi, kan?" tanya Amartha.


"Iyala kesini lagi, kan belum selesai…" ucap Vira.


"Kamu nggak mau makan dulu?" tanya Amartha.


"Kan tadi siang baru makan sama kamu, masa iya jam segini mau makan lagi? perutku belum bisa menampung lebih banyak makanan" seloroh Vira.


Vira segera membereskan alat-alat yang akan ia gunakan lagi besok. Wanita itu menyimpannya dengan rapi. Amartha lantas mengunci ruangan itu.


"Kenapa dikunci, Ta?" tanya Vira yang heran kenapa Amartha mengunci kamar bayi yang sedang didekor.


"Kan belum 100%, biar nanti jadi kejutan," jawab Amartha.


"Aku nggak apa-apa, Yem! berasa jompo banget kalau dipegangin kayak gini," ucap Amartha.


"Bukan jompo tapi lagi bunting, hahahahha!" celetuk Vira, berbarengan dengan pijakan anak tangga terakhir yang berhasil mereka lewati.


"Makasih, ya? kamu udah mau bantuin aku," ucap Amartha yang berjalan berdampingan dengan sahabatnya.


"Ya ampun, Jum! udah kayak siapa aja ngomong kayak gitu. Lagian aku juga seneng ketemu sama kamu, udah lama kita nggak ngobrol ngalor ngidul kayak gini, kan?" kata Vira.


Saat Amartha dan Vira melangkah menuju pintu depan, terdengar suara pintu yang baru saja dibuka.


"Mas? kok udah pulang jam segini?" tanya Amartha saat melihat kedatangan suaminya.


"Iya, kan udah jam pulang kantor, Sayang…" ucap Satya seraya mengecup kening istrinya, seolah tak menganggap ada orang lain selain mereka berdua.


"Yang dingin yang dingin, kacang rebus kacang goreng!" Vira menirukan pedagang asongan yang menawarkan jualannya.


"Sorry, Vir. Nggak keliatan!" celetuk Satya.


"Udah selese?" tanya Satya entah pada siapa. 

__ADS_1


"Uy! ditanyain juga diem aja," kata Satya.


"Mas tuh nanya sama siapa? aku apa Vira?" tanya Amartha.


"Sama pacarnya Firlan!" jawab Satya.


"Siapa?" cicit Vira.


"Mas ih, sukanya bikin orang kesel aja," ucap Amartha sambil menepuk pelan lengan suaminya, yang ditepuk malah melingkarkan tangan di pinggang Amartha. Wanita itu mencium bau lain dari jas yang dikenakan suaminya. 


"Tinggal finishing aja, besok kelar…" jawab Vira atas pertanyaan bos dari pacarnya.


"Selamat sore, Tuan…" ucap Firlan yang tiba-tiba saja muncul dengan membawa sesuatu di tangannya.


"Vira?" gumam Firlan melihat keberadaan kekasihnya. 


"Kebetulan kamu sudah datang. Kita ke ruang kerja, ada yang mau saya bicarakan sama kamu," ucap Satya.


"Bukannya kalian sudah bertemu di kantor?" tanya Amartha penuh selidik.


"Tadi siang aku ada meeting di luar, Sayang. Dan ada hal yang harus aku bicarakan dengan Firlan, aku ke ruang kerja dulu, ya?"


"Tunggu, Tuan! sepertinya anda meninggalkan ini di kantor," Firlan menyerahkan sebuah tentengan yang berisi bekal makan siang. Wajah Satya memucat kala melihat apa yang di ada di tangan Firlan, apalagi saat barang itu berpindah ke tangan istrinya.


"Jadi, kamu nggak makan bekal yang udah aku buat dengan susah payah ini, Mas? jahat kamu, Mas!" Amartha langsung balik badan dan menaruh bekal itu diatas meja di depan sofa panjang.


Amartha langsung ngambek dan berjalan menuju kamarnya.


"Sayang!" seru Satya yang melihat istrinya sudah pergi meninggalkannya. Satya segera mengikuti kemana perginya Amartha.


Sedangkan Vira hanya melongo melihat sikap sahabatnya yang 180 derajat berbeda dari biasanya.


"Tuan!" seru Firlan.


"Ada apa, Firlan!" Satya menghentikan langkahnya dan


"Tuan mau kemana?" seru Firlan.


"Kamu tidak lihat? istri saya lagi ngambek! ini semua kan juga gara-gara kamu!" 


"Loh, kok saya yang disalahin?"


"Saya tunggu disini atau di ruang kerja?" tanya Firlan yang sengaja menjahili bos laknatnya.


"Ruang kerja gundulmu! kita bicara besok di kantor," ucap Satya lalu segera meninggalkan Firlan dan Vira di ruang tamu.


Vira yang melihat tak ada siapapun selain mereka berdua pun, segera melangkah keluar. Rasanya canggung berada didekat Firlan, terlebih lagi hubungan mereka yang sudah seperti kapal yang karam.

__ADS_1


"Tunggu! kita pulang bersama," tanpa aba-aba Firlan segera menarik tangan Vira.


...----------------...


__ADS_2