Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Paketan?


__ADS_3

"Pagi, Ta..." ucap seseorang wanita dengan suara yang tak biasanya.


"Eh, Vir! duduk, Vira ... sarapan bareng," ucap Amartha.


"Pagi, Tuan..." ucap Firlan, Satya menatap asistennya itu dengan tatapan mematikan. Firlan pura-pura saja tidak melihat.


Vira kemudian menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Amartha, Firlan pun mengikuti jejak kekasihnya. Hubungan abtara Vira dan Firlan sebenarnya jauh dari kata baik-baik saja, Vira tahu jika Firlan semakin dekat dengan Alia namun nyatanya dia tak bisa marah atau kecewa karena dia pun tahu jika ia sudah sangat salah pada Firlan.


Dia berada dalam satu atap yang sama dengan pria yang tidak Firlan sukai, ya meskipun Vira tidak hanya tinggal berdua, namun juga bersama dengan orangtuanya. Tetap saja itu menjadi sesuatu yang membuat hubungan Vira dan Firlan renggang.


"Kalian kesini bareng?" tanya Amartha melihat Firlan dan Vira secara bergantian.


"Nggak," sahut Vira cepat.


"Kebetulan ketemu di depan," sambung Vira.


"Kalian kenapa sih? duduk jauh-jauhan gitu kayak orang lagi musuhan aja," tanya Amartha yang meletakkan roti nya diatas piring dan lebih penasaran dengan dua orang dihadapannya.


"Mungkin si Firlannya belok kanan kiri kali, Yank! emang susah sih ya jaman sekarang," celetuk Satya yang kemudian menyesap kopi hitamnya, sambil menyunggingkan senyum mengejeknya. Sementara Firlan sangat jengkel mendengar ucapan bosnya.


"Belok gimana? emang Kak Firlan mau belok kemana?" tanya Amartha, Vira malah menepuk jidatnya mendengar pertanyaan sahabatnya itu.


"Daripada membahas kehidupan pribadi saya, lebih baik kita cepat pergi, Tuan!" ucap Firlan, mengalihkan pembicaraan.


"Yang sabar ya, Vira! doakan saja dia kembali pada jalan yang benar," kata Satya yang sebenarnya menyindir Firlan.


Satya segera beranjak dari duduknya lalu mengelus kepala istrinya dan mencium kening Amartha. Vira lagi-lagi harus melihat adegan yang sudah lama tak ia rasakan bersama kekasihnya.


"Ayah berangkat, Sayang..." kata Satya seraya mengusap perut istrinya.


"Iya, Mas. Hati-hati di jalan," ucap Amartha.


Amartha melihat punggung Satya yang semakin menjauh sampai akhirnya menghilang dari pandangannya.


"Sarapan dulu, Vir..." kata Amartha.


.


.


Sementara di tempat lain.


"Vanka! malam ini orangtua Carlo akan datang, jadi persiapkan dirimu sebaik mungkin," ucap Adam pada anaknya, ia menikmati sarapan bersama dengan anak dan istrinya.

__ADS_1


"Mama sudah menyiapkan segalanya, kamu tenang saja..." ucap Elena.


"Kenapa mereka datang kesini? bukannya perjodohan itu sudah kita batalkan? apa mereka ingin ganti rugi?" ucap wanita yang sudah siap dengan pakaian kerjanya, ia masukkan suapan terakhirnya.


"Jangan bicara sembarangan kamu, Vanka! mereka keluarga terpandang, jadi papa minta kamu supaya bersikap sebaik mungkin terutama dengan calon besan papa," ucap Adam.


"Calon besan gimana, Pah? suruh mereka mencari menantu yang lain. Karena Vanka sudah punya calon sendiri," ucap Ivanka yang ajan beranjak, namun Adam menggerakkan tangannya. Yang berarti, wanita itu disuruh untuk duduk kembali di tempatnya semula.


"Papa belum selesai bicara," kata Adam dengan tatapan mengintimidasi.


"Dengar, Vanka! Papa tidak setuju dengan pria yang kamu kenalkan waktu itu. Dia tidak pernah datang kemari, bahkan dia dengan seenaknya membatalkan makan malam dengan kami. Belum apa-apa sudah membuat kesan buruk dan papa sangat tidak suka," jelas Adam, dia mengingat acara makan malam yang kata Ivanka dibatalkan karena pacarnya sedang pergi ke luar negeri, urusan bisnis.


"Ini semua gara-gara Fendy! sialan memang tuh cowok! apa salahnya sih pura-pura sebentar," gumam Ivanka dalam hatinya.


"Benar kata papa kamu, Vanka! kamu tidak lihat kami sudah tua begini, kamu belum juga mendapat pasangan. Beruntung kami belum membatalkan perjodohan kamu dengan Carlo, mama yakin dia yang tepat menjadi suami kamu," ucap Elena.


"Ya nanti juga Vanka menikah, Mah!" jawab Ivanka.


"Nanti kapan? sampai kapan kami harus menunggu? dan mama lihat pacar kamu itu tidak serius menjalin hubungan dengan kamu, Vanka!" kata Elena.


"Jawabanmu dari dulu sama saja, nanti nanti nanti. Kamu tidak usah membantah, atau kamu tidak akan mendapat satu sen pun dari warisanku!" kata Adam mengancam.


"Vanka berangkat!" ucap Ivanka yang langsung pergi meninggalkan orangtuanya di meja makan. Sementara dirinya, berjalan dengan cukup tergesa-gesa menuju mobil yang sudah terparkir di depan. Wanita itu meraih ponsel yang ada di dalam tasnya.


"Bagus, hahaha. Aku tak sabar melihat ekspresinya," ucap Ivanka, ia pun segera masuk ke dalam mobilnya dan melaju meninggalkan kediaman Barsha.


Matahari yang hangat perlahan mulai naik. Lukisan Vira sudah hampir selesai, Amartha menyunggingkan senyumnya.


"Gimana?" tanya Vira.


"Suka," sahut Amartha.


"Kamu emang yang terbaik, Vir!" puji Amartha pada Vira yang mulai merapikan peralatannya.


"Kamu tunggu disini, aku akan kembali..." ucap bumil cantik seraya beranjak dari kursinya.


Amartha masuk ke dalam kamarnya yang terhubung dengan kamar bayi. Ia mengambil satu amplop berwarna coklat dan ia isi dengan lembaran kertas berwarna merah.


Amartha kemudian melangkah menuju kamar bayi yang telah selesai dilukis Vira.


"Vir," panggil Amartha. Vira yang baru saja selesai memasukkan cat dan kuas ke dalam satu kotak yang sudah disediakan di ruangan itu pun segera menghampiri sahabatnya.


"Kenapa, Ta?" tanya Vira.

__ADS_1


"Kamu capek, nggak?" Amartha balik bertanya.


"Nggak, sih! emang kenapa?" Vira berjalan menuju toilet di kamar bayi, ia sengaja membiarkan pintu terbuka supaya bisa mendengar suara Amartha.


"Mau temenin aku jalan ke mall, nggak?" seru Amartha.


"Tumben? biasanya paling males ke mall?" tanya Vira yang sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar oleh Amartha. Setelah membasuh tangannya, ia melangkah menuju ke tempat Amartha duduk.


"Aku cuma pengen jalan sama kamu, udah lama kita nggak pergi bareng. Kamu mau?" tanya Amartha setelah Vira duduk di sampingnya.


"Siaaap berangkat kita!" seru Vira.


"Astaga! main tereak aja, ngagetin orang tau nggak?" Amartha tertawa kecil.


"Vira?"


"Kenapa, Ta?" tanya Vira.


"Aku seneng banget kamu udah bikinin ini buat aku. Ehm, aku harap kamu bisa terima ini, ya?" ucap Amartha seraya memberikan sebuah amplop yang sedari tadi ada di tangannya.


"Apaan ini, Ta?" Vira membuka amplop yang ada di tangannya. Dia melihat uang dalam jumlah yang cukup banyak.


"Ya ampun, nggak usah kayak gini juga kali, Ta! lagian ini banyak banget tau, nggak?" ucap Vira seraya mengembalikan amplop itu pada Amartha, namun Amartha menolak.


"Anggap aja aku client kamu dan ini bayaran atas jasa yang udah aku terima," ucap Amartha.


"Please..." lanjut Amartha memelas.


"Tapi ini terlalu banyak, aku ini amatiran, Ta..." ucap Vira tidak enak menerima bayaran begitu mahal.


"Kamu berbakat, dan aku puas banget sama hasilnya. Please diterima, ya?" ucap Amartha.


"Oke, aku terima. Makasih, ya?" ucap Vira dan Amartha mengangguk.


"Kita berangkat sekarang?" tanya Vira.


"Aku ambil tas dulu," ucap Amartha seraya masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Vira keluar dari pintu yang lain karena connecting door akan dikunci.


Vira menunggu di depan kamar Amarta, dan berbarengan dengan Amartha yang menutup pintu kamarnya dari luar, salah seorang pelayan menghampiri wanita yang tengah hamil besar itu.


"Nyonya, paketan anda sudah sampai..." ucap Sasa.


"Paket?" Amartha menatap Sasa heran.

__ADS_1


__ADS_2