
"Vira? kamu lagi ngapain?" tanya Ricko yang datang dengan banyak belanjaan di tangannya. Persediaan bahan makanan hampir habis jadi mau tidak mau Ricko harus keluar.
"Oh, ini tadi aku..." ucap Vira menggantung,
"Kenapa?" tanya Ricko.
"Udah selese, Ay?" tanya Firlan, pria itu tiba-tiba saja muncul dari belakang tubuh tegap Ricko. Ricko spontan menoleh menggeser tubuhnya memberi ruang Firlan untuk masuk.
"Maaf, Kak Ricko ... kita tadi habis masak, buat makan malem," jelas Vira.
"Sory bro nggak ngabarin mau dateng,untung aku kesini, kalau nggak? tuh ayam udah jadi batu akik disulap sama Vira," seloroh Firlan.
"Emang kamu masak pas aku tinggal?" tanya Ricko.
"Iya, tadi ... awalnya aku tertarik pas liat tutorial masak ayam panggang yang enak. eh malah aku salah ngatur temperatur oven, untung Kak Firlan dateng, jadi masih bisa diselamatkan tuh nasib ayam. Ya terus dia bantuin aku bikin ayam panggang," jelas Vira atas insiden penyelamatan ayam panggang.
"Jangan membahayakan diri sendiri, kan aku udah bilang, nanti kita masak bareng," ucap Ricko lembut.
"Ehem, emang keputusan aku buat nyatronin Vira hari ini emang tepat! lagian, ini siapa yang pacar? kok dia lebih so sweet gitu ke Vira," gumam Firlan dalam hatinya, ia menarik kursi di meja makan. Capek juga ngobrol sambil berdiri. Vira meraih belanjaan yang dibawa Ricko, membuat Firlan sungguh geram.
"Nggak bisa dibiarin statusku bisa terancam kalau kayak gini terus," kata Firlan yang gerah melihat sikap manis Vira, persis kayak kucing anggora kalau lagi dikasih makan sama majikannya.
"Kak Ricko bawa sosis kesukaan aku?" seru Vira saat menemukan sosis berukuran jumbo.
"Waaaah, bisa bikin sosis bakar dong, ya?" tanya Vira dengan mata berbinar.
"Bisa, aku juga beli barbeque sauce-nya. Siapin grilled pan! nanti aku bikinin," ucap Ricko lembut.
"Wait, wait, sejak kapan kamu suka sosis?" tanya Firlan dengan mata memicing ke arah Vira.
"Bukannya kamu ogah-ogahan kalau disuruh makan itu?" lanjut Firlan.
"Oh, itu sejak ... sejak kapan ya? sejak numpang makan disini kayaknya," kata Vira mencoba mengingat-ingat.
"Soalnya Kak Ricko waktu itu pernah bikin sosis bakar, enak deh ... kamu harus cobain, Ay..." ucap Vira.
"Sosis mah jajanan anak SD! aku kan udah dewasa, jadi nggak makan kayak gituan," kata Firlan menohok.
__ADS_1
"Oh, ya udah ... kamu duduk aja disitu, Ay!" ujar Vira, Firlan menautkan kedua alisnya. Ricko hanyavmenggelengkan kepalanya pusing melihat kedua orang itu berdebat.
"Tusuk satenya ada nggak, ya? waktu itu nyimpennya dimana ya, Kak?" tanya Vira, mencari-cari tusukan sate.
"Di laci ketiga sebelah kanan, Vir ... kamu mau bikin sekarang?" tanya Ricko, hati Firlan sungguh fanas fanas fanas.
"Seru loh, Ay? beneran nggak mau coba? bakar-bakaran sosis kayak gini?" tanya Vira yaang menunjukkan sebungkus sosis pada kekasihnya.
"Nggak!" sahut Firlan ketus.
"Kak, kasih agak pedes dikit, ya?" kata Vira.
"Ambil saus cabe yang extra pedas, sekalian ambilin mangkuk," perintah Ricko.
"Kamu siapin bahan-bahannya, aku ganti baju dulu, nggak enak masak pake jeans kayak gini," kata Ricko.
"Asiiiiaaappp!" jawab Vira.
Ricko pun berjalan meninggalkan kedua sepasang manusia yang biasanya cakar-cakaran namun terikat benang asmara. Benang asmara nggak tuh?
"Jangan geniiit," ucap Firlan tiba-tiba.
"Kamu lah siapa lagi?" kata Firlan.
Vira yang sedang menyiapkan alat pembakaran dan mangkuk untuk tempat sauce, tak menghiraukan Firlan yang hatinya panas melihat kedekatan Ricko dan Vira.
"Terus sia-sia dong aku bantuin kamu bikin ayam panggang tadi?" tanya Firlan kesal.
"Ya nggak sia-sia lah, kan nanti kita makan gimana, sih?" kata Vira yang sibuk mengeluarkan beberapa belanjaan.
"Aku udah ambil cuti panjang, jadi aku bakal kesini, dan mungkin setiap hari," kata Firlan.
"Oh, bagus dong! kan Kak Ricko jadi ada temen ngobrol, besok juga Kak Ricko mulai berangkat ngantor tapi kayaknya cuma sampai siang. Kamu juga bisa nemenin papa disini, itung-itung biar papa nggak bosen di sini," sahut Vira. Ia mulai mengeluarkan sosia dari bungkusnya, ia taruh diatas piring oval. Lalu ia tusuk dengan tusukan sate .
Tak lama Ricko datang dengan celana pendek dan kaos, dia segera menghampiri Vira yang sudah mengeluarkan belanjaan dan menatanya ke dalam lemari pendingin.
"Udah siap nih bahan-bahannya?" tanya Ricko yang melihat sosis yang sudah siap untuk di bakar beserta mentega dan dua kuas untuk mengoles panggangan dan juga sauce.
__ADS_1
"Udah, nih tinggal bikin sauce-nya, aku nggak tau perbandingannya," kata Vira polos, kedua orang itu berdiri berdekatan, lalu dengan cepat Firlan menarik tangan Vira, dia nyempil diantara Ricko dan Vira.
"Ay, sempit tau," protes Vira.
"Nggak, kamu geseran dikit kesana. Lagian kamu kan nggak bisa masak, nanti tangan kamu kena panggangan gimana? kalau melepuh gimana?" Firlan menunjuk panggangan yang udah nangkring diatas kompor.
"Aku mau main bakar-bakaran, Ay..." ucap Vira seperti anak kecil yang disuruh ibunya pulang pas asik main sama temen.
"Kalian duduk aja, biar aku yang bakarin," kata Ricko.
"Tapi..." ucapan Vira terhenti.
"Udah, ikut aku! kamu duduk di sini! duduk yang manis," serobot Firlan, ia menarik Vira dan menyuruhnya duduk di salah satu kursi di meja makan.
Ricko mulai mamanaskan panggangannya, ia juga mulai menaruh beberapa sosis lalu mengoleskan sauce dengan kuas. Vira ingin sekali ikut membakar makanan favoritnya itu, wanita itu akan beranjak namun Firlan segera mencegahnya.
"Iiih," Vira mendesis, mencoba melepaskan cekalan tangan Firlan.
"Diem," bisik Firlan setengah memaksa.
"Aku mau nyobain yang udah mateng!" bisik Vira pada Firlan.
"Belom mateng, astaga! masih adavdi atas panggangan itu," kata Firlan tidak tahan dengan Vira yang bersikeras ingin main bakar-bakaran. Sementara Ricko hatinya tergelitik mendengar perdebatan antara dua makhluk yang berbeda jenis itu.
Ricko masih membolak-balikkan sosis diatas panggangan. Dia menyembunyikan senyumnya, sebenarnya ia ingin sekali tertawa terbahak-bahak. Mungkin karena dia sudah melewati masa-masa itu.
Vira langsung beranjak saat melihat Ricko mengangkat satu tusuk sosis.
"Wah, udah ada yang mateng, ya?" Vira dengan secepat kilat menghampiri Ricko.
"Vira!" pekik Firlan. Namun Vira tidak memperdulikannya, ia lebih tergiur dengan makanan yang ada di hadapannya saat ini.
"Aku ambil satu, ya?" ucap Vira.
"Bentar," Ricko mencegah wanita itu. Ia segera mengambil piring yang berbentuk persegi panjang yang ada di dalam kabinet. Ia meletakkan sosis itu diatas benda keramik berwarna putih itu.
"Aku cobain, huufh..." Vira meniupkan udara sebelum menggigit makananya.
__ADS_1
"Vira! makan nggak boleh sambil berdiri, nggak sopan tau!" ucap Firlan, spontan Vira menoleh pada kekasihnya itu.
...----------------...