Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Siluman Ular


__ADS_3

Sekarang disinilah mereka, duduk di sebuah kafe dekat rumah sakit.


"Vira..." ucap Amartha dengan air mata yang memupuk di kedua maniknya.


"Maaf..."


"Nggak, bukan itu yang mau aku denger," sergah Amartha, air matanya jatuh berbarengan kalimat yang meluncur dari bibirnya


"Aku malah yang mau minta maaf, aku nggak ada disamping kamu, aku nggak ada di saat kamu susah, maafin aku..." lanjut wanita itu menyesal.


"Aku yang emang belum sempat untuk cerita ... maaf ya, Ta..." kata Vira. Sebenarnya ia tak mau membebani Amartha dengan masalahnya.


"Jangan bilang maaf lagi," ucap Amartha, ia menggeleng perlahan.


"Lagipula, kamu lagi hamil. Nggak baik buat kandungan kamu kalau kamu banyak pikiran, Firlan aja baru tau semalem. Mungkin karena semuanya terjadi begitu aja, dan aku terlalu fokus dengan kesehatan papa," jelas Vira mencoba tersenyum.


"Yang terpenting sekarang papa kamu sudah mendapatkan penanganan yang tepat," ucap Amartha.


"Kamu benar, Ta...


"Tentang apa?" tanya bumil itu, keningnya sedikit berkerut.


"Aku nggak boleh ngeraguin kasih sayang orangtuaku, ternyata tuhan memberiku jawaban yang sangat menohok, Ta ... papaku selama ini berjuang mencari uang untuk biaya pengobatannya, sedangkan aku hanya mikirin diriku sendiri," ucap Vira dengan suara yang bergetar.


"Nggak, nggak Vira..." Amartha mengelus punggung tangan Vira.


"Itu nggak bener, kamu seperti itu karena kamu nggak tau apa yang sebenarnya terjadi, jangan menyalahkan diri sendiri. Ikhlaskan semua, kini waktunya kamu menebus semua waktu yang kamu lewatkan bersama orangtuamu," kata Amartha lembut, Vira hanya mengangguk sambil menangis. Air matanya tak mau berhenti menetes


"Orangtua kamu pasti bangga memiliki anak yang hebat seperti kamu, Vira ... aku yakin itu," Amartha mencoba menguatkan sahabatnya.


"Makasih ya, Ta..." ucap Vira seraya mebghapus air matanya yang sudah mbleber kemana-mana.


"Sama-sama, kamu nggak perlu mikirin biaya pengobatan papa kamu, karena aku yang akan membayar semuanya, sampai papa kamu sembuh..." ujar Amartha yang ingin sekali membantu meringankan beban di pundak sahabatnya.


"Aku akan atur semuanya, oh salah! nanti Kak Firlan yang atur semuanya," lanjut Amartha, Vira yang sedang menangis jadi tertawa mendengar celetukan Amartha.


"Baik banget sih sahabat aku ini?" puji Vira.

__ADS_1


"Nggak sebaik kamu, Vira..." kata Amartha tersenyum tulus, baginya Vira lebih dari sahabat. Vira sahabat rasa saudara.


"Kalau kamu ada waktu, aku mau ngundang kamu di acara tujuh bulanan di rumah mas Satya, besok aku minta tolong sama Damian untuk nganterin baju dan perlengkapannya ke kosan kamu," ucap Amartha.


"Insya Allah aku pasti dateng. Oh, ya? dari mana kamu tau kalau..." ucapan Vira terhenti, ia menatap Amartha lekat.


"Dari pacar kamu,"


"Sudah kudugong! dia pasti ember bocor! Dia sengaja cerita?" tanya Vira.


"Nggak! tapi aku nggak sengaja nguping pembicaraan kamu dengan kak Firlan, terus aku paksa dia buat cerita!" jelas wanita yang menyandang status Nyonya Satya itu.


Mereka berdua tertawa saat Amartha menceritakan bagaimana raut wajah Firlan saat ia cecar dengan pertanyaan. Satya yang duduk tak jauh dari meja Amartha, melihat istrinya tertawa. Tanpa sadar pria itu menyunggingkan senyumnya.


Ketika ia sedang menyeruput ice coffee latte miliknya, eh titisan mak lampir datang dengan pedenya.


"Nggak nyangka ketemu disini," ucap Ivanka yang tanpa dipersilakan langsung menarik kursi di hadapan Satya.


"Kasian, istrinya haha hihi sama temennya, eh suaminya malah bengong sendirian," wanuta itu menumpangkan satu kakinya diatas kakinya yang lain, lalu melipat tangannya di depan dada seraya sekilas melirik ke arah meja Amartha.


"Masa sih?" Ivanka menaikkan satu sudut bibirnya.


"Tapi saya butuh temen," Ivanka memajukan badannya dan mengambil ice coffee milik Satya dan menyesapnya, meninggalkan noda pemerah bibir di sedotannya.


"Masih banyak tempat, Nona ... anda bisa pindah ke tempat lain," kata Satya yang malas meladeni Ivanka.


"Kenapa kamu selalu menghindariku?" tanya Ivanka yang meletakkan kembali minuman Satya dan menggeser gelas itu tepat di hadapan pria yang ingin sekali ia miliki.


"Karena hubungan kita hanya sebatas rekan kerja," sahut Satya malas.


"Beberapa kali saya minta ketemu untuk membahas pekerjaan, tapi anda selalu menyuruh asisten Firlan yang mewakili abda, kenapa?" tanya wanita yang menatap Satya dalam, seakan ingin menyelami hati pria itu.


"Tidak bisa kah anda membantuku seperti yang dulu pernah aku katakan? hanya untuk status, tidak lebih..." lanjut Ivanka yang mencoba meruntuhkan benteng pertahanan Satya.


"Maaf Nona ... jawaban saya akan tetap sama, saya tidak akan menikah untuk kedua kalinya, saya sangat bahagia dengan istri saya," jelas Satya.


"Tak bisa kah kau membagi sedikit kebahagiaanmu? saya janji tidak akan merepotkan, saya wanita mandiri dan tidak seperti istrimu yang..." kata Ivanka.

__ADS_1


"Hati-hati dengan ucapanmu, Nona Ivanka!" kata Satya geram.


"Pria sepertimu saya rasa wajar jika memiliki istri lebih dari satu. Saya akan mendukung kariermu, tenang saja saya tidak akan menghabiskan uangmu, jika ya saya dengan senang hati akan membantu perusahaan ayahmu," Ivanka terus saja mengiming-imingi Satya dengan sejuta tawaran.


"Bahkan kau bisa memiliki perusahaan sendiri tanpa bayang-bayang nama Ganendra," lanjutnya.


"Sorry kayaknya anda salah paham Nona Ivanka, saya bukan orang ambisius," jawab Satya. Apapun yang dikatakan Ivanka tak akan merubah pikiran Satya.


"Jawaban saya akan sama sampai kapanpun," lanjut Satya.


"Saya yakin cepat atau lambat anda akan berubah pikiran," Ivanka tersenyum penuh arti.


"Tidak akan!"


Dari kejauhan Vira melihat Satya sedang terlibat obrolan serius dengan seorang wanita, ia menyenggol tangan sahabatnya.


"Ta?" Vira memanggil, Amartha sedang menyeruput lemon squashnya.


"Kenapa Vira?" tanya Amartha .


"Siapa yang lagi ngobrol sama suami kamu?" tanya Vira, Amartha mengikuti arah pandang sahabatnya


"Ngapain dia duduk disana?" gumam Amartha. Vira tak jelas mendengar apa yang sahabatnya ucapkan.


"Nggak bisa dibiarin, jadi perempuan kok gatel banget! nih orang harus dikasih pelajaran matematika, nih!" ucapan Amartha semakin ngelantur.


"Kamu ngomong apa sih, Ta?" tanya Vira, ia melihat Amartha tak berkedip melihat Satya dengan wanita itu.


"Ngapain lagi sih? apa nggak cukup ketemu di kantor? apa yang dibahas? serius banget, nggak mungkin kan masalah kerjaan lagi? bener apa yang Sinta bilang, aku nggak boleh sampai lengah," Amartha bermonolog dengan dirinya sendiri, sedangkan Vira hanya garuk-garuk kepala.


"Haloooo, Amartha kamu kenapa? komat-kamit sendiri kayak mbah dukun!" Vira melambaikan tangannya di depan wajah Amartha.


"Kamu kenal nggak sama tuh cewek?" tanya Vira yang masih penasaran.


"Kenal, dia tuh siluman ular!" ucap Amartha, mendengar itu Vira reflek melihat kaki si wanita. Dia napak tanah atau tidak.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2