Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Kritis


__ADS_3

"Refaaaan! jawab gue! *****" teriak Kenan yang masih menempelkan ponsel ditelinganya. Namun tak ada sahutan dari Refan, ponsel pria itu jatuh di dalam mobil yang kini ringsek bagian depannya.


Kenan memegang ponselnya dengan tangan yang bergetar, dia yakin pasti terjadi sesuatu dengan Refan.


Tanpa menunggu lama, kenan langsung menghubungi seseorang untuk melacak keberadaan Refan. Tak berapa lama, orang tersebut mengirimnya sebuah titik lokasi, yang lumayan jauh dari tempatnya saat ini.


Kenan langsung meraih dompet dan kunci mobilnya. Pria itu langsung memacu mobilnya ke tempat Refan berada.


Menurut informasi, Refan sudah dilarikan ke rumah sakit di kota X, pria itu kehilangan banyak darah, kondisinya sangat mengkhawatirkan saat ini.


Dalam perjalanannya menuju rumah sakit, Kenan tak henti-hentinya berdoa. Dia masih terbayang-bayang suara Refan yang memekik, diiringi suara hantaman yang sangat keras. Berulang kali Kenan menghela nafas, ia terus memacu mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata, bagaimanapun ia harus cepat sampai di tempat Refan dirawat.


"Suster! suster! maaf, saya keluarga dari korban kecelakaan atas nama Refan Aryaka, dimana dia sekarang?" ucap Kenan saat sampai di ruang IGD.


"Sudah dipindah ke ruang ICU, Tuan ... di sebelah sana," jawab suster itu


"Baik, Terima kasih, Sus..." kata Kenan yang langsung berlari ke ruang ICU.


Sesampainya di depan ruang ICU, Kenan bertemu dengan dokter yang merawat Refan, dia mengatakan kondisi pria itu sangat lemah, Refan dalam keadaan kritis.


Dokter menjelaskan bahwa Refan mengalami cedera kepalanya, ini disebabkan benturan yang sangat keras di bagian kepalanya, mengakibatkan pasien tidak sadarkan diri.


Kenan langsung lemas mendengar apa yang dikatakan dokter, ia meminta izin untuk menemui Refan.


Kenan pun mengenakan pakaian khusus untuk masuk ke dalam, dengan mengenakan masker dan penutup kepala tak lupa sarung tangan medis yang membungkus kedua tangannya, pria itu masuk ke dalam ruangan steril itu. Kenan duduk disamping brankar Refan.


"Fan? ini gue ... Kenan," Kenan akhirnya bersuara dengan suara yang bergetar.


"Fan! lo harus bertahan, lo harus ... lo harus tanggung jawab, lo harus bantu gue buat dapetin Amartha lagi, bangun bego! lo nggak usah pura-pura sakit, cepet bangun! gue nggak segampang itu ya maafin lo, bangun brengs*k!" kata Kenan yang tak mendapatkan respon dari Refan, hanya ada suara dari alat pendeteksi jantung yang saat ini terdengar.

__ADS_1


"Refan ... bangun brengs*k! bangun!" ucap Kenan seraya memegang tangan Refan yang tak juga merespon sentuhan darinya.


Kenan mencoba menahan tangisnya, namun melihat kondisi Refan yang memprihatinkan membuat Kenan tak bisa lagi membendung air matanya, bagaimanapun persahabatan mereka sudah terjalin sudah lama. Mereka sudah seperti saudara.


Biarlah kali ini dia ingin menumpahkan semua yang terasa menyesakkan dalam dadanya. Pria itu masih saja tergolek diatas brankar, dengan segala peralatan medis yang menempel ditubuhnya.


"Lo tau nggak, Fan? gue udah udah bego karena nyakitin Amartha, bahkan umur pernikahan kami seumur jagung, gue dan dia terikat pernikahan cuma dua hari ... lo tau? gue bakal kehilangan dia, gue cuma pecundang, ya ... gue pecundang," ucap Kenan berharap ada respon dari Refan.


"Gue ... sebenernya gue nggak suka ngomong gue lo kayak gini, Fan ... gue lebih suka bilang aku kamu daripada 'lo', 'gue', karena lo yang suka banget ngomong pake bahasa itu, jadi gue malah ikut kebawa, emang lo tuh racun banget di genk kita, Fan ... apakabar genk gonk ya, Fan? jadi kangen sama mereka, lo kangen kita ngumpul-ngumpul lagi, nggak? ntar deh gue kasih tau mereka, biar mereka pada kesini, biar lo udahan ngeprank kitanya, lo nggak capek? dipasangin alat kayak gini? totalitas banget emang ya lo? kalau pengen ketawa, ketawa aja Fan ... jangan lo tahan, lo udah sukses bikin gue khawatirin manusia modelan lo, masih nggak mau bangun juga? oke, lo tunggu disini, biar gue hubungin om Arya, dulu ... ntar gue balik lagi kesini," ucap Kenan seraya bangkit dari duduknya.


Kenan keluar dari ruang ICU untuk mnghubungi orangtua Refan, dia pun sebenarnya bingung bagaimana caranya menyampaikan berita ini pada om Arya, ayah Refan. Dia menghela nafas panjang lalu mendial nomor om Arya.


"Halo, Om," sapa Kenan ketika panggilannya terhubung dengan ayah Refan.


"Ya, ada apa, Ken? tumben banget nelfon, Om ..." tanya Arya pada Kenan.


"A-apa? kecelakaan? lalu ... bagaimana kondisinya sekarang?" ucap Arya terbata-bata, ia sangat terkejut dengan apa yang disampaikan oleh sahabat dari anaknya itu.


"Refan kritis, Om ... lebih baik Om cepat kesini, Kenan sudah kirim alamat rumah sakitnya," ucap Kenan.


"Baik, terima kasih Ken ... tolong temani Refan sampai kami tiba disana," kata Arya yang langsung menutup teleponnya secara sepihak.


Kenan kembali mengantungi ponselnya kembali, dia duduk di depan ruang ICU


Kenan kembali memandang sendu ruangan itu, pria yang beberapa jam yang lalu bertemu dengannya kini tengah berbaring tak berdaya disana.


Waktu tidak bisa diputar bahkan walau hanya sedetik, dia akan terus berjalan tanpa mempedulikan kita yang masih terbelenggu oleh sakitnya masa lalu.


Kenan mulai menghubungi satu persatu sahabatnya, ia memberitahu kecelakaan yang dialami Refan. Dani dan Kevin yang berada di kota yang berbeda pun langsung bergegas menuju rumah sakit itu.

__ADS_1


Kenan sekilas terbayang ucapan Refan saat pria itu sedang menyetir mobilnya.


"Nggak, nggak ada yang terlambat, lo masih punya waktu, kejar dia ... kejar cinta lo itu, Ken..." ucapan Refan terngiang di kepalanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sedangkan di kediaman Aryaka, pria paruh baya itu segera menghampiri istrinya yang sedang mengambil air putih di dapur. Pria itu tergesa-gesa menuruni tangga


"Mah, ayok ikut papah," ajak Arya saat menemukan istrinya di dapur.


"Udah malem gini, memangnya papa mau kemana?"


"Refan," ucap Arya singkat, yang membuat kening Kamila berkerut.


"Refan? Refan belum pulang ... mungkin lagi lembur di kantor, anak itu kalau udah kerja kan suka lupa waktu, Pah..." ucap Kamila sembari meminum air yang ada di didalam gelas yang kemudian ia taruh di meja.


"Refan kecelakaan, Mah ... anak kita sedang kritis, kita harus cepat kesana," ucap Arya yang membuat Kamila sangat terkejut dengan berita yang seperti kilatan petir baginya.


"A-apa? Re-Refan kecelakaan? nggak, nggak mungkin! Refaaan," Kamila histeris mendengar putra sulungnya yang mengalami kecelakaan.


"Pah, kita harus kesana sekarang! ayok, Pah .. mama ingin melihat keadaan putra kita, Pah ..." kata Kamila disertai isakannya.


"Iya, Iya ... kita akan kesana sekarang," kata Arya seraya mengajak Kamila untuk pergi menemui Refan.


,


...----------------...


mau nyoba crazy up... jgn lupa tinggalkn jejak kalian ya?

__ADS_1


__ADS_2