
"Kalian ngapain saling berjabat tangan?" tanya Dian yang datang tiba-tiba.
"Eh ini Yan" jawab Bintang.
Roy menendang kaki Bintang dari bawah meja.
"Begini Yan, maksud rencana aku ke sini untuk bertemu kamu sebenarnya mau membicarakan ini. Ketepatan Roy juga ada di sini. Aku minta tukeran Cafe di Bandung sama Roy. Mertuaku sekarang sudah di Bandung. Sabtu malam kemarin aku dan Tiara menjemput mereka. Ibu sama Ali habis di pukuli sama laki-laki biada* itu sampai babak belur" ucap Bintang serius.
"Ya Tuhan... ngeri sekali Bapak Tiri Tiara itu" ucap Roy, dalam hati dia bersyukur ternyata Bintang tidak menceritakan yang sesungguhnya kalau dia lah yang pertama kali memberikan tawaran untuk barter Cafe.
"Trus gimana keadaan mereka sekarang?" tanya Dian.
"Sudah lebih baik, kemarin sudah di obati. Ibu akhirnya mau menerima tawaran kami untuk pindah ke Bandung dan meninggalkan suaminya" ungkap Bintang.
"Laki-laki seperti itu dipertahankan, heran aku melihat Ibunya Tiara. Apa di pelet kali ya" ucap Dian.
"Emang Ibunya Tiara ikan Yan, makan pelet?" goda Roy.
"Bukan makan pelet tapi di pelet. Bahasa kerennya di hipnotis sampai lupa ingatan dan mau sama Bapaknya tirinya Tiara" jawab Dian kesal.
"Nah sekarang Tiara lagi ajarin Ibunya cara mengelola Cafe, mudah - mudahan kalau Ibunya bisa dengan mudah mempelajarinya. Tiara dan Tegar bisa lebih cepat ikut aku ke Jakarta" ungkap Bintang.
"Biar Mamas Bintang gak galau di datengin mantan terus. Panas dingin euy" goda Roy.
"Aku sudah tidak merasakan apapun padanya. Malah aku jijik melihatnya. Demi meraih keinginannya dia melakukan segala cara. Air matanya palsu, aku bisa melihatnya. Kali ini aku tidak akan tersentuh lagi dengan segala bujuk rayunya" tegas Bintang.
"Syukur deh kalau kamu sudah kuat. Tapi ingat bro, kalau tiap hari di asah pisau akan tajam juga. Tiap hari di suguhin tubuh sexy gitu bisa - bisa khilaf kamu" ucap Roy mengingatkan.
"Aku sudah bilang sama sekretarisku untuk melarang Siska datang lagi ke Kantorku. Kalau perlu aku akan bilang sama security untuk mengusirnya di pintu masuk" jawab Bintang.
"Jangan terlalu extrim Bin, nanti dia akan melakukan tindakan yang lebih bahaya lagi" nasehat Dian.
"Wanita itu memang harus diperlakukan seperti itu Yan. Sebelum dia bertindak lebih dulu, sebaiknya kita berjaga - jaga" sambut Roy.
"Hati - hati dalam bertindak, itu yang bisa aku katakan" ujar Dian.
Tak lama makanan untuk Bintang yang dipesankan Dian untuk Bintang pun datang.
"Jadi gimana Yan, kamu keberatan gak kalau Cafenya tukeran?" tanya Bintang.
"Aku sih gak masalah, toh tanah dan gedung kan memang milik kamu" ucap Dian.
__ADS_1
"Tapi kamu jadi berhubungan sama si Kunyuk ini kalau Cafe ini jadi miliknya" sindir Bintang.
"Sebelum jadi miliknya saja hampir tiap hari dia datang ke sini kalau dia ada di Indonesia" balas Dian.
"Wah.. wah.. ketahuan ini. Ada maunya tuh dia Yan?" Bintang mengedipkan sebelah matanya pada Roy.
Roy membalasnya dengan senyuman.
"Dia memang selalu banyak maunya. Minta inilah minta itulah" sambung Dian
"Hati - hati Yan, mantan Casanova nanti malah mau minta kamu" goda Bintang.
Roy refleks menginjak kaki Bintang di bawah meja.
"Awwwww... sakit Bro" ucap Bintang.
"Kamu sengaja ya nginjak kakiku" teriak Bintang pura - pura.
"Anji* lo" umpat Roy kesal.
"Hahaha.. rasain" balas Bintang.
"Jadi Adinda Dian... Cafenya mau kita apain ini biar lebih semarak dan ramai?" tanya Roy kepada Dian.
"Kasih teratak aja bro sama pelaminan. Dijamin pasti semarak dan ramai" jawab Bintang.
"Wah setuju itu, aku sih pengen banget secepatnya merubah suasana Cafe ini seperti yang kamu usulkan Bin" balas Roy semangat.
"Kalian ini udah sableng ya... " ucap Dian.
"Usaha Yan.... " sambut Roy.
"Kasih kesempatan Yan, kasihan dia udah kepepet kawin" ujar Bintang.
Roy mengacungkan kedua jempolnya ke arah Bintang.
"Pepet terus Roy, jangan kasih kendor" Bintang memberi semangat pada Roy.
Dian semakin menggeleng - gelengkan kepalanya.
Setelah selesai makan Bintang langsung bergerak pergi.
__ADS_1
"Aku keluar ya, mau ke sekolah Dewi dan Ali ngurus pindah mereka" ucap Bintang.
"Duh yang udah punya keluarga. Sekarang jadi kepala keluarga ya Bro" sindir Roy.
"Yoi bro.. harus jadi kepala keluarga yang baik kan? biar di sayang Istri dan Ibu Mertua" jawab Bintang.
"Yuk Yan, aku pergi dulu ya. Roy tetap semangat. Semoga berhasil" Bintang memberikan jempolnya dan mengedipkan sebelah matanya kepada Roy.
Bintang kemudian keluar Cafe dan masuk kedalam mobilnya setelah itu Bintang melaju menuju sekolah Dewi dan Ali.
Kini tinggal Roy dan Dian saja yang tinggal di Cafe..
"Alhamdulillah akhirnya mendapat kata mufakat" ucap Roy.
"Kata mufakat apa?" tanya Dian tidak mengerti.
"Bintang mendapat solusi untuk Ibu mertua nya sedangkan aku mendapat solusi untuk masa depanku. Aku rasa kita memang berjodoh Yan. Allah membuka lebar - lebar jalanku menuju kamu" goda Roy.
"Ada saja alasan kamu" bantah Dian.
"Itu bukan alasan Yan, aku benar - benar serius. Kamu mau aku serahkan semua Cafe ini untuk kamu?" tanya Roy tulus.
"Aku bukan cewek matre Roy" tolak Dian.
"Aku bukan ingin mengukur kamu dengan uang Yan dari dulu aku tau kamu bukan gadis seperti itu. Kamu gadis mandiri yang berani mengambil langkah untuk hidup kamu. Kamu memilih membuka usaha dari pada sibuk mencari kerja kesana kemari dan menjadi wanita karir" puji Roy.
"Yah karena aku memang gak minat kerja kantoran" jawab Dian.
"Justru itu, kamu punya waktu lebih banyak untuk keluarga setelah kita menikah nantinya. Kamu mau seluruh tanah dan gedung ini aku balik namakan atas nama kamu sebagai mahar pernikahan kita?" tanya Roy.
"Pede sekali kamu mengatakan itu huh" jawab Dian.
"Ya harus pede donk. Dalam menjalankan sesuatu misi harus percaya diri lebih dulu. Agar misinya berjalan dengan lancar dan mulus tanpa hambatan. Aku yakin kok kamu pasti akan menerima perasaanku. Mungkin sekarang hati kamu belum bisa menerimaku tapi kasih aku kesempatan ya Yan. Jangan tutup hati kamu padaku, aku akan bahagiakan kamu. Percayalah aku tidak main - main untuk hidupku, untuk masa depanku. Kamu wanita yang sudah sejak dulu aku inginkan Yan. Sedikitpun aku tidak ingin kamu terluka, dulu aku memilih kamu bahagia dengan cara aku mundur untuk mendapatkan cinta kamu tapi sekarang aku yakin aku akan berjuang untuk membuat kamu bahagia. Karena aku yakin kebahagiaan kamu itu bersama aku" tegas Roy sambil tersenyum manis.
Entah mengapa kata - kata Roy barusan membuat hati Dian berbunga - bunga. Apakah Dian sudah mulai membuka hatinya untuk Roy?
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1