
"Tapi kamu sudah terlambat Bin, aku sudah melamar Tiara walau dia belum memberikan jawabannya tapi tinggal menghitung hari dan aku sangat yakin dia akan menerima lamaran ku" ucap Roy.
"Aku mengerti Roy dan aku juga sadar keadaanku saat ini tapi mari kita sama - sama memperjuangkan perasaan kita yang hanya tinggal dua minggu lagi. Mari kita bersaing secara adil dan terbuka" ajak Bintang.
"Dari awal aku tidak pernah curang dalam mendekati Tiara Bin dan aku harap kamu juga melakukan hal yang sama. Jangan memanfaatkan Tegar dalam hal perasaan kamu pada Tiara" tegas Roy.
"Aku tidak akan memanfaatkan Tegar Roy, aku janji pada kamu" jawab Bintang.
"Baiklah.. mungkin ini memang lebih baik. Siapapun diantar kita yang menang setidaknya nanti kita akan merasa lega dan aku harap apapun yang terjadi tidak mengganggu hubungan persahabatan kita selama ini. Kalau aku menang aku tetap pada janjiku dan membiarkan kamu bertemu dengan Tegar. Tapi ingat, secara hukum Tegar akan menjadi anakku" ucap Roy.
"Iya aku akan merelakannya tapi kalau aku yang memenangkan hati Tiara aku harap kamu bisa mundur dengan baik" balas Bintang.
"Itu tidak perlu kamu ragukan lagi" jawab Roy.
Mereka saling berjabat tangan dan memulai kompetisi untuk memperebutkan hati Tiara.
"Kalau begitu aku pulang ya, besok pagi aku akan terbang ke Singapura" ucap Roy
"Hati - hati bro" balas Bintang.
*******
Karena sudah mengutarakan perasaannya kepada Roy, Bintang kini merasa lega untuk melakukan apapun untuk mencuri hati Tiara tanpa takut untuk mengkhianati sahabatnya itu.
Pagi - pagi sekali Bintang sudah sampai di rumah Ridho.
"Lho Mas kok datang?" tanya Tiara.
"Aku ingin mengantar kalian pulang" jawab Bintang.
"Tumben.. Kami bisa kok pulang berdua saja" tolak Tiara.
"Nggak Ra. Sesampainya di Bandung, ada yang ingin aku sampaikan pada kamu. Lagian aku ingin memastikan kalian sampai di Bandung dengan selamat. Jadi izinkan aku mengantar kalian kembali ke Bandung" ujar Bintang.
"Trus kamu pulang ke Jakarta gimana? Kalau kami naik mobil kamu, gimana mobil aku?" tanya Tiara bingung.
"Aku sudah bawa supir Ra, kamu dan Tegar naik ke mobil aku nanti biar mobil kamu supir yang bawa" jawab Bintang.
"Ya sudah deh kalau Mas maksa" balas Tiara.
Tegar keluar dari kamar tamu di rumah Ridho.
"Papaaaaaa.... Papa kok ada di sini. Kami kan mau pulang ke Bandung?" tanya Tegar.
"Papa akan antar kalian pulang sayang" jawab Bintang.
__ADS_1
"Horeeeee...... pulangnya sama Papa aaa" teriak Tegar.
Tiara tersenyum melihat anaknya lompat kesenangan.
"Sarapan dulu yuk Ra, Mas Bintang" ajak Ridho.
"Maaf Dho jadi ngerepotin keluarga kamu" ucap Bintang.
"Gak pa - pa kok Mas, Tiara kan sahabat kami dan Tegar juga anak saya. Jadi gak ada istilah repot - repot lagi. Kami ini adalah keluarga" tegas Ridho.
"Iya Dho.. terimakasih kamu dan istri kamu sudah membantu Tiara dan Tegar saat saya tidak ada bersama mereka" ungkap Bintang.
"Sudahlah Mas, ayo sarapan yuk.. " ajak Ridho.
Mereka sarapan terlebih dahulu sebelum balik ke Bandung.
Tepat pukul tujuh pagi mereka berangkat ke Bandung. Tanpa di perintah Tegar sudah duduk manis di bangku belakang mobil Bintang. Bintang dan Tiara duduk di depan, dah Bintang yang mengemudikan mobilnya.
Mereka sampai di Bandung tepat jam sepuluh pagi.
"Kita ke Cafe dulu ya Mas, aku mau memantau Cafe dulu sebentar. Setelah itu baru pulang ke rumah" ucap Tiara.
"Ya sudah, kamu aku turunkan di Cafe ya, aku dan Tegar jalan sebentar keluar. Kemarin aku janji padanya untuk membeli mainan baru" jawab Bintang.
Tiara membalas ucapan Bintang dengan senyuman.
Tiara memeriksa keadaan Cafe dan mengecek pembukuan Cafe selama dia pergi tiga hari.
Setelah dua jam berlalu akhirnya selesai semua pekerjaannya. Tiara ingat kalau dia belum belanja bulanan untuk di rumah. Tiara segera menelepon Bintang.
"Mas kalian dimana?" tanya Tiara.
"Kami di BSM Ra. Kamu sudah selesai? Aku jemput ya" jawab Bintang.
"Gak usah Mas, aku aja yang nyusul ke sana naik ojek online. Aku mau belanja bulanan" balas Tiara.
"Ya sudah kalau begitu kami tunggu di sini ya" ucap Bintang.
Tiara segera memesan ojek online dan meluncur ke BSM.
"Sudah sampai?" tanya Bintang melalui telepon.
Tumben dari tadi pagi dia perhatian sekali. Biasanya hanya mentingin anaknya saja. Batin Tiara.
"Sudah Mas, baru aja masuk pintu Mall" jawab Tiara.
__ADS_1
"Kami sudah nunggu di depan pintu masuk swalayan ni" ucap Bintang.
"Iya, aku lagi jalan ke sana" balas Tiara.
Tiara berjalan menuju pintu swalayan dan benar saja Tegar dan Papanya sudah menunggu.
"Kita mau makan dulu atau langsung belanja?" tanya Bintang.
"Kamu mau gimana Gar, udah laper?" tanya Tiara.
"Mama lama gak belanjanya?" tanya Tegar.
"Lumayan sayang, kan mau belanja bulanan. Persediaan di rumah semua sudah habis" jawab Tiara.
"Kalau gitu kita makan aja yuk. Nanti kamu kelaparan Gar" ajak Bintang.
"Iya deh Pa" balas Tegar.
Mereka makan di salah satu Restoran di Mall tersebut. Satu jam kemudian setelah selesai makan baru mereka melanjutkan belanja bulanan di swalayan.
Mereka berjalan bertiga seperti keluarga yang harmonis. Bintang tersenyum membayangkan kalau seandainya keadaan seperti ini akan terus berlanjut selamanya.
Setelah selesai belanja baru mereka putuskan untuk pulang ke rumah Tiara.
Bintang membantu Tiara mengangkat semua belanjaannya sedangkan Tegar langsung masuk ke kamarnya karena dia sudah ngantuk.
Tumben lagi nih Mas Bintang buntutin aku terus, biasanya dia main atau nemani Tegar di kamarnya setiap datang ke sini. Batin Tiara.
Bintang duduk di depan meja makan sambil memperhatikan Tiara menyusun dan memilih belanjaannya tadi.
Andai hari esok aku bisa menatapnya seperti ini setiap hari, alangkah indahnya hidupku. Mengapa belakangan ini aku baru menyadarinya. Wanita ini yang telah banyak membawa perubahan dalam hidupku. Wanita ini yang mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan benihku, wanita ini juga dengan kasih sayangnya membesarkan anakku. Apa yang aku lihat selama ini? Mengapa aku hanya memikirkan Tegar saja. Sedangkan perasaan wanita ini aku abaikan. Dia yang menanggung malu di caci maki saat hamil di luar nikah. Dia juga yang menahan rasanya ketika semua orang menggunjinginya karena mempunyai anak tanpa suami.
Tuhaaaan tolong izinkan aku memperbaiki hidupku dan membahagiakan wanita ini. Aku dan dia apakah bisa bahagia?
"Ra.... " panggil Bintang lembut.
Tiara menghentikan kegiatannya kemudian melirik Bintang yang sedang duduk sambil memperhatikan dirinya dari tadi.
"Duduk dulu Ra, aku mau bicara sesuatu" bujuk Bintang hati - hati.
Tiara duduk tepat di depan Bintang.
"Ra... kita menikah yuk...... "
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG