Tiara

Tiara
Masih tentang Dewi


__ADS_3

"Lho kalian di sini rupanya?" tanya Pak Wijaya yang terkejut melihat Dewi dan Ali rupanya sudah ada di Cafe Kenanga.


"Iya Pak, tadi kami niatnya mau jemput Ibu tapi sepertinya Ibu gak butuh jemputan lagi" sindir Ali.


"Hahaha... iya ya. Kalian bisa jalan - jalan sana biar Ibu kalian Bapak yang antar" sambut Pak Wijaya.


"Kalian sudah lama datangnya?" tanya Siti.


"Lumayan sejak Bapak kasih Ibu kembang" jawab Dewi.


Siti terlihat malu - malu ketangkap basah anak - anaknya lagi asik mesra - mesraan dengan Pak Wijaya.


"Lanjut aja Pak, kami lebih baik pulang takut mengganggu" goda Ali.


"Kamu bisa aja Al" balas Pak Wijaya.


"Bu kami pulang duluan ya. Ibu bareng sama Bapak kan? lagian masih ada yang mau kami cari lagi" ucap Dewi.


"Jadi benaran nih pulang duluan. Ngobrol dulu sini sama Bapak" ajak Pak Wijaya.


"Iya Pak kami masih mau cari sesuatu keperluan sekolah Ali" jawab Dewi.


Ali dan Dewi mencium tangan Pak Wijaya untuk berpamitan setelah itu mereka berlalu pergi.


"Sepertinya niat aku sudah diketahui mereka Sit" ujar Pak Wijaya.


Siti tersenyum menanggapi ucapan Pak Wijaya.


"Apa mereka mengatakan sesuatu kepada kamu? Misalnya melarang kamu menikah lagi atau dekat dengan saya lagi?" selidik Pak Wijaya.


"Anak - anak bisa menilai Mas apakah aku bahagia atau tidak dengan hal ini. Kalau mereka melihat aku tidak bahagia pasti mereka akan melarang aku berdekatan dengan Mas. Lagian kan mereka juga sudah mengenal Mas dengan baik. Aku rasa mereka tidak akan melarang kita dekat lagi" jawab Siti.

__ADS_1


"Syukurlah, mudah - mudahan tidak ada lagi yang menjadi penghalang kita untuk bersatu ya Sit. Aku sudah tidak sabar ingin membahagiakan kamu" tegas Pak Wijaya.


"Hanya aku saja yang bahagia? Mas tidak?" tanya Siti pura - pura.


"Tentu saja aku bahagia, apakah kamu tidak melihatnya dari wajahku. Sejak bertemu kamu lagi, semangat hidupku kembali Sit. Aku bahagia bisa menemukan kamu dan Tiara" ungkap Pak Wijaya.


"Oh iya Mas, minggu depan Dewi mendapat panggilan ke kantor polisi untuk penyelidikan terkait Ida. Apakah Mas tidak mendapat panggilan juga?" tanya Siti.


"Belum ada, Bintang dan Bagas bagaimana?" tanya Pak Wijaya.


"Mereka belum ada mengabari aku" jawab Siti.


"Mungkin karena di sini Dewi yang menjadi korban penculikan makanya Dewi yang di tanya lebih dulu. Kami kan hanya saksi saja" sambut Pak Wijaya.


"Walaupun nanti aku tidak mendapat panggilan aku tetap akan mengantarkan kalian dan menemani Dewi nanti di kantor polisi. Kamu tenang saja. Kamu cukup menunggu di rumah Tiara. Biar aku dan Bintang yang menemani Dewi" tegas Pak Wijaya.


"Iya Mas" balas Siti.


"Mengenai Bagas dan Dewi bagaimana? Aku dengar dari Bintang setelah pulang dari rumahku sebulan yang lalu, Bagas mengungkapkan perasaannya kepada Dewi tapi Dewi menolaknya?" tanya Pak Wijaya peduli.


"Wajar karena Dewi masih polos dan masih sangat muda. Dia juga belum banyak pengalaman sementara Bagas adalah mantan playboy sebelumnya. Tapi aku sangat yakin dan semakin yakin setelah peristiwa penculikan Dewi kemarin. Bagas benar - benar tulus mencintai Dewi. Dia sangat khawatir saat Dewi belum di temukan. Dan kamu tau, saat Dewi ingin dibawa lari Alm. Tarjo ke dalam mobil, Bagas yang pertama ingin berlari menyelamatkan Dewi kalau tidak aku tahan mungkin cerita akhirnya akan berbeda. Dia benar - benar tidak ingin kehilangan Dewi pada saat itu" cerita Pak Wijaya.


"Oh ya? Dewi tidak tau akan hal ini Mas, tidak ada yang bercerita padanya" ujar Siti.


"Dewi harus tau perjuangan Bagas untuknya Sit, coba kamu cerita pada Dewi dan kasih masukan untuknya. Mungkin karena dia masih muda makanya labil. Kasihan juga lihat Bagas seperti itu. Saat terakhir kita kumpul di rumahku, wajahnya kelihatan banget gak semangat dan patah hati. Dia terus memandang Dewi dari kejauhan. Aku tau perasaan Sit, karena aku pernah merasakannya. Kamu ada di dekatku tapi tidak bisa aku raih. Rasanya sakit sekali Sit. Aku hanya ingin kita semua bahagia. Soal umur bisa dibicarakan lagi, menurut aku umur tidak jadi penghalang dan kalau pun itu menjadi masalah untuk kamu dan Dewi aku rasa Bagas mau dan sabar untuk menunggu" nasehat Pak Wijaya.


"Iya Mas, aku sudah bicara pada Dewi, biarkan lah dia berpikir dulu. Dia masih labil, apalagi zaman sekarang Mas seumuran dia udah di ajak nikah aku rasa dia masih agak takut Mas. Beda seperti zaman kita muda dulu" jawab Siti.


"Pelan - pelan kasih pengertian padanya dari pada pacaran - pacaran mending langsung nikah dan halal" Ucap Pak Wijaya.


"Iya aku juga sudah bilang begitu pada Dewi Mas. Aku suruh dia pastikan dulu bagaimana perasaannya pada Bagas. Aku tidak bisa memaksakan kehendak pada anak - anak Mas, apalagi ini menyangkut hidup mereka. Aku tidak mau disalahkan dikemudian hari. Biarlah mereka memutuskan apa yang ingin mereka jalani. Kita sebagai orang tua hanya memberikan pandangan pada mereka mana yang baik dan mana yang buruk untuk mereka." balas Siti.

__ADS_1


"Semoga Dewi bisa mengambil keputusan yang benar dan tidak menyakiti perasaan siapa pun" sambut Pak Wijaya.


Pak Wijaya melirik ke pergelangan tangannya.


"Sudah malam Sit, belum waktunya pulang?" tanya Pak Wijaya dengan sabar.


Siti melirik jam dinding di Cafe.


"Sudah Mas, tunggu sebentar ya aku bilang sama anak - anak di dalam ya. Sekalian aku mau ambil tas dan kembang yang kamu berikan kepadaku tadi" jawab Siti.


Siti berdiri meninggalkan Pak Wijaya di mejanya kemudian melangkah ke dapur untuk berpamitan pada para pekerjanya baru setelah itu Siti kembali ke ruangannya untuk mengambil tas dan kembang yang diberikan Pak Wijaya tadi saat dia baru datang. Setelah itu Siti kembali menemui Pak Wijaya.


"Yuk Mas kita pulang" ajak Siti.


Pak Wijaya langsung mengambil ponselnya dan berdiri. Bersama - sama dengan Siti mereka masuk ke dalam mobil Pak Wijaya dan mobil melaju menuju rumah Siti.


Tiga puluh menit kemudian mereka sudah sampai di rumah Siti.


"Singgah dulu Mas" ucap Siti memberikan tawaran.


"Gak usah Sit, sudah malam. Anak - anak kamu sudah pulang?" tanya Pak Wijaya.


"Sudah Mas, tuh mobilnya udah ada di dalam. Mungkin mereka sudah tidur di dalam" jawab Siti..


"Aku pulang ya Sit. Sampai ketemu lagi minggu depan" ucap Pak Wijaya.


"Iya Mas, hati - hati di jalan ya" balas Siti.


Mobil Pak Wijaya berlalu meninggalkan rumah Siti. Siti menatap kepergian pria yang kini telah membuatnya bahagia. Pria yang bisa membuatnya begitu berharga dan tulus mencintainya.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2