
Sore harinya Roy, Dian dan Bagas datang kembali berkunjung ke Rumah Sakit. Mereka sangat senang sekali mendengar kabar kalau Tiara sudah sadar tadi malam. Hanya saja karena mereka harus ke kantor paginya dan baru bisa menjenguk sore harinya.
"Assalamu'alaikum adek gembul" sapa Bagas ketika menghampiri anak Bintang yang di jaga ketat oleh Tegar.
"Nama adekku bukan gembul. Namanya Khanzia Rhuksana Prakasa" jawab Tegar.
"Iya itu nama panjangnya. Kalau panggil Khanzia Rhuksana Prakasa panjang banget Tegar. Di singkat aja ya jadi Gembul" goda Bagas.
"Gak boleh panggil namanya Khanzia, atau Zia juga boleh" protes Tegar.
"Iya deh, Zia aja" ucap Bagas.
"Nah gitu donk" balas Tegar lega.
"Hai adek Zia gembuuuuul... " sapa Bagas.
"Om Bagaaaaas. Papaaaa lihat nih Om Bagas masih panggil nama adek pakai gembul" adu Tegar.
"Bagaaaaas" panggil Bintang mengingatkan.
"Hahaha.... anak kamu lucu sih Bin. Baiklah kalau kamu gak mau adek Zia di panggil gembul kamu aja deh yang Om panggil gembul. Tegar gembuuuuul" goda Bagas.
"Aku gak mau. Namaku Tegar jangan di tambahin gembul" protes Tegar.
"Lho badan kamu kan gembul" ejek Bagas.
"Bagaaaaas.. Gangguin terus anakku atau pernikahan kamu di undur dua tahun lagi" ancam Bintang.
"Gak asik ah Papa kamu Gar, ngancamnya pakai masa depan buat Om mati kutu" ujar Bagas.
Pak Wijaya dan Siti tampak tersenyum melihat tingkah Bagas yang gak kalah seperti Tegar.
"Aku jadi bingung, sekarang yang umurnya masih di bawah umur Dewi apa Bagas ya?" tanya Dian.
"Aku rasa Bagas menyesuaikan yank biar gak dibilang ketuaan ketika bersanding dengan Dewi nanti" jawab Roy.
Bintang dan Tiara tersenyum mendengar pembicaraan perkataan Roy dan Dian.
"Gimana kabar kamu Ra?" tanya Dian.
"Alhamdulillah udah lebih baik Mbak. Udah mulai belajar duduk walau masih pelan - pelan" jawab Tiara.
"Iya Ra, pelan - pelan aja. Baru sehari juga, gak usah buru - buru" sambut Dian.
Dia ngerasa ngilu ngebayangin keadaan Tiara sekarang. Tapi Dian tidak trauma atau takut melahirkan hanya karena melihat Tiara seperti itu. Dia yakin nasib orang pasti berbeda. Apa yang dialami Tiara belum tentu juga dia alami.
"Kapan boleh pulang?" tanya Roy.
__ADS_1
"Kata dokter empat hari udah boleh pulang tapi gak apa - apa deh di lamain dikit. Lihat perkembangan Tiara. Kalau dia masih belum merasa sehat gak apa - apa kita minta tambah hari di rawat di sini biar aku lebih tenang" jawab Bintang.
"Iya, sampai Tiara benar - benar sembuh aja baru pulang. Kalau di Rumah Sakit kan lebih tenang, kalau perlu apa - apa bisa langsung panggil dokter atau suster" Sambut Dian.
"Oh iya Bin, kapan rencana mau aqiqah?" tanya Pak Bambang.
"Seminggu usia Zia Pa. Langsung di urus sama yayasan aqiqah aja Pa biar bersih langsung di bawa ke panti asuhan. Nanti untuk keluarga dan teman - teman di panggil pas syukuran lahiran Zia aja. Ya kan Yank? " tanya Bintang.
"Iya Mas, terserah kamu aja Lagian syukuran Zia nanti kan sekalian sama pernikahannya Bapak dan Ibu" jawab Tiara.
"Gak apa - apa kan Pak, Bu syukurannya sedikit di undur tunggu Tiara benar - benar sudah sembuh?" tanya Bintang.
"Iya Bin gak apa - apa kok. Kami malah pengennya begitu juga. Jadi lebih tenang kalau Tiara sudah sehat betul" jawab Pak Wijaya.
"Malah gak enak kalau Tiara belum sembuh terus kecapean urus sana sini jadi balik sakit lagi" sambut Siti.
"Bapak Ibu masih sabar kan?" tanya Tiara dengan rasa bersalah.
"Sabar lah naak.. kesehatan kamu lebih penting dari apapun" jawab Pak Wijaya.
"Maaf ya Pak, Bu... gara - gara aku" ucap Tiara terputus.
"Ssssttt... kamu jangan bilang seperti itu. Kamu selamat dan sehat saja kami sangat bersyukur. Saat mendengar berita kamu jatuh sepanjang jalan Bandung dan Jakarta kami tidak putus bedoa. Ibu kamu terus menangis" potong Pak Wijaya.
"Aku jadi ngerepotin banyak orang. Sudah buat kalian semua khawatir. Semua salah aku, maaf ya Mas aku gak dengar kata - kata kamu. Padahal kamu udah bulak balik ngelarang aku" ucap Tiara.
"Maafkan Tegar Pa, Ma. Semua gara - gara Tegar" ucap Tegar.
"Tuh kan jadi semuanya merasa bersalah dan sedih lahi. Sudah.. sudah.. lupain semuanya. Itu adalah sebuah kecelakaan. Tidak ada yang salah hanya hikmahnya kita harus lebih hati - hati" jawab Bintang lembut.
"Terimakasih Mas" jawab Tiara.
"Terimakasih Papa" sambut Bintang.
"Tegaaar si gembul nangis karena kamu tinggal" teriak Bagas.
"Opa tolong smackdown Om Bagas. Dia tetap panggil adek Zia gembul padahal aku udah larang" sambut Tegar kesal.
"Bagaaaaas nanti aku beneran nih mundurin pernikahan kamu sampai dua tahun lagi" ancam Bintang.
"Oke.. Oke.. aku kalah. Mending manut aja deh dari pada puasa dua tahun" oceh Bagas.
"Huuus... " potong Roy.
"Eh iya iya.. ada dua anak dibawah umur" sambut Bagas.
"Dasar" pukul Dian.
__ADS_1
"Kamu kapan lahirannya Yan?" tanya Siti.
"Dua bulan lagi Bu" jawab Dian.
"Masih bisa kok Bu datang ke acara nikahannya Ibu" potong Roy.
Siti tersenyum malu - malu.
"Ah kamu bisa aja Roy" jawab Siti.
"Mudah - mudahan satu bulan Tiara sudah sembuh total jadi bisa kita segerakan acara syukuran Zia dan nikahan Bapak dan Ibu" ucap Bintang.
"Aamiin.. maunya begitu Mas. Mudah - mudahan saat itu aku udah sehat" sambut Tiara.
"Kamu gak usah mikirin semua itu, fokus aja sama kesehatan kamu Ra" ujar Siti.
"Iya Bu" balas Tiara.
Tak lama Dewi dan Ali datang. Mereka tadi baru aja di suruh Bintang untuk membeli sesuatu keperluan Zia.
"Eh Dewi udah datang. Dari kemarin aku belum ketemu. Maaf ya yayank Dewi" ucap Bagas gak tau malu ketika melihat Dewi datang.
Roy dan Bintang menggelengkan kepalanya.
"Nih anak makan menjadi Bin. Sepertinya memang harus diundur ni pernikahannya sampai dua tahun lain biar dia benar - benar puasa" ujar Roy.
"Iya Roy, mulutku jadi gatel pengen memprovokasi Ibu agar menolak sekali lagi lamaran Papanya Bagas" sambut Bintang.
"Kalian seperti gak pernah muda aja. Bapak aja cuma senyum - senyum gak berkomentar. Ya kan Pak?" tanya Bagas kepada Pak Wijaya.
"Bapak aja gak keberatan pernikahannya di undur" ujar Bintang.
"Ya gak keberatanlah, wong di undur juga cuma hitungan hari atau minggu. Lah aku hitungannya tahun mana tahaaan" protes Bagas.
Pak Wijaya hanya tersenyum mendengar kicauan Bagas.
"Mas kamu ini semakin ya, malu - maluin aja. Nanti bukan hanya Mas Bintang yang minta pernikahan kita di undurin tapi aku sendiri juga minta di undur" ujar Dewi.
"Mampu* lo" bisik Bintang di telinga Bagas.
"Mati aku.... " Bagas menggaruk kepalanya yang tak gatal.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1