
Pada dasarnya Papa dan Mama merestui niat suci kalian, tapi... " gantung Pak Rek saja ya
Dewi dan Bagas menegang karena kata - kata Papa Bagas menggantung.
"Tapi apa Pa?" tanya Bagas tak sabar.
"Tapi tunggu sampai Dewi siap" jawab Pak Reksaja.
Bagas kini bisa bernafas lega.
"Aah Papa kirain ada syarat lain" oceh Bagas.
Pak Nugroho dan Bu Nugroho tersenyum melihat wajah kesal Bagas.
"Ya benar kan Papa bilang? Saat ini Dewi kan belum siap menikah dengan kamu. Ya ngapain kita paksa, yang ada juga Dewi tertekan dan terpaksa menikah dengan kamu. Itu bahaya Fan, akan ada beban dalam rumah tangga kalian dan akhirnya kalian tidak bahagia" jawab Pak Reksajaya.
"Iya Pa, aku mengerti" jawab Bagas
Dewi kini dapat bernafas lega. Ternyata kehadirannya disambut baik oleh kedua orang tua Bagas. Bu Reksajaya mengelus lembur bahu Dewi.
"Sepertinya kamu memang sudah berhasil membuat anak kami berubah. Saya tidak menyangka Bagas berubah karena kamu, gadis yang baru berusia delapan belas tahun. Dulu.. apapun nasehat kami kepadanya dia tidak pernah mau mendengarkannya" ungkap Bu Reksajaya.
Dewi tersenyum dan menunduk malu.
Pak Reksajaya beserta istrinya memuji daya tarik Dewi yang bisa membuat Bagas jadi bertobat.
Bagas melirik ke arah jam tangannya, sudah hampir setengah sepuluh.
"Pa, aku pamit dulu ya mau antar Dewi" ujar Bagas.
"Iya sudah malam. Kasihan Dewi kalau pulang kemalaman" sambut Pak Reksajaya.
Dewi mencium tangan Pak Reksajaya dan istrinya dengan hormat membuat kedua orang tua Bagas ini menyanjung sifat Dewi dalam hati .
Sudah jarang sekarang anak muda seperti kamu mempunyai sikap seperti gadis ini. puji mereka dalam hati.
"Saya pulang ya Pak, Bu. Terimakasih atas jamuan makan malamnya" ucap Dewi.
"Sama - sama Wi, kami juga sangat senang mengenal kamu" balas Bu Reksajaya.
__ADS_1
"Gas malam ini kamu tidur sini ya, ada yang ingin Papa sampaikan pada kamu" ujar Pak Reksajaya.
"Iya Pa" jawab Bagas.
Bagas dan Dewi segera bergegas pulang. Setelah satu jam perjalanan akhirnya mereka sampai. Mobil Bagas masih terparkir di depan rumah Bintang.
"Wi, Mas gak usah turun lagi ya. Sampaikan pamit Mas sama Bapak, Ibu, bintang dan Tiara" ujar Bagas.
"Iya Mas, hati - hati di jalan ya Mas" jawab Dewi
Dewi turun dari mobil dan tak lama kemudian mobil Bagas sudah berlalu dan kembali menuju rumah orang tuanya. Dewi berjalan masuk ke dalam rumah.
"Assalamu'alaikum" ucap Dewi ketika masuk ke dalam rumah.
Ternyata Bu Siti, Pak Wijaya, Bintang dan Tiara belum tidur. Mereka sedang asik ngobrol di ruang keluarga.
"Wa'alaikumsalam" jawab mereka semua.
"Lho udah pulang Wi, Bagas mana?" tanya Siti.
"Mas Bagas sudah pulang. Tadi saat pamit dari rumah orang tuanya. Papa Mas Bagas meminta Mas Bagas tidur di rumah mereka malam ini" jawab Dewi.
"Selama ini Bagas tinggal di apartemen Pak, kecuali weekend baru Bagas pulang ke rumah orang tuanya" jawab Bintang.
"Sini duduk Wi" ajak Tiara.
Dewi duduk di samping Tiara diapit Tiara dan Siti.
"Gimana tadi sambutan keluarga Bagas?" tanya Siti.
"Alhamdulillah mereka baik Bu" jawab Dewi. Dewi tersenyum mengingat reaksi Papa dan Mama Bagas ketika mengetahui umur Dewi yang terpaut jauh dengan Bagas.
"Ngobrol apa aja tadi?" tanya Bintang penasaran.
"Mama dan Papa Mas Bagas nanya umurku Mas" jawab Dewi.
"Pasti mereka terkejut mendengar berapa umur kamu" sambut Bintang.
"Iya Mas mereka sangat terkejut mendengar berapa umurku" jawab Dewi.
__ADS_1
"Terus apa mereka melarang hubungan kalian?" tanya Tiara penasaran.
Dewi menggelengkan kepalanya.
"Tidak, mereka setuju asal aku siap bisa menerima Mas Bagas apa adanya termasuk masa lalunya Mas Bagas" jawab Dewi.
"Kamu jawab apa?" tanya Siti.
"Aku jawab kalau aku sudah tau semua tentang masa lalu Mas Bagas termasuk Mas Bagas punya banyak pacar" jawab Dewi.
"Kamu harus kuat Wi untuk menjadi istrinya Bagas. Karena bisa saja orang - orang dalam masa lalu Bagas muncul kembali dan akan menjadi sandungan dalam hubungan kalian. Apalagi saat kalian nanti sudah menikah. Pasti ada saja yang akan terjadi dalam rumah tangga kalian. Masalah rumah tangga itu bukan hanya dari luar tapi bisa jadi dari kalian berdua, dari keluarga, faktor ekonomi juga bisa dan banyak lainnya" nasehat Pak Wijaya.
Bukan hanya Dewi yang mendengarkan nasehat Pak Wijaya, Tiara dan Bintang juga mendengarkannya.
"Menerima pasangan kita bukan menerima satu orang saja melainkan lengkap dengan keluarga, teman - teman bahkan orang - orang dalam masa lalunya. Yang penting kalian saling percaya dan saling menguatkan. Kalau itu tidak kokoh akan mudah terguncang. Sedikit saja terpancing bisa jadi bom yang sangat besar dalam rumah tangga. Menikah tidak seindah dan semudah yang orang pikirkan pada umumnya. Yang penting saling cinta itu sajak cukup. Tidak... kalau tidak kuat dalam menghadapi permasalahan rumah tangga perlahan - lahan rasa cinta akan pudar. Tapi kalau masing-masing menyadari tugas dan kewajibannya dalam rumah tangga dan berupaya untuk memelihara dan memupuk rasa cinta diantara keduanya InsyaAllah rumah tangga akan damai" sambung Pak Wijaya.
"Mungkin dalam kasus kalian, bukan hanya Dewi. Tiara dan Bintang juga sama. Kalau masalah keluarga dan ekonomi mungkin bukan menjadi penghalang. Tapi pihak ketiga bisa jadi masalah besar. Baik Bintang ataupun Bagas adalah pengusaha muda yang sukses. Banyak di luar sana para wanita yang tergiur dengan keberhasilan mereka. Bahkan ada yang mempunyai motto pria berumur semakin tua semakin berminyak, yang artinya semakin berumur semakin menarik" ungkap Wijaya.
"Jangan pernah sedikitpun kalian kasih celah untuk para perusak rumah tangga dan jangan pernah curhat masalah rumah tangga kalian pada lawan jenis kalian. Nanti berawal dari teman curhat lama kelamaan berakhir menjadi teman tapi mesra dan meningkat menjadi teman hidup" sambung Wijaya.
"Iya Pak" jawab Dewi.
"Tapi menikah juga tidak serumit yang kamu pikirkan Wi, jadi jangan takut untuk menikah. Karena menikah itu menyempurnakan separuh agama. Semua dalam rumah tangga itu adalah ibadah. Jika kita menjalaninya dengan keikhlasan pasti semua akan terasa ringan. Nasib orang tidak ada yang sama, baik kamu, Tiara ataupun Ibu kalian tidak akan menjalani masalah hidup yang sama. Yakinlah.." sambut Pak Wijaya.
Dewi tampak sangat mendengarkan nasehat dari Pak Wijaya.
Pak Wijaya melirik ke arah jam dinding, sudah jam sebelas malam.
"Sebaiknya kita istirahat, sudah larut sekali. Besok kita harus kembali ke Bandung sedangkan Bintang besok harus bekerja. Kamu juga Ra sedang hamil butuh istirahat yang banyak. Kita tidur yuk" ajak Pak Wijaya.
"Iya Pak" jawab Bintang , Tiara dan Dewi.
Mereka semua bubar dan masuk ke dalam kamar masing-masing.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1