Tiara

Tiara
Jadwal ke Dokter


__ADS_3

Sore harinya Bintang pulang dari kantor lebih cepat dari biasanya karena sore ini dia janjinya dengan Kinan untuk pergi ke Rumah Sakit melakukan pemeriksaan pada Tiara.


Bintang sampai di rumah sekitar jam setengah empat. Dia memarikirkan mobilnya di halaman depan rumah.


"Assalamu'alaikum sayang... " ucap Bintang begitu memasuki rumah.


"Wa'alaikumsalam" jawab Tiara.


"Kamu sudah siap?" tanya Bintang.


"Sudah Mas, yuk" ajak Tiara.


"Zia dan Tegar mana?" tanya Bintang.


"Mereka sedang tidur Mas, Zia baru saja aku kasih ASI sedangkan Tegar tadi setelah makan siang dia belajar sebentar setelah itu langsung tidur" jawab Tiara.


"Ooh ya sudah kita pergi yuk" ajak Bintang.


Bintang menggandeng mesra tangan istrinya dan berjalan dengan perlahan - lahan menuju mobil. Bintang melakukan mobilnya dan menjalankannya menuju rumah sakit tempat Tiara melahirkan kemarin.


Satu jam kemudian mereka sudah sampai di rumah sakit. Mereka langsung masuk ke dalam ruang praktek Dokter karena memang sudah atur jadwal sebelumnya agar tidak terlalu lama menunggu.


"Selamat sore dokter" sapa Bintang ramah.


"Selamat siang Pak Bintang, Ibu Tiara" ujar Dokter.


Bintang dan Tiara duduk di depan meja kerja Dokter.


"Bagaimana kabar Ibu Tiara, ada keluhan?" tanya Dokter.


"Alhamdulillah baik dok dan tidak ada keluhan kok" jawab Tiara.


"Kalau begitu langsung aja kita mulai. Silahkan Ibu Tiara berbaring di atas tempat tidur" perintah Dokter.


Tiara mengikuti perintah dokter dan dokter pun memulai pemeriksaannya.


"Bagus bekas jahitannya juga bagus tapi Ibu jangan angkat barang - barang berat ya" pesan Dokter.


"Iya Dok" jawab Tiara.


"Dok, saya mau tanya sesuatu" ujar Tiara.


"Ibu mau tanya apa? Silahkan" jawab Dokter.

__ADS_1


"Saya mau tanya tentang alat kontrasepsi yang aman untuk saya. Soalnya saya kan sedang menyusui, anak saya juga masih terlalu kecil takut kebobolan" ujar Tiara.


Sontak Dokter dan Bintang saling pandang. Bintang menahan nafasnya, dia tidak tau harus berkata apa, hanya pasrah dengan jawaban dokter nantinya. Dan bedoa dalam hati, mudah - mudahan kenyataan ini jangan sekarang terbongkarnya. Mengingat Papa, Mama dan kedua mertuanya masih di tanah suci melaksanakan ibadah umroh.


"Untuk sementara Ibu tidak perlu pakai alat kontrasepsi, Ibu kan sedang menyusui. Jadi istilahnya ada KB alami karena nutrisi yang ada dalam tubuh Ibu lebih banyak terserap ke dalam ASI" jawab Dokter.


"Oo.. begitu ya Dok" sambut Tiara.


Sepertinya Tiara mengerti. Alhamdulillah.. Batin Bintang.


"Sudah selesai Bu" ujar Dokter.


Dokter kembali ke kursinya sedangkan Bintang membantu Tiara kembali duduk. Wajag tegang Bintang tampak jelas terlihat.


"Mas kenapa, sakit?" tanya Tiara bingung.


"Aku ah.. tidak - tidak" jawab Bintang.


"Tapi wajah Mas sangat pucat" ujar Tiara.


"Aku hanya sedikit pusing" jawab Bintang asal


"Jadi ini bu resep untuk Ibu, saya hanya memberikan salep oles ke bekas luka jahitan operasi di perut Ibu. Kemudian vitamin untuk Ibu menyusui, agar ASI nya lancar" Dokter memberikan resep obat kepada Tiara.


"Kalau begitu kami pamit undur diri ya Dok. Terimakasih" Bintang berdiri dan segera menjabat tangan Dokter tersebut.


"Sama - sama Pak Bintang" sambut Dokter itu dengan ramah.


Kemudian di susul oleh Tiara. Setelah pamit dengan Dokter mereka keluar dari ruang Praktek Dokter.


Bintang kini bisa bernafas lega, karena Tiara tidak bisa lagi bertanya kepada Dokter seperti tadi. Rasanya tadi jantungnya hampir copot. Dalam hati dia tak berhenti berdoa semoga rahasia mereka tidak terbongkar setidaknya sampai kedua orang tua mereka pulang.


Karena jika hal itu terjadi, Bintang tidak tau bagaimana menenangkan Tiara. Dia tidak bisa membayangkan sedihnya perasaan Tiara.


"Kita pulang sayang?" tanya Bintang.


"Iya Mas, kan Mas lagi pusing. Lebih baik kita segera pulang. Lagian aku tidak tenang meninggalkan Zia dalam waktu yang lama. Dia belum pernah selama ini aku tinggalkan" jawab Tiara.


"Ya sudah kalau begitu kita tebus dulu resep obatnya ya" ujar Bintang.


Mereka segera berjalan menuju tempat obat - obatan dan memesan obat sesuai dengan resep Dokter.


Setelah semua di beli mereka kembali ke mobil Bintang. Dan mobil pun melaju menuju rumah.

__ADS_1


"Mas ingin berapa anak?" tanya Tiara tiba - tiba.


Sontak Bintang terbatuk karena merasa canggung dengan situasi seperti ini. Dia kembali tegang.


"Dua anak saja cukup sayang" jawab Bintang.


"Dulu katanya Mas mau banyak anak mengingat Mas adalah anak tunggal" desak Tiara.


"Aku berubah fikirkan. Melihat kamu melahirkan Zia dengan cara begitu aku mengurungkan niatku. Aku tidak sanggup melihat kamu tak sadarkan diri penuh dengan darah" jawab Bintang.


"Eh iya aku sampai lupa sampaikan pada kamu. Kita belum mengucapkan terimakasih kepada Bagas" ujar Bintang.


"Kenapa kita harus melakukannya? berterimakasih kepada Mas Bagas?" tanya Tiara bingung.


"Karena dia sudah mendonorkan darahnya untuk kamu. Saat itu kamu kekurangan darah dan persediaan Rumah Sakit untuk golongan darah kamu sedang habis. Alhasil Bagas yang ada pada saat itu mempunyai golongan darah yang sama dengan kamu, mendonorkan darahnya untuk kamu" jawab Bintang.


Bintang segera meraih tangan Tiara dan menciumnya penuh penghayatan.


"Yank... berjanjah padaku untuk tidak pernah meninggalkanku apapun yang terjadi. Aku dan anak - anak kita sangat membutuhkan kamu" ujar Bintang.


Tiara merasa aneh dengan sikap Bintang yang seperti ini. Tidak seperti biasanya.


"Ada apa sih Mas, kenapa kamu tiba - tiba berkata seperti itu. Aku tidak ingin kemana - mana dan tidak ingin meninggalkan kalian" jawab Tiara.


"Aku.. aku.. sangat takut kehilangan kamu. Saat itu rasanya seandainya sesuatu terjadi pada kamu aku ingin ikut. Aku tidak sanggup hidup tanpa kamu" ujar Bintang dengan mata berkaca - kaca.


"Lho anak - anak kita bagaimana?" tanya Tiara.


"Aku tidak bisa berpikir jernih pada saat itu. Yang aku pikirkan adalah kamu tidak ada yang lain hanya kamu. Jantungku seperti berganti berdetak ketika mendapati kamu tergeletak tak sadarkan diri di lantai dengan darah segar yang terus mengalir ke kaki kamu" ungkap Bintang.


Tiara melihat wajah Bintang yang tampak sangat sedih mengingat kejadian saat Tiara jatuh dari tangga.


"Maaf Mas, aku sudah membuat kamu panik dan khawatir. Aku tidak akan melakukan itu lagi pada kamu. Aku tau aku salah melanggar perintah kamu" jawab Tiara.


"Bukan tentang itu sayang. Kalau itu aku mengerti, keingain kamu ke atas karena ingin membangunkan anak kita, aku tidak menyalahkan kamu karena kamu sudah melanggar perintah aku dan kamu tetap baik ke lantai atas untuk membangunkan Tegar. Aku hanya tidak ingin kejadian yang mengerikan itu terjadi lagi pada kamu. Cukup.. cukuplah anak kita dua saja. Aku benar - benar trauma dan sangat takut kehilangan kamu" ujar Bintang menuntut Tiara.


Tiara jadi tak tega melihat wajah sedih Bintang.


"Iya Mas kalau itu mau kamu. Cukup Tegar dan Zia anak kita. Ridho kamu lebih penting dari apapun" tegas Tiara.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2