
"Ehm... sepertinya mereka udah mendapatkan kata mufakat ini" sindir Bintang yang tak sengaka menguping pembicaraan Bagas dan Dewi.
Tadi sebenarnya dia ingin ke dapur yang terletak di bagian belakang rumah untuk mengambil sesuatu tetapi saat melewati pintu belakang dia mendengar pembicaraan antara Bagas dan Dewi.
Roy yang ingin ke kamar mandi juga ikut bergabung dengan Bintang. Dia penasaran apa yang sedang di kerjakan Bintang sampai dia terlihat sangat serius seperti itu.
Akhirnya mereka berdua menguping pembicaraan sahabat mereka itu.
"Kalian menguping pembicaraan kami?" tanya Bagas.
"Nggak sengaja bro" Jawab Bintang.
"Halaaaah alasan bilang saja memang sudah kalian rencanakan kan? Makanya kalian tadi menyuruh aku ke belakang untuk menemani Dewi.Terus kalian kebelakang juga mengikuti kami" balas Bagas.
Sementara Dewi terus menunduk malu pada Bintang dan Roy.
"Kalau baru di terima cintanya jangan marah - marah Gas. Nanti kamu yang sudah tua jadi tambah tua. Kasihan Dewi cepat sekali jadi janda" gombal Roy.
"Enak aja bilang aku tua" jawab Bagas.
"Hahaha... cie.. cie.. yang dapat daun muda" goda Bintang.
"Ngapain kalian di situ?" tanya Sekar.
"Ini Ma lagi jadi saksi bersatunya sepasang insan yang beda generasi. Yang satu generasi anak bangsa yang satu lagi generasi tunas bangsa" jawab Bintang.
"Maksudnya?" tanya Sekar penasaran.
Bagas mendelikkan matanya kepada Bintang.
"Gak ada maksud apa - apa Tante, mereka emang suka banget ledekin aku" Ungkap Bagas untuk menutupi kisah cintanya.
"Udah dapat kata mufakatnya?" tanya Siti yang datang di belakang Sekar.
"Udah Bu" jawab Bagas refleks.
"Apa hasilnya?" selidik Siti
"Belum mau nikah tapi gak mau pacaran juga" balas Bagas.
"Lho jadi apa donk statusnya?" tanya Siti penasaran.
__ADS_1
"Calon istri di bawah umur Bu" jawab Bagas.
"Maksudnya mereka apa sih Sit?" tanya Sekar bingung.
"Biasalah Kar anak muda sekarang. Nanti kamu juga akan tau" jawab Siti.
"Kalian jangan ganggu mereka, biar persiapan untuk menjawab pertanyaan polisi" ujar Siti kepada Bintang dan Roy.
"Baik bu, siapa tau ada pertanyaan kapan nikahnya ya" sambut Bintang.
"Asem lu" balas Bagas.
"Hahaha... " Bintang dan Roy tertawa senang melihat wajah Bagas merah merona karena malu. Bisa juga tuh anak malu. Batin mereka.
"Sudah.. sudah.. biarin aja mereka ngobrol panjang, jangan di ganggu. Hari senin mereka mau di sidang polisi biar mereka bisa mencocokkan jawaban, kapan pertama kali ketemu, kapan jadian dan kapan nikahnya. Ayo kita ke depan. Biar merek menyelesaikan masalah mereka sendiri" goda Siti.
Mak jleb... Aku di godain juga sama calon Ibu mertua kirain bakalan di bela. Batin Bagas.
Siti dan Sekar melangkah menuju ke ruang keluarga.
"Hahaha... kena juga lu di sindir sama Ibu" ejek Bintang.
"Selamat ya Babang Bagas, semoga sampai ke kelamina* hahaha" tawa Roy pecah.
Sial banget mereka, awas ya nanti aku balas. Batin Bagas.
"Tuh Wi aku di bully sama mereka tapi kamu gak mau belain. Coba tadi kamu mau sebutin tanggal pernikahan mereka aku dah bisa balas ledekan mereka" ucap Bagas pura - pura ngambek sama Dewi.
"Kan udah aku bilang sama Mas Bagas dari tadi aku belum mau menikah. Aku persiapan dulu ya setahun dua tahun atau lima... " jawab Dewi.
"Jangan.. jangan... jangan lima tahun donk Wi kelamaan. Umur aku udah berapa. Masa iya aku nikahnya umur tiga puluh enam tahun?" potong Bagas.
"Ya terserah Mas Bagas kalau mau nikah cepat cari orang lain saja" jawab Dewi ngambek.
"Eh iya.. iya.. aku tunggu kamu kok dengan sabar" Bagas mengelus dadanya. Hampir aja aku di tolak lagi sama kekasih hatiku. Gak lucu kan belum satu jam bilang suka sama aku eh malah di tolak lagi. Mau di lempar kemana julukan playboy aku, kalah sama ABG labil berumur delapan belas tahun. Tangis Bagas dalam hati.
Sementara di ruang keluarga.
"Ada apa sih antara Bagas dan Dewi Sit. Kok kalian dari tadi nyindir - nyindir soal tanggal ketemu, tanggal jadian dan tanggal nikah?" tanya Sekar penasaran.
"Gini Ma.. Bagas itu suka sama Dewi" jawab Bintang.
__ADS_1
"Apa? Bagas suka sama Dewi? Umur mereka jauh amat?" tanya Sekar tak percaya.
"Sayaang yang namanya cinta gak pandang usia. Yang penting keseriusannya" sambut Bambang.
"Jadi gimana mereka Mas?" tanya Tiara tak sabar.
"Ya gitu deh, Dewi Terima cinta Bagas tapi dia takut cepat - cepat nikah. Hahaha... benar kan syarat yang aku buat untuk Bagas. Tunggu Dewi berumur dua puluh tahun baru nikahin Dewi" jawab Bintang.
"Yah kasihan juga Bagasnya, kalau dua tahun lagi umurnya tiga puluh tiga tahun baru nikah. Kadung udah kering tali airnya" sambut Sekar.
"Hahaha... itu hukuman dia memang Ma, selama ini suka mainin tali air di sawah" ujar Bintang tertawa.
"Huusss.. kamu ini, teman sendiri di bully" Pak Bambang mengingatkan Bintang.
"Habis lucu Pa lihat wajah Bagas seperti itu. Biasanya kan dia paling pinter ngerayu cewek tapi ini dia kalah sama gadis delapan belas tahun" jawab Bintang.
"Itu karena dia memang cinta sama Dewi. Biasanya kebanyakan playboy seperti itu, giliran kena sama orang yang benar - benar dia cintai dia malah bingung dan mati kutu. Semua ilmu yang ada dalam pikirannya terbang entah kemana. Seperti Bagas itu" ujar Pak Bambang.
"Hahaha.. pengalaman pribadi ya Bam. Jadi ingat waktu kamu kuliah banyak banget pacarnya. Giliran ketemu Sekar kembang desa langsung mati kutu sampai bela - belain kawin lari" sindir Pak Wijaya.
"Hahaha.. ketahuan Mas Bambang, Mas Jay. Maksud hati mau ceritain Bagas eh malah buka aib sendiri' sambut Sekar.
"Hahaha..." semua jadi tertawa mendengar perkataan Pak Bambang.
"Syukurlah kalau Dewi bisa menerima Bagas. Menurut aku dia pria bertanggung jawab kok. Lagian Dewi kan adik ipar kamu, Bapak rasa Bagas tidak akan berani main - main pada Dewi" ujar Pak Wijaya.
"Iya Pak, yang aku lihat juga begitu. Dulu Bagas gak seperti ini kok ngadepin cewek - cewek. Dia gak sesabar ngadepin Dewi. Yah mungkin karena dulu semua cewek - cewek emang ngejar Bagas jadi belum sempat Bagas rayu mereka sendiri yang mau ikut duluan" sambut Roy.
"Nah ini dia mantan playboy satu lagi bicara" sindir Bintang.
"Tapi kan ilmu Pak Bambang tadi emang terbukti Bin, kena sama Dian langsung klepek - klepek si Roy" timpa Pak Wijaya.
"Hahaha.. kalau sama dia emang udah cinta duluan Pak tapi gak kesampaian makanya pelariannya sama cewek lain eh ketagihan hahaha" ungkap Roy.
"Ih kamu ya Mas... amit - amit jabang bayi ya nak. Nanti kalau lahir jangan seperti Papa kami" Dian mengelus lembut perutnya.
"Iya gak akan seperti Papa tapi seperti Mama aja baik budinya" sambut Roy dan ikutan mengelus lembut perut Dian.
Hari itu kehangatan keluarga dan persahabatan di rumah Bintang sungguh membuat semuanya bahagia. Ada yang sedang berbunga - bunga seperti Pak Wijaya, Bu Siti, Bagas dan Dewi. Ada yang dag dig dug menunggu kelahiran anak mereka seperti Bintang, Tiada, Roy dan Dewi. Dan ada yang sudah tak sabar menunggu kelahiran cucu, ponakan dan adiknya seperti Pak Bambang, Bu Sekar, Ali dan Tegar.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG