
"Kenapa Yank? Kamu kok panik sekali?" tanya Bintang sambil memperhatikan wajah Tiara yang terlihat cemas.
"Ibu Mas.. Ibu... " jawab Tiara gugup.
"Tenang dulu... Kamu tenang ya.. " balas Bintang menenangkan Tiara.
"Ibu baru saja di pukul Bapak lagi" ungkap Tiara.
"Kamu tau dari mana?" tanya Bintang terkejut.
"Barusan Dewi kirim pesan padaku" jawab Tiara.
"Trus gimana keadaan Ibu sekarang?" tanya Bintang khawatir
"Aku suruh Dewi tadi kasih uang ke Bapak karena kata Dewi, Bapak marah karena Ibu gak mau kasih duit waktu Bapak minta ke Ibu buat minumnya malam ini. Setelah itu belum ada kabarnya" jawab Tiara dan mencoba mengatasi kegugupannya.
"Sabar sayang.. kamu tenang ya" Bintang merangkul istrinya lembut mencoba memberikan perlindungan dan ketenangan pada wanita pemilik hatinya kini.
Tak lama ponsel Tiara berdering dan terlihat panggilan dari nomor dari Ibunya.
"Ibu telepon Mas" ucap Tiara.
"Angkat yank" suruh Bintang.
"Assalamu'alaikum Bu" ucap Tiara.
"Wa'alaikumsalam nak" jawab Siti.
"Ibu bagaimana keadaannya?" tanya Tiara.
Bintang mendekatkan telinganya di samping Tiara karena dia juga ingin mendengar suara mertuanya itu.
"Ibu baik - baik saja Ra. Ibu gak apa - apa kok" jawab Siti menenangkan.
"Ibu jangan bohong padaku. Ibu di pukul Bapak kan? Ada yang luka?" desak Tiara.
"Gak ada" jawab Siti berbohong.
"Bu... "
"Ibu gak apa - apa nak, percaya sama Ibu ya" potong Siti.
"Bu, ingat tawaran aku dan Mas Bintang kemarin. Tolong bu fikirkan lagi. Ibu jangan takut kalau Bapak mengancam Ibu dan adik - adik kami akan melindungi Ibu" jawab Tiara.
Bintang memberi kode kalau dia ingin bicara dengan Ibu.
"Bu, ni Mas Bintang mau bicara sama Ibu" Tiara memberikan ponselnya kepada Bintang.
"Assalamu'alaikum Bu" ucap Bintang.
"Wa'alaikumsalam nak Bintang" jawab Siti.
"Bu, jangan takut kalau diancam Bapak ya. Saat ini juga aku bisa suruh karyawanku untuk menjemput Ibu ke rumah" ucap Bintang.
__ADS_1
"Jangan nak Bintang jangan... Ibu tidak mau" tolak Siti
"Dari pada membahayakan jiwa Ibu dan adik - adik?" balas Bintang.
"Kami tidak apa - apa. Bapak hanya marah sedikit saja karena dia kesal terlalu lama di tinggal sendirian. Mungkin dia kesepian" ucap Siti berbohong.
"Bu... "
"Bener Nak Bintang Ibu tidak apa - apa. Kalian tidak perlu khawatir, kami baik - baik saja" ujar Siti meyakinkan.
"Baiklah kalau Ibu katakan begitu. Tapi lain kali kalau Bapak berbuat sesuatu Ibu bilang pada kami ya" pinta Bintang.
"Iya, lain kali Ibu akan bilang pada kalian" jawab Siti.
"Ya sudah ini Tiara ya Bu" Bintang memberikan ponsel Tiara kembali kepada Tiara.
"Ya Bu" ucap Tiara.
"Sudah ya Ra, Ibu mau istirahat dulu" balas Siti.
"Iya Bu, tapi ingat pesan Mas Bintang tadi ya Bu. Kalau Bapak nyakiti Ibu lagi, hubungi kami" ulang Tiara.
"Iya nak, Ibu akan kabari kalian kalau Bapak berbuat itu lagi" jawab Siti.
"Hati - hati ya Bu. Assalamu'alaikum" ucap Tiara.
"Wa'alaikumsalam nak" jawab Siti.
Telepon terputus. Kini Tiara merasa sedikit lega. Pelayanan datang menghilangkan makanan mereka.
"Iya Mas" balas Tiara.
Bintang bangkit dan berjalan menghampiri Tegar, tak lama mereka kembali ke meja semula dan mulai makan malam bersama.
Setelah itu baru mereka kembali ke rumah. Tiara menemani putranya ke kamar bersih - bersih dan persiapan tidur sedangkan Bintang memastikan semua pintu rumah sudah terkunci.
Tidak berselang lama Tegar sudah tidur dan Tiara kembali ke kamarnya. Di kamarnya Bintang sudah naik ke atas tempat tidur dan sedang memainkan ponselnya.
"Sudah selesai?" tanya Bintang.
"Apanya?" tanya Tiara bingung.
"Nidurkan Tegar donk yank" jawab Bintang.
"Ooo... sudah. Tegar sudah tidur Mas" jawab Tiara lembut.
"Sekarang giliran Papanya" Bintang tersenyum mesum
"Ngapain?" jawab Tiara polos.
"Nidurkan anu Papanya Tegar lho sayaaaang" Bintang menunjuk ke bagian bawahnya.
"Ya Allah.. Maaaaaas" balas Tiara malu.
__ADS_1
Dan begitulah namanya pengantin baru, kalau suasana sudah mendukung apalagi kesempatan terbuka lebar langsung dimanfaatkan. Ditambah tidak ada lagi gangguan dan jalan sudah lurus dan mulus.
Bintang langsung mengajak Tiara olah raga malam untuk menghilangkan lemak di perutnya dan mentransfernya ke perut Tiara. Walau tadi Tiara sempat berkeinginan untuk menundanya beberapa bulan tapi Bintang tidak mempermasalahkan.
Baginya semua adalah rezeki, biarlah Allah yang berkehendak. Kalau cepat Alhamdulillah, dan kalau sedikit lebih lama ya terus berusaha tanpa mengenal lelah. Itu prinsip Bintang mewujudkan keinginan Tegar untuk memiliki adik secepatnya.
Dan Tiara tidak bisa menolak keinginan suaminya. Selain itu kewajibannya untuk memenuhi permintaan suaminya, Tiara juga tidak kuasa menolak pesona Bintang diatas ranjang.
Malam itu kembali lagi menjadi malam pertama untuk mereka di kamar itu menjadi sepasang suami istri.
Keesokan harinya sesuai dengan janji Bintang dia akan mengantar Tegar ke sekolah pagi ini. Habis subuh Tiara sudah menyiapkan sarapan pagi untuk mereka bertiga sedangkan Bintang sedang mambangunkan putranya.
"Sayaaaang... bangun yuk.. Katanya mau Papa antar ke sekolah pagi ini" ucap Bintang lembut membelai puncak kepala putranya.
"Tegaaaar bangun naaaak" panggil Bintang lagi.
"Aku masih ngantuk Pa" jawab Tegar.
"Sudah pagi lho, bangun yuk biar Papa antar ke sekolah pagi ini" ucap Bintang.
Tegar membuka matanya.
"Tapi Papa yang mandikan aku ya" pinta Tegar.
"Iya, yuk Papa mandikan" Bintang mengajak Tegar ke kamar mandi.
Pagi ini Bintang menjalankan perannya langsung sebagai seorang ayah. Dia memandikan Tegar setelah itu memakaikan pakaian sekolah Tegar.
Setelah semua selesai mereka berjalan keluar kamar dan duduk di meja makan menunggu sarapan pagi selesai di masak Tiara.
"Waaah anak Mama sudah ganteng dan wangi. Siapa yang mandiin sayaang" tanya Tiara penuh kasih sayang.
"Aku dimandiin Papa pagi ini Ma" jawab Tegar senang.
"Bilang apa sama Papa?" balas Tiara.
"Makasih Papa" jawab Tegar dan memeluk Papanya.
Jangan ditanya bahagianya hati Bintang pagi ini.
Beginikah rasanya mempunyai keluarga utuh? Begitu indahnya nikmat yang KAU berikan padaku ya Allah.. Sungguh tidak ada yang bisa aku dustakan lagi.
Kalau beginilah indahnya menjadi orang tua mengapa dulu Papaku tak pernah melakukan hal ini kepadaku? Apakah dia tidak senang memiliki anak sepertiku? Atau apakah dia tidak senang memiliki sebuah keluarga?
Tiba - tiba hati Bintang merasa sedih mengingat kedua orang tuanya. Dia sudah lupa kapan terakhir dia merasa sebahagia ini. Betapa hal inilah yang paling dia rindukan dulu di rumah orang tuanya.
Setiap hari dia selalu makan sendiri, pergi sekolah sendiri dan kalau sakit juga sendiri. Hanya Bik Sumi yang selalu menemaninya di rumah. Selalu menyiapkan semua kebutuhannya dan dengan tulus memberikan kasih sayangnya kepada Bintang.
Bintang menyeka air mata yang keluar dari sudut matanya karena mengenang kisah masa kecilnya dulu. Sungguh sangat berbeda dengan kisah hidup Putranya. Dan memang Bintang bertekad untuk membuatnya berbeda. Dia tidak ingin Tegar merasakan apa yang dulu dia rasakan.
Tegar harus menjadi anak yang bahagia dan memiliki keluarga yang lengkah dan menyayanginya. Janji Bintang dalam hati.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG