Tiara

Tiara
H -1


__ADS_3

Sesuai dengan kesepakatan mereka setelah selesai shalat Jumat Siti dan anak - anaknya di jemput di tempat biasa oleh supir Bintang.


Siti, Dewi dan Ali sudah masuk ke dalam mobil dengan perasaan lega karena mereka telah berhasil mendapatkan izin dari Tarjo ke kampung melihat keluarga dekat Siti menikah.


Mereka janji akan kembali hari minggu. Seperti dugaan Siti sebumnya, agar Tarjo tidak curiga dengan hati yang berdebar Siti pura - pura mengajak Tarjo ikut ke kampunh.


Tarjo memang tidak pernah mau setiap diajak Siti pulang kampung, berbagai alasan dia berikan untuk menolak ajakan Siti. Saat ini juga sama, Tarjo malah tidak pulang tadi malam ke rumah. Mungkin untuk mengelakkan alasan ketika Siti bertanya mengapa tidak mau ikut ke kampung.


Hal ini membuat Siti, Dewi dan Ali semakin senang karena dengan leluasa mereka bisa mempersiapkan semua perlengkapan yang akan mereka bawa ke Bandung.


Hari ini untuk pertama kali mereka meninggalkan Tarjo sendirian di rumah. Alangkah bahagianya mereka bisa pergi seperti ini tanpa rintngan sedikitpun.


"Piuuuuh... akhirnya kita aman Bu, aku sudah jantungan dari tadi kalau - kalau Bapak melihat kita di jemput dan naik mobil mewah seperti ini. Pasti Bapak akan curiga" ujar Dewi.


"Sudah.. sudah.. yang penting Bapak kamu sudah kasi izin kita untuk pergi. Ibu sudah duga dia pasti tidak mau diajak pulang kampung" balas Siti.


"Ayo Pak, kita berangkat" ajak Ali dengan sopan kepada Bapak Supir.


"Baik Mas" jawab Supir Bintang.


Mobil melaju dengan kecepatan rata-rata menuju Bandung. Sedangkan Bintang sedang menjemput pakaian untuk mereka pakai saat acara besok.


Bintang juga tidak pergi sendiri, dia membawa supir pribadinya karena dia tidak mau kecapekan sampai di Bandung. Mengingat besok adalah hari bersejarah untuk hidupnya.


Besok dia akan menikah dengan Tiara yang sudah menjadi pemilik hatinya belakangan ini. Walau perasaannya masih baru beberapa minggu dia sadari tapi Bintang merasa sangat yakin memilih Tiara sebagai istrinya. Malah Bintang sudah tidak sabar untuk menantikan hati itu.


Bintang seperti hidup sendiri, semua segala sesuatu yang berkaitan dengan pernikahan, mereka urus sendiri. Benar - benar tidak ada campur tangan keluarga. Walau pernikahan ini hanya pernikahan sederhana tapi sangat membuat mereka kewalahan. Apalagi baik Tiara ataupun Bintang sama - sama tidak mempunyai pengalaman dengan hal itu.


Tapi semuanya Alhamdulillah telah di lalui setahap demi setahap. Persiapan pernikahan juga hampir sempurna tinggal menunggu mereka berkumpul semua dan acara sakral besok semoga berjalan dengan lancar.


Saat menjemput pakaian pernikahan mereka besok di Butik tanpa sengaja Bintang menabrak seorang wanita di pintu masuk Butik.


"Bintang" ucap wanita itu terkejut.


Bukan hanya wanita itu saja yang terkejut, Bintang juga sama terkejutnya dengan wanita itu tapi dia segera menyembunyikan rasa keterkejutannya.


"Kamu ngapain di sini, sendirian? Tumben banget. Ngapain sih?" tanya Wanita itu.

__ADS_1


"Aku mau mengambil beberapa pakaian penting" jawab Bintang datar.


"Sudah lama gak ketemu ya Bin, Kamu apa kamarnya?" tanya Wanita itu.


"Alhamdulillah baik" jawab Bintang singkat.


"Makin ganteng aja kamu setelah empat tahun lebih ya kita gak ketemu" oceh wanita itu.


Bintang hanya menanggapinya dingin.


"Untuk yang terakhir aku minta maaf sama kamu Bin, aku tidak berniat melakukan hal itu. Saat itu aku terpaksa karena... " ucap wanita itu.


"Sudahlah Siska.. semua sudah berlalu. Aku sudah melupakannya. Maaf aku masih punya banyak urusan dan saat ini aku sedang terburu - buru" Bintang segera meninggalkan Siska.


Siska yang awalnya sudah ingin meninggalkan Butik kini berbalik arah. Dia penasaran dengan Bintang. Apa yang sedang dilakukan Bintang di sini. Dulu saat bersamanya Bintang paling malas di ajak ke Butik.


Bintang hanya memberikan kartunya saja untuk Siska pergunakan membayar semua pakaian yang sudah dia pesan. Tapi kini Bintang berubah, dia dengan rela datang sendiri ke Butik pasti untuk mengambil pakaian tidak mungkin untuk yang lain.


Tapi pakaian siapa yang ingin Bintang ambil? Tanya Siska dalam hati.


Bintang sudah selesai mengambil semua pakaian yang dia pesan bersama Tiara kemudian membayarnya.


Saat Bintang berjalan menuju pintu keluar, Siska bersembunyi di balik sofa yang ada di rumah tunggu Butik. Setelah Bintang menghilang dan keluar dari Butik baru Siska keluar dari persembunyiannya dan menghampiri pemilik Butik.


"Dev kamu kenal pria yang baru keluar dari Butik kamu ini?" tanya Siska kepada Deviana pemilik Butik.


"Oh pria tampan tadi? Bintang Prakasa" jawab Devi.


"Iya Bintang Prakasa. Ngapain dia ke sini?" selidik Siska.


"Dia ingin mengambil baju pengantinnya" jawab Devi.


"Haaaa... dia mau menikah. Kapan?" tanya Siska.


"Katanya sih besok di Bandung, tadi dia terburu - buru karena harus segera berangkat ke Bandung" jawab Devi.


"Kamu kenal sama calon istrinya?" tanya Siska.

__ADS_1


"Menurut catatan di sini nama istrinya Tiara. Tapi ada yang aneh sih" jawab Devi.


"Aneh bagaimana?" tanya Siska penasaran.


"Saat mereka ke sini sabtu lalu, mereka datang beramai-ramai bersama Ibu dan adik - adik wanita itu. Tapi yang anehnya ada seorang anak kecil yang ikut bersama mereka dan memanggil pria itu Papa" jawab Devi.


"Maksud kamu Mas Bintang menikah dengan seorang janda gitu?" tanya Siska terkejut.


"Kamu kenal pria itu? Kok manggil Mas? Kesannya seperti sudah sangat dekat?" tanya Devi.


"Dia mantan pacar aku yang aku tinggalkan hampir lima tahun yang lalu. Eh Dev calon istrinya cantik gak?" tanya Siska penasaran tingkat tinggi.


"Cantik dan kelihatannya wanita baik - baik. Dia memakai jilbab" jawab Devi.


"Haaaa? Seputus asa itukah Mas Bintang putus dariku sampai seleranya berubah se drastis itu?" tanya Siska.


Devi mengangkat kedua bahunya menandakan bahwa dia tidak tau tentang hal itu.


"Ada alamat mereka gak Dev di Bandung, siapa tau mereka kasih undangan buat kamu?" selidik Siksa.


"Gak ada. Waktu mengukur baju kemarin aku sempat mendengar pria itu berbincang - bincang dengan calon istri dan Ibunya kalau pernikahan mereka akan dilangsungkan secara sederhana di rumah calon istrinya" jawab Devi.


"Ini lebih aneh lagi Dev, Mas Bintang itu biasanya sifatnya ingin yang terbaik. Aku yakin kalau dulu dia tidak akan suka pesta yang sederhana mengingat dia memiliki perusahaan yang sedang berkembamg dan mempunyai banyak relasi. Tidak mungkin dia melangsungkan pernikahannya secara sederhana apalagi di Bandung bukan di Jakarta.Rumah keluarga Mas Bintang itu di Jakarta jadi menurut aku aneh sekali kalau dia mau pesta di Bandung kalau tidak karena suatu alasan" ujar Siska.


"Aku gak tau Sis dan gak mau tau. Biarlah itu urusan pribadi pria itu. Toh dia bukan siapa-siapa aku, ngapain aku urusin" jawab Devi.


"Kalau begitu aku pulang ya Dev. Thanks atas informasinya daaah" Siska berlalu dan keluar dari Butik itu.


Mas Bintang aku jadi penasaran dengan apa yang saat ini kamu jalani? Mengapa kamu bisa berubah seperti itu. Sikap dingin dan acuh kamu tadi membuat aku kembali tertarik dengan kamu. Dulu aku bosan karena kamu terlalu mencintaiku. Sehingga aku tergoda dengan tantangan baru.


Tapi kita kamu sudah terlihat sangat menggoda di mataku. Bersiaplah menerima kedatanganku... Batin Siska.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2