
Tak lama setelah Siti dan kedua adik Tiara sampai di Jakarta. Pak Wijaya juga sampai di rumah Bintang dan Tiara.
Tentu saja Tiara menyambut kedatangan Bapaknya dengan hati yang sangat senang.
"Bapak sudah datang?" Tiara langsung berlari memeluk Bapaknya.
"Sudah nak, ini oleh - oleh pesanan Tegar. Teh terbaik dari perkebunan kami" Wijaya menyerahkan bungkusan yang dia bawa dari Bandung.
Tiara mengambil bungkusan yang diberikan Wijaya dan membawanya ke dapur.
Kini hanya tinggal Siti dan Wijaya yang ada di ruang keluarga. Mungkin Tiara memang sengaja meninggalkan mereka berdua di sini agar bisa berbincang - bincang berdua saja.
"Bagaimana kabar kamu Siti?" tanya Wijaya.
"Alhamdulillah baik Mas" jawab Siti.
"Syukurlah" sambut Wijaya.
"Mas Herman gimana keadaannya?" Siti balik bertanya.
"Seperti yang kamu lihat wujud luarnya aku sangat sehat tapi namanya usia Sit, pasti seumur kita ini sudah mengantongi banyak penyakit" jawab Wijaya.
Siti tersenyum mendengar perkataan Wijaya.
Kamu masih suka becanda Mas. Batin Siti.
Kamu masih secantik dulu Sit, walau faktor usia tidak bisa dikesampingkan tapi kamu pintar merawat tubuh kamu. Puji Wijaya dalam hati.
Seketika mereka saling diam dan hanya saling pandangan.
"Lho Bapak dan Ibu sudah datang toh. Bareng datangnya dari Bandung?" tanya Bintang yang baru saja masuk ke dalam rumahnya.
"Bintang, kamu baru datang?" sambut Siti.
"Iya Bu, maaf sedikit lama. Ada pekerjaan di kantor yang harus aku selesaikan" jawab Bintang.
"Iya gak apa - apa. Kami mengerti" Balas Siti.
Bintang mencium tangan hormat kepada kedua mertuanya.
"Tiara mana Pak, Bu?" tanya Bintang.
"Lagi ke belakang sebentar. Tadi Bapak bawain teh, mungkin langsung di seduh sama Tiara" jawab Siti.
Tak lama Tiara kembali dengan membawa nampan di tangannya.
"Lho Mas udah pulang rupanya" ucap Tiara ketika melihat suaminya sudah bersama Bapak dan Ibunya.
__ADS_1
"Sudah barusan aja" jawab Bintang.
"Gimana Bin sidang besok? Jam berapa di mulai?" tanya Wijaya.
"Jam sepuluh Pak. Besok kita pergi dari rumah jam delapan ya biar sampai sana tepat waktu. Papa sama Mama juga dari rumah langsung ke pengadilan" jawab Bintang.
"Baiklah" balas Wijaya.
Tiba - tiba Tegar datang dari arah belakang sambil berlari dan memeluk Wijaya.
"Opaaaa... " teriaknya.
"Hai sayang, kamu dari mana aja?" tanya Wijaya.
"Aku baru selesai berenang sama Om Ali" jawab Tegar.
"Tuh Opa udah penuhi janji Opa sama kamu minggu lalu. Opa udah bawa bubuk teh yang kamu minta malah sudah di seduh Mama kamu" Wijaya menunjuk ke arah cangkir yang ada di meja.
"Waaaah pasti enak banget, ya kan Pa" sambut Tegar ceria.
"Pasti donk" sambut Bintang.
"Kita makan dulu yuk Pak, Bu. Bibik udah siap masak dari tadi" ajak Tiara.
"Yuk Bu, Pak.. udah laper banget tadi di kantor cuma sempat makan snack saat jam makan siang" ujar Bintang.
Mereka berjalan menuju meja makan untuk makan malam bersama.
"Enak banget malam ini rumahku ramai" ucap Tegar saat melihat semua keluarga sedang berkumpul.
"Hahaha... iya nanti Opa akan sering - sering main ke sini biar kamu gak kesepian" Wijaya mengelus kepala Tegar dengan penuh kasih sayang.
Wijaya menatap dua anak Siti dari suaminya yang sekarang.
"Dewi dan Ali masih sekolah?" tanya Wijaya.
"Masih Pak. Aku baru saja kuliah tingkat pertama, sedangkan Ali baru masuk SMA" jawab Dewi.
"Kuliah dimana Wi?" tanya Wijaya.
"Aku kuliah di Universitas XXX ambil jurusan bisnis" jawab Dewi.
"Wah bagus itu, setelah tamat kuliah langsung ilmunya bisa di praktekkan di cafe kan" sambut Wijaya.
Dewi membalasnya dengan senyuman.
"Kalau kamu nanti kalau kuliah mau ambil jurusan apa Ali?" tanya Wijaya kepada Ali.
__ADS_1
"Aku ingin kuliah di tekhnik Pak" jawab Ali.
"Waah kalian memang anak - anak yang hebat" puji Wijaya.
Siti tersenyum dan tersipu malu, melihat Wijaya mempunyai perhatian pada anak - anaknya dari suami ke duanya.
"Besok jika hukuman berat yang diputuskan untuk Bapak, Kakak minta maaf sebelumnya ya pada kalian" ucap Taira.
"Kenapa kakak meminta maaf kepada kami?" tanya Ali bingung.
"Pak Tarjo kan Bapak kandung kalian, Kak Ara merasa tidak enak hati kalau dia, lebih tepatnya kami menuntut Bapak dengan hukuman seperti itu" Bintang menjelaskan.
"Bapak kan di hukum atas perbuatannya selama ini Kak. Kami tidak akan marah dan benci pada Kakak. Mungkin memang itu hukuman yang pantas buat Bapak. Semoga Bapak sadar atas semua perbuatannya" ucap Dewi.
"Harusnya kami yang malu sama Kak Dewi, Bapak sudah menyakiti Kakak. Ingin menjual Kakak pada Juragan dan mengusir Kakak dari rumah. Padahal Kakak hamil juga kalau di tarik hubungannya semua gara - gara Bapak" sambut Ali.
"Sudahlah semua sudah berlalu... Kalau hidup saling memaafkan pasti lebih indah. Jangan ada di dendam, apa lagi kalian bersaudara" nasehat Wijaya.
Wijaya terlihat sedang menatap putrinya lembut penuh kasih sayang. Dewi rasanya sangat iri melihat pemandangan itu.
"Kak Tiara beruntung punya Bapak yang baik seperti Bapak Wijaya" ucap Dewi.
Tiara terkejut mendengar perkataan Tiara.
"Sedangkan Bapak kami taunya hanya mabuk - manukan dan memukul kita semua. Kita gak pernah mendapatkan kasih sayang Bapak. Yang ada hanya ketakutan dan tekanan setiap Bapak ada di rumah" sambung Dewi.
"Dewi... gak boleh bicara seperti itu pada Bapak kamu, walau memang seperti itu kenyataannya. Bagaimana pun akhlak dan tampilan Bapak kalian, dia tetap menjadi Bapak kalian. Kalian perbanyak doa agar teguran Allah untuknya bisa membuatnya berubah" ucap Wijaya.
Siti terlihat sedang menyeka air matanya.
"Hidup adalah rahasia Allah... Kak Tiara juga pernah berjuangan kan sampai dia seperti sekarang ini. Kalian tau apa yang Tiara hadapi dulu? Masing - masing manusia mempunyai jalan hidup yang berbeda-beda. Kembar sekalipun tidak akan punya nasib yang sama" ujar Bintang.
"Iya Kak.. kami hanya merasa.. bahwa kami tidak pernah mendapatkan kasih sayang yang Kak Tiara dapatkan dari Pak Wijaya. Walau setelah sekian lama tidak bertemu tapi Pak Wijaya sangat menyayangi Kak Tiara. Aku bisa melihatnya dari seluruh perhatian Pak Wijaya pada Kak Tiara. Sedangkan kami dulu setiap hari bertemu Bapak tapi hanya ketakutan yang kami rasakan" sambung Dewi. Air matanya mulai menetes di pipi.
"Dewi... maafkan Ibu ya" Siti merasa bersalah kepada anak - anaknya. Karena secara tidak langsung dia yang membuat anak - anaknya menderita seperti ini.
"Sudah.. sudah.. ini kan hari bahagia karena kita bisa berkumpul disini. Mengapa malah kita tangisi. Hapus air mata kalian semua. Dewi dan Ali kalau kalian mau, kalian bisa menganggap Bapak ini sebagai Bapak kalian. Kalian dengan Tiara kan bersaudara sampai kapanpun akan tetap bersaudara. Walau Bapak kalian berbeda tidaklah menjadi penghalang untuk kalian tetap saling menyayangi. Mulai hari ini Bapak akan menjadi Bapak kalian" tegas Bapak Wijaya.
Dewi dan Ali saling pandang. Mereka melirik Tiara dan Siti. Tiara tersenyum menatap kedua adiknya. Tiara sangat tau apa yang Dewi dan Ali rasakan saat ini.
"Terimakasih Pak Wijayaaaaa" ucap mereka berbarengan.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1