Tiara

Tiara
Putusan Hakim


__ADS_3

"Dasar pria bangsa**!" umpat Wijaya.


Pak Bambang menahan bahu Wijaya.


"Tenang Jay, kamu gak perlu repot ngurusin dia, sebentar lagi dia akan dihukum dengan seberat - beratnya. Aku sudah bayar pengacara yang paling bagus di Jakarta ini untuk menuntutnya" ungkap Pak Bambang.


Siti masih menangis dan memeluk Dewi dan Ali.


"Bu.. Bapak gak pernah berubah Bu. Bukannya minta maaf dan malu atas perbuatannya Bapak malah marah - marah dan memaki kita Bu" ucap Dewi sambil sesegukan.


"Sudah nak, Bapak kamu pasti akan mendapatkan ganjaran atas apa yang telah dia lakukan selama ini" jawab Siti.


"Bu... " panggil Tiara.


Gantian kini Siti sudah memeluk Tiara.


"Maafkan Ibu nduk, Ibu gak bisa jaga kamu. Ibu gak tau kalau Bapak kamu setega itu kepada kamu" ucap Siti.


"Sudah Bu... aku ingin melupakan semuanya. Walau aku sangat membenci kejadian malam itu tapi karena itu juga aku bisa bertemu dengan Mas Bintang dan mempunyai Tegar Bu. Semua adalah garis hidup yang harus aku jalani" ujar Tiara.


Tarjo di jaga ketat oleh petugas keamanan. Menunggu hasil keputusan akhir dari hakim.


Satu jam berlalu kini para hakim sudah kembali dan duduk di kursi mereka semula. Setelah melewati waktu yang panjang akhirnya tibalah pembacaan hasil keputusan dari hakim.


"Berdasarkan barang bukti dah kesaksian dari para saksi yang ada pada waktu itu dan atas semua tuntutan dari penuntut maka dengan ini kami memutuskan hukuman penjara seumur hidup kepada terdakwa" tegas Hakim.


Tok.. Tok.. Tok..


Suara palu di ketuk menandakan hukuman sudah jatuh dan tidak bisa diganggu gugat lagi kecuali terdakwa ingin naik banding.


"Tidaaaak... aku tidak terimaaaa" teriak Tarjo.


Lagi - lagi pihak keamanan memegang kuat Tarjo dan mencoba memenangkannya.


"Aku lakukan semua ini demi anak istriku. Aku putus asa karena kehilangan mereka. Dia.. dia.. Tiara Purnama beserta suaminya telah menyembunyikan keluargaku" ucap Tarjo sekuat tenaga.


Hakim sudah bersiap hendak keluar dari ruang sidang dan Tarjo juga akan dibawa ke tahanan.


"Lihat Siti anak kamu sudah berani memenjaraka aku, padahal aku sudah membesarkannya sejak dia berusia sepuluh tahun. Aku tidak bisa menerimanya" ucap Tarjo terus meracau.


"Pak tolong jaga sikap Anda atau Anda akan kami seret paksa keluar dari ruangan ini" ancam seorang penjaga.


"Aku tidak perduli yang penting aku harus menemui wanita jalan* itu" Tarjo menunjuk ke arah Tiara.


Bintang sudah sangat geram dan hendak maju tapi di tahan oleh Pak Bambang.

__ADS_1


"Bin sudaaaah.. tenangkan diri kamu" ucap Pak Bambang.


Siti dan Tiara masih berpelukan dan menangis.


"Semua sudah selesai Ra, dia sudah mendapatkan keputusan yang pantas. Kalau hukuman itu tidak juga membuatnya sadar Ibu gak tau harus mengatakan apa lagi padanya" ucap Siti.


"Lebih baik kita pulang bu, aku gak mau lebih lama lagi di sini" pinta Tiara.


"Ya sudah kita keluar saja" ajak Siti.


Setelah sidang berakhir dan Tarjo di bawa ke penjara satu persatu tamu undangan bubar dari ruang persidangan.


Bintang serta rombongan kembali menuju rumah Bintang. Suasana tegang masih terbawa sampai di sana. Sepanjang perjalanan Siti, Dewi dan Ali hanya diam. Apalagi saat ini mereka berada di mobilnya Wijaya.


Wijaya sangat mengerti keadaan mereka. Pasti mereka semua sangat terpukul dan sedih melihat pria bangsa* itu tadi. Kok bisa ya ada pria yang tidak tau diri seperti itu. Dia sudah menyia - nyiakan wanita seperti Siti. Coba aja dia lepas Siti, aku akan segera menerima Siti dengan segenap hatiku. Apa aku suruh aja ya Siti yang menuntut cerai dia? Ah.. tidak.. tidak.. aku tidak akan berkata seperti itu. Biarlah Siti sendiri yang melakukannya tanpa ada campur tangan dariku. Batin Wijaya.


Kini semuanya sudah berkumpul di ruang keluarga rumah Bintang.


"Gila ya Pak Tarjo, aku tegang banget tadi. Takut lepas kontrol, kalau ikutin kata hati pengen aku tabok tadi mulutnya" ucap Bagas" Bagas sedang duduk berdekatan dengan Roy dan Dian.


"Kalau kamu lakukan itu, jelas kamu tidak akan dapat restu dari Calon Bapak Mertua kamu" sindir Roy.


"Lelaki seperti itu gak pantas juga dimintai restunya" sambut Bagas.


"Iya sih... untung aja mereka semua gak ada yang ngikut tingkahnya Pria bangsa* itu. Tiara, Dewi dan Ali tumbuh menjadi anak yang baik padahal sehari - hari mereka mendapatkan contoh yang gak baik dari pria itu selama bertahun-tahun" ucap Bagas.


"Itu karena Bu Siti mendidik mereka dengan baik" sambut Dian.


"Hah... syukur banget calon istriku mendapat didikan yang baik dari Bu Siti" Bagas melirik mencari keberadaan Dewi.


"Lihatlah Dewi dan Ali terlihat sangat tertekan sekali dan aku yakin mereka pasti malu mempunyai Bapak seperti Tarjo" ujar Bagas.


"Hahaha main sebut nama aja ya Bro, lupa kalau dia calon mertua kamu" goda Roy.


"Pria seperti itu gak patut juga di hargai Roy, bisa ngelunjak dia" balas Bagas.


Sementara Siti, Wijaya, Pak Bambang, Bu Bambang, Dewi dan Ali duduk di sofa yang tak jauh dari Bagas dan teman - temannya. Ridho dan Tari tidak ikut ke rumah Bintang karena anak mereka sedang tidak enak badan.


Tiara dan Bintang baru saja keluar dari kamar untuk berganti baju dan langsung ikut bergabung dengan yang lainnya.


"Bik mana minumnya?" tanya Tiara pada asisten rumah tangganya.


"Iya Nya.. ini sedang di buat" jawab Bibik di dapur.


"Sekalian bawa cemilan ya" sambung Tiara.

__ADS_1


"Iya Nya... " jawab Bibik.


Tiara berjalan menuju ruang keluarga dan berusaha mencairkan suasana yang masih terasa menegangkan.


"Al.. temani Tegar main gih di kamarnya, atau kalian berenang juga gak apa - apa. Dari pada bengong di sini" ucap Tiara.


"Iya Kak... " jawab Ali.


Ali bangkit dari duduknya dan segera mencari keberadaan Tegar di kamarnya. Dia juga sudah lelah memikirkan sikap Bapaknya yang tidak mau berubah.


Tok.. tok..


Ali mengetuk pintu kamar Tegar. Ternyata Tegar sedang menonton film kartun di kamarnya di temani seorang baby sitter yang ditugaskan Bintang khusus menjaga dan memperhatikan Tegar.


"Bik biar aku saja yang jaga Tegar. Aku akan mengajaknya main. Bibik ke bawah aja" perintah Ali.


"Baik Den" jawab Baby Sitter Tegar. Dia segera meninggalkan kamar Tegar.


Ali ikut tiduran di tempat tidur tepat disamping Tegar.


"Hai sayaaang" sapa Ali.


"Hai Ooom" sapa Tegar sambil terus memandangi TV.


"Kamu sudah bertemu Papa dan Mama?" tanya Ali.


"Sudah saat pulang Papa dan Mama langsung ke kamar menemuiku" jawab Tegar bijak. Ali mengelus kepala Tegar dan mulai ikut menatap layar TV.


Sekilas Info...


Telah terjadi kecelakaan lalu-lintas di Jalan xxx. Kecelakaan beruntun ini terjadi ketika sebuah mobil mini bus melintas tiba - tiba di depan mobil lapas yang baru saja keluar dari pengadilan dan akan menuju Lapas XX. Sementara tidak ada korban jiwa tapi kecelakaan tersebut membuat seorang narapidana yang baru saja mendapat hukuman atas percobaan pembunuhan seorang pengusaha sukses bernama Bambang Prakasa, menghilang. Saat ini narapidana tersebut yang bernama Tarjo sudah ditetapkan sebagai buronan.


Ali segera berlari menuju lantai bawah dimana semuanya masih berkumpul di sana.


"Bu, Kak Ara, Mas Bintaaaaaang.. baru saja di TV di siarkan kalau mobil lapas yang membawa Bapak mengalami kecelakaan dan Bapak lari dari mobil itu. Saat ini Bapak sudah menjadi buronan polisi" teriak Ali sambil berlari.


Sontak semua yang ada di situ tegang mendengar teriakan Ali.


"Apa..... "


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2