Tiara

Tiara
Tamu pertama setelah menikah


__ADS_3

Dewi dan Bagas keluar dari kamar mereka.


"Tante Dewiiiii" panggil Tegar.


"Tegar sayaaang" balas Dewi.


Dewi menatap wajah Kakaknya yang sudah cemberut.


"Kamu ini Wi, udah jam berapa coba ini Jam segini baru bangun, kalau Ibu tau udah habis kamu diomelin" ujar Tiara.


Dewi tersenyum membalas ucapan Kakanya.


"Tadi subuh kami udah bangun Kak tapi tidur lagi" jawab Dewi.


"Pasti kalian belum makan kan?" tanya Tiara.


Dewi dan Bagas saling pandang.


"Jangan salahkan Dewi Ra, aku yang salah. Tadi setelah subuh Dewi ingin beranjak ke dapur tapi aku yang menahannya dan kami tidur kembali. Lagian aku tidak memaksa Dewi untuk menyiapkan sarapan pagi. Kalau kami lapar bisa langsung pesan" bela Bagas.


"Iya Mas tapi masakan sendiri lebih sehat" balas Tiara.


"Sana gih masakin suami kamu sarapan pagi" perintah Tiara kepada Dewi.


"Iya Kak" Dewi segera berjalan ke dapur.


Zia kini sudah tertidur di pangkuan Tiara.


"Mas bisa titip Zia gak" pinta Tiara pada Bintang.


"Gas anakku di letakin kemana nih?" Bintang bertanya pada Bagas.


"Di kamar sebelah. Letak aja si embul di kamar tamu Ra. Kamu aja deh Bin yang tunjukin kamarnya" perintah Bagas.


"Yuk yank" ajak Bintang.


Bintang membawa Tiara ke kamar tamu di apartemen Bagas. Dulu sebelum menikah mereka sering bergantian menginap di apartemen masing - masing.


Tiara perlahan meletakkan Zia di atas tempat tidur. Tampaknya Zia sangar ngantuk sekali sehingga dia tidak merasa terusik saat Tiara memindahkan posisi tidurnya.


"Aku mau bantuin Dewi di dapur ya Mas. Tolong di lihatin dan dengerin Zia, siapa tau dia nangis aku gak dengar" pinta Tiara.


"Oke yank, aku ngobrol sama Bagas dan Tegar di ruang TV ya" jawab Bintang.


"Iya Mas" Tiara dan Bintang keluar dari kamar tetapi pintu kamar tidak mereka tutup dengan rapat agar terdengar suara tangisan Zia saat dia menangis.


Tiara menyusul Dewi ke dapur.

__ADS_1


"Kamu lagi masak apa?" tanya Tiara.


"Nasi goreng aja deh kak biar cepat" jawab Dewi yang sudah mulai meracik bumbunya.


"Tuh airnya sudah masak, untuk apa?" tanya Tiara.


"Mau buat kopi untuk Mas Bagas. Setiap pagi dia minum kopi" jawab Dewi.


"Ya sudah sini Kakak buat" sambut Tiara.


"Jangan Kaaak. Biar aku saja. Mas Bagas cuma mau kopi buatan aku" cegah Dewi.


"Kalau gitu kamu buat kopi, Kakak yang buat nasi goreng" ujar Tiara.


"Jangan.. jangan.. biar aku yang ngerjain semuanya. Kakak cukup duduk aja di meja makan ya" perintah Dewi.


"Cieee yang udah punya suami. Udah pinter melayani suami luar dalam kamu ya" goda Tiara.


"Aaaaah Kak Araaa" ujar Dewi.


"Mas Bintang mau kopi?" tanya Dewi.


"Mau, buatin aja untuk mereka" jawab Tiara.


Dewi segera membuat dua gelas kopi dan tiga gelas coklat panas untuk Dewi, Tiara dan Tegar. Tiara memperhatikan Dewi dengan senyuman. Adiknya kini sedang belajar dewasa. Menjadi seorang istri dan sebentar lagi bisa saja akan langsung hamil dan menjadi seorang Ibu.


"Planning apa Kak?" tanya Dewi tidak mengerti.


"Planning rumah tangga. Usia berapa punya anak, mau punya anak berapa banyak, kapan punya rumah dan lainnya" jawab Tiara.


"Ooo... kami tidak menunda - nundanya Kak. Mas Bagas yang memintanya karena usianya yang sudah mulai banyak Mas Bintang udah punya dua anak, Mas Roy juga baru punya anak. Kalau nunggu aku tamat kuliah kasihan dia ketuaan" ungkap Dewi.


"Bagus itu, zaman sekarang udah banyak kok mahasiswi yang ke kampus dalam keadaan hamil. Lagian Kakak yakin kalau kamu hamil Mas Bagas akan jagain kamu dengan sangat baik" balas Tiara.


"Iya Kak. Nih Kak kopinya udah siap. Tolong antarin ke depan ya" pinta Dewi.


"Oke" Tiara mengambil minuman dan mengantarkannya ke ruang TV dimana Bintang, Bagas dan Tegar sedang menonton sambil ngobrol.


Tak lama Tiar kembali sambil membawa bungkusan yang berisi Cake yang tadi mereka beli di jalanan menuju apartemen Bagas


"Apa tu Kak?" tanya Dewi sambil memasak nasi gorengnya.


"Cake, tadi kami beli fi toko roti menuju kemari. Kamu tau, tadi kami bertemu dengan Siska disana" curhat Tiara.


"Siska mantan pacaranya Mas Bintang?" tanya Dewi.


Tiara mengangguk, dia mengambil pisau kemudian mulai memotong cake.

__ADS_1


"Dia bilang apa? Pasti kata - kata sampah kan?" tanya Dewi penasaran.


"Dia bilang Kakak cacat" ungkap Tiara.


"Cih kayak dia sempurna saja. Kakak gak lawan?" tanya Dewi geram.


"Awalnya Mas Bintang belain Kakak tapi saat Mas Bintang dan Tegar sudah pergi menuju mobil. Kakak lawan dia dengan kata - kata. Kamu tau hati Kakak legaaa sekali bisa seperti itu, rasanya plong" ungkap" ungkap Tiara.


"Wah bagus itu, sebuah kemajuan buat Kak Ara" puji Dewi.


"Iya, selama ini Kakak lebih memilih diam dan mengalah dari pada bertengkar. Malu dilihat orang lain. Tapi saat itu Kakak ingat kata - kata kamu dan Ibu. Kakak akan memperjuangkan apapun yang kakak punya. Jangan sampai orang lain merebutnya" ujar Tiara.


"Nah gitu donk itu baru namanya Kakak aku" balas Dewi memberi semangat.


"Ingat Kak, jangan sekalipun Kakak merasa saat ini Kakak lebih buruk dari dia. Kakak itu jauh lebih baik dan sempurna dari dia. Dan Kakak harus yakin dan percaya kalau Mas Bintang benar - benar sudah melupakannya. Hanya Kakak lah saat ini cinta di hatinya. Aku saja percaya itu masak kakak nggak?" sambung Dewi.


"Iya Wi, selama ini rasanya Kakak sangat takut melawan orang yang membully atau mengejek Kakak tapi Kakak sudah berjanji pada diri sendiri mulai saat ini dan seterusnya Kakak akan melawan siapapun yang merendahkan harga diri Kakak" jawab Tiara penuh semangat.


"Good... naaah udah siap nih nasi gorengnya. Coba tanyain Mas Bintang dan Tegar, mereka mau gak nasi goreng ini?" tanya Dewi.


"Kami tadi sudah sarapan di rumah. Suami kami gih yang dikasih sarapan biar kuat dan tambah perkasa nanti malam" goda Tiara.


"Kak Araaaaa" Teriak Dewi.


"Hahaha... duh pengantin baru yang sedang honeymoon di rumah aja berdua" ledek Tiara.


"Kak Araaa jangan gitu donk. Aku kan malu" balas Dewi.


"Hahaha... Yuk kita ke depan" ajak Tiara.


Dewi dan Tiara melangkah ke depan. Dewi membawa dua piring nasi goreng untuk dia dan suaminya sedangkan Tiara membawa sepiring cake yang tadi sudah dia potong - potong.


Bagas dan Dewi sarapan sepiring berdua sedangkan satu piring lagi untuk Bintang dan Tegar. Ternyata mereka berminat makan nasi goreng buatan Dewi.


Dewi menyuapi suaminya dan makan sepiring berdua sedangkan Tiara sibuk dengan bayi besar dan sedangnya. Sementara bayi kecilnya masih tidur terlelap di kamar tamu apartemen Bagas.


"Kalian gak honeymoon gitu?" pancing Bintang.


"Nanti setelah acara resepsi kami. Kan rencananya seperti itu tapi ternyata rencana Allah lebih indah. Walau di rumah saja tapi tidak kalah kok indahnya. Ya kan yank?" tanya Bagas pada istrinya.


Dewi hanya menjawabnya dengan senyuman. Hari itu Bagas dan Dewi kedatangan tamu pertama di apartemennya setelah mereka menjadi pasangan suami istri. Dan tamu mereka adalah keluarga kecil Bintang.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2