
Akhir pekan sudah tiba, Bagas dan Bintang sudah janji mau ke rumah Pak Wijaya untuk nguras kolam ikannya. Pak Bambang yang mendengar rencana mereka langsung minta ikut serta. Alhasil mereka ke Bandung ramai - ramai.
Bagas, Bintang dan keluarganya langsung bergerak menuju rumah Pak Wijaya. Disana sudah ada Siti, Dewi dan Ali yang lebih dahulu sampai.
Sudah hampir sepekan Bagas dan Dewi tidak saling berhubungan. Nomor ponsel Dewi sampai sekarang tidak bisa di hubungi Bagas. Entah karena nomornya di blokir atau memang Dewi tak mau menerima handphone pemberian Bagas.
Pak Wijaya menyambut kedatangan mereka di teras depan rumah.
"Selamat datang kembali" ujar Pak Wijaya kepada Pak Bambang.
"Hahaha.. kami datang tanpa undangan Jay, Bintang cerita katanya sudah janjian sama kamu mau kuras kolam ikan. Aku jadi ingin ikutan" balas Pak Bambang.
"Tidak masalah Bam, masak kamu main ke rumahku harus pakai undangan. Kapan saja kamu bisa datang. Selain kira besanan kita juga kan teman lama" jawab Pak Wijaya.
"Opaaaaa aku datang" teriak Tegar.
"Sayang Opa. Opa kangen sama kamu" Pak Wijaya langsung menggendong Tegar.
Mereka saling berjabat tangan dan berpelukan. Semua sudah berkumpul di ruang keluarga rumah Wijaya.
"Siti kami turut berduka atas meninggalnya suami kamu ya, saat mendengar beritanya maaf kami tidak bisa datang ke sini karena Mas Bambang lagi gak enak badan" ucap Sekar Mamanya Bintang.
"Gak apa - apa Kar, aku mengerti kok. Sekarang semua sudah berakhir. Semoga dia mendapat ketenangan di sana" jawab Siti.
"Kami tidak menyangka akan terjadi peristiwa seperti itu Sit. Walaupun dia memang pantas mendapatkan hukuman berat tapi kami tidak pernah berharap dia tewas seperti itu" sambut Pak Bambang.
"Iya Mas aku mengerti" balas Siti.
"Gimana keadaan kamu Wi?" tanya Sekar.
"Baik Tante, aku baik - baik saja" jawab Dewi.
Semua tingkah laku Dewi tak luput dari pandangan Bagas.
"Syukurlah kamu tidak apa - apa. Jangan terlalu larut dalam kesedihan ya. Ikhlaskan saja semua yang sudah terjadi" ujar Sekar kepada Dewi.
"Iya Tante" balas Dewi.
"Gimana perkembangan hukum Ida?" tanya Pak Bambang.
"Kata polisi sini Ida sudah di bawa ke Jakarta Bang, nanti kalau sidang, Siti akan di kabari oleh pihak kepolisian ataupun pengadilan" jawab Wijaya.
Pak Bambang bernafas lega.
__ADS_1
"Aku sama sekali tidak menyangka semua ini akan terjadi. Ternyata Ida itu anak kandungnya Tarjo pantas dia mau diajak kerjasama untuk menjebak Tiara dulu" ujar Pak Bambang.
"Begitulah kalau sifat iri dan dengki sudah menguasai, segala cara akan dilakukan untuk memenuhi hasrat mereka yang haus akan dunia" sambut Pak Wijaya.
Tak lama asisten rumah tangga Pak Wijaya datang menyuguhkan teh panas dan singkong goreng.
"Waaah enak sekali Opa, aku sukaaa" teriak Tegar begitu melihat makanan yang tersaji di depannya.
Pak Wijaya tersenyum bahagia melihat cucunya berteriak kegirangan.
"Cuma singkong goreng sudah membuat kamu sebahagia ini nak" ucap Pak Wijaya.
"Dia emang suka banget Pak singkong goreng" balas Tiara.
"Iya ya.. kalau begitu Opa nanti akan bawakan kamu singkong yang banyak ke Jakarta hahaha... oleh - oleh kok singkong ya Gar" tawa Pak Wijaya sangat bahagia.
Pak Wijaya melirik ke arah Bagas yang terus menerus melirik ke arah Dewi, sedangkan Dewi dari tadi hanya diam dan membuang muka tak mau membalas tatapan Bagas.
Sepertinya ada sesuatu yang terjadi dengan dua anak ini. Nanti aku akan tanyakan kepadanya. Batin Pak Wijaya.
"Gas gimana pekerjaan kamu, dari tadi bengang bengong" sapa Pak Wijaya.
"Ha.... eh baik Pak, semua lancar terkendali" jawab Bagas terkejut.
"Kamu masih muda kok doyan melamun Gas, nanti kesambet hantu teh baru tau" sindir Wijaya.
"Dia lagi patah hati Pak" bisik Bintang ke telinga Pak Wijaya.
"Kok bisa?" tanya Pak Wijaya balik berisik.
"Bisalah, cintanya di tolak Dewi hahaha" Bintang merasa lucu melihat nasib sahabatnya sang mantan Casanova.
"Maju terus Gas pantang mundur" ujar Wijaya memberi semangat.
"Terimakasih Pak" balas Bagas.
"Malam ini kita istirahat saja ya, besok agak siangan dikit baru kita mulai kuras kolam. Para wanita menyiapkan bumbu masaknya ya. Bisa kan Sit?" tanya Pak Wijaya.
"Bisa Mas, aku akan menyiapkan semuanya" jawab Siti.
"Kalau begitu ayo kita makan malam. Kalian pasti sudah sangat lapar kan?" ajak Pak Wijaya.
Semua berjalan menuju ruang makan dan masing-masing mengambil posisi duduk mereka. Di ujung ada Pak Wijaya disamping kirinya ada Pak Wijaya dan istrinya kemudian Tegar dan Bagas di ujung. Di hadapan Pak Wijaya duduk Bintang di ujung meja satu lagi. Sementara di sisi kanan Pak Wijaya ada Siti, Ali, Dewi dan di ujung di dekat Bintang ada Tiara.
__ADS_1
Dewi dan Bagas duduk berhadapan hampir segaris lurus. Situasi itu membuat Dewi sangat canggung dan tak mau melirik ke depan. Dia lebih banyak menunduk.
Ingin sekali rasanya Bagas menyapanya. Menanyakan kabar Dewi, mengapa ponselnya tak aktif, apakah Dewi memakai handphone yang kemarin Bagas belikan. Apakah Dewi masih marah dan Bagas ingin meminta maaf.
Tapi Bagas tak berani menanyakannya sekarang, biarlah tunggu waktu yang tepat untuk mereka bisa bicara berdua saja. Semoga pada saat itu Dewi sudah tidak marah lagi kepada Bagas. Begitulah doa yang selalu Bagas ucapkan dalam hatinya.
Makanan sudah terhidang di atas meja makan.
"Ayo semua makan, jangan sungkan ya" ajak Pak Wijaya mempersilahkan.
"Enak semua ini Jay.. sayuran dari hasil kebun sendiri ya.. pasti sehat sekali" sambut Pak Bambang.
"Iya Bam.. ayo di makan" balas apakah Wijaya.
"Mama aku mau ikan goreng" pinta Tegar.
"Sebentar ya sayang, biar Oma saja yang ambilkan" ujar Sekar yang duduk di samping Tegar.
"Om Bagas kok dari tadi liatin Tante Dewi terus, emangnya kalau liat Tante Dewi bisa kenyang ya" tanya Tegar polos.
"Uhuk.... " Bintang tersedak mendengar omongan anaknya. Ingin rasanya dia mengejek Bagas tapi malah tersedak
Tiara menepuk lembut punggung suaminya.
"Maaas pelan - pelan donk makannya" ujar Tiara.
"Mampus lo bro kualat kan? pasti tadi lo mau ngetawain gue karena pertanyaan anak lo?" bisik Bagas kesal melihat tampang Bintang yang usil banget kepadanya sejak tiba di rumah Pak Wijaya sore ini.
Wajah Bintang merah karena tersedak. Rasa sakit di tenggorokannya mengurungkan niatnya untuk mengejek Bagas.
"Ayo Om Bagas makan, jangan bisik - bisik terus sama Papa. Papa kan lagi batuk" ujar Tegar.
"Iya sayang, anak Bintang yang baweeel cerewet tapi pintar dan tampan. Om sekarang makan ya... " jawab Bagas.
Kalau perkataan Tegar tidak di tanggapi nanti dia akan terus mengoceh. Ternyata bukan hanya wajah saja yang mirip banget wajah Bintang tapi sikap ngeselin Tegar itu juga turun banget ke Tegar.
Membuat Bagas pengen banget nyubit pipi Tegar tapi takut Tiara marah karena anaknya di sakiti.
Wijaya tersenyum melihat tingkah cucunya terlebih sikap Bagas yang galau.
Hahaha anak muda ada saja tingkahnya. Batin Wijaya sambil tersenyum tipis.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG