Tiara

Tiara
Memesan Gaun Pernikahan


__ADS_3

Akhirnya setelah selesai sarapan pagi, Siti dan Pak Wijaya bersiap dan ikut pergi ke Butik kenalan keluarga Bagas untuk ukur baju. Berhubung pernikahan Bu Siti dengan Pak Wijaya sekitar tiga bulan lagi makan mereka sekalian saja merancang busana pernikahan mereka.


"Kami pergi dulu ya Ra" ujar Bu Siti kepada Tiara dan Bintang.


"Iya Bu hati - hati" jawab Tiara.


"Aaah lega aku Pak, kalian jadinya ikut dengan Bagas dan Dewi. Kalau melepas mereka pergi berdua membuat aku jadi lebih khawatir. Karena gerak - gerik Bagas sungguh mencurigakan Pak. Aku sangat tau dia sudah gak sabar" sindir Bintang.


"Dua tahun aja aku mau nunggu Bin, masak hanya beberapa bulan lagi aku gak bisa" protes Bagas.


"Hahaha... kecewa nih ye gak bisa jalan berdua" goda Bintang.


"Kalian ini senang sekali bertengkar" Ujar Pak Wijaya sambil menggelengkan kepalanya.


"Becanda Pak" jawab Bintang


"Yuk Gas kita pergi" ajak Pak Wijaya.


Siti, Dewi, Bagas dan Pak Wijaya masuk ke dalam mobil Bagas dan segera melaju meninggalkan rumah Bintang. Satu jam kemudian mereka sampai di sebuah Butik langganan Mamanya Bagas.


"Semoga Butik ini bukan Butik langganannya Mama Mas Bintang ya" ujar Dewi.


"Emangnya kenapa Wi?" tanya Bagas penasaran.


"Ada Siska ular kepala dua sebagai langgannannya, dia ngerusak gaun Kak Ara yang akan di pakai untuk acara tujuh bulanan tadi malam. Akhirnya Kak Ara gak jadi pakai gaunnya" jawab Dewi.


"Ya ampun, kamu serius Wi?" tanya Bagas.


"Serius donk Mas, masak cerita begitu hanya untuk candaan, serem kan" jawab Dewi.


Bagas terkejut mendengar penjelasan Dewi. Semoga di sini mereka tidak bertemu dengan salah satu mantannya Bagas. Karena bisa saja cerita Bintang terjadi juga dengannya.


"Bagas kan? Anaknya Pak Reksajaya?" tanya pemilik Butik.


"Iya Tante" jawab Bagas ketika pemilik Butik menyamperin mereka.


"Kata Mama kamu, kamu mau bawa calon istri kamu untuk ukur tubuhnya dulu" wanita yang di panggil Bagas dengan panggilan Tante.


"Iya Tante, sekalian aku juga bawa calon mertua aku untuk pesan gaun juga" jawab Bagas.


"Ini calon kamu?" tanya wanita itu menunjuk ke arah Dewi, karena gak mungkin Siti mengingat wajah Siti cukup tua dibanding Bagas


"Iya Tante" jawab Bagas sambil tersenyum.


"Cantik dan muda sekali. Pinter kamu ya cari daun muda" puji wanita itu kepada Bagas.


Bagas hanya menjawab dengan senyuman sedangkan Dewi hanya bisa tertunduk malu.


"Kalau begitu ayo mari kita masuk ke dalam untuk ukur baju ya" ajak pemilik Butik untuk masuk ke ruangan menjahit.


Mereka berempat berjalan masuk ke ruangan jahit mengikuti si pemilik Butik.


"Jadi semuanya mau kita ukur?" tanya wanita itu.

__ADS_1


"Iya" jawab Bagas.


"Kalau begitu kita coba Ibu dan Bapak dulu ya" jawab wanita itu ramah.


Siti dan Pak Wijaya di ukur oleh pegawai Butik dan seorang designer.


"Ini gaunnya buat acara apa?" tanya pemilik Butik.


"Acara pernikahan" jawab Siti.


"Pernikahan putrinya?" tanya wanita itu lagi.


"Bukan, buat pernikahan saya" jawab Siti malu.


"Lho Ibu dan Bapak ini ternyata belum menikah toh saya kiraaa....." ucap wanita itu.


"Sudah dua puluh sembilan tahun yang lalu, sekarang mau menikah lagi untuk yang kedua kali" potong Pak Wijaya.


"Oo begitu" jawab wanita itu. Dia sungkan untuk bertanya lebih karena itu adalah urusan pribadi clientnya.


"Ibu pengen konsep gaun yang bagaimana?" tanya wanita itu.


"Saya mau yang nyaman dan disesuaikan saja dengan usia saya. Saya malu kalau harus yang mengikuti trend anak muda masa kini. Tapi yang paling utama tentu saja saya ingin tampil cantik" jawab Siti malu.


"Tenang saja Bu, Ibunya sudah cantik dari sononya. Nanti saya akan rancang gaun yang tak kalah cantik khusus buat ibu agar saat Ibu menikah nanti Bapak akan terpesona melihat kecantikan Ibu" ujar wanita itu ramah.


Siti tersenyum mendengarnya


"Si Bapak kita sesuaikan aja ya jasnya dengan gaun si Ibu" sambung wanita itu.


"Si Bapak ternyata walau sudah tua tetap romantis ya" puji wanita itu.


Bintang dan Dewi saling lirik dan tersenyum mendengar pujian sang pemilik Butik.


"Kira - kira kapan gaunnya ingin kita siapkan?" tanya wanita itu.


"Sekitar tiga bulan lagi, untuk tanggal pastinya nanti akan kami kabari lagi" jawab Bagas.


"Baik kalau begitu untuk si Bapak dan Ibu sudah selesai ya" balas wanita itu.


Siti dan Pak Wijaya kembali duduk di sofa.


"Sekarang kamu Gas sama calon istri kamu yang cantik ini" perintah wanita itu kembali.


Bagas dan Dewi berdiri untuk di ukur.


"Kalau kalian mau konsep yang bagaimana?" tanya wanita itu.


"Kamu pengen yang gimana Wi?" tanya Bagas.


"Aku gak ngerti Mas, terserah aja" jawab Dewi polos.


"Tante tolong buat dua gaun yang cantik ya. Satu untuk gaun akad dan yang ke dua untuk resepsi. Keduanya harus cantik, agar aku pangling melihat istriku eh calon maksudnya" pinta Bagas semangat.

__ADS_1


Siti dan Pak Wijaya tersenyum melihat tingkah Bagas itu.


"Okey karena kalian adalah pasangan muda walau kamu udah setengah tua" sindir wanita itu.


"Tante akan buat gaun yang sangat indah untuk kalian" sambungnya.


"Terimakasih Tante" sambut Dewi.


Dewi dan Bagas selesai di ukur.


"Kamu kapan akan melangsungkan pernikahan?" tanya pemilik Butik.


"Empat atau lima bulan lagi Tante, yang jelas setelah Ibu dan Bapak menikah" jawab Bagas.


"Oh.. syukurlah tidak terburu - buru. Jadi Tante bisa fokus untuk mempersiapkan gaun Ibu dulu baru setelah itu mengerjakan gaun pernikahan kalian" ungkap Wanita itu.


"Sudah siap Tante?" tanya Bagas.


"Sudah.. sudah... silahkan di minum dulu" seorang pegawai datang membawa beberapa botol air mineral.


"Terimakasih" jawab mereka.


Mereka segera meminum minuman yang sudah disediakan untuk mereka.


"Kalau begitu kami pamit ya Tante" ucap Bagas.


"Eh iya silahkan di lanjut. Pasti masih banyak yang mau di cari" jawab pemilik Butik.


"Tentu donk Tante" balas Bagas.


Siti, Dewi, Pak Wijaya dan Bagas berpamitan dengan pemilik Butik lalu mereka bergegas keluar dari Butik dan masuk ke dalam mobil.


Setelah mereka semua sudah masuk ke mobil Bagas menyalakan mobilnya dan bergerak meninggalkan Butik itu.


"Pak kita ke toko perhiasan ya, Bapak gak mau cari cincin pernikahan?" tanya Bagas.


"Boleh.. boleh.. untung kamu ingatkan. Bapak hampir lupa apa saja yang di butuhkan dalam pernikahan" jawab Pak Wijaya.


"Yang penting syarat utamanya sudah ada Pak" jawab Bagas.


"Apaan Gas?" tanya Pak Wijaya serius.


"Calon pengantinnya ada dan dipastikan kalau keduanya berlainan jenis" jawab Bagas sambil bercanda.


"Ah kamu Gas ada saja" balas Pak Wijaya.


Mereka semua tertawa bersama di dalam mobil. Hari ini bukan hanya Bagas dan Dewi saja yang sedang berbahagia. Tapi Pak Wijaya dan Siti juga ikut merasa bahagia dan muda kembali.


Pernikahan ke dua mereka kali ini sungguh sangat berbeda dengan pernikahan mereka yang pertama tapi rasa cinta di hati mereka tetap sama bahkan sekarang lebih.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2