Tiara

Tiara
Berdamai Part. 1


__ADS_3

Bintang bersama para rombongan sampai di rumah Pak Wijaya.


"Assalamu'alaikum... " panggil mereka.


"Eyaaaaaang" teriak Tegar tak sabar ingin bertemu eyangnya.


"Wa'alaikumsalam. Maaaas Tegar datang" sambut Bu Siti sumringah melihat banyak tamu yang datang.


"Lho kok datang rame - rame gak kasih kabar?" tanya Pak Wijaya terkejut.


"Sengaja Pak biar jadi kejutan" jawab Tiara.


Tiara memeluk Bapak dan Ibunya begitu juga Dewi dan yang lainnya.


"Gimana kehamilan kamu Wi?" tanya Pak Wijaya.


"Alhamdulillah sehat Pak" jawab Dewi.


"Kuliah kamu?" tanya Pak Wijaya lagi.


"Alhamdulillah lancar juga" balas Dewi.


"Eh Gaaaas gimana kabar kamu, masih ngidam?" tanya Pak Wijaya pada Bagas.


"Alhamdulillah Pak baru beberapa hari ini sembuh, sekarang aku sudah enak makan" jawab Bagas.


"Pantasan tubuh kamu rada kurusan. Tapi kamu tenang saja sebentar lagi pasti nambah lagi berat badan kamu. Lihat Bapak sekarang tambah gemuk. Bapak sampai kewalahan menjaga berat badan Bapak. Sekarang jadi sering jalan pagi sama Ali" ujar Pak Wijaya.


"Ya habis Ibu masaknya enak - enak terus Pak" sambut Bagas.


"Ayo masuk - masuk" ajak Pak Wijaya.


Bu Siti langsung mengambil Zia dari dalam gendongan Tiara dan membawanya masuk ke dalam rumah.


Tiara dan semua rombongan masuk ke dalam rumah Pak Wijaya. Mereka duduk bersama di ruang keluarga.


"Dian kalau mau bawa si kecil istirahat di kamar silahkan, kamarnya ada di atas" pesan Bu Siti.


"Iya Bu" jawab Dian.


"Wi tunjukkan kamar Ali untuk Dian sekalian kamu juga bisa bawa Zia istirahat ya. Kamar Ali tadi udah disiapkan Bibik kok" perintah Siti kepada Tiara.


"Iya Bu" sambut Dewi


"Sini Kak aku bawa Zia ke atas" pinta Dewi.


"Gak usah biar Kakak aja yang bawa. Kamu kan lagi hamil gak boleh gendong yang berat - berat mana naik tangga lagi. Ya sudah yuk kita ke atas, Kakak titip tolong jagain Zia ya" ujar Tiara.


"Iya" balas Dewi.


Tiara, Dewi dan Dian naik ke lantai atas.


"Kalian baru dari mana, kok pakai baju hitam semua seperti baru pulang dari pemakaman?" tanya Pak Wijaya curiga.


"Kami memang baru pulang dari pemakanan Pak" jawab Bintang.

__ADS_1


"Siapa yang meninggal?" tanya Pak Wijaya terkejut.


"Siska Pak" jawab Bagas.


"Innalillahi.. Siska mantan pacarnya Bintang dulu kan?" tanya Pak Wijaya tak percaya.


"Iya" balas Bintang.


"Sakit apa Bin?" tanya Bu Siti penasaran.


"Kanker serviks Bu" balas Bintang.


"Ya Allah.. sedih sekali nasibnya" ujar Bu Siti.


"Ya begitulah Bu. Tapi syukurnya di akhir - akhir hidupnya dia sudah menyelesaikan semua hutang piutangnya. Dia sudah meminta maaf kepada kami semua dan memilih untuk menghabiskan sisa hidupnya di kampung halaman orang tuanya di Bandung ini. Tadi dia sudah dimakamkan di samping makam kedua orang tuanya sesuai dengan keinginannya" balas Bintang.


"Alhamdulillah.. diakhir hidupnya dia masih sempat memperbaiki dirinya ya" ucap Bu Siti.


"Bu makan malam sudah disiapkan? Mereka pasti udah capek biar bisa langsung istirahat" tanya Pak Wijaya.


"Udah Pak, sudah disiapkan Bibik. Tunggu sebentar Ibu lihat dulu" jawab Bu Siti.


Bu Siti melangkah menuju dapur mempersiapkan makanan untuk semua keluarga besarnya.


Malam itu mereka makan malam bersama sambil berbincang - bincang dan mereka menghabiskan weekend bersama keluarga di Bandung. Baru hari minggunya mereka kembali ke Jakarta.


*****


Satu minggu kemudian.


"Wa'alaikumsalam.Ya Bu?" tanya Dewi.


"Kamu sehat?" tanya Bu Siti.


"Alhmdulillah aku sehat Bu. Ibu dan Bapak gimana kabarnya?" tanya Dewi.


"Alhamdulillah sehat" jawab Bu Siti.


"Ada apa Ibu telepon? Apa ada perlu?" tanya Dewi penasaran karena baru sehari yang lalu dia bertelepon panjang dengan I Ibunya.


"Wii... baru dapat telepon dari penjara tempat Ida di tahan" ucap Bu Siti perlahan.


"Iya, ada apa dengan Mbak Ida?" tanya Dewi semakin penasaran.


"Ida sakit Wi, dan dia ingin bertemu dengan kita semua. Ibu, Kak Ara, kamu dan Ali" jawab Bu Siti.


"Trus?" tanya Dewi bingung, dia tidak tahu apa yang harus dia katakan kepada Ibunya mengenai Ida.


"Ya kita akan pergi ke sana. Besok Bapak, Ibu dan Ali akan ke Jakarta. Kita ketemuan di rumah Kakak kamu ya" ajak Bu Siti.


"Ngapain kita kesana Bu. Biar saja dia menjalani hukumannya. Dia pantas mendapatkan hukuman yang setimpal atas semua dosa - dosanya" ujar Dewi.


"Huusss... kamu gak boleh begitu. Walau bagaimanapun dia Kakak kandung kamu. dia juga anak Bapak kamu" balas Bu Siti.


"Tapi dia punya banyak dosa Bu sama keluarga kita. Sama Kak Ara, Aku, yang berimbas pada Ibu dan Ali kan. Ngapain sih kita jenguk dia" protes Dewi.

__ADS_1


"Berbuat baik pada orang ada pahalanya Nak. Saat ini dia gak punya siapa - siapa lagi. Mungkin ada sesuatu yang ingin dia sampaikan kepada kita" ujar Bu Siti.


Dewi menarik nafas panjang.


"Baiklah Bu, sampai ke temu besok ya, aku akan bilang sama Mas Bagas agar dia mengantar aku besok ke rumah Kak Ara" jawab Siti.


"Alhamdulillah. Kalau begitu sampai ketemu besok ya Nak. Hati - hati, jaga kesehatan dan kandungan kamu" pesan Bu Siti.


"Iya Bu. Assalamu'alaikum" tutup Dewi.


"Wa'alaikumsalam" balas Bu Siti.


Keesokan harinya Bagas dan Dewi datang ke rumah Tiara. Ternyata di sana Bu Siti, Pak Wijaya dan Ali sudah sampai kira - kita sepuluh menit yang lalu.


Bu Siti langsung mengajak anak - anaknya untuk berangkat ke rumah sakit rujukan penjara. Mereka mencari kamar rawat inap Ida. Bintang, Pak Wijaya dan Bagas juga ikut serta bersama mereka.


Tok.. Tok.. Tok..


"Yaaa.. " sambut yang di dalam dengan lemah.


Mereka masuk satu persatu


"Tiara, Bu Siti... " ucap Ida.


Bu Siti dan Tiara tersenyum tulus kepada Ida dan mereka sangat iba melihat keadaan Ida yang lemah.


"Kamu sakit apa Da?" tanya Ara.


Ida adalah sahabatnya sedari kecil di kampung mereka dulu. Sampai kuliah mereka sering pergi bareng kemana-mana. Baik urusan sekolah ataupun jalan - jalan bersama teman - temannya.


"Aku sepertinya salah makan Ra. Sudah tiga hati muntah dan terus - terusan BAB* jawab Ida lemah.


Siti mengelus lembus tangan Ida.


" Cepat sembuh ya Da. Ini Ibu ada bawa sedikit oleh - oleh untuk kamu. Mudah - mudah bisa kamu makan" ucap Bu Siti.


Seketika mata Ida berkaca - kaca menatap Bu Siti, Tiara, Dewi dan Ali bergantian.


Kemudian dia menangis terisak.


"Kalian sangat baik kepadaku... walaupun aku sudah banyak berbuat salah pada kalian tapi kalian masih berbaik hati datang ke sini untuk melihat aku" ucap Ida sambil menangis.


"Da.... udah jangan menangis. Kamu ini kan teman aku, sahabat aku dan bahkan sekarang kamu juga saudara kami" sambut Tiara lembut.


"Kamu baik sekali Ra. Aku sudah jahat pada kamu, aku iri melihat prestasi kamu sehingga rasa iri itu membuat aku berbuat jahat kepada kamu" sambung Ida.


"Sudah Da.. semua sudah berlalu" balas Tiara.


"Tidak Ra, aku tidak akan tenang sebelum bertemu kalian semua untuuuk meminta maaf" Jawab Ida.


"Bu, Ra, Dewi dan Ali... maaf kan semua kesalahanku pada kalian ya... dan tolong jangan biarkan aku sendiri... Aku tidak punya saudara lagi di dunia ini. Aku tidak punya siapa - siapa lagi di sini" isak Dewi dan air matanya deras mengalir dari sudut matanya.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2