
"Iya, anaknya Tiara laki - laki. Kamu melihat wajah anaknya Tiara?" selidik Dian.
"Tidak sempat, mereka sudah masuk ke dalam taxi. Padahal aku ajak dia pulang bareng tapi dia menolak" ungkap Bintang.
"Tiara ku bukan wanita gampangan bro" ucap Roy.
"Tiara kamu? Sejak kapan Tiara jadi milik kamu?" tanya Bintang.
"Sejak hari ini. Aku sudah memutuskan untuk mengejarnya mulai hari ini. Tiara bersiaplah.. Babang akan mengejarmu sayaaaang" oceh Roy.
"Aku rasa dia masih mabuk darat baru turun dari pesawat. Otaknya masih nyangkut di baling-baling pesawat" ucap Dian.
"Hahahah.. bisa jadi" sambung Bintang.
"Ayo makaaan" Dian menawarkan para sahabatnya untuk makan makanan yang baru di hidangkan karyawan Cafenya. Menu terbaru Cafe mereka.
"Menu baru Yan, sepertinya aku belum pernah lihat menu ini?" tanya Dian.
"Iya resep dari Tiara. Dia ciptakan hidangan ini di Bandung dan laku keras jadi kami coba buat di sini" ungkap Dian..
"Dan hasilnya?" tanya Roy.
"Laku keras" jawab Dian.
"Emmm.. memang enak sih" sambut Bintang setelah menyicip hidangan yang tersedia.
"Ternyata calon istriku selain cantik, bonus anak trus pandai masak lagi. Sepertinya aku bakalan bertahan di rumah terus" ucap Roy.
"Haaaah susah kalau sudah mabuk cinta" sindir Bintang.
Dian hanya tersenyum sambil menatap Bintang menghabiskan menu baru cafe mereka.
Aku berharap kamu yang seperti itu Bin, kasihan anak kamu sudah terlalu lama hidup tanpa kamu. Seandainya kamu menatap wajah Tegar aku yakin kamu pasti akan merasa wajah Tegar mirip kamu. Kamu sih, kalau minum dikit aja gak perlu sampai mabok langsung linglung seperti orang lupa ingatan. Masak bisa gak ingat wajah Tiara. Mudah - mudah semakin sering kalian bertemu kamu jadi ingat. Batin Dian.
Satu jam kemudian.
"Pulang yuk Bin, aku udah ngantuk. Baru nyampe Jakarta langsung ke sini" ajak Roy.
"Siapa yang suruh kamu ke sini?" sindir Dian.
"Aku kan kangen kalian" sambung Roy.
"Alesaaaaan bilang aja mau tau kabar Tiara" goda Bintang.
"Hahaha... tau aja kamu Bin" balas Roy.
Bintang dan Roy pulang setelah berpamitan dengan Dian.
*****
Pagi ini Tiara dan Tegar akan ke Jakarta dengan mengendarai mobil. Tiara berencana untuk menyetir sendiri mobilnya pelan - pelan lewat jalan tol.
__ADS_1
Tiara sudah mempersiapkan cemilan untuk makanan Tegar di jalan. Untung saja Mas Roy dan Mbak Dian ngajak bertemunya malam jadi tidak terlalu terburu - buru waktunya.
Setelah sampai Jakarta Tiara akan menitipkan Tegar di rumah Ridho dan Tari, sementara Tiara pergi ke Cafe.
Sudah setengah tahun Tiara tidak pernah kembali ke Jakarta. Kali ini entah mengapa rasanya kangen sekali dengan Kota itu. Kota yang telah banyak kenangan dan kepahitan hidup.
Jam dua belas siang Tiara sudah sampai di Jakarta. Sebelum menuju rumah Ridho, terlebih dahulu Tiara mengajak Tegar untuk mengisi perut mereka.
Tiara menepikan mobilnya di sebuah warung nasi pinggir jalan.
"Kita makan di sini saja ya sayang.. " ajak Tiara.
Warung nasi ini adalah warung nasi favorit Tiara dulu waktu dia masih kuliah. Letaknya tak jauh dari daerah rumah orang tua Tiara.
Sering sepulang kuliah dia membeli nasi bungkus di sini dan membawanya pulang untuk dia dan adik - adiknya saat Ibunya bekerja di Pabrik.
Sudah lima tahun yang lalu, sudah lama sekali mungkin penjual di warung nasi ini sudah lupa pada Tiara.
"Untuk makan berapa orang Bu?" tanya penjual nasi.
"Untuk dua orang Bu, nasi campur ya" pinta Tiara.
"Lauknya pakai apa?" tanya penjual.
"Yang satu ayam goreng, satu lagi ikan gulai pakai sambal terasi ya Bu" jawab Tiara.
"Baiklah, silahkan duduk" ucap sang penjual.
"Tiara.... " panggil seorang wanita.
Tiara melihat ke arah suara yang memanggilnya.
"Ibu.... " Tiara langsung mendekati wanita itu dan memeluknya.
"Apa kabar kamu nak?" tanya Siti dan mulai menangis.
"Alhamdulillah aku baik. Ibu sehat kan?" tanya Tiara. Mereka sama - sama menangis.
"Gimana kabar adik - adik Bu? mengapa aku tidak bisa menghubungi nomor Ibu lagi?" tanya Tiara sedih.
"Adik kamu baik. Maaf nak, Bapak marah waktu Ibu menghadiri wisuda kamu. Sejak saat itu HP Ibu di ambil Bapak dan di jual. Ibu dan adik - adik kamu tidak boleh bertemu kami lagi" jawab Siti.
"Dewi dan Ali sudah SMP ya Bu sekarang, pasti mereka sudah besar. Kangen sama mereka" ucap Tiara.
"Iya, Dewi kelas tiga SMP dan Ali kelas satu. Kamu makin cantik nak, dimana kamu sekarang?" Siti balik bertanya.
"Aku sekarang di Bandung Bu, oh iya ini Bu cucu Ibu. Tegar salim Eyang sayang" perintah Tiara pada anaknya.
"Gantengnya cucu Eyang. Siapa nama kamu sayang?" tanya Siti.
"Namaku Tegar, Eyang" jawab Tegar sambil mencium tangan Eyangnya.
__ADS_1
"Kamu sudah besar sekali" Siti menggendong cucunya gemas.
"Ibu ngapain di sini?" tanya Tiara.
"Ibu lagi beli nasi buat adik kamu. Ali lagi sakit gak selera makan. Jadi Ibu beliin nasi di warung biar dia selera makan" ujar Siti.
"Kita makan dulu yuk Bu?" ajak Tiara.
"Sebenarnya Ibu mau sekali nak, tapi kasihan adik kamu udah nungguin Ibu dari tadi. Dia pasti sudah kelaparan" jawab Siti.
"Jadi gimana donk, aku masih kangen Ibu. Aku ke rumah ya" rengek Tiara.
"Jangan nak, ada Bapak kamu. Nanti dia marah jika melihat kamu" tolak Siti.
"Bu, aku sekarang sudah bekerja di Bandung mengelola Cabang Cafenya Mbak Dian" ucap Tiara.
Tiara membuka tas dan dompetnya kemudian mengambil beberapa lembar uangnya dan memberikannya kepada Siti.
"Apa ini nak?" tanya Siti tak enak.
"Ambil Bu, besok Ibu ke Bank buka tabungan di Bank. Setelah itu kirim pesan ke nomor aku Ini Ibu simpan kartu namaku, jangan sampai Bapak tau. Nanti aku akan kirim uang untuk Ibu beli HP baru. Biar kita bisa teleponan lagi. Dan aku bisa kirim uang untuk sekolah adik - adik" ucap Tiara.
"Jangan nak, Ibu gak enak sama kamu. Kamu sudah banyak menderita. Ibu tidak pernah bisa membahagiakan kamu" tolak Siti sedih.
"Ibu menyanyangi dan membesarkan aku itu sudah cukup Bu. Aku bisa sekolah dan berhasil seperti ini semuanya karena Ibu. Ibu yang berjuang keras untukku selama ini. Aku ingin adik - adikku juga mendapatkan hal yang sama Bu. Mereka harus sekolah dan kuliah. Aku akan terus membantu Ibu" janji Tiara.
"Terimakasih Nak" Siti kembali memeluk Tiara dan menangis.
"Bu tolong bungkuskan nasi empat bungkus ya untuk Ibu saya. Nanti biar saya yang bayar" pinta Tiara kepada penjual nasi.
"Baik Bu" jawab wanita itu.
Tiara kembali menatap Ibunya. Ibu yang dia rindukan selama hampir lima tahun ini. Terakhir mereka bertemu saat Tiara wisuda di kampusnya dan mereka makan siang di Restoran mewah. Tiara sangat senang bisa membahagiakan Ibunya lagi.
"Ini Bu nasi bungkusnya" ucap penjual nasi.
"Terimakasih. Ra, Ibu pulang dulu ya" ucap Siti pamit.
"Ingat pesan aku yang tadi ya Bu, jangan sampai Bapak tau. Besok Ibu ke Bank buka rekening dan kirim nomor rekeningnya padaku. Setelah itu aku akan mengirim uang untuk membeli handphone" ucap Tiara kembali.
"Iya Nak, terimakasih ya. Cucuku sayang, eyang pulang dulu ya. Nanti lain waktu kita ketemu lagi. Jaga diri kamu dan Ibu kamu" pesan Siti.
"Iya Eyang. Dah Eyaaaang... hati - hati ya" balas Tegar.
Siti pergi dari hadapan Tiara dan Tegar dengan membawa nasi bungkus yang di pesan Tiara.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1