
Keesokan harinya Bintang sudah bangun pagi - pagi sekali. Bintang tidur di kamar Tegar bersama anaknya itu. Bintang sengaja mengaktifkan alarmnya agar dia bisa berangkat subuh karena jam sembilan pagi Bintang akan menghadiri meeting yang sangat penting.
Pukul setengah lima subuh Bintang sudah bangun dah mandi di kamar Tegar. Setelah dia selesai mandi dan hendak berpamitan dengan Tiara, Bintang mendengar sayup-sayup suara Tiara sedang mengaji di dalam kamarnya.
Ketepatan letak kamar Tegar dan Tiara berdampingan. Sehingga Bintang bisa dengan jelas mendengar suara merdu Tiara yang sedang khusyuk mengaji.
Mengapa hatiku sangat tenang mendengarnya. Ucap Bintang dalam hati.
Tapi Bintang tak bisa berlama-lama lagi, Bintang segera mengetuk pintu kamar Tiara.
Tok... tok... tok...
"Ra, aku mau pamit pulang" ucap Bintang.
Tiara menghentikan aktivitasnya kemudian keluar dari kamar masih menggunakan mukena.
Bintang menatap wajah Tiara yang masih polos. Cantik sekali wajahnya tanpa polesan? ucap Bintang dalam hati terkesima dengan pemandangan yang ada di depannya.
"Cepat sekali Mas?" tanya Tiara.
"Jam sembilan aku ada meeting penting. Tadi malam aku sudah bilang sama Tegar sebelum tidur dan aku sudah pamit sama dia tadi malam. Aku pulang ya.. Jumat malam aku usahakan datang lagi ke sini" jawab Bintang
"Makan dulu Mas, aku sudah masak nasi goreng pesanan Tegar kemarin. Dia kan meminta Mas menyicipi nasi goreng buatanku" ucap Tiara.
"Aku rasa tidak sempat lagi Ra" tolak Bintang.
"Kalau begitu aku masukin ke wadah ya Mas, kamu bawa aja buat bekal ke kantor" ucap Tiara.
"Ya sudah kalau begitu. Asal tidak merepotkan kamu" balas Bintang.
"Gak repot Mas, nasi gorengnya sudah masak tinggal dimasukin ke wadah aja. Tadi aku udah nebak juga kalau Mas akan pergi pagi makanya buru - buru aku masak. Sebentar ya" ucap Tiara.
Tiara berjalan ke dapur dan memasukkan nasi goreng buatannya ke dalam wadah makanan. Kemudian dia memberikannya kepada Bintang.
"Nih Mas, nanti sampai kantor minta di hangatin aja sebentar biar lebih enak makannya" pesan Tiara.
"Makasih ya Ra" balas Bintang.
Bintang memperhatikan perlakuan manis Tiara pagi ini padanya.
"Aku balik dulu ke Jakarta ya, salam buat Tegar. Aku usahakan Jumat malam sudah sampai di sini" ucap Bintang.
Tiara tersenyum menanggapi perkataan Bintang. Dia sudah berjanji dalam hati untuk tidak berharap banyak kepada Bintang. Toh Bintang sendiri juga tidak bisa menjanjikan apapun pada Tiara selain bersedia memberikan biaya kehidupan mereka berdua. Hanya itu.
Bintang tidak pernah memikirkan bagaimana status Tegar di pemerintahan. Untung saja Tegar masih TK, masalah surat menyurat masih tidak terlalu ketat.
Tiara masih mengulur waktu di sekolah Tegar untuk berkas dan surat menyurat Tegar seperti akte lahir dan kartu keluarganya.
Tiara melepas kepergian Bintang ke Jakarta. Bintang pergi dari rumah Tiara dalam keadaan masih gelap.
__ADS_1
Hah... akhirnya dia pergi. Ini baru pertama kali, akan ada lanjutannya. Apakah aku bisa hidup seperti ini? Batin Tiara.
Jam tujuh pagi Tiara dan Tegar sudah duduk di meja makan menikmati sarapan pagi mereka. Tegar terlihat tidak bersemangat.
"Kenapa sayang, nasi goreng buatan Mama tidak enak?" tanya Tiara.
"Enak Ma, hanya saja aku kan mau makannya dengan Papa" jawab Tegar tidak semangat.
"Sayaaaang, Papa Bintang ada meeting penting pagi di kantornya. Jadi pagi - pagi sekali dia harus balik ke Jakarta. Kan tadi malam Papa sudah pamit sama kamu" ucap Tiara.
Tegar hanya diam saja.
"Semangat donk, kata Papa hari Jumat dia akan datang lagi" sambung Tiara.
"Benar Ma?" tanya Tegar dengan wajah berseri.
"Iya nak, Papa kamu sudah berjanji tadi sebelum dia kembali ke Jakarta" jawab Tiara.
Tegar segera menghabiskan sarapan paginya kemudian mereka pergi ke sekolah Tegar selanjutnya Tiara berangkat ke Cafe.
Di Jakarta.
Jam depalan pagi Bintang sudah sampai di kantornya. Dia sedang merapikan bajunya dan memasang dasi. Tak lama datang sekretarisnya menghidangkan kopi seperti biasa.
"Tolong kamu panaskan makanan ini" perintah Bintang sambil menyerahkan nasi goreng yang dibawakan Tiara tadi sebelum dia balik ke Jakarta.
"Sudah di panasi saja, saya mau sarapan sebelum meeting" jawab Bintang.
Sekretaris Bintang tidak berani bertanya lagi, dia menjalankan perintah Bintang. Tak lama dia kembali ke ruangan Bintang dan membawa bekal sarapan pagi yang tadi Bintang bawa.
"Ini Pak bekal" ucap sang sekretaris.
"Terimakasih" balas Bintang.
Bintang mulai menyicipi sarapan paginya.
Mmmm.. benar kata Tegar nasi goreng buatan Tiara sangat enak. Pantas saja putranya itu bertubuh gembul karena Tiara sangat memanjakan lidahnya dengan makanan yang enak - enak.
Apa begini ya rasanya menikah. Setiap pagi akan dibawakan bekal untuk dibawa ke Kantor. Fikir Bintang.
Setelah selesai sarapan Bintang melewati harinya dengan sibuk di kantor. Sore hari sebelum dia pulang ke apartemen. Bintang mendapatkan pesan dari Roy dan Dian untuk berkumpul di Cafe.
Bintang langsung balik arah menuju Cafe Kenang miliknya dan Dian. Sesampainya di saja ternyata Dian, Roy dan Bagas sudah berkumpul.
"Nih yang di tunggu dari tadi akhirnya datang juga" ucap Roy.
"Sorry, macet di jalan" jawab Bintang dan langsung duduk di samping teman - temannya.
"Cepat kamu jelaskan pada kami apa hubungan kamu dengan Tiara? Mengapa anak Tiara sangat mirip dengan kamu? Dan mengapa waktu kita meeting kemarin kamu dan Tiara sama - sama meninggalkan Cafe ini barengan?" Selidik Roy sudah tidak sabaran.
__ADS_1
"Kami tidak pulang bareng" elak Bintang. Bintang menatap wajah Dian tapi Dian diam saja tidak membelanya.
"Ada apa Bin?" tanya Bagas yang tidak mengerti karena sabtu kemarin dia tidak ada di tempat kejadian.
"Apa yang kamu sembunyikan dari kami?" sesak Roy.
Bintang menarik nafas panjang.
"Lima tahun yang lalu, kalian ingat waktu kita bertengkar karena aku tidak percaya kalian sudah melihat Siska selingkuh?" tanya Bintang.
"Ya kami ingat" jawab Roy dan Bagas kompak.
"Malam itu aku sangat kesal sekali, aku mampir di diskotik dan mabuk. Walau tidak sampai mabuk berat. Aku bertemu Tiara di diskotik, dia sedang mabuk" ungkap Bintang.
"Apa Tiara mabuk?" tanya Bagas.
"Kalian gak ingat ceritaku tentang Tiara? Dia di jebak temannya, dia dikasi minuman beralkohol" bela Dian.
"Terus?" tanya Roy penasaran.
"Dia diganggu dua orang pria jadi aku bawa keluar dari diskotik. Karena aku tidak tau dimana rumahnya dia aku bawa ke apartemen dan terjadilah semua" ungkap Bintang.
"Kamu memperkosanya?" tanya Bagas.
"Hei aku tidak memperkosanya. Dia aku tinggalkan di luar dan tidur di sofa tapi aku dia sendiri yang masuk ke kamarku dan naik di atas ranjangku. Dia mabuk dan aku juga saat itu setengah sadar. Aku pria normal, saat seseorang yang berlainan jenis menggoda kalian di atas ranjang apa yang kalian lakukan?" tanya Bintang.
"Ya aku sambut dengan senang hati" jawab Bagas.
"Itu karena kamu buaya" umpat Dian.
"Pagi harinya aku terbangun Tiara sudah tidak ada. Dia pergi, aku berusaha mencarinya ke diskotik tapi dia tidak pernah muncul lagi di sana" ungkap Bintang.
"Terus saat kamu bertemu dia di sini, masak kamu tidak mengenalinya?" tanya Roy.
"Pada malam kejadian itu Tiara belum memakai jilbab, tubuhnya masih kurus di tambah aku juga sedang mabuk walau masih setengah sadar. Saat di kamar penerangan redup, aku hanya memakai lampu tidur. Hanya saja kebodohanku, aku tidak begitu memperhatikan rekaman CCTV apartemenku. Kemarin baru aku lihat lagi setelah lima tahun berlalu. Untuk meyakinkan wajah wanita itu aku membuka rekaman CCTV itu lagi dan ternyata memang benar Tiara lah wanita yang telah menghabiskan satu malam bersamaku di apartemen" jawab Bintang.
"Sekarang apa yang akan kamu lakukan Bin?" tanya Roy.
"Aku sudah menemui Tiara di Bandung, aku sudah bertemu anakku. Namanya Tegar Prakasa. Aku akan bertanggung jawab pada mereka. Mulai saat ini aku akan menanggup kehidupan mereka berdua" jawab Bintang.
"Hanya menanggung biaya hidup mereka? Kamu tidak menikahinya bro?" tanya Roy tidak percaya.
"A.. aku tidak bisa"
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1