
Sudah dua hari Bintang kembali ke Jakarta. Undangan pernikahan mereka sudah selesai dan sudah sampai tadi siang.
Rabu pagi Tiara mengambilnya ke percetakan dan langsung mengirimkan undangannya ke Perusahaan Bintang.
Bintang sudah menyebar undangan kepada para pegawai di perusahaannya. Dia juga sudah mengirimkan undangan tersebut kepada Client dekat perusahaannya.
Sore harinya Bintang datang ke Cafe Kenanga. Dia ingin mengantarkan undangan kepada Dian tapi ternyata di sana ada Roy juga.
"Lho kamu di sini juga Roy, gak kembali ke Singapura?" tanya Bintang heran.
"Aku baru sampai siang tadi, besok ada urusan di kantor sini sekalian nunggu hari jumat ke Bandung menghadiri pernikahan kamu dan Tiara" jawab Roy.
"Oo..." sambut Bintang tidak curiga.
"Kamu ngapain ke sini? Bukannya lagi sibuk mempersiapkan pernikahan kamu?" tanya Dian.
"Alhamdulillah sudah 70% persiapannya Yan. Nih aku bawa undangan ke sini untuk kalian. Titip ke Bagas ya Yan" jawab Bintang sambil menyerahkan dua undang ke tangan Dian dan satu lagi untuk Roy.
Dian melihat ada sebuah undangan lagi di tangan Bintang.
"Itu undangan untuk siapa lagi Bin?" tanya Dian.
"Ini? Undangan buat orang tuaku" jawab Bintang dengan sikap ogah-ogahan.
"Kamu mau ngantarin itu kemana?" tanya Roy ingin tau.
"Ke rumah itu? Sebenarnya aku malas banget tapiiiii... Tiara memintaku" ungkap Bintang.
"Bagus itu sikap Tiara. Sampai kapan kamu terus - terusan bermusuhan dengan keluarga kamu sendiri Bin. Waktu sudah lama berjalan. Kedua orang tua kamu semakin tua pasti akan berubah apa lagi sudah ada cucunya. Aku yakin pasti mereka senang banget bertemu Tegar. Tegar anak pintar dan tampan seperti itu semua orang senang melihatnya apalagi eyangnya" sambut Dian.
"Bener, aku aja di desak nikah ya karena itu. Papa Mamaku udah gak sabar pengen momong cucu" Roy sambil menyenggol bahu Dian memberi kode.
Dian melirik kearah Roy.
Bintang terdiam, pandangannya menerawang.
__ADS_1
"A.. aku.. apa aku titip saja ya undangan ini ke satpam rumahku. Atau aku kirim pakai jasa ojek online" ujar Bintang.
"Itu namanya gak niat banget ngundang. Mereka itu orang tua kamu, ya harus kamu donk yang langsung ngantar ke sana. Masak pakai perantara bisa - bisa bukannya baikan malah selisih paham lagi yang ada" jawab Dian.
"Mending selisih paha ya Yan" goda Roy.
Refleks Dian mencubit pinggang Roy, Roy tertawa senang. Tapi karena Bintang lagi sibuk dengan fikirannya dia gak merhatiin kalau Roy lagi asik menggoda Dian.
"Berat banget kakiku melangkah ke sana" ungkap Bintang.
"Mau aku temani? tapi aku cuma nunggu di mobil aja ya" ujar Roy memberi bantuan.
"Gak usah Roy, masalah itu biarkan aja diselesaikan Bintang sendiri. Itu masalah keluarga, gak perlu campur tangan orang lain" bantah Dian.
Bintang menarik nafasnya panjang. Roy menepuk pahu Bintang memberi semangat.
"Peristiwa seperti ini memang harus kamu lalui Bin, gak bisa terus - terusan lari. Kamu lah yang harus memulai lebih dahulu. Kamu yang salah pergi dari rumah walau alasannya adalah karena kamu kecewa pada kedua orang tua kamu. Tapi kamu ini seorang anak. Seorang anak tidak akan pernah menang dari orang tuanya. Seorang anak seumur hidup akan berhutang budi kepada kedua orang tuanya karena berkat orang tuanya lah dia bisa terlahir ke dunia ini. Sampai kapan pun itu tidak akan bisa kita bayar Bin" nasehat Roy.
"Aku tau Roy, tapi seiring berjalannya waktu apalagi saat ini aku juga sudah memiliki anak, aku sudah menjadi seorang orang tua. Aku gak habis fikir mengapa dulu Papa dan Mamaku tega meninggalkan aku sendirian di rumah dan sibuk dengan urusan mereka. Aku gak butuh itu Roy. Aku saja sekarang sejak ada Tegar rasanya ingin pulang setiap hari dan melihat Tegar tumbuh besar dengan mataku sendiri. Mengapa dulu Papa dan Mamaku tega sibuk dengan hidup mereka sendiri" bela Bintang.
"Ayolah Bin, lakukan tugas kamu sebagai seorang anak. Datangi orang tua kamu buang semua rasa kecewa, rasa benci dan rasa marah kamu kepada mereka" bujuk Roy.
"Coba deh kamu tanya hati kamu yang paling dalam. Ada gak rasa rindu kamu pada mereka?" tanya Dian.
Bintang menggelengkan kepalanya.
"Biiiiin... gini aja deh. Kamu ikuti aja apa yang kami bilang. Kamu ke rumah kamu trus kamu pandangin dulu rumah itu sebelum masuk. Saat kamu mau masuk rumah, tanya hati kamu paling dalam, ada gak sesuatu yang kamu rindukan di rumah itu. Aku sangat yakin pasti ada suatu hal yang sangat kamu rindukan di sana" Dian meyakinkan.
Bintang terdiam.
"Ayo udah sore.. nanti kamu sampai sana kemalaman lagi. Kena macet" usir Roy.
"Baiklah, aku coba datang ke sana. Tapi aku gak yakin akan berhasil" jawab Bintang.
"Setidaknya kamu sudah mencoba" balas Dian.
__ADS_1
"Semangaaaaat.... " teriak Roy memberi semangat agar Bintang mau pergi ke rumah orang tuanya.
Bintang berjalan keluar dari Cafe menuju mobilnya setelah itu dia menyalakan mobilnya menuju rumah kedua orang tuanya.
Jam delapan malam Bintang sudah sampai di depan rumah orang tuanya. Dia berhenti di depan pintu pagar.
Seperti pesan Dian tadi, dipandanginya rumah itu sangat lama, ingatannya kembali ke masa dua puluh lima tahun yang lalu, saat Bintang berumur lima tahun hampir sama seperti usia Tegar saat ini.
Dia menunggu pagar di buka ketika pulang dari sekolah. Saat itu Mamanya yang menjemput dia dari sekolah dan sebelum pulang dia dibelikan mainan yang dia inginkan.
Waktu itu Mamanya masih mengurusnya dengan penuh kasih sayang, masih punya banyak waktu dengannya. Memasukkan makanan, menemaninya belajar dan juga bermain.
Sore harinya dia akan duduk di depan pintu menunggu Papanya pulang dari kantor untuk menunjukkan mainan barunya kepada Papanya. Saat Papanya sampai di halaman rumah dan mobilnya sudah terparkir bebas Bintang akan berlari menuju Papanya.
Papanya merentangkan kedua tangannya untuk menyambut tubuh Bintang dan kemudian memeluk dan menggendong Bintang sampai Bintang merasa sedang melayang di udara.
Saat - saat yang indah dan manis... Benar kata Dian, aku merindungan saat - saat itu. Tiba-tiba saja air mata Bintang mengalir dari sudut matanya. Bintang segera menyekanya.
"Maaf Mas mau cari siapa ya?" tanya seorang pria yang tak lain adalah satpam di rumahnya.
"Tuan dan Nyonya Prakasa ada?" tanya Bintang.
"Maaf Anda siapa ya, sudah ada janji?" tanya satpam itu.
"Saya Bintang...... "
.
.
BERSAMBUNG
Pagi readers..... Gak kerasa ya udah hari Jumat. Semoga hari ini cerah ya... Buat para readers tercinta karena ini hari jumat bolehlah infak kembang, kopi atau kursi pijat sampai piala juga boleh..
Aku dengan senang hati menerimanya, biar lebih semangat ngetiknya 🤭🤭🤭
__ADS_1
Terimakasih 🥰🥰