Tiara

Tiara
Rindu


__ADS_3

Satu minggu berlalu, tibalah hari weekend kembali. Satu pagi Tegar tampak tidak bersemangat. Hari Sabtu dia memang tidak sekolah. Karena Bintang tidak datang Tiara terpaksa mengajaknya ke Cafe. Begitu juga besok hari minggu.


Di ruang kerja Tiara di cafe. Tegar sedang duduk di sofa tanpa gairah.


"Kamu kenapa tidak semangat sayang. Kamu sakit?" tanya Tiara.


Tegar menggelengkan kepalanya


"Pusing? Sakit perut?" tanya Tiara khawatir.


Lagi - lagi Tegar menggelengkan kepalanya.


"Jadi kenapa he.... kok gak semangat gitu?" tanya Tiara.


"Aku kangen Papa Ma. Gak ada Papa rasanya sepi. Lama banget ya Ma minggu depan. Aku sudah gak sabar pengen ketemu Papa" jawab Tegar.


"Kalau kangen Papa kan kamu bisa video call" sambut Tiara.


"Pinjem hpnya donk Ma, aku mau telepon Papa" pinta Tegar.


Tiara memberikan ponselnya kepada Tegar. Tegar mencari nama Papa nya di daftar kontak Mamanya kemudian menelepon Papanya.


"Assalamu'alaikum sayaaaaang" sapa Bintang.


"Wa'alaikumsalam. Papa lagi dimana?" tanya Tegar.


"Kan sudah Papa bilang sama kamu minggu lalu, Papa lagi tugas di luar kota" jawab Bintang.


"Kok masih tiduran belum mandi dan ganti baju?" tanya Tegar.


Tiara melirik ke arah ponselnya. Benar kata Tegar Mas Bintang terlihat masih santai seperti sedang di dalam kamarnya. Batin Tiara.


"Papa masih di kamar hotel belum keluar. Nanti siang baru ada janji sama client Papa" jawab Bintang tersenyum ramah.


"Papa... aku kangeeen" rengek Tegar.


"Kangen? Sabar ya sayang, minggu depan Papa akan datang. Kamu sehat kan?" tanya Bintang.


"Sehat" jawab Tegar.


"Mama sehat?" tanya Bintang lagi.

__ADS_1


"Sehat, tuh Mama lagi asik kerja. Aku sendirian dan kesepian gak ada Papa" oceh Tegar.


Bintang tersenyum menatap wajah manyun putranya.


"Rindu itu memang berat Tegar, jadi biarkan Papa aja yang nanggungnya. Kamu main aja sana sama Mama" canda Bintang.


Entah mengapa kata - kata Bintang barusan membuat Tiara tersenyum. Udah kayak anak ABG saja bilang rindu itu berat. Sebelas duabelas kamu Mas sama si Dilan. Ucap Tiara dalam hati.


"Mama sibuk terus, nih coba deh Papa marahin Mama biar Mama gak kerja terus" ucap Tegar cemberut ke arah Mamanya. Tegar memberikan hpnya kepada Tiara.


Bintang memandang wajah Tiara dengan sangat dalam.


Bukan hanya Tegar saja yang merindu Ra, aku juga. Bisakah aku hidup tanpa kalian? tanya Bintang dalam hati.


"Assalamu'alaikum Mas" sapa Tiara sesantai mungkin, seolah tidak ada masalah antara mereka.


"Wa'alaikumsalam.. Kamu masih banyak kerjaan?" tanya Bintang.


"Tinggal sedikit lagi, ada apa Mas?" tanya Tiara pura - pura sibuk padahal dia tidak j ingin Bintang mengetahui kalau dia juga sama dengan Tegar. Rindu kehadiran Bintang di sini.


"Tegar kesepian katanya Ra, kamu bawa main ya. Mas akan kirim uang untuk kalian jalan - jalan, belanja dan makan" ucap Bintang.


"Gak usah Maaaas, uangku masih ada. Dah aku tidak suka Mas memanjakan anak dengan materi. Katanya gak ingin Tegar seperti Mas merasakan masa kecil yang suram" sindir Tiara.


"Maaf Mas. Maksudku jangan di depan Tegar juga kamu ngomong seperti itu. Nanti dia bisa memanfaatkan keadaan Mas. Kamu lupa kalau anak kamu itu sangat pintar?" balas Tiara mengingatkan Bintang.


"Iya deh Mama Tegar yang paling bijaksana" sambut Bintang dengan senyum terindahnya.


Tiara jadi semakin rindu melihat wajah Bintang seperti itu.


"Btw cuma Tegar aja nih yang merindukanku. Mamanya kangen juga gak?" goda Bintang.


"Nggak tuh" jawab Tiara cuek.


"Iya yah, cuma Tegar aja yang kangen sama Papanya, Mamanya nggak. Kasihan ya Papa Tegar" sindir Bintang pura - pura sedih.


"Kamu gak udah gombal deh Mas, udah gak zamannya" elak Tiara. Padahal detak jantung Tiara dari tadi sudah tak karuan.


"Hahaha... kamu mau oleh - oleh apa Ra, saat aku datang minggu depan?" tanya Bintang.


"Terserah kamu, kan yang mau bawain kamu. Aku gak minta kok" balas Tiara.

__ADS_1


"Ya udah kalau gitu aku bawa cincin kawin aja deh" goda Bintang.


"Maaaaaaas... " panggil Tiara kesal.


"Hahaha.. kamu makin cantik aja Ra kalau cemberut seperti itu. Buat aku makin kangen sama kamu. Rasanya pengen terbang sekarang juga ke Bandung nemuin kamu sama Tegar" lagi - lagi Bintang menggodanya.


Untung saja mereka hanya bicara lewat video call, kalau tidak Tiara pasti merasa sangat malu Bintang bisa melihat wajah Tiara merah menahan malu karena gombalan Bintang barusan.


"Udah ah Mas kalau cuma mau gombal aja teleponnya aku tutup ya" ancam Tiara.


"Oke.. Oke.. Mama Tegar marah. Mana Tegar? Aku mau bicara lagi sama Tegar.


"Nih, Gar.. Papa kamu mau ngomong lagi nih sama kamu. Ambil hpnya sayang" ucap Tiara kepada putranya yang sedang asik main mobil - mobilan.


"Papa sudah ngobrol sama Mama?" tanya Tegar.


"Sudah, kata Mama dia juga kangen Papa" lapor Bintang.


Tiara menggelengkan kepalanya mendengar Bintang bicara seperti itu. Kalau di fikir - fikir semenjak Bintang mengutarakan perasaannya kepada Tiara minggu lalu, Bintang jadi berubah lebih luwes dan santai berbicara dengannya. Malah tadi berapa kali dia sempat mengeluarkan kata - kata gombal.


Biasanya mereka kalau bicara hanya yang penting - penting saja tentang Tegar, sekolah Tegar, tentang Cafe dan sesekali bicara tentang keluarga Tiara.


Sedangkan tentang keluarga Bintang sendiri sepertinya Bintang enggan untuk menceritakannya. Dia hanya bercerita kepada Tiara kalau dia menaruh kekecewaan kepada kedua orang tuanya dan dia berjanji tidak akan menjadi orang tua seperti Papa dan Mama Bintang.


Bintang berjanji pada dirinya sendiri akan memberikan kasih sayang kepada Tegar dan juga akan membebaskan Tegar memilih sekolahnya sesuai dengan apa yang Tegar sukai. Dia tidak akan memaksakan kehendaknya kepada Tegar.


Tentang hal itu Tiara juga sangat setuju pada Bintang karena dia juga akan melakukan hal yang sama pada Tegar. Biarlah Tegar menjadi dirinya sendiri tanpa ada paksaan akan menjadi apa.


Satu yang dia pelajari dari Bintang hari ini ternyata Bintang tidak kaku. Dia juga suka bercanda seperti Roy. Malah canda Bintang tadi telah sukses membuat wajah Tiara memerah karena malu.


Ternyata Bintang hangat juga orangnya. Mungkin karena pahitnya kehidupan dia dulu dengan keluarganya membuat Bintang menjadi pria dingin dan kaku. Setelah bisa menyentuh hatinya Bintang akan berubah menjadi pria yang hangat dan nyaman.


Tanpa sadar Tiara tersenyum sendiri membayangkan wajah Bintang.


Lama sekali waktu berlalu. Aku ingin menyelesaikan semuanya dengan baik. Mudah - mudahan apa yang aku putuskan tidak menyakiti siapapun.


Haaaah... Tiara melepaskan nafasnya panjang.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2