
"Kamu gak apa - apa Wi? Kamu kenal dengan mereka?" tanya Putri penasaran.
Tiara yang baru saja datang dari arah belakang juga merasa aneh melihat wajah dan sikap Dewi.
"Kamu kenapa Wi?" tanya Tiara.
"Kak barusan ada Morgan dan Siska?" jawab Dewi.
"Kamu kenal dengan mereka tadi Wi?" tanya Putri lagi.
Dewi mengangguk kan wajahnya.
"Kenal Mbak Put, mereka temannya Mas Bagas dan Mas Bintang" jawab Dewi.
"Ngapain mereka ke sini? Mereka mau nikah juga?" tanya Tiara curiga.
"Bukan, mereka kenalan suamiku Ra. Ada urusan bisnis dan mereka punya janji di sini" jawab Putri.
"Oooh.. " sambut Tiara.
"Jadi gimana Wi sudah ketemu gambar yang kamu suka?" tanya Putri.
"Sudah Mbak tapi mending tunggu Mas Bagas datang aja deh biar sekalian di cocokin. Ntar dia gak suka, ribet jadinya" jawab Dewi.
"Oh ya udah. Kalau begitu aku tunjukin juga contoh kartu undangan, menu catering dan bingkisan untuk souvenir pernikahan" ujar Putri.
"Boleh" sambut Tiara.
Putri segera mengeluarkan album foto untuk gambar - gambar undangan, makanan dan souvenir.
"Kalau untuk catering nanti kita ada sesion tes rasa" ujar Putri.
"Okey" sambut Tiara.
"Silahkan Wi dilihat - lihat dulu nanti begitu calon suami kamu datang tinggal tunjukin ke dia dan kalian tentukan pilihan bersama" ujar Putri.
"Baik Mbak" balas Dewi.
Dewi dan Tiara mulai membuka album foto yang diberi Putri dan mereka melihat - lihat isinya. Ada beberapa gambar yang Dewi suka biarlah nanti dia tanyakan kepada Bagas dan meminta tanggapannya.
Tak lama kemudian Bagas dan Bintang datang berbarengan.
"Lho kompakan datangnya?" tanya Tiara.
"Iya, kan udah janjian" jawab Bintang sambil memeluk istrinya.
"Silahkan duduk Pak" ujar Putri.
Bintang dan Bagas segera mengambil tempat duduk. Bintang duduk di dekat Tiara sedangkan Bagas duduk di dekat Dewi.
"Jadi ini calon pengantin prianya?" tanya Putri
"Iya Mbak" jawab Dewi.
Bagas dan Putri saling berjabat tangan.
"Bagas Raksajaya" Bagas memperkenalkan dirinya.
"Bagas Raksajaya dari Raksajaya Corp?" tanya Putri.
"Iya" jawab Bagas.
"Waaah ketepatan sekali, suami saya sebenarnya ingin bertemu dengan anda untuk mengajak kerjasama. Saya Putri pemilik WO ini" balas Putri memperkenalkan diri.
__ADS_1
"Boleh, lain waktu bisa kira bahas" ujar Bagas sambil tersenyum ramah.
"Mas, ini coba dilihat gambar pelaminan, dekorasi, souvenir yang akan di pilih" Dewi menunjukkan album foto.
"Kamu maunya yang mana?" tanya Bagas.
"Aku sih pengennya yang ini.. dan ini... " Dewi menunjukkan pilihannya.
"Bagus gak Kak kalau yang ini?" tanya Dewi kepada Tiara.
Tiara dan Bintang ikutan melihat.
"Bagus" jawab Bintang dan Tiara berbarengan.
"Ya sudah aku setuju" sambut Bagas.
Dewi tersenyum senang, semua orang setuju dengan pilihannya.
"Yang ini Mbak" Ucap Dewi kepada Putri sambil menunjukkan pilihannya.
"Baik, aku catat ya" jawab Putri.
Mereka kemudian terlibat dalam pembicaraan tentang konsep pernikahan Bagas dan Dewi. Apa - apa saja yang Dewi dan Bagas inginkan juga butuhkan dalam acara tersebut.
"Gedungnya sudah ada?" tanya Putri kepada Bagas.
"Sudah di Ballroom Hotel Mutiara" jawab Bagas.
"Baiklah, saya boleh minta kontak orang hotel biar kita bisa koordinasi?" punya Putri.
"Boleh.. nanti saya kirim nomornya ya" jawab Bagas.
Semua sudah hampir rangkum tiba - tiba Siska dan Morgan keluar dari lift.
Sontak Bagas dan Bintang berdiri.
"Gimana Bin proposal aku?" tanya Morgan.
"Haruskah kita bicarakan di sini?" tanya Bintang.
"Ya nggak sih. Kita ketemu di kantor kamu besok ya" jawab Morgan.
"Okey" sambut Bintang.
Siska melirik ke arah Tiara tapi Bintang menyadarinya dan dengan sikap tegas dia merangkul pindah Tiara membuat Siska merasa jengkel.
"Baik kalau begitu kami pamit dulu ya" Morgan mengedipkan sebelah matanya ke arah Dewi.
Dewi membuang pandangannya ke arah lain, sedangkan Bagas mengenggam erat tangan Dewi untuk menguatkan Dewi.
Morgan dan Siska berjalan ke luar dari gedung itu meninggalkan Bagas dan rombongannya. Sementara Daniel suaminya Putri pemilik gedung tersebut ikut turun ke bawah.
"Yank.. kenalkan ini Bagas Raksajaya" ujar Putri.
"Oh ya, Pak Raksajaya?" tanya suami Putri.
"Iya saya Bagas Raksajaya" Bagas mengulurkan tangannya dan dia saling berjabat tangan dengan Daniel.
"Ini dengan... " Daniel melirik ke arah Bintang.
"Saya Bintang Prakasa" jawab Bintang.
"Bintang Prakasa dari Bintang Corp putrnya Bapak Prakasa?" tanya Daniel.
__ADS_1
"Iya" Bintang tersenyum ramah.
"Wah ternyata tamu kita hari ini sangat spesial yank" ujar Daniel.
"Saya Daniel dari PT. Gemilang. Saya suaminya Putri pemilik WO ini" jawab Daniel.
"Salam kenal" ujar Bintang.
"Jadi sudah selesai urusan dengan istri saya?" tanya Daniel.
"Hampir kelar" jawab Bagas.
"Pak Bagas saya sebenarnya sudah lama ingin bertemu dengan anda. Saya ingin menawarkan beberapa penawaran kerjasama. Sebenarnya tadi saya sudah menawarkan juga dengan Bapak Morgan tapi perusahaan mereka sepertinya terlalu menuntut keuntungan besar. Sementara ini masih dalam tahap awal. Saya masih berpikir untuk kerjasama dengan mereka. Apakah saya bisa memberikan penawaran yang sama dengan perusahaan Bapak?" tanya Daniel memberikan penawaran.
"Boleh, silahkan datang ke perusahaan saya besok. Kita bisa membicarakan penawaran kamu. Saya mau lihat proposalnya terlebih dahulu. Kalau oke saya akan bekerjasama dengan anda" jawab Bagas.
"Terimakasih Pak Bagas. Saya akan segera membuat proposal baru. Jadi kalau begitu saya pamit duluan ya. Silahkan anda lanjutkan urusan dengan istri saya" ujar Daniel hormat dan segera pamit.
"Silahkan, saya tunggu proposal anda besok" sambut Bagas.
Daniel kembali naik ke ruangannya sedangkan Bagas dan yang lainnya melanjutkan pembicaraan mereka tentang pesta pernikahan Bagas dan Dewi.
"Baiklah Pak Bagas dan dek Dewi. Kita lanjut mengenai pesta pernikahan kalian. Undangan akan selesai satu bulan dari sekarang. Souvenir akan kami kirim satu minggu sebelum acara. Catering juga minggu depan sudah bisa untuk tes rasa masakan. Kalau MUA nya bagaimana?" tanya Putri.
"Kalau MUA sudah ada dari perancang busana. Mereka punya rekanan yang mengurus itu semua" sambut Bagas.
"Baiklah kalau begitu. Sementara semua sudah saya catat. Apa ada pertanyaan lain?" tanya Putri.
"Tes rasa masakannya bisa diwakilkan sama Kak Ara aja Mbak? Minggu depan siapa tau saya gak bisa ke sini?" tanya Dewi.
"Bisa" jawab Putri sambil tersenyum.
"Siapa bilang kamu gak bisa ke sini. Minggu depan aku jemput ke Bandung" ujar Bagas.
"Mas aku mau persiapan ujian" jawab Dewi.
"Masih lama juga Wi ujiannya, masih sebulan lagi" sambut Bagas.
"Ya jaga - jaga aja siapa tau aku gak bisa datang" balas Dewi.
"Udah Mas gak apa - apa. Nanti aku dan Mas Bintang kan bisa ke sini. Atau nanti aku ke sininya bareng Mama dan Ibu" ujar Tiara.
"Tapi jadi gak enak Ra ngerepotin kamu. Kamu kan ada Zia yang masih bayi. Kasihan kalau dia di tinggal melulu" ungkap Bagas.
"Gak apa - apa. Kan gak sering juga Zia aku tinggal" jawab Tiara.
"Oke deh terserah aja" balas Bagas.
"Sudah siap kan? Pamit yuk, aku udah laper?" tanya Bintang.
"Sudah.. sudah.. silahkan kalau mau pamit" sambut Putri dengan ramah.
"Kami pamit ya Put, minggu depan aku dan suami akan balik ke sini" ujar Tiara.
"Oke Ra. Aku tunggu ya" balas Putri.
Bintang, Tiara, Bagas dan Dewi pamit undur diri kepada Putri kemudian mereka keluar dari kantor Putri dan suaminya. Mereka melanjutkan perjalanan mencari Restoran untuk makan siang. Karena emang sudah jamnya. Jadi wajar saja kalau Bintang dan Bagas udah merasa lapar.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1